My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 81 Pertarungan


__ADS_3

Xander maju dan memukul satu persatu pria bertopeng tersebut. Ilmu bela diri Xander memang tidak terlalu hebat jika dibandingkan dengan Dimitri. Tetapi pria itu merasa percaya diri kalau kali ini ia pasti akan berhasil untuk melindungi Quinn dari bahaya.


Pukulan demi pukulan harus diterima oleh Xander ketika musuh mengeroyoknya dengan begitu kejam. Tetapi Xander tidak kalah begitu saja. Dia berhasil mengeluarkan belatih dan memainkan senjata tajam itu untuk melukai musuh. Bahkan berhasil merebut senjata api yang digunakan musuh untuk mencelakai dirinya.


Quinn yang sudah panik segera menghubungi nomor adiknya. Tetapi sayangnya seseorang telah berhasil merusak jaringan hingga Quinn gagal untuk meminta pertolongan. Wanita itu memejamkan mata dan berusaha untuk tetap tenang.


Detik itu dia sadar kalau bakat yang ia miliki tidak akan berhasil digunakan dalam kondisi seperti sekarang. Saat panik Quinn tidak mampu berpikir jernih. Di tambah lagi dengan kondisinya yang sekarang. Wanita itu segera turun dari tempat tidur dan membantu Xander untuk bertarung. Tidak peduli dengan kesehatannya saat ini.


Xander terlihat tidak setuju ketika Quinn juga bertarung. Namun dia sendiri juga tidak kunjung berhasil untuk mengalahkan musuh. Quinn segera mengangkat senjata apinya dan menembak satu persatu musuh yang ada di hadapannya hingga mereka tewas. Hal itu membuat Xander pada akhirnya bisa bernapas dengan lega.


"Apakah kau tidak memiliki senjata api? Kenapa kau harus bertarung dengan tangan kosong seperti tadi! Pertarungan seperti itu hanya akan membahayakan nyawamu sendiri," protes Quinn dengan wajah kesal.


"Aku ini seorang pengusaha bukan seorang petarung. Yang biasa aku bawa adalah benda elektronik yang berguna untuk pekerjaanku bukan senjata api yang justru akan membuat orang lain curiga terhadapku," sahut Xander membela diri.


Tiba-tiba pistol yang ada di genggaman Quinn terlepas. Wanita itu memegang dadanya yang terasa sakit. Saat Quinn hampir terjatuh Xander dengan cepat menangkap tubuh wanita itu dan memeluknya dengan erat.


"Quinn, Apa yang terjadi?"


"Dadaku sakit sekali," lirih Quinn sambil menahan rasa sakit yang kini ia rasakan. Tangannya masih ada di atas dada dan napasnya mulai berat.

__ADS_1


Xander segera menggendong Quinn dan meletakkannya di atas tempat tidur. Pria itu menekan tombol yang ada di samping tempat tidur berharap dokter segera muncul.


"Quinn bertahanlah." Xander memandang ke arah pintu. Pria itu terlihat kesal ketika tidak ada satu petugas Rumah Sakit pun yang muncul untuk membantu mereka. "Tolong siapapun yang ada di depan sana tolong bantu aku untuk memanggilkan dokter!" teriak Xander.


Namun pintu itu tidak kunjung terbuka dan seorang pun tidak juga masuk ke dalam. "Sial! Sekarang apa yang harus aku lakukan. Aku tidak akan mungkin meninggalkan Quinn sendirian di sini."


Xander segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Dokter Fei. Akan Tetapi dia mengalami kondisi yang sama dengan Quinn. Xander tidak bisa menghubungi siapapun karena jaringan rusak. Pria itu menggenggam ponselnya dengan sangat erat dengan wajah menahan amarah.


Sedangkan Quinn terlihat sangat kesulitan untuk bernapas. Xander memasang selang oksigen di hidung Quinn. Pria itu kembali mengutip pistol yang tadi sempat terjatuh lalu meletakkannya di tangan Quinn.


"Tembak siapapun orang yang menurutmu mencurigakan. Aku harus pergi untuk memanggil dokter. Aku akan segera kembali!" pesan Xander sebelum pergi.


