
Xander berdiri diam menatap kota Roma yang kini sudah tersaji dihadapannya. Dia masih belum mau melangkah. Pengawal pribadinya juga bingung sebenarnya kemana tujuan mereka saat ini. Sebelumnya pria itu tidak ikut saat sedang menjemput Sherin di Roma.
"Tuan, apa mau saya carikan hotel untuk istirahat?" tawar pria itu sambil memandang Xander. Lebih baik mereka berada di hotel daripada berdiri tidak jelas seperti itu.
"Hotel?" Xander mengernyitkan dahi. Sekarang dia memang tidak butuh tempat istirahat. Namun Xander membutuhkan tempat untuk menenangkan pikirannya.
"Bagaimana Tuan?" tanya pria itu lagi.
"Ya. Sekarang kita pergi ke hotel. Apa mobil sudah disiapkan?" Xander mulai melangkah. Sesekali melirik jam dipergelangan tangan untuk mengetahui jam berapa sekarang.
"Sudah, Tuan." Pria itu lagi-lagi mengikuti Xander di belakang.
Sampai akhirnya mereka tiba ditempat mobil terparkir. Pria itu membukakan pintu untuk Xander.
Namun, Xander menahan langkah kakinya ketika melihat seorang wanita berlari menuju ke posisinya berdiri. Pengawal Xander terlihat bingung ketika Xander tidak juga masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Audy?" celetuk Xander dengan wajah tidak percaya.
Audy memandang ke arah Xander. Wanita itu seperti ingin masuk ke dalam taksi yang sudah terparkir di sana. Namun ketika dia melihat keberadaan Xander, wanita itu justru memilih untuk berlari menghampiri Xander.
"Apa ini mobilmu?" tanya Audy sambil menunjuk mobil yang memang akan ditumpangi oleh Xander dan pengawal pribadinya.
"Ya," jawab Xander cepat. Tanpa permisi lagi Audy masuk ke dalam mobil itu. Xander terlihat tidak mau mengulur waktu. Dia juga segera masuk dan duduk di bangku belakang. Sedangkan pengawal pribadi Xander memiliki tugas sebagai sopir saat itu.
Audy bersandar sambil menghela nafas lega. Sesekali ia memandang ke belakang untuk memastikan tidak ada satu orang pun yang sedang mengikutinya.
Audy memandang ke arah Xander dengan tatapan yang begitu sinis. "Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan di sini? Apa ada barangmu yang ketinggalan?" ketus Audy. Dilihat dari ekspresi wanita itu sepertinya ia masih marah dengan Xander.
Jelas saja Xander tidak mau mengatakan yang sebenarnya terjadi. "Aku harus menghadiri sebuah rapat penting di sini," jawab pria itu asal saja. Bahkan sopir yang ada di depan sampai meliriknya dengan tatapan bingung.
"Oh ya? Bisa-bisanya kau lebih mementingkan rapat sedangkan adikmu baru saja menikah," jawab Audy. Dia mulai percaya dengan jawaban Xander.
__ADS_1
"Bagaimana denganