
Joa dan Xander sudah ada di dalam pesawat yang kini terbang menuju ke Perugia. Tadinya Dimitri juga ingin ikut. Tetapi mereka berdua melarangnya. Quinn sangat membutuhkan perhatian Dimitri. Mereka tidak mau sampai terjadi sesuatu terhadap Quinn. Semua orang sangat menyayangi Quinn dan calon anak yang ada diperutnya.
Xander memandang ke arah Joa sekilas sebelum mendengus kesal. Pria itu masih tidak menyangka kalau masalah yang disebabkan oleh Audy bisa separah ini.
"Kenapa tadi kita tidak sekalian saja membawa wanita itu dan memulangkannya ke keluarganya!" umpat Xander. "Dia bukan hanya merepotkan, tetapi membuat masalah yang begitu besar. Bagaimana kalau terjadi sesuatu terhadap Sherin?"
Joa memandang Xander sekilas sebelum melempar pandangannya ke arah lain. "Tidak ada gunanya menyesali keputusan yang pernah diambil. Sekarang waktunya untuk berjuang. Bukan menyalahkan orang lain!"
Xander tersenyum tipis. "Kau tidak menyalahkan wanita itu?"
"Tidak!" jawab Joa cepat.
"Kenapa?"
"Karena berkat dia, aku jadi tahu siapa yang benar-benar setia dengan White Snake dan siapa yang hanya pura-pura saja. Tidak sembarang orang bisa masuk ke wilayah penjaga bawah tanah. Untuk menuju ke sana, hanya bisa melewati satu pintu dan tidak ada jalan lain lagi.
Setiap penjara dilapisi dengan baja agar para tawanan tidak bisa kabur begitu saja. Jadi, jika wanita itu bisa sampai tiba di penjara bawah tanah. Khususnya dipenjara tempat Mr. Zeno kami tahan. Itu berarti seseorang dengan sengaja membiarkannya masuk ke sana."
Xander mengangguk setuju. "Lalu apa kalian sudah berhasil menangkap penghianat ini?"
Tatapan Joa berubah tajam. "Bahkan kami sudah menghabisinya 1 menit setelah Mr. Zeno dinyatakan hilang!"
"Sekejam itu!" Xander terdiam sejenak untuk memastikan kalau kalimatnya tidak menyinggung perasaan Joa. "Maksudku, itu memang pantas. Habisi penghianat agar tidak ada penghianat lagi. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi. Kenapa banyak sekali penghianat di White Snake? Joa, kau tidak benar-benar menyeleksi mereka! Kau harus lebih waspada."
"Cepat atau lambat bau busuk akan terbongkar!" sahut Joa santai. Pria itu meneguk minuman beralkohol yang ada di hadapannya. "Sekarang aku hanya ingin memikirkan keselamatan Sherin. Dia ada di tangan pria yang sangat berbahaya."
Xander mengangguk. "Semoga saja pria tua itu tidak mencelakai Sherin. Setelah ini, jangan pernah tinggalkan Sherin sendirian. Pernikahan kalian semakin dekat. Aku tidak mau jika pernikahan kalian sampai gagal!" ucap Xander memperingati. Joa hanya diam saja sembari meneguk minumannya. Di dalam hati pria itu terus saja mengkhawatirkan keadaan Sherin.
"Aku yang salah. Tidak seharusnya aku mengabaikanmu hingga seperti ini. Maafkan aku Sherin," batin Joa.
...***...
Mr. Zeno tersenyum puas melihat aksi Peiyu yang begitu mengagumkan. Sampai detik ini dia masih belum sadar, kalau wanita yang ada di sampingnya adalah wanita yang berbeda. Pria tua itu terus saja mengusir semua penumpang agar berpindah ke kelas bisnis.
Suasana di dalam pesawat terlihat tidak kondusif. Karena memang saat itu para penumpang pesawat tidak ada yang mengetahui rencana Zack Lee. Akan tetapi kepanikan penumpang membuat Mr. Zeno tidak sadar kalau sebenarnya semua ini adalah rencana Zack Lee.
Hingga tidak lama kemudian kelas ekonomi berhasil dikosongkan. Yang tersisa di sana hanya ada Peiyu dan juga Mr. Zeno. Mereka berdua saling memandang untuk merayakan keberhasilan mereka berdua.
"Sekarang di mana berliannya?" tanya Mr. Zeno tidak sabar. "Cepat bawa ke sini lalu kita bagi dua! Setelah itu kita akan pikirkan cara agar bisa turun dari pesawat ini dengan aman."
