
Beberapa hari yang lalu ....
Aldo pembanding tubuh mungil Audy di atas tempat tidur. Pria itu benar-benar marah dan cemburu. Dia ingin memberi hukuman untuk membuat Audy menyerah. Dan satu-satunya hukuman yang kini memenuhi isi pikiran Aldo adalah memperkosa Audy.
"Sesuai dengan perjanjian kita di depan tadi, sekarang layani aku dengan baik. Ingat Audy, pelayananmu hari ini menentukan nasib pria yang kau cintai itu!" ujar Aldo dengan begitu angkuhnya.
Audy memang saat itu masih mengenakan pakaian renang memperlihatkan tubuhnya yang seksi dan mulus. Tidak bisa dipungkiri, Aldo sendiri sempat tergoda. Namun ia tidak mau menyerang wanita itu begitu saja. Dia ingin Audy yang merayunya hingga hubungan mereka saat ini tidak terkesan seperti dipaksa.
"Baiklah, aku akan melakukannya dengan sebaik mungkin," jawab Audy dengan tatapan mata yang dipenuhi dengan genangan air mata. Wanita itu menahan kesedihannya dan berusaha keras agar buliran air mata tidak menetes.
Dia naik di atas tubuh Aldo lalu membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan oleh pria tersebut. Aldo memandang Audy dengan tatapan yang begitu hina. Kini wanita yang selama ini ia kejar-kejar dengan begitu susah payah sudah menyerahkan seluruh tubuhnya kepada Aldo. Aldo merasa menang dan puas.
"Aku tidak suka melihatmu basah seperti ini. Sekarang pergi ke kamar mandi dan ganti pakaianmu!" perintah Aldo. Pria itu merasa kalau mereka memiliki waktu yang begitu banyak untuk bersenang-senang. Dia tidak mau terlalu terburu-buru.
Audy yang sudah memilih untuk pasrah segera turun dari tubuh Aldo. Tanpa banyak bicara lagi wanita itu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Audy membasahi seluruh tubuhnya dengan shower. Di sana ia melakukannya sambil menangis. Air shower yang membasahi seluruh tubuhnya membuat air matanya tidak terlihat jelas.
Setelah selesai Audy berdiri di depan cermin dengan sebuah handuk yang melilit di tubuhnya. Rasanya sangat konyol jika ia harus kembali ke kamarnya untuk mencari baju ganti. Wanita itu memandang kemeja Aldo yang tergantung di dinding kamar mandi. Karena tidak memiliki pilihan lain lagi, Audy segera mengenakannya.
Di kamar, Aldo masih bersandar di atas tempat tidur. Pria itu dengan setia menunggu wanitanya. Dia mengangkat satu alisnya melihat Audy mengenakan kemeja putih miliknya. Karena kemeja itu kebesaran di tubuh Audy, jadi kesannya Audy seperti memakai sebuah gaun. Namun tetap saja wanita itu terlihat cantik meskipun Ia hanya mengenakan kemeja yang ukurannya besar.
"Tadinya aku berpikir kalau kau akan keluar dengan handuk. Tidak aku sangka ternyata kau begitu cerdas Audy," puji Aldo.
Pria itu turun dari tempat tidur. Dia berjalan menghampiri Audy yang kini berdiri mematung tidak jauh dari tempat tidur. "Kenapa? Apakah kau takut? Setelah kita menikah nanti, kita akan sering-sering melakukannya. Jadi anggap saja ini latihan sebelum nanti kita menikah.
Kau harus belajar untuk menjadi istri yang baik dan memuaskan suami. Jangan cengeng karena aku tidak suka melihat wanita menangis. Apalagi jika wanita itu adalah kau, Audy." Aldo mengusap pipi Audy. Dia memegang rambut Audy yang basah dan menyingkirkannya ke belakang. Pria itu ingin mengecup leher jenjang Audy. Karena takut, justru Audy melangkah mundur.
Aldo mematung pada posisinya. Ada senyum kecewa ketika Audy melangkah mundur dan membuatnya gagal untuk mencium wanita itu. Kini pria tersebut kembali berdiri tegak dan menatap Audy dengan tatapan yang tidak terbaca.
"Sepertinya aku tidak perlu mengulur waktu lagi. Sekarang buka bajumu Audy. Aku ingin melihat keindahan di balik kemeja ini. Sebentar lagi kau akan menjadi milikku seutuhnya!" perintah Aldo.
Debaran jantung Audy semakin tidak karuan. Dia sangat takut. Seumur hidupnya baru ini dia berada dalam situasi yang sangat memalukan seperti ini. Audy merasa dia sudah tidak memiliki harga diri lagi sebagai seorang wanita. Namun ia tidak bisa berbuat banyak karena ia harus melakukan semua perintah Aldo demi menyelamatkan nyawa Xander.
Kedua tangan Audy terlihat gemetar. Wanita itu berusaha untuk membuka kancing kemeja yang kini ia kenakan. Tubuh polosnya memang hanya ditutupi oleh kemeja putih itu saja. Jika kemeja itu ditanggalkan, maka Aldo akan resmi menjadi pria pertama yang melihat tubuh polos Audy.
