My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 105 Reaksi Xander


__ADS_3

Xander baru saja tiba di meja makan. Pria itu duduk lalu memandang ke depan. Alisnya saling bertaut ketika tidak menemukan keberadaan Sherin di sana.


Padahal seingat Xander, tadi malam wanita itu masih menginap di rumahnya. Bahkan tadi pagi juga Viana bilang kalau wanita itu masih tidur di kamar tamu. Tapi malam ini justru Xander tidak melihat batang hidungnya lagi.


"Ma, dimana Sherin?" tanya Xander. "Apa dia sudah pulang?" Pria itu bertanya sambil mengunyah makan malamnya.


"Malam ini Sherin menginap di rumah Quinn. Tadi siang Mama dan Sherin main-main ke rumah Quinn, lalu Quinn memaksa Sherin untuk tidur di sana. Ada apa? Kenapa tiba-tiba kau mencari Sherin?" tanya Viana penasaran. "Apa sekarang kau mulai merindukannya?" Viana tersenyum sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Xander geleng kepala sambil tersenyum. "Semalam Sherin sempat bilang sama Xander kalau dia ingin belajar tentang dunia bisnis. Jadi satu hal yang aneh saja jika tiba-tiba dia pulang. Soal merindukan, jelas saja tidak secepat itu Ma. Kami baru saja kenal." Xander kembali makan. Pria itu tidak lagi mau membahas hal yang berhubungan dengan Sherin.


"Xander, Papa lihat perusahaan mengalami kemajuan yang sangat pesat selama beberapa minggu terakhir ini. Kau membuat Papa bangga," puji Jeremi. "Pertahankan bakatmu ini. Bangun anak perusahaan yang lebih banyak lagi agar kau bisa memiliki perusahaan raksasa yang cukup kuat dan tidak mudah dikalahkan."


"Pa, makan dulu. Ceritanya nanti aja kalau sudah selesai," protes Viana. Wanita itu menambah lauk di atas piring suaminya. "Ini ada ikan kesukaan papa. Tadi mama juga masak sup kesukaan Xander. Cepat dihabiskan."


"Terima kasih, Ma."


Xander kembali memikirkan soal Quinn. Semakin dia berusaha untuk melupakannya maka bayang-bayang Quinn semakin memenuhi isi kepalanya. Hal ini cukup membuat Xander frustasi.


Namun dia tidak mau cerita pada siapapun. Xander memilih untuk memendamnya sendiri. Dan membiarkan semua orang berpikir kalau dia baik-baik saja. Meskipun kini pikirannya tidak tenang, tetapi Xander tidak memiliki niat untuk merebut Quinn dari Dimitri. Dia mendukung keras pernikahan mereka yang akan berlangsung dalam bulan ini.


Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka bertiga sudah menyelesaikan makan malam. Tentu saja Viana tidak mau menyia-nyiakan waktu yang ada. Dia ingin melontarkan beberapa pertanyaan kepada Xander. Sesuatu yang berkaitan dengan Sherin.


"Xander, Sherin sudah tidak memiliki orang tua lagi. Tadi mama sudah bilang sama papa akan hal ini. Dan papa setuju. Mama ingin tahu apakah kau setuju juga jika Sherin menetap di rumah ini. Kau bisa menganggap Sherin sebagai adikmu.

__ADS_1


Sejak kecil memang Sherin sangat dekat dengan Mama. Di usianya yang sekarang dia membutuhkan perhatian seorang ibu. Mama juga tidak tenang jika membiarkannya tinggal sendirian di luar negeri. Dia juga ingin merintis perusahaan yang baru. Mama meminta Sherin untuk membangun perusahaan di kota ini.


Tapi mama juga tidak akan memaksamu untuk setuju. Jika kau tidak setuju Sherin tinggal di rumah ini, maka Mama akan mencari cara lain. Mungkin dengan membangunkan rumah sederhana untuk Sherin yang letaknya tidak jauh dari rumah kita," ucap Viana dengan hati-hati. Dia terus saja memandang wajah anak sambungnya itu dengan serius.


"Ma, untuk masalah sepele seperti ini Mama tidak perlu minta persetujuanku. Jelas saja aku setuju. Sejak pertama kali aku bertemu dengan Sherin Aku sudah cocok dengannya. Dia wanita yang ceria dan sangat menyenangkan jika diajak bercerita," jawab Xander tanpa rasa keberatan sedikitpun. "Memang lebih baik seorang wanita seperti Sherin hidup dengan seorang pendamping. Pendamping itu yang akan melindunginya jika dia dalam bahaya." Pria itu sama sekali tidak tahu kalau sebenarnya Sherin memiliki kemampuan bela diri yang bisa dihandalkan.


"Terima kasih Xander. Mama senang mendengarnya. Oh iya besok pagi apakah kau bisa menjemput Sherin di rumah Tante Tiffany? Tadi Sherin sempat menghubungi Mama dengan minta Mama untuk menjemputnya besok pagi.


Tetapi tiba-tiba saja Mama memiliki urusan lain hingga tidak bisa menjemput Sherin Sebenarnya Quinn juga bisa mengantarnya pulang. Tetapi Tante Tiffany tidak memberi izin kepada Quinn untuk keluar rumah sampai hari pernikahan tiba."


Xander mengangguk setuju. "Oke, Ma. Besok pagi Xander akan jemput Sherin. Apa ada lagi yang ingin mama bicarakan kepada Xander?" Xander terlihat bosan ada di sana. Pria itu ingin segera meninggalkan meja makan dan bermain dengan ponselnya.