"Oke. Akan aku ambilkan," ucap Peiyu. Wanita itu berjalan ke salah satu kursi penumpang lalu mengambil sebuah tas yang tergeletak di sana. Dia lalu membawa tas tersebut ke tempat Mr. Zeno berdiri.
"Jika kau berani membohongi ku maka habislah Kau kubuat!" ancam Mr. Zeno ketika Peiyu tidak juga membuka tas itu dan menunjukkan berlian yang seharusnya mereka dapatkan.
"Tenang saja. Kita tidak perlu terburu-buru karena pesawat ini akan mendarat beberapa jam lagi. Itu berarti kita masih memiliki banyak waktu," ucap Peiyu dengan santai.
__ADS_1
Wanita itu meletakkan senjata api yang sejak tadi ia genggam agar bisa lebih leluasa membuka tas tersebut. Dia berjongkok dan membuka resleting tas itu secara perlahan hingga akhirnya ia melihat tumpukan berlian yang ada di dalam tas tersebut.
"Banyak sekali," batin Peiyu kaget.
Peiyu sendiri juga tidak menyangka kalau ternyata berlian itu berjumlah sangat banyak. Sebenarnya itu adalah berlian milik Zack Lee. Mereka sengaja menggunakan berlian tersebut untuk menjebak Mr. Zeno. Peiyu sendiri belum pernah melihat berlian yang saat ini dibawa oleh Zack Lee. Dia akan melihatnya ketika sudah tiba di Perugia nanti.
"Zack Lee. Dari mana dia mendapatkan berlian ini?" batin Peiyu. Karena terlalu fokus dengan tumpukan berlian yang kini ada di hadapannya. Sampai akhirnya Peiyu tidak sadar kalau kini Mr. Zeno sudah mengambil tindakan. Pria itu melekatkan senjata apinya di pelipis kanan Peiyu.
Peiyu mengangkat kepalanya ke atas. Wanita itu baru sadar kalau senjata api yang tadi ia genggam telah hilang. Wanita itu mengumpat di dalam hati karena memang ini bukan bagian dari rencana mereka.
"Serahkan berlian itu kepadaku!" perintah Mr. Zeno.
"Kita akan membagi berlian ini," sahut Peiyu.
Mr. Zeno tersenyum tipis. "Bagi kau bilang?" Pria itu semakin semangat untuk membunuh Peiyu. "Berlian ini milikku. Pergilah ke neraka!"
Zack Lee muncul lalu melilitkan tali di leher Mr. Zeno. Bersamaan dengan itu, Peiyu segera mengamankan berlian milik kekasihnya.
Sherin juga muncul di sana. Wanita itu yang bertugas untuk mengamankan berlian. Sedangkan Peiyu kembali menemui Zack Lee untuk membantunya.
Mr. Zeno baru sadar kalau ada dua wanita dengan wajah yang mirip di sana. Kali ini pria itu tidak pikir-pikir lagi. Dia segera menarik sebuah kabel untuk mengaktifkan bom yang ada pada tubuhnya.
Peiyu segera menarik tangan Mr. Zeno hingga pria tua itu gagal menarik kabelnya. Zack Lee menghajar Mr. Zeno sampai pria itu babak belur.
"Kau lagi!" umpat Mr. Zeno.
Zack Lee tersenyum kecil. "Ada apa Mr. Zeno? Kelihatannya anda tidak senang bertemu dengan saya," sahut Zack Lee.
Mr. Zeno memandang ke arah Peiyu. Pria tua itu lalu tersenyum. "Kita akan mati bersama!" ujarnya penuh kebahagiaan. Pria itu lalu membuka jas yang ia kenakan hingga memamerkan bom yang sudah aktif di sana.
Peiyu melebarkan kedua matanya karena dia yakin kalau sejak tadi Mr. Zeno tidak memiliki kesempatan untuk mengaktifkan bom tersebut. Tapi sekarang yang terjadi justru bom itu sudah aktif dan hanya tersisa waktu 10 detik.
Zack Lee menghampiri Mr. Zeno lalu mengikat tangan pria itu. Saat itu Mr. Zeno hanya tertawa saja karena dia yakin sebentar lagi semua orang akan meledak bersama dengannya.
"Sekarang!" perintah Zack Lee.
