My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 50 Usaha Awal


__ADS_3

Quinn menahan langkah kakinya ketika melihat Xander sudah berdiri di dekat mobilnya. Sherly yang saat itu juga bersama dengan Quinn terlihat bingung. Namun dalam sekejap ada senyum mengembang di wajah wanita itu.


"Quinn, jangan bilang kalau pria itu yang bernama Xander," bisik Sherly sehingga membuat Quinn menghela nafas kasar.


"Kenapa kau bisa ada di sini? Aku tidak suka kau muncul di tempat kerjaku!" protes Quinn dengan wajah kesal.


"Aku ke sini, karena aku disuruh oleh ibumu untuk menjemputmu," jawab Xander apa adanya.


"Apakah kau tidak melihat mobilku di sana? Itu berarti aku tidak butuh seseorang untuk menjemputku, karena aku bisa pulang sendiri!" Quinn mulai melangkah menuju mobilnya sendiri dan mengabaikan Xander begitu saja.


"Quinn mobilmu rusak," teriak Xander sambil mengejar Quinn.


"Rusak? Sejak kapan mobilku rusak? Tadi pagi dia masih baik-baik saja!" Quinn menahan langkah kakinya lalu memperhatikan mobil yang kini ada di hadapannya betapa kagetnya Quinn ketika melihat salah satu ban mobilnya kempes.


"Bukan aku yang melakukannya," ucap Xander lebih dulu sebelum Quinn menuduhnya.


"Lalu kenapa kau bisa datang ke sini dan kenapa mommy bisa tahu kalau mobilku rusak?" Quinn memutar bola mata kesal.


"Quinn sebenarnya ceritanya tidak seperti itu. Tante Tiffany meneleponku lalu memintaku untuk menjemputmu. Awalnya aku menolak karena aku tahu kalau kau membawa mobil. Lalu aku datang ke perusahaan. Dan melihat kalau ban mobilmu kempes. Itu berarti kau memang benar-benar membutuhkan pertolonganku," terang Xander.


Kedua mata Quinn menyipit. Wanita itu tidak percaya pada Xander begitu saja. "Kau yakin?"


"Quinn, sudahlah jangan terus menuduh Tuan ini dengan kata-kata konyolmu itu. Dia ini berniat baik. Kenapa kau harus menuduhnya yang bukan-bukan. Sekarang lebih baik kau telepon saja pihak bengkel agar menjemput mobilmu. Lalu kau pulang bersama Tuan Xander." Sherly menjadi penengah Karena Wanita itu merasa pusing melihat sahabatnya terus saja memarahi pria tampan yang kini ada di hadapan mereka.


"Oke baiklah. Kalau begitu aku mau diantar pulang. Tapi Sherly juga ikut dengan kita. Karena selama ini aku selalu pulang bersama dengan Sherly." Quinn mengatakannya dengan lantang dan mantap. Jelas saja wanita itu tidak mau berduaan lagi di mobil bersama dengan Xander.


"Quinn, apa yang kau katakan? Aku bisa pulang naik taksi. Lebih baik kau pulang saja sana bersama dengan Tuan Xander." Sherly mendorong tubuh Quinn agar lebih dekat dengan Xander.


"Sherly, kenapa kau ada di pihak Xaander seperti ini? Apakah kau lupa kalau sahabatmu itu adalah aku!" protes Quinn semakin kesal.


"Cepatlah, Quinn. Dengarkan kata-kataku. Kau akan lebih aman bersama dengan Tuan Xander." Sherly memandang ke arah Xander.


"Tuan tolong jaga sahabat saya dengan baik. Jika dia cerewet seperti sekarang itu memang sudah wataknya. Jadi Anda harus membiasakan diri untuk mendengar ocehannya. Tetapi sebenarnya dia wanita yang baik."


"Terima kasih, Nona." Xander tersenyum bahagia melihat Sherly terus saja membelanya. Hingga pada akhirnya dengan berat hati Quinn mau masuk ke dalam mobil Xander.

__ADS_1


"Hati-hati!" teriak Sherly.


Wanita itu terus saja memperhatikan mobil yang ditumpangi oleh Quinn. Sampai benar-benar jauh sebelum lari dan masuk ke dalam mobil hitam yang tadi terparkir di sana.


Seorang pria paruh baya sudah duduk dengan tenang di balik setir mobil. Pria itu membuka kacamata hitam yang ia kenakan ketika Sherly sudah masuk ke dalam mobilnya.