"Kenapa kau terburu-buru sekali. Apa kau ingin keluar malam ini?" protes Viana. Padahal ada banyak sekali keinginan yang ingin dilakukan Viana agar dia semakin dekat dengan Xander. Namun reaksi pria itu masih sama. Dia hanya akan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Viana. Sisanya pria itu akan pergi dan tidak pernah memberi pertanyaan balik kepada Viana.


"Xander, sebelumnya Maafkan Mama karena mama harus mengatakan kalimat seperti ini. Tetapi akhir-akhir ini kenapa Mama lihat kau seperti tidak bersemangat. Apa ini karena Quinn? Karena sebentar lagi dia akan menikah?" Viana bicara dengan nada yang santai agar Xander tidak tersinggung. Karena jika dia kembali melakukan kesalahan yang fatal, itu hanya akan membuat hubungan di antara mereka menjadi renggang.


"Seharusnya Mama tahu kalau aku sudah merelakan Quinn untuk hidup berbahagia bersama dengan Dimitri. Itu berarti aku tidak lagi memikirkan tentang Quinn. Wajahku terlihat tidak bersemangat karena aku lelah. Mama dengar sendiri tadi apa kata Papa. Dalam beberapa minggu ini perusahaan mengalami kemajuan yang begitu pesat. Itu semua berkat kerja kerasku. Mungkin hal itu yang membuat wajahku terlihat tidak bersemangat," jawab Xander dengan ekspresi wajah yang menyakinkan. Dia tidak mau Viana kembali ikut campur dengan urusan pribadinya seperti kemarin.


"Apa yang dikatakan Xander benar. Viana, sebaiknya kau tidak lagi menyangkut pautkan kehidupan Xander dengan Quinn. Karena mereka tidak memiliki hubungan apapun lagi sekarang. Mungkin memang benar Xander terlihat lelah karena selama ini ia berjuang keras untuk perusahaan," ucap Jeremi membela putranya. Menurutnya kali ini alasan yang diucapkan Xander cukup masuk akal.


Viana mengangguk setuju. "Maafkan mama."


"Xander pamit ke kamar ya ma." Bersamaan dengan itu Xander segera beranjak dari kursi dan pergi meninggalkan meja makan. Ketika Xander sudah benar-benar jauh dari mereka Viana memandang wajah suaminya dan memegang tangan pria paruh baya itu.

__ADS_1


"Aku ini memang Ibu sambungnya tetapi aku tahu apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh putraku. Aku tahu kalau sekarang dia masih memikirkan tentang Quinn. Berita pernikahan Quinn dan Dimitri pasti membuat hatinya terluka. Itulah yang membuatnya terlihat tidak bersemangat." Lagi-lagi Viana membahas topik yang sama. Bedanya kini sudah tidak ada Xander di sana.


"Lalu sekarang apa yang bisa kita lakukan jika memang itu yang sekarang dirasakan oleh Xander. Terus-terusan membahas soal Quinn di depan Xandsr hanya akan membuatnya semakin terluka," jawab Jeremi. Jawaban pria itu cukup masuk di akal. Sebagai seorang pria dia tidak mau ambil pusing soal percintaan putranya. Selama itu masih dibatas normal, dia akan membiarkan Xander.


"Bagaimana kalau kita carikan wanita yang cocok untuk menjadi pendamping Xander?" Lagi-lagi rencana menjodohkan Xander muncul di benak Viana hingga membuat Jeremi tertawa mendengarnya.


"Viana, kau tahu sendiri kalau rencana seperti itu tidak akan berhasil. Bagaimana kalau kejadian yang sama terulang kembali. Itu hanya akan menimbulkan trauma bagi Xander. Biarkanlah Xander menemukan cinta sejatinya seiring berjalannya waktu. Kita tidak perlu mencampuri urusan pribadi Xander lagi. Dia sudah dewasa dan bisa menentukan mana yang terbaik untuk hidupnya."


"Tapi-"


"Sayang ... Sudah ya." Jeremi mengusap tangan Viana. Pria paruh baya itu beranjak dari kursi lalu meninggalkan istrinya sendirian di sana. Dia lebih memilih untuk menghindari perdebatan daripada harus bertengkar dengan istrinya.


Viana hanya bisa mendengus kesal. Wanita itu meneguk air putih yang masih tersisa di dalam gelas sampai habis sebelum beranjak dari kursi dan mengikuti suaminya dari belakang.


Di dalam kamar, Xander mengusap wajahnya dengan frustasi. Pria itu mengetuk-ngetuk jarinya di meja sambil memikirkan rencana yang pas untuk melupakan Quinn selama-lamanya.


"Besok pagi aku harus menjemput Sherin. Itu berarti aku akan bertemu dengan Quinn lagi."


Xander menjatuhkan tubuhnya di sandaran sofa dan memandang langit-langit kamar. "Quinn sudah menganggapku sebagai sahabatnya. Kenapa sulit sekali untuk menghilangkan rasa cinta ini?"


Dia diam sejenak sebelum mengernyitkan dahi. "Tunggu. Apa ini perasaan cinta? Atau jangan-jangan ini bukan cinta. Bahkan aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Bagaimana mungkin aku tahu seperti apa rasanya jatuh cinta. Ya, ini pasti hanya perasaan sayang sebagai sahabat. Tidak lebih. Aku harus kuat. Aku ini seorang pria. Aku tidak mau berubah menjadi pria lemah hanya karena satu orang wanita."


Xander membuka laptopnya untuk mencari kesibukan lain agar dia tidak terus-menerus memikirkan Quinn. Pria itu ingin fokus dengan perusahaan miliknya.

__ADS_1


__ADS_2