
Joa melempar bom yang ada di tangan ke arah segerombolan musuh yang mendekat. Setelah bom itu meledak sempurna, dia mengambil senjata apinya dan menembak musuh yang tersisa.
Kini mereka ada di markas besar milik Gabriel. Sudah pasti musuh yang muncul bukan main banyaknya. Sampai-sampai dia dan Robin harus berpisah.
Tidak dengan Xander yang kini bersama dengan Joa. Pria itu juga terlihat serius saat bertarung. Tidak mempedulikan bagaimana nyawa satu-satunya akan melayang. Pria itu hanya fokus pada keselamatan Dimitri.
Joa menurunkan senjata apinya mendengar suara tembakan yang cukup jauh. Dia memandang ke segala arah. Sudah pasti itu bukan berasal dari pertarungan Robin. Pria itu melangkah lagi sampai akhirnya dia memijak lantai yang tidak rata.
"Apa ini? Apa di bawah ini ada jalan?" Joa segera berjongkok dan menyingkirkan karpet yang sempat dia pihak tadi. Pria itu melebarkan kedua matanya melihat ada pintu raja di sana. Dia mendekatkan telinganya dan kembali mendengar suara tembakan.
"Suaranya dari bawah." Joa mengambil bom terakhir yang dia miliki. Pria itu mundur agar pintu rahasia itu bisa segera terbuka. Xander juga mundur. Begitupun dengan pasukan White Snake yang tersisa.
DHOMMM
Asap mengepul hingga membuat mereka harus menutup hidung. Sampai saatnya asap putih itu hilang, Joa melihat sebuah tangga turun. Tanpa pikir panjang pria itu segera turun. Diikuti dengan Xander dan pasukan White Snake.
Robin yang baru saja tiba menembak siapa saja yang berani mengejar Joa dan yang lainnya. Pria itu memutar tubuhnya ke belakang. Wajahnya semakin serius melihat Gabriel berdiri di sana dengan pasukan inti miliknya.
"Oh, ternyata anda pemilik tempat ini. Maaf, Tuan. Tempat anda kami jadikan tempat bermain," ledek Robin. Pria itu tahu kalau kemampuannya tidak ada apa-apanya jika harus menghadapi Gabriel. Tetapi pria itu akan berjuang untuk menang dan melindungi timnya yang kini masuk ke bawah tanah.
"Ledakkan tempat itu sekarang juga!" perintah Gabriel. Ternyata pria itu lebih memilih ruang bawah tanah miliknya lenyap dari pada musuh berhasil membebaskan Dimitri.
"Tidak semudah itu! Kami akan menghalangi anda, Tuan Gabriel yang terhormat!" ujar Robin. Pria itu memegang senjata apinya lalu menodongkannya ke depan.
Gabriel tersenyum sinis melihat Robin. Dia berpikir kalau Robin sama sekali bukan tandingannya. Bahkan mungkin anak buahnya saja mampu mengalahkan Robin.
Robin berlari sambil berteriak keras. "AARGGHHH!"
Dengan santai pasukan Gabriel mengangkat senjata mereka untuk melumpuhkan Robin. Hingga sesudah tidak terduga terjadi. Semakin dekat Robin, pria itu melemparkan bom yang dia bawa.
DHOOMMMM
Gabriel dan semua orang yang dekat ledakan terpental jauh. Di tambah lagi bom yang dibawa anak buah Gabriel juga ikut meledak. Ruangan itu dipenuhi dengan api yang siap melahap habis bangunan mewah milik Gabriel.
Di bawah, Joa dan Xander menahan langkah kaki mereka merasakan runtuhan tanah akibat ledakan dari atas. Mereka mengkhawatirkan Robin saat ini.
"Joa, cepatlah!" ujar Xander.