"Mau sampai kapan lagi aku harus menunggu? Aku sudah tidak sabar untuk melihat Luca hancur. Apa kau hampir lupa dengan tugas utamamu sampai-sampai kau terhanyut dan bersenang-senang dengan wanita bodoh itu."


Sherly membenarkan posisi duduknya lalu memegang tangan pria paruh baya tersebut. "Tuan beri saya waktu sedikit lagi. Saya janji akan membunuh Queen. Selama ini racun yang saya berikan sedikit demi sedikit telah masuk ke dalam tubuhnya. Tidak lama lagi nyawanya akan benar-benar tidak tertolong. Saya harus bertindak dengan sangat hati-hati karena Quinn adalah wanita yang pintar. Dia bisa dengan mudah mencurigai seseorang hanya dengan mendengar dan melihatnya. Jika sampai ketahuan dan Quinn tidak lagi percaya denganku, maka rencana besar kita akan gagal. Sudah bertahun-tahun saya melakukan tugas ini dan jangan sampai di final nanti kita gagal."


"Aku tidak mau menunggu terlalu lama. Orang baru terus saja bermunculan dan menjadi pelindung wanita itu. Segera selesaikan tugasmu. Jika kau sampai gagal kau akan tahu akibatnya!"


Sherly segera turun dari mobil hitam tersebut dengan wajah yang sedih. Wanita itu segera mencari taksi agar tidak ada yang curiga dengannya. Sedangkan pria yang ada di mobil hitam tadi segera melajukan mobilnya dan pergi meninggalkan parkiran perusahaan tersebut.


Di dalam mobil Quinn terlihat tidak bersemangat. Entah kenapa tiba-tiba saja dia memikirkan Dimitri padahal baru saja tadi malam mereka bertemu.


"Quinn, apakah kau sudah lama dekat dengan Dimitri?" tanya Xander ingin tahu.


"Tidak terlalu lama. Sebenarnya kami baru saja kenal sebuah kejadian membuat kami dekat."


"Aku tahu kalau Dimitri menyukaimu. Sebelumnya memang dia tidak pernah segila ini mencintai seorang wanita. Tapi kau harus tahu satu hal Quinn aku juga sangat mencintaimu. Aku ingin kau menjadi kekasihku. Meskipun aku harus berhadapan dengan sahabatku sendiri." Xander sengaja mengatakan kalimat itu agar Quinn tahu apa yang ada di hatinya saat ini.


"Kalau begitu kau menyerah saja. Jalani saja perjodohan yang sudah direncanakan kedua orang tua kita. Kau bisa melewati hari ke depannya bersamaku. Setidaknya beri aku kesempatan agar kau tahu sebenarnya aku ini pria seperti apa." Xander berharap penawarannya ini disetujui oleh Queen.


"Apa bisa kita tidak membahas masalah ini?" Quinn tiba-tiba memegang dadanya yang terasa sakit.


Sebenarnya akhir-akhir ini ia memang sudah merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya sendiri. Quinn sama sekali tidak sadar kalau sebenarnya telah ada racun yang selama ini ia minum. Kiini racun-racun itu mulai bekerja untuk membunuhnya secara perlahan.


"Ada apa Quinn? Apakah kau sakit? Kenapa kau terlihat pucat?" berondong Xander.


"Aku ingin segera tiba di rumah. Aku ingin istirahat. Bisakah kau mengantarku pulang secepatnya?" pinta Quinn.


"Tentu saja. Jika kau pusing istirahat saja nanti setelah tiba di rumah akan aku bangunkan."


Quinn hanya mengangguk tanpa mau protes lagi wanita itu memejamkan matanya secara perlahan. Tubuhnya belakangan ini terasa lelah.

__ADS_1


Di sisi lain Dimitri lagi-lagi melamun ketika mendapat kabar Kalau Quinn pulang dijemput oleh Xander. Ia merasa telah kalah dari sahabatnya itu. Xander selangkah lebih cepat di depannya. ditambah lagi kedua pihak telah merestui hubungan mereka. Kali ini Dimitri benar-benar pusing.


"Apa tidak ada cara lain untuk membuat Xander sibuk? Agar dia tidak memiliki waktu untuk mengganggu kehidupan Queen!" Dimitri menggumam kesal.


"Bos, Tuan Xander selalu bisa membagi waktunya. Meskipun sekarang dia bersama dengan Nona Quinn tetapi perusahaannya tidak pernah terbengkalai," sahut Joa apa adanya.