Tatapan Aldo mulai luluh melihat ekspresi Audy yang begitu ketakutan. Hingga saat Audy ingin membuka kancing kemeja yang ketiga pria itu segera menggenggam tangan Audy untuk menghentikannya.
__ADS_1
"Bukan ini yang aku inginkan. Aku tulus mencintaimu. Bahkan aku berani jamin kalau cintaku jauh lebih besar daripada pria itu. Aku akan membahagiakanmu. Tolong lupakan dia untuk selama-lamanya. Berbahagialah denganku." Meskipun sempat cemburu dan emosi tetapi melihat Audy sedih dan menangis membuat Aldo menjadi tidak tega.
"Kau pasti tahu kalau cinta tidak bisa semudah itu digantikan oleh orang lain. Sama sepertimu Aldo. Bukankah ada banyak sekali wanita yang tergila-gila padamu? Kenapa Kau harus mencintaiku sampai sedalam ini yang jelas-jelas tidak pernah membalas cintamu? Bukankah sulit untuk menghilangkan namaku di hatimu? Seperti itulah yang sekarang aku alami. Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk melupakan nama Xander dari hatiku," jawab Audy. Dia terpaksa memberanikan diri untuk mengatakan kalimat seperti itu di hadapan Aldo.
"Tapi aku tidak mau bercinta dengan wanita yang tidak mencintaiku. Meskipun aku tahu aku bisa memilikimu begitu saja, tetapi tidak ada rasa puas di sana. Aku tulus mencintaimu Audy itu kenapa aku tidak tega untuk menyakitimu. Melihatmu menangis seperti ini membuat hidupku hancur. Audy, kenapa kau harus jatuh cinta kepada pria itu? Pria yang baru saja kau temui. Sedangkan aku sudah bertahun-tahun mengejar-ngejarmu dan mengemis cintamu?" tanya Aldo.
"Aku juga tidak tahu. Cinta itu datang begitu saja. Maafkan aku karena selama ini terlalu sering mengecewakanmu. Inilah alasannya, kenapa selama ini aku memilih kabur meninggalkan Roma daripada harus menemuimu. Karena aku tidak mau cintamu semakin besar kepadaku. Justru aku berharap kau membenciku karena secara jelas aku sedang menolak cintamu." Audy terus menjelaskan yang terjadi berharap Aldo bisa berubah pikiran.
"Audy sayang, untuk pertama kalinya di dalam hidupku, aku akan berlutut di hadapanmu dan memohon cintamu." Aldo segera berlutut di hadapan Audy. Pria itu memegang kedua tangan Audy dan menatapnya dengan tatapan memohon. "Tolong cintai aku. Tolong beri aku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta padaku."
Audy hanya bisa menangis mendengar permohonan dari Aldo. "Aldo tolong biarkan aku pergi bersama dengannya."
Kali ini kalimat yang diucapkan Audy kembali menyulut emosi Aldo. Pria itu yang tadinya sempat luluh kini kembali berdiri dengan tatapan yang begitu tajam. Hal itu membuat Audy kembali ketakutan dan memilih untuk menunduk daripada harus memandang kedua mata Aldo secara langsung.
"Berani sekali kau mengatakan kalimat seperti itu di hadapanku!" ketus Aldo dengan emosi yang begitu membara. Dia menarik Audy dan mencengkram kedua tangannya dengan sangat kuat. Sampai-sampai terlihat Audy yang sedang meringis kesakitan.
"Aldo, lepaskan! Ini sangat sakit," pinta Audy dengan tatapan memohon.
"Sekali lagi aku tanya apakah kau mau menikah denganku? Ingat Audy jangan gegabah. Jawabanmu menentukan nasip pria itu!" ketus Aldo.
"Kau mau mencintaiku setelah menikah nanti dan melupakan pria itu untuk selama-lamanya?" tanya Aldo lagi.
Audy sempat membisu karena dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang baru saja diberikan oleh Aldo.
"JAWAB!" teriak Aldo dengan begitu keras sehingga membuat Audy terperanjat kaget.
"Ya. Aku akan berusaha untuk mencintaimu dan melupakan dia untuk selama-lamanya. Aku janji akan menjadi istri yang baik dan berbakti kepada suamiku," ucap Audy pada akhirnya.
"Jangan pernah mengingkari janji yang sudah kau ucapkan Audy!" ujar Aldo. Pria itu segera mendorong Audy hingga wanita itu terjatuh di lantai. Karena sudah tidak tahan lagi akhirnya Audy menangis sejadi-jadinya. Dia ingin meluapkan kesedihan yang kini ia rasakan.
Aldo seperti tidak peduli dengan tangisan Audy. Pria itu mengancing kembali kemeja yang sempat terbuka sebelum pergi meninggalkan kamar.
...***...