Sherin segera membuka pintu darurat. Dibantu oleh pramugari yang ada di sana. Saat pintu terbuka, semua orang yang ada di kelas ekonomi memakai sabuk pengaman. Termasuk Peiyu. Wanita itu sempat panik melihat Zack Lee tidak menggunakan tali atau apapun itu.
"Kenapa dia ceroboh begini!" umpat Peiyu.
Zack Lee menendang Mr. Zeno hingga tubuh pria itu terpental. Dia sendiri berpegangan kuat pada kursi pesawat.
Sherin dan Pramugari segera menutup kembali pintu tersebut. Namun sesuatu terjadi. Zack Lee seperti tertarik juga keluar karena pegangannya tidak cukup kuat. Peiyu segera memeluk Zack Lee dengan sekuat tenaganya. Dia sudah mengikat tubuhnya sendiri dengan tali.
Saat pintu berhasil tertutup sempurna, di saat itu semua orang bisa bernapas dengan lega. Sedangkan Mr. Zeno. Dia meledak sendiri bersama dengan bom rakitannya.
__ADS_1
"Apa kau mau pergi meninggalkanku? Aku akan menghukummu nanti!" protes Peiyu. Dia masih tetap memeluk kekasihnya dari belakang.
Zack Lee tersenyum. Dia melempar parasut yang sudah dia pasang untuk jaga-jaga kalau keadaan tidak memungkinkan. Pria itu berputar lalu mengusap pipi Peiyu. "Terima kasih sayang."
Peiyu mengangkat kepalanya. "Itu tidak cukup. Peganglah!" Peiyu meletakkan tangan Zack Lee di dadanya. "Bukankah debarannya sangat kencang? Aku takut sekali!"
Zack Lee mengusap rambut Peiyu. "Aku tidak akan mati semudah itu."
Sherin tersenyum melihatnya. Dia duduk sambil memandang keluar jendela. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk kembali pulang dan bertemu dengan keluarganya. "Setelah ini aku tidak mau pergi kemanapun sampai pernikahanku dan Joa tiba."
"Darah?" ujar Peiyu dengan suara yang panik.
Sherin yang kaget mendengarnya segera berdiri. Wanita itu berlari menuju ke tempat Zack Lee dan Peiyu berada.
"Ada apa?" tanya Sherin khawatir.
"Zack Lee, kenapa bisa ada darah?" Peiyu segera membuka kemeja putih yang dikenakan Zack Lee karena memang saat itu rembesan darah itu terlihat jelas di sana.
Zack Lee memandang ke arah Sherin sejenak sebelum memandang Peiyu yang kini memasang wajah yang sangat panik.
"Apa tadi Mr. Zeno sempat melukaimu? Tapi dia tidak memegang senjata. Aku ingat betul," ujar Peiyu lagi.
Sherin berdiri mematung melihatnya. "Peiyu, ini luka lama. Dokter bilang luka pada tubuh Zack Lee memang akan kembali koyak jika dia melakukan aktifitas yang berbahaya. Dokter meminta Zack Lee istirahat total selama berbulan-bulan lamanya."
"Benarkah? Kenapa kau tidak bilang!" Peiyu mencubit lengan Zack Lee.
"Aku tidak mau kau khawatir sayang. Ini salah kau sendiri. Kenapa kau tidak mau merawatku lagi!" protes Zack Lee gantian. "Bahkan mandi bersama kau tidak mau lagi!"
Peiyu segera menutup mulut Zack Lee. Wajahnya memerah karena malu. "Bisakah kau jaga rahasia? Ada Sherin di sini!"
Zack Lee terlihat santai saja. "Sebentar lagi Sherin juga akan merasakannya bersama dengan Joa!"
"Hei, Tuan. Jangan bicara omong kosong! Sebaiknya anda istirahat!" Kali ini Sherin yang mencubit lengan Zack Lee.
Zack Lee tiba-tiba meringis kesakitan sembari memegang perutnya. "Perutku sakit sekali!" lirihnya.
"Zack Lee!"
"Sayang!"
Peiyu dan Sherin berteriak sama-sama. Mereka khawatir. Tetapi di detik itu justru Zack Lee tertawa. "Ternyata seperti ini rasanya memiliki dua istri!" ledeknya hingga lagi-lagi mendapat pukulan dari Peiyu dan Sherin.
"Kau ini! Aku akan menghukummu nanti!" protes Peiyu. Wanita itu segera membawa Zack Lee ke kursi untuk membersihkan darahnya. Sherin melipat kedua tangannya lalu tersenyum.
"Joa, aku sangat merindukanmu."
__ADS_1