"Apakah kau mau bilang kalau Xander jauh lebih bertanggung jawab daripada aku!" ketus Dimitri kesal.


"Bukan saya yang mengatakannya, Tuan. Tetapi Anda sendiri," sahut Joa yang juga mulai kesal melihat tingkah laku Dimitri.


"Sepertinya memang kau harus dihukum, Joa! Lama-kelamaan kau semakin kurang ajar! Tanpa bekerja juga aku bisa tetap kaya. Uangku tidak akan ada habisnya. Aku tidak perlu menemui klien-klien bodoh yang tidak penting itu." Dimitri justru meninggikan dirinya sendiri.


"Kalau begitu tutup saja perusahaan yang sudah Anda bangun Ini. Untuk apa Anda memikirkan masa depannya lagi? Bersenang-senanglah dengan uang yang Anda miliki. Oh iya berlian yang kita dapatkan dari pulau juga masih ada dan tersimpan rapi di brankas. Mulai sekarang Anda lepaskan saja baju kantor Anda dan pergilah bersenang-senang!" Joa ternyata sudah benar-benar kesal menghadapi atasannya itu sampai-sampai bicara di luar nalar.


Bukan marah justru Dimitri hanya menghela nafas kasar saja mendengar jawaban yang baru saja diucapkan oleh Joa. "Kau ini mudah sekali sakit hati. Baiklah. Mana berkas yang harus aku tanda tangani."


Tiba-tiba saja ekspresi wajah Dimitri kembali tenang. Pria itu tahu kalau Joa sangat kelelahan menghadapi sikapnya yang egois. Kali ini Dimitri memilih untuk mengalah karena memang semua yang dikatakan Joa ada benarnya.


"Bos, saya hanya tidak ingin hidup Anda hancur karena seorang wanita. Saya harap Anda mengerti dengan maksud saya ini. Tidak pernah salah paham lagi," ucap Joa.


Pada akhirnya agar Dimitri tahu kalau sebenarnya dia sangat menyayangi Dimitri. Joa sudah menganggap Dimitri seperti saudaranya sendiri.


"Tapi kau sendiri pasti tahu kalau selama ini aku tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Kali ini aku benar-benar jatuh cinta padanya. Bukankah kau ini pria yang serba bisa? Kenapa kali ini kau tidak mau membantuku untuk mendapatkan Queen? Joa, apa kau pikir aku tidak tahu kalau sebenarnya kau ini sangat membenciku hingga kau tidak pernah suka jika kami bersatu!" bentak Dimitri.


Joa menunduk takut. "Maafkan saya, Tuan. Tetapi setelah saya pikir lagi Nona Quinn tidak cocok dengan Anda."


"Kau marah padanya karena dia membunuh pengawal terbaikmu bukan?" tebak Dimitri.


"Bukan hanya itu saja, Bos. Tetapi karena keluarga Nona Quinn juga. Mereka telah menyakiti Anda ketika Anda baru saja tiba di rumah itu untuk mengantarkan Nona Quinn pulang dalam keadaan selamat. Ayah kandung Nona Quinn bukan pria yang biasa. Anda sudah tahu sendiri kalau dia adalah pemimpin mafia yang cukup kuat dan sangat disegani. Jika dia tidak suka maka segalanya tidak akan pernah benar di matanya. Saya hanya tidak ingin Anda mendapatkan kesulitan," ungkap Joa.


Dimitri memijat pangkal hidungnya karena tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing. "Setidaknya bantu aku untuk mengetahui apakah Quinn menyukaiku juga atau tidak."


Joa mengatur nafasnya agar kembali tenang pada akhirnya ia harus menyerah dan turun tangan langsung untuk membantu atasannya itu dalam hal percintaannya. "Baiklah, Tuan. Tetapi Anda harus berjanji untuk tidak mengabaikan perusahaan lagi."


Dimitri mengangkat kepalanya lalu tersenyum. "Aku janji! Tapi kau juga harus berjanji untuk membantuku. Aku hanya ingin tahu saja sebenarnya seperti apa perasaannya terhadapku. Jika dia tidak menyukaiku maka aku akan mundur."

__ADS_1


"Lalu, jika Nona Quinn juga mencintai Anda, apa yang akan anda lakukan?" tanya Joa.


"Jangankan orang tua Quinn yang ketua mafia itu. Bahkan jika seluruh dunia menentang pun, akan aku hadapi!"


__ADS_2