Joa mengangguk. Dia melangkah lebih cepat lagi sampai akhirnya mereka berhenti dan melihat pemandangan yang begitu menyedihkan. Quinn memeluk Dimitri yang sudah tidak sadarkan diri. Wanita itu menangis. Tangan Dimitri terborgol di sebuah tiang besi yang begitu kuat. Ternyata pria itu sengaja mengunci dirinya sendiri agar Quinn tidak membawanya pergi dan membuat mereka celaka.
"BOS!" teriak Joa.
__ADS_1
"Quinn." Xander segera menarik tubuh Quinn. Wanita itu menangis di pelukannya.
"Ada bom di tubuh Dimitri. Waktu yang kita miliki tidak banyak. Kita semua akan mati di sini," ucap Quinn.
"Joa, bukankah hanya Robin yang bisa menjinakkan bom?" ujar Xander. Pria itu juga panik. "Berapa waktu yang kita miliki."
"10 menit. Aku rasa ini waktu yang cukup untuk mencari Robin." Joa membuka borgol di tangan Dimitri hingga akhirnya pria itu bisa dia pikul. Dengan dibantu pasukan White Snake, mereka segera pergi meninggalkan ruang bawah tanah yang gelap itu.
"Quinn, kenapa kau bisa di sini juga? Ini berbahaya," ucap Xander sambil berjalan.
"Aku tidak bisa duduk diam di rumah sakit jika keadaannya seperti ini."
Ternyata jalan yang dilalui Joa lebih cepat daripada jalan yang dilalui Quinn. Mereka segera naik ke atas dan terlihat kaget melihat bangunan itu terbakar hebat.
"Gawat? Dimana Robin." Joa segera berlari mencari posisi yang aman. Begitupun dengan yang lainnya. Pria itu meletakkan Dimitri di lantai dan memeriksa lagi bom yang ada pada tubuh Dimitri. "Kita bisa membuka bom ini tanpa harus mematikannya."
Joa mengeluarkan belatih dan siap memotong kabel-kabel yang kini melilit tubuh Dimitri. Sedangkan Dimitri sendiri hanya memejamkan mata dengan keadaan pasrah. Pria itu bisa mendengar namun untuk membuka mata dia sudah sangat kesulitan.
"Hati-hati. Jika sampai salah, kita semua akan celaka," ucap Xander memperingati.
Joa menarik napas dalam-dalam. Meskipun tidak sering, tapi dia pernah beberapa kali membantu Robin menjinakkan bom. Pria itu tahu mana yang bisa membuat bom meledak mana yang akan menghentikan bom.
Semua orang memandang ke belakang. Dari kepulan asap Robin muncul dengan tubuh dipenuhi luka bakar. Pria itu masih sanggup berjalan.
Xander berlari dan menahan tubuh Robin agar tidak terjatuh. Dia membawanya mendekati Dimitri. "Robin, kami membutuhkan bantuanmu."
Robin tersenyum. Dia segera berlutut dan melakukan tugasnya. Dalam waktu singkat bom itu langsung non aktif. Semua orang kini bisa bernapas lega. Akhirnya Dimitri bisa diselamatkan dengan mudah.
Quinn memperhatikan keadaan sekitar. Rasanya dia tidak yakin jika mereka sudah benar-benar aman. Wanita itu melirik jam di pergelangan tangannya. Kedua matanya melebar melihat satu orang musuh ada di antara mereka.
"Mundur atau aku akan membunuh pria ini!"
Gabriel muncul dan menarik Xander untuk menjadi tahanannya. Ternyata pria itu dengan sigap menyamar menjadi bagian dari White Snake hingga tidak ada yang curiga.
Joa dan Quinn berdiri berdampingan. Sedangkan Robin bertugas menjaga Dimitri dengan sisa tenaga yang ia miliki.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Quinn dengan suara tegas.
"Kau pasti tahu kalau aku ingin Dimitri mati. Sekarang hanya ada dua pilihan." Gabriel melekatkan senjata apinya di pelipis Xander. "Pria ini yang mati atau Dimitri! Karena kau satu-satunya wanita yang selamat, pilihan ada ditanganmu Nona!"
