My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 130 Hak Sherin


__ADS_3

Sherin terlihat tidak semangat ketika memilih baju yang ada di depannya. Wanita itu memang tidak memiliki niat untuk berbelanja hari ini. Dia katakan ingin pergi ke mall, itu hanya sebagai alasan saja. Kini kemanapun dia melangkah ada Viana di samping Sherin. Wanita itu merasa bosan karena sejak tadi Viana terus saja mengikutinya. Tetapi untuk menyuruh wanita paruh baya itu pergi Sherin juga tidak tega.


"Sayang, lihatlah gaun ini. Bukankah gaun ini sangat cocok untukmu." Suara Viana memecah lamunan Sherin. Wanita itu memandang ke samping dan melihat sepotong gaun berwarna coklat yang kini dipamerkan oleh Viana. Ukurannya memang sangat cocok dengan badan Sherin. Namun entah kenapa Sherin tidak suka dengan modelnya.


"Tante, apa tidak ada model lain?" tanya Sherin dengan hati-hati. Dia juga tidak mau sampai Viana kecewa dengannya.


Viana menghela napas panjang. "Sudah hampir 2 jam kita berada di mall ini. Namun kau tidak juga menemukan barang yang kau cari. Sherin, sebenarnya benda apa yang sedang kau cari saat ini? Biar Tante bantu." Viana meletakkan lagi gaun coklat yang sempat ia pilih. Wanita paruh baya itu seperti tidak semangat untuk memilih lagi.


"Tante, jika aku bicara jujur apakah Tante akan marah padaku?" Sherin menunduk takut. Ibarat seorang anak yang takut jika ibu kandungnya marah.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kau bicara seperti itu? Apa selama ini kau berfikir kalau Tante ini terlalu mengekangmu? Tante sangat menyayangimu sampai-sampai tidak ingin kau celaka. Kejadian kemarin benar-benar membuat trauma yang begitu mendalam bagi Tante. Tante tidak akan marah jika kau jujur pada Tante. Jika sesuatu yang ingin kau kerjakan tidak mengandung resiko tante pasti akan mengizinkanmu melakukannya."


Viana mengusap rambut Sherin. Wanita paruh baya itu berusaha bersikap selembut mungkin agar Sherin tidak lagi merasa takut atau segan padanya.


"Tante, sebenarnya aku ingin menemui seseorang. Entah kenapa aku sangat mengkhawatirkannya. Dia tidak ada menghubungiku. Ketika aku menghubunginya, nomornya tidak bisa dihubungi. Tapi aku belum bisa memberitahu Tante siapa pria itu. Aku janji suatu hari nanti pasti aku akan memberitahu Tante," ucap Sherin dengan penuh keyakinan.


"Jangan, Tante. Biar aku saja yang pergi dengan taksi. Tante pulang saja dengan mobil dan sopir," tolak Sherin sambil memegang tangan Viana.


"Sherin, tapi kau harus janji pada tante untuk segera menghubungi tante jika sudah tiba di tempat yang ingin kau kunjungi."

__ADS_1


Sherin mengangguk cepat. "Ya, Tante. Sherin janji," ucap Sherin dengan wajah berseri.


Viana segera pergi meninggalkan Sherin sendirian di sana. Ia memutuskan untuk segera pulang ke rumah dan istirahat. Sebenarnya ada rasa khawatir di dalam hatinya ketika membebaskan Sherin seperti ini. Namun Viana berusaha membuat Sherin nyaman selama tinggal bersama dengannya.


Sherin segera memutar tubuhnya untuk pergi meninggalkan mall tersebut. Karena tidak melihat jalan wanita itu menabrak seseorang hingga hampir saja terjatuh.


"Maaf. Maafkan saya," ucap Sherin masih dengan kepala menunduk. Wanita itu segera mengangkat kepalanya untuk melihat seseorang yang baru saja ia tabrak tanpa sengaja. Kedua matanya melebar melihat pria yang tidak asing kini berdiri di hadapannya.


"Nona Sherin, senang bertemu dengan anda," ucap Zack Lee.

__ADS_1


__ADS_2