Xander segera berlari secepat mungkin untuk mencari bantuan. Sambil menahan rasa sakit di dadanya Quinn memandang kepergian Xander sampai pintu ruangannya kembali tertutup. Wanita itu berusaha untuk tetap terjaga meskipun kini ia merasa sangat mengantuk dan hampir tidak sadarkan diri.


...***...


Dimitri dan Luca telah tiba di tempat persembunyian Tuan Neo. Kedatangan mereka di sambut oleh ledakan dahsyat yang sudah disiapkan di depan gerbang. Hampir saja Dimitri dan Luca celaka jika Joa tidak menyadari keberadaan bom di bawah tanah tersebut.


"Bos, apa anda baik-baik saja?" tanya Joa khawatir. Dia bahkan memeriksa keadaan Dimitri untuk memastikan bosnya itu baik-baik saja.

__ADS_1


Dimitri menjawab dengan anggukan. Pria itu memandang calon mertuanya yang kini berdiri tidak jauh dari posisinya berada. "Sepertinya mereka sudah siap untuk menyambut kita. Setiap langkah adalah bahaya. Kita harus tetap hati-hati."


"Sebaiknya kita berpencar saja. Kau dan anggotamu masuk dari pintu samping. Daddy akan masuk dari pintu depan. Kita tidak bisa masuk secara bersamaan seperti ini. Jika salah satu dari kita berhasil menemui Neo, berilah satu tanda."


"Oke, Dad." Tanpa pikir panjang, Dimitri menyetujui ide calon mertuanya itu. Bersama dengan Joa dia segera pergi menuju ke pintu samping. Sedangkan Luca dan anggotanya kembali menerobos masuk ke dalam.


"Kenapa tiba-tiba aku memikirkan Tiffany dan Quinn. Semoga saja mereka berdua baik-baik saja," batin Luca sambil melangkah.


"Bos, saran saya jangan banyak melamun karena itu hanya akan membahayakan nyawa anda sendiri," ucap Joni memperingati. Luca mengangguk sebelum mengangkat senjatanya. Di depan ada banyak musuh yang harus dia hadapi. Pria itu berusaha tetap fokus dengan misi yang dia jalani.


Di pintu samping, Dimitri menahan langkah kakinya ketika tiba-tiba saja Joa berdiri di hadapannya. "Ada apa? Kenapa kau menghalangi langkahku?"


"Ada kiriman dari dokter Fei. Dokter Fei memintaku untuk menyerahkan racun ini kepada Anda Bos. Dia bilang Anda tidak perlu membunuh Neo untuk mendapatkan penawarnya. Suntikan saja racun ini ke tubuhnya maka secara otomatis pria itu akan membuat penawarnya sendiri. Setelah itu kita bisa mencuri penawar yang ia buat untuk mengobati Nona Quinn."


"Kedengarannya ide yang sudah disiapkan oleh dokter Fei sangat bagus. Namun sayangnya keadaan sangat sulit untuk dihadapi. Sebaiknya sekarang kita fokus untuk menemukan pria itu. Soal racun kita pikirkan lagi nanti." Dimitri kembali melanjutkan langkah kakinya. Pria itu tetap menyimpan racun yang sudah disiapkan oleh dokter Fei dan menjaganya dengan sebaik mungkin. Sedangkan Joa tetap berada di dekat Dimitri untuk melindungi pria itu dari bahaya.


Baru beberapa meter melangkah tiba-tiba Dimitri mengangkat senjatanya dan menembak ke arah belakang Joa. Ternyata ada beberapa musuh yang muncul tiba-tiba dan ingin menyerang mereka. Joa yang kaget juga segera membantu Dimitri dengan cara menembak musuh yang terus saja muncul tanpa henti.


"Bos, bukankah pria yang kita hadapi tidak berasal dari dunia mafia? Kenapa dia bisa memiliki pertahanan sekuat ini?"

__ADS_1


"Dengan uang semua bisa dilakukan. Tetap waspada!" ucap Dimitri sebelum melangkah maju lagi. Joa memasukkan peluru ke dalam senjata apinya lalu mengikuti Dimitri dari belakang. Pria itu melebarkan kedua matanya ketika melihat ada infrared di kepala Dimitri sebagai tanda kalau sniper sedang mengincar bosnya itu.


"BOS, AWAS!"


__ADS_2