
Quinn hanya bisa pasrah ketika Tiffany memarahinya dengan sejuta omelan yang membuat kupingnya panas. Kali ini bukan hanya Queen saja yang dipanggil. Tetapi Nichole juga ikut terlibat. Bahkan Luca juga sudah ada di sana. Mereka bertiga duduk di sofa panjang yang sama. Sedangkan Tiffany duduk di sofa tunggal yang ada di hadapan mereka. Posisinya seperti seorang ibu yang ingin memarahi ketiga anaknya.
"Sekarang juga cepat ceritakan apa yang kau lakukan tadi malam? Kenapa kau pulang jam 04.00 pagi?" tanya Tiffany dengan emosi tertahan.
"Aku bersama dengan Dimitri. Aku tidak mungkin meninggalkannya begitu saja ketika keadaannya terluka parah. Aku memanggil dokter dan membawanya pulang ke rumah. Dia tidak mau dibawa ke rumah sakit. Padahal seharusnya luka-lukanya itu ditangani oleh tim medis dan dengan menggunakan alat-alat lengkap yang ada di rumah sakit," jelas Quinn apa adanya.
"Quinn, apa hubungannya denganmu? Mau pria itu terluka parah atau tidak, dia tidak menjadi urusanmu. Karena dia bukan siapa-siapa bagimu!" saut Tiffany masih dengan emosi yang ditahan agar tidak meluap.
"Dan kau Nichole. Kau ini sudah bukan anak-anak lagi. Bisa-bisanya kau muncul hanya untuk memberi informasi yang pada akhirnya akan menghancurkan rencana besar mami. Apakah kau tidak berpikir lebih dulu apa resikonya sebelum menyampaikan informasi itu kepada kakakmu? Lalu, sejak kapan kau mengenal Dimitri? Apakah kau pernah bertemu dan mengobrol dengannya? Apakah kau tahu seperti apa Dimitri itu?" marah Tiffany.
"Mom, jangan marahi Nichole. Apa yang dia lakukan sudah benar," bela Quinn.
"Sudah benar kau bilang?" Kali ini nada bicara Tiffany mulai meninggi sebagai tanda kalau emosinya sudah tidak bisa ditahan-tahan lagi. "Quinn, apakah kau tahu kalau mommy sangat malu atas kejadian tadi malam. Bahkan sampai detik ini mama tidak berani menghubungi Tante Viana lagi. Karena merasa segan dengan Tante Viana dan suaminya. Mereka itu keluarga terhormat Quinn. Mereka memiliki kesibukan dan acara tadi malam mereka rela meluangkan waktu mereka hanya untuk datang ke rumah kita. Tetapi kau justru bersikap seperti itu. Sampai detik ini kok tidak memiliki niat untuk minta maaf kepada Tante Viana dan keluarganya. Terutama kepada Xander!"
"Mom, Xander juga ada di sana tadi malam. Dia tahu apa yang terjadi. Lalu untuk apa aku minta maaf? Karena aku tidak merasa melakukan kesalahan!" sahut Quinn dengan wajah yang tidak kalah emosinya dari Tiffany.
"Quinn! Mommy tidak mau kau berhubungan dengan Dimitri! Apakah kau masih tidak mengerti juga?" balas Tiffany.
"Mommy tidak bisa melarangku untuk dekat-dekat dengan Dimitri. Aku mencintainya, Mom! Kami berdua saling mencintai," sahut Quinn.
__ADS_1
Luca dan Nichole hanya bisa membisu mendengar dua wanita yang kini berdebat di hadapan mereka. Mereka berdua tahu sedikit saja salah mengeluarkan suara maka habislah riwayat mereka.
"Dad. Kenapa Daddy tidak membela kakak? Bukankah selama ini Daddy yang memintaku untuk mengawasi Tuan Dimitri? Itu berarti Daddy sudah memberikan lampu hijau terhadap hubungan Kak Queen dan juga Tuan Dimitri," bisik Nichole dengan penuh kehati-hatian agar Queen dan juga Tiffany tidak mendengarnya.
"Lalu bagaimana denganmu? Kau juga diam saja di sini tanpa berani membela dirimu sendiri yang sejak tadi disalahkan. Lebih baik kita diam saja. Kita tunggu sampai mereka berdua lelah. Nanti setelah menikah kau sendiri juga akan tahu apa yang sekarang dia lakukan ini adalah solusi terbaik," sahut Luca.
"Mom, aku sangat menyayangi Mommy. Mommy adalah ibu kandungku. Tapi tolong jangan paksa aku untuk mencintai pria yang sama sekali tidak aku cintai." Queen berusaha untuk membujuk Tiffany agar tidak terus-terusan membahas soal perjodohan ini.
"Enggak Quinn! Mommy tidak seperti itu. Mommy tidak pernah memiliki niat untuk memaksamu agar menikah dengan pria pilihan mommy. Mommy hanya tidak mau kau celaka. Dimitri itu pemimpin sebuah geng mafia. Apa kau yakin ingin menikah dengan pria seperti itu?" Tiffany tidak lagi menyembunyikan apapun supaya tidak menyakiti Quinn.