Rasanya Xander masih tidak percaya dengan cerita yang baru saja dikatakan oleh Audy. Selama beberapa hari ini Xander berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri agar bisa menerima Audy apa adanya. Tetapi kini justru ia hadapkan dengan kenyataan yang begitu mengejutkan.
__ADS_1
"Dia tidak menyentuhmu?" tanya Xander sekali lagi untuk memastikan kalau Audy tidak sekedar menghiburnya saja.
Audy mengangguk pelan. "Sebenarnya aku ingin menceritakan masalah ini setelah kita menikah nanti. Tetapi aku tidak mau kau terus-terusan memandangku sebelah mata dan berpikir kalau tubuhku ini sudah pernah dimiliki oleh pria lain. Rasanya sangat tidak enak dipandang seperti itu," jawab Audy.
Xander tersenyum sebelum menarik Audy dan memeluknya dengan erat. Cerita yang baru saja diceritakan oleh Audy merupakan hadiah paling indah untuknya. "Maafkan aku Audy karena sudah sempat berpikiran buruk tentangmu."
"Wajar saja kau berpikir seperti itu. Jika aku ada di posisimu mungkin aku akan berpikiran seperti itu," jawab Audy sambil tersenyum.
Xander tiba-tiba merogoh sebuah kotak cincin dari dalam sakunya. Ternyata sebelum menemui Audy di kamarnya pria itu sempat memesan cincin karena memang sudah bertekad untuk melamar Audy secepatnya.
Xander berlutut di atas karpet sambil memamerkan cincin yang baru saja ia beli di hadapan Audy. "Audy, apakah kau mau menikah denganku?"
Audy tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Momen ini merupakan momen yang paling ia tunggu-tunggu saat pertama kali ia jatuh cinta kepada Xander. Rasanya semua seperti tidak nyata. Audy masih tidak menyangka kalau pria yang pernah menolak cintanya kini justru berlutut di hadapannya untuk melamar dirinya.
"Ya aku mau menikah denganmu," jawab Audy dengan mantap.
Xander tersenyum bahagia mendengar jawaban Audy. Dia segera mengambil cincin tersebut dan menyematkannya di jari manis Audy. Setelah cincin itu tersemat indah di jari Audy, Xander segera mengecup punggung tangan Audy dengan mesra.
"Terima kasih Audy Sayang. Aku janji akan menjadi suami yang akan selalu membahagiakanmu." Xander dan Audy segera berpelukan. Meskipun harus melalui perjuangan yang begitu berat pada akhirnya mereka bisa bersatu. Xander merasa bahagia karena dibalik pengorbanannya yang terasa begitu menyakitkan pada akhirnya ia memetik buah yang begitu manis.
Ketika Xander melepas pelukannya, pria itu melihat tatapan Audy yang seperti sedang memikirkan sesuatu. "Kau tidak bahagia?" tanya Xander.
"Ada beberapa kalimat yang ingin aku katakan kepada Aldo. Apakah boleh aku menemuinya?"
"Aldo kau bilang?"
Permintaan Audy benar-benar merusak momen manis saat itu. Ekspresi wajah Xander langsung berubah. Dia terlihat kecewa karena di dalam pikiran Audy masih ada nama Aldo. Pria itu berharap Audy sudah melupakan Aldo untuk selama-lamanya dan menganggap kalau Aldo tidak pernah hadir di dalam kehidupannya.
"Sebentar saja. Bahkan jika harus bersama denganmu juga tidak apa-apa. Aku tahu ini semua terkesan sangat mustahil. Tetapi aku berharap tidak ada lagi permusuhan antara kau dan Aldo. Aldo belum tewas itu berarti ada kesempatan baginya untuk sembuh. Aku tidak mau ketika dia sembuh nanti dendam itu kembali muncul dan membuatnya memiliki niat untuk balas dendam. Jadi sebelum kejadian buruk itu kembali terjadi aku ingin mencegahnya," ucap Audy yang berusaha menjelaskan niat baiknya.
"Audy, kau yakin ingin menemuinya? Ini sama saja kita mengantarkan nyawa kita. Apakah kau lupa bagaimana perjuangan saudaraku hanya untuk membawamu ke kota ini? Lalu sekarang dengan mudahnya kau katakan kalau kau ingin kembali ke Roma untuk menemui Aldo?" Xander kembali memperjelas risiko yang akan mereka hadapi jika mereka sampai kembali ke Roma. "Bagaimana kalau kita ditangkap lagi? Rencana pernikahan kita hanya tinggal cerita. Mungkin kemarin keberuntungan masih berpihak kepada kita. Bagaimana kalau kali ini justru kita bernasib sial?"
Audy kembali terdiam karena apa yang dikatakan oleh Xander memang ada benarnya juga. "Kalau begitu kita akan menemui Aldo ketika sudah menikah saja. Dengan begitu tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita."
Xander mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Dia tidak menyangka kalau wanita yang di depannya ini begitu keras kepala. "Jika kau memang Ingin bertemu dengannya, besok kita akan berangkat ke Roma!" ketus Xander dengan wajah dipenuhi emosi.
__ADS_1