
Xander masih dalam kondisi yang sama meskipun kini sudah malam. Lagi-lagi semua orang berkumpul untuk menghadiri resepsi pernikahan Sherin dan Joa. Sepasang pengantin baru itu terlihat berseri ketika sedang berdansa dan memotong kue pernikahan mereka. Sedangkan Xander yang sudah mati-matian melupakan Audy kini justru semakin gila memikirkan wanita itu.
"Tidak! Aku harus melakukan sesuatu," ujar Xander. pria itu berdiri dari kursi yang sejak satu jam yang lalu dia duduki. Langkahnya terlihat sangat cepat. Dia ingin menemui Viana dan Jeremy yang kini sedang berduaan menikmati makan malam mereka.
"Xander, duduklah. Kita makan bersama," perintah Viana sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Ma, aku harus pergi!" ucap Xander dengan ekspresi yang serius. "Aku membangun bisnis baru. Sekarang bisnisku ini mengalami kendala. Aku harus turun langsung agar tidak gagal," dusta pria itu.
"Bisnis baru? Dimana?" Jeremy yang merasa mengetahui semua bisnis putranya terlihat curiga.
Xander tidak mungkin kalau begitu saja. Dia memandang wajah ayah kandungnya. "Di Roma. Maafkan aku, Pa. Tadinya aku ingin menjadikan bisnis ini sebagai hadiah untuk Papa. Tapi ternyata segala sesuatu yang tanpa sepengetahuan Papa tidak bisa berjalan lancar."
__ADS_1
Jeremy sama sekali tidak keberatan. Pria itu tahu bagaimana perjuangan jika sedang merintis perusahaan baru. Tidak dengan Viana yang terlihat jelas tidak setuju.
"Tapi sekarang acara pernikahan adikmu. Apa tidak bisa besok pagi saja?" tawar Viana dengan penuh harap.
"Maafkan aku, Ma. Sayangnya besok pagi aku harus sudah tiba di sana." Xander memandang jam dipergelangan tangannya. "Jika aku pergi sekarang. Besok jam 8 aku sudah tiba dan bisa mengurus semuanya. Setelah semua masalah selesai, aku janji akan segera pulang."
"Xander, uangmu kan sudah banyak. Untuk apa lagi membangun bisnis seperti ini?" protes Viana.
Jeremy memegang tangan istrinya. Ada tatapan merayu di sana namun dia tidak bisa mengatakannya secara langsung karena ada Xander.
Xander tersenyum lebar setelah mendapatkan izin dari Viana. "Terima kasih, Ma. I love you." Pria itu segera pergi setelah memeluk ibu sambungnya.
__ADS_1
"Viana, terima kasih." Jeremy juga bahagia melihat Viana mengizinkan putranya pergi.
"Aku tidak mau menghalangi mimpinya," jawab Viana sebelum melanjutkan makan malamnya yang belum selesai.
Di depan, Xander meminta bawahannya untuk mengurus tiket pesawat. Kali ini dia tidak mau menggunakan pesawat pribadi. Pria itu ingin terbang sekarang juga. Entah naik pesawat apapun itu. Sedangkan pesawat pribadi milik keluarga mereka. Telah sibuk mengantar jemput para tamu undangan yang dari luar negeri.
"Tuan, anda yakin mau ke Roma? Siapa yang ingin anda temui?" tanya pria yang sudah lama bekerja dengan Xander itu.
"Jangan banyak tanya. Cepat laksanakan saja perintahku!" ketus Xander tidak bersahabat.
Pria itu kembali menatap layar ponselnya. "Ada, Tuan. Pesawatnya akan berangkat 15 menit lagi."
__ADS_1
"Cepat! Kita tidak boleh sampai terlambat!" ujar Xander penuh semangat. Pria itu segera masuk ke dalam mobil begitupun dengan pria yang tadi ia ajak bicara. Mobil itu segera melaju cepat menuju ke bandara.
Xander bersandar sembari berdoa di dalam hati. "Audy, aku harap aku tidak datang terlambat. Maafkan aku. Ternyata kau benar. Seharusnya kita menikah saja dan kau tidak perlu menikah dengan pria yang dijodohkan denganmu."