"Lalu apa yang dulu Mommy pikirkan ketika Mommy memutuskan untuk menikah dengan Daddy? Bukankah saat itu Mommy sendiri juga sudah tahu kalau Daddy pemimpin sebuah geng mafia. Mommy jangan lupa kalau saat itu aku sudah besar dan bisa mengingat semuanya," sahut Quinn tidak mau kalah. Hal itu membuat Tiffany bungkam kali ini ia benar-benar kalah dari putrinya.
"Sayang, sudahlah. Tidak ada gunanya kalian berdua bertengkar seperti ini. Rumah tangga kita baik-baik saja. Soal jodoh putri kita biar kita serahkan saja kepadanya. Kau pasti tahu aku tidak akan mungkin diam saja. Jika pria yang mendekati putriku bukan pria baik-baik. Dan sekarang aku bisa pastikan kalau Dimitri itu pria yang baik." Pada akhirnya Luca angkat bicara. Kata-kata Luca membuat Quinn merasa sedikit lega karena kini ayah kandungnya ada di pihaknya.
"Ya. Aku sudah merestui hubungan mereka. Akan tetapi, aku masih belum memberikan izin kepada mereka untuk melangkah ke tahap yang lebih serius lagi. Ada satu hal yang harus dilakukan oleh Quinn untuk menguji seberapa besar cinta Dimitri terhadapnya. Selama hal itu belum dilakukan oleh Quinn maka hubungan mereka akan tetap bertahan sampai tahap ini saja!" rayu Luca.
"Memangnya apa yang harus dilakukan oleh Quinn? Anak kita ini seorang putri, kenapa harus dia yang melakukan sesuatu itu? Bukankah seharusnya Dimitri lah yang berjuang untuk mendapatkan putri kita dan melewati syarat-syarat yang seharusnya kau tentukan?" protes Tiffany tidak setuju.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Sayang. Sebaiknya mulai detik ini beri penjelasan kepada Viana kalau anak kita tidak berjodoh dengan putranya. Jika memang Tuhan berkehendak untuk mereka berjodoh, maka apapun keadaannya mereka pasti akan bersatu." Luca tidak berhenti merayu Tiffany.
__ADS_1
Quinn kini bisa mengatur nafasnya agar kembali tenang. Begitupun dengan Tiffany yang kini tidak lagi membicarakan hal-hal yang tidak jelas. Ruang keluarga itu mendadak hening ketika diantara mereka tidak ada yang mengeluarkan satu kata pun lagi.
***
Di kediaman keluarga Jeremy, pagi itu suasananya terlihat sangat tenang. Meskipun mereka harus gagal untuk melamar Quinn, tetapi tidak ada yang mempermasalahkannya terlalu jauh. Baik Viana maupun Jeremy memilih untuk melupakan semuanya.
Bagaimanapun juga mereka sudah menganggap keluarga Tiffany seperti keluarga kandung. Berjodoh atau tidaknya anak mereka nanti, mereka tetap akan menjalin hubungan baik dengan keluarga Tiffany.
"Sayang, apakah kau marah padaku?" tanya Viana sambil mengoleskan selai di atas lembaran roti yang ada di tangannya.
"Untuk apa aku marah? Kau sama sekali tidak bersalah. Oh iya. Di mana Xander? Apa dia melewatkan sarapan paginya?" Jeremy heran lantaran putranya itu tidak menampakkan batang hidungnya.
"Sepertinya dia belum bangun. Aku juga tidak tega untuk membangunkannya. Karena tadi malam ia pulang sangat pagi. Biarkan saja Ia tidur dan beristirahat di kamarnya. Nanti biar aku saja yang membawa sarapannya ke kamar," ucap Viana memberi solusi.
"Kau benar-benar Ibu yang baik. Terima kasih karena sudah menyayangi putraku seperti putramu sendiri." Jeremy terharu sebab Viana sangat menyayangi putranya. Pria itu sangat bangga memiliki Viana sebagai istrinya.
"Aku mencintaimu. Sejak memutuskan untuk menikah denganmu, aku sudah memikirkan segala resiko yang nantinya akan aku hadapi. Memiliki Putra sambung seperti Xander sama sekali tidak membuatku kesulitan. Dia juga termasuk anak yang penurut meskipun tidak banyak bicara. Yah, sama sepertimu." Viana berujar lembut. Walaupun di ujung kalimatnya dia menyindir sang suami.
"Tetapi aku khawatir terjadi sesuatu padanya. Bukankah kau sendiri tahu kalau selama ini dia tidak pernah dekat dengan seorang wanita. Meskipun banyak sekali wanita yang mengejar-ngejarnya. Tetapi dia terus saja mengabaikannya. Lalu sekarang ia jatuh cinta kepada putri sahabatmu. Sayangnya, jika dilihat reaksi dari Quinn sepertinya dia sama sekali tidak tertarik dengan putra kita. Lalu apa yang akan terjadi jika nanti Xander sampai patah hati karena cintanya ditolak?" Jeremy menghembuskan napas kasar.
__ADS_1
"Pria hebat, bukanlah pria yang menyerah ketika cintanya ditolak. Selama Quinn belum menikah dengan pria pilihannya itu, maka masih ada kesempatan untuk putra kita mendapatkan hati Quinn. Kau tenang saja. Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk kebahagiaan putra kita." Viana mengusap lembut punggung tangan suaminya.
Tuan Jeremy kembali diam dan mulai memakan sarapan paginya. Meskipun dia tidak lagi membahas masalah ini tetap saja di dalam hatinya masih merasa gelisah.