My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 170 Gagal Mencari


__ADS_3

Joa dan Xander sudah mencari ke sudut kota namun tidak berhasil menemukan Mr. Zeno. Mereka sama sekali tidak tahu kalau kini pria tua itu sudah terbang menuju ke Perugia bersama dengan calon istrinya. Musuh yang selama ini di sekap dan di siksa itu berhasil lolos hanya karena kecerobohan seorang wanita yang baru saja mereka kenal.


Joa benar-benar marah. Dia terus mengumpat, memaki bahkan memukul bawahannya. Butuh waktu yang cukup lama dia Dimitri untuk bisa menangkap pria tua bernama Zeno itu. Tapi kini pria licik itu menghilang dan bisa menghirup udara bebas.


"Bos, kami gagal menemukannya!" ucap salah satu pasukan White Snake.


"GAGAL?" Joa mengeraskan rahangnya. Dia ingin memaki dan mengumpat lagi. Namun rasanya tenaganya sudah habis. "Pergi!" usir dia dari pada anak buahnya menderita. Mereka saling memandang karena bingung. "PERGI!" teriak Joa.


Kali ini mereka semua kaget bukan main hingga memutuskan segera pergi meninggalkan Joa sendirian. Xander mendengar teriakan Joa. Pria itu segera menghampirinya. Meskipun bukan Xander yang melakukannya. Tetapi pria itu juga merasa bersalah.


"Joa, maafkan aku. Tapi, jika kau tidak keberatan. Tolong beri tahu aku. Apa yang akan terjadi jika dia sampai bebas?" tanya Xander hati-hati meskipun kini dia bicara dengan calon adik iparnya.


"Dia cukup terkenal di dunia mafia. Dia pria yang berbahaya. Dia bisa dengan mudah merakit bom hanya dengan menggunakan bahan yang ada di sekitarnya. Dia jago menyamar. Pria itu bekerja sendiri selama ini. Tapi kabar terakhir yang kami dengar, dia akan bekerja sama dengan mafia Italia. Jika hal itu sampai terjadi, White Snake harus kembali bertarung. Dia bukan musuh yang bisa diremehkan. Itulah yang membuatku sangat marah sekarang. Aku akan menikah dengan Sherin. Bos Dimitri sedang sibuk mengurus Nona Quinn. Apa jadinya jika kami gagal menangkapnya? Pertumpahan darah memang seperti tidak ada habisnya. Bahkan untuk bernapas lega saja terasa susah." Joa mengambil ponselnya dari saku. Entah kenapa tiba-tiba dia menjadi gelisah karena Sherin tidak ada menghubunginya seharian ini. Biasanya wanita itu sangat cerewet. Entah itu hanya sekedar mengingatkan makan dan bertanya jam berapa pulang.


Joa menekan nomor Sherin. Alisnya saling bertaut ketika panggilan telepon itu tidak tersambung. "Apa dia marah karena seharian aku sangat sibuk dan tidak ada memberi kabar?" batin Joa. Pria itu mencoba menghubungi nomor Sherin lagi. Akan tetapi kini ponsel wanita itu mati karena habis baterai. "Aku akan membujuknya nanti. Sebaiknya sekarang aku segera melanjutkan pencarian. Jangan sampai dia berhasil meninggalkan kota ini!"


Xander menepuk pundak Joa. "Maafkan aku. Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang."


"Kak, apa aku boleh minta tolong?" Wajah Joa yang serius membuat Xander tidak sanggup menolaknya.


"Tentu saja. Apa yang bisa aku bantu?"


"Tolong temui Sherin. Maksudku lebih baik Kak Xander pulang saja. Ini sudah malam. Katakan kepada Sherin kalau malam ini aku tidak pulang. Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tolong bujuk dia agar mau mengerti keadaanku dan tidak marah padaku," jelas Joa.


Xander tersenyum mendengarnya. Dia semakin yakin kalau Joa memang benar-benar sangat mencintai Sherin. "Baiklah. Kau juga harus tetap jaga kesehatan."


Joa mengangguk. Pria itu kembali masuk ke dalam mobil. Xander juga segera masuk ke dalam mobilnya. Dia akan segera pulang dan menyampaikan pesan yang tadi dikatakan Joa.

__ADS_1


Setibanya di rumah, Xander sudah dibuat bingung melihat Viana yang berjalan mondar-mandir di depan pintu. Wanita itu terlihat gelisah.


"Mama, kenapa mama di sini?"


Melihat Xander sudah pulang membuat Viana segera memegang tangan pria tersebut. "Sherin belum pulang."


"Sherin belum pulang?" Xander terlihat kaget. Pasalnya dia tidak tahu kalau Sherin juga pergi. "Apa Sherin ada izin sama mama?"


"Waktu kalian pergi, dia juga cepat-cepat pergi. Sherin bilang dia ingin menemui Quinn. Tapi mama sudah menghubungi Quinn dan dia bilang Sherin tidak ada di sana. Sejak pagi. Mama sudah coba hubungi nomor Sherin tapi tidak di angkat." Kedua mata Viana berkaca-kaca karena memang dia sangat mengkhawatirkan Sherin saat ini. Wanita paruh baya itu tidak sanggup jika harus kehilangan Sherin.


"Mama tenang ya. Sekarang lebih baik mama masuk ke dalam. Mama istirahat." Xander mengusap tangan Viana. Dia berusaha menenangkan ibu sambungnya itu. "Papa dimana?"


"Papa ada pertemuan. Mama sengaja nggak ikut karena menunggu kau dan Joa pulang," jawab Viana. Buliran air mata itu menetes semakin deras. "Bagaimana kalau terjadi sesuatu terhadap Sherin?"


"Ssttt. Mama tenang ya." Xander menghapus air mata yang ada di pipi Viana. "Serahkan semua sama Xander. Sekarang cepat mama masuk. Xander akan pergi temui Joa.


Viana mengangguk. "Xander, tolong bawa Sherin pulang. Mama mau dia pulang dalam keadaan sehat."


Viana mengangguk. Wanita paruh baya itu segera masuk ke dalam rumah. Saat pintu sudah tertutup rapat, Xander mengambil ponselnya lalu menekan nomor Joa. Pria itu berjalan cepat menuju ke mobil. Akan tetapi kali ini justru Joa yang sulit dihubungi. "Sherin, kau ada dimana?"


...***...


Sherin tidak bisa tidur ketika semua penumpang pesawat terlelap. Jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Mereka akan tiba di Perugia sekitar pukul 6 pagi. Wanita itu belum ada makan sedikitpun. Dia terus saja memikirkan nasipnya.


"Aku mau ke toilet," ucap Sherin. Wanita itu memandang pria tua di sampingnya.


Pria itu itu mengangguk. "Ingat! Kau tidak maukan semua penumpang yang ada di pesawat ini tewas?" ancamnya lagi.

__ADS_1


Sherin hanya diam saja. Wanita itu segera berjalan menuju ke toilet. Sebelum masuk ke dalam toilet, tiba-tiba dia di tarik paksa oleh seseorang. Sherin kaget namun senang melihat Peiyu kini ada di hadapannya.


"Sherin, apa yang terjadi?" tanya Peiyu.


Sherin segera memeluk Peiyu dengan sangat erat. "Dia mengancamku. Ada bom di tubuhnya. Bomnya akan segera meledak jika aku tidak menuruti perintahnya. Tidak ada yang tahu kalau kini aku bersama dengannya," jelas Sherin singkat.


"Oke, sekarang ayo kita tukar pakaian." Peiyu sudah memotong pendek rambutnya agar sama seperti Sherin.


"Peiyu, apa yang mau kau lakukan?"


"Menyelamatkanmu," jawab Peiyu. "Ayo kita tidak memiliki banyak waktu. Jangan sampai dia curiga dan ke sini." Peiyu segera memaksa Sherin untuk segera membuka pakaian yang ia kenakan. Wanita itu juga mengacak rambutnya agar sedikit berantakan seperti Sherin. Mereka bertukar pakaian.


Peiyu memperhatikan penampilannya di depan cermin. Setelah benar mirip dengan Sherin dia segera berjalan menuju ke kursi Sherin duduk sebelumnya.


Sherin memandang ke samping. Dia melihat Zack Lee sudah berdiri di sana. Pria itu tersenyum padanya.


"Apa kau masih membenciku? Kau mau bilang kalau aku mengikutimu?" ledek Zack Lee.


Sherin tertawa mendengarnya. Wanita itu langsung memeluk Zack Lee karena takut. "Bagaimana dengan Joa? Apa aku akan mati?"


Zack Lee tersenyum. Pria itu mengusap punggung Sherin. Dia menganggap Sherin layaknya saudara yang harus dia lindungi. Tidak ada rasa cinta di sana. Seperti itu juga yang dirasakan Sherin yang kini justru menganggap Zack Lee seperti abangnya sendiri.


"Tidak akan. Peiyu tahu apa yang harus dia lakukan," ucap Zack Lee. "Sekarang ayo ikut denganku. Semua akan baik-baik saja."


Peiyu duduk di kursi yang ada di samping Mr. Zeno. Wanita itu menunduk agar pria tua itu tidak menyadari semua rencananya.


"Makanlah! Aku tidak akan menyakitimu. Setelah aku tiba di Perugia dengan aman, kau boleh kembali pulang," ujar Mr. Zeno. "Bukankah kau mau menikah dengan Joa?" Mr. Zeno tertawa.

__ADS_1


"Kau yakin mau menikah dengannya? Hidupnya selalu dipenuhi masalah?" jelas Mr. Zeno.


"Bagaimana denganmu!" sahut Peiyu. Wanita itu memandang ke arah Mr. Zeno. Lalu dia segera melekatkan belatih yang ia bawa di leher pria tua itu. "Apa hidupmu tidak dipenuhi dengan masalah?"


__ADS_2