Gabriel tersenyum licik penuh kemenangan. Ternyata pria itu sudah menggunakan perlengkapan yang sempurna hingga bisa dengan mudahnya lolos dari api. Dia kini menatap tajam ke arah Dimitri yang masih bernapas.
__ADS_1
"Tidak perlu. Bagaimana kalau aku menukar nyawa kedua pria ini dengan nyawaku?" tawar Quinn hingga membuat Xander melebarkan kedua matanya.
"Quinn, apa yang kau katakan? Apa kau gila?" protes Xander.
"Hahahaha!" Gabriel tertawa dengan girangnya seolah ada yang lucu di sana. "Boleh juga. Tapi aku tahu ini hanya jebakan anda saja Nona. Bukankah sekarang kalian banyak dan aku hanya sendirian?"
"Lepaskan dia. Aku akan menusukkan belatih ini ke tubuhku sendiri!" tawar Quinn lagi.
"Quinn, kau benar-benar gila!" Xander memegang tangan Gabriel. "Cepat tembak aku. Aku rela mati asalkan Dimitri tetap hidup!"
"Ckck. Persahabatan yang begitu erat. Aku sangat iri pada kalian." Gabriel masih menahan senjatanya agar tidak sampai menembak tawanannya saat itu.
"Nona, anda becanda kan?" bisik Joa. Ternyata pria itu juga sangat tidak rela jika Quinn bunuh diri.
"Kita tidak memiliki pilihan lain," jawab Quinn tanpa memandang.
"Kalau begitu aku saja yang menggantikan anda," ucap Joa. Pria itu melemparkan senjata apinya di lantai. "Tembak saya. Tetapi anda harus berjanji untuk membebaskan Bos Dimitri dan yang lainnya."
"Sayangnya aku tidak tertarik dengan nyawamu, Joa! Aku lebih tertarik dengan-" Gabriel memandang ke arah Quinn lagi. "Nyawa wanita dihadapanku ini. Sepertinya dia sangat hebat. Sulit untuk mencapai penjara bawah tanah yang aku bangun. Tetapi dia bisa melakukannya."
"Oke, kalau begitu setelah aku menusukkan belatih ini. Kau harus melepaskan Xander di saat itu juga!" ujar Quinn dengan penuh keyakinan.
"Baiklah. Tapi sepertinya belatih tidak akan bisa membunuhmu. Bagaimana kalau dengan peluru yang ada di pistolku ini?" tawar Gabriel lagi.
Semua orang membisu. Termasuk Quinn. Tapi memang wanita itu tidak ada takutnya. Dia maju ke depan dan mengangguk setuju.
"Baiklah. Kau bisa menembakku di saat yang sama saat Xander dilepaskan."
Gabriel tidak mau protes lagi. Rencana yang ditawarkan Quinn memberikan keuntungan besar baginya. "Baiklah."
Pria tangguh itu mengangkat senjata apinya. Dibidiknya hingga tepat di kepala Quinn. Satu tembakan saja pasti bisa membunuh Quinn detik itu juga. Ada senyum licik dibibirnya. Dia seperti siap melepas Xander saat itu.
Quinn terlihat sangat santai. Dia menatap Gabriel tanpa berkedip. Mungkin jika pria itu mengajaknya bertarung, Quinn yakin dia pasti bisa menang. Tapi kali ini justru rencana musuh jauh lebih licik.
"Oke, sekarang," tantang Quinn.
Joa ingin mencegah Quinn agar tidak melangkah maju. Akan tetapi Quinn memberi kode agar tidak mengganggunya. Sedangkan Xander sudah panik minta ampun karena dia tidak rela jika Quinn sampai tewas.
"Kita hitung mundur. Tiga ... Dua ... Satu!"
DUARRR DUARRR
__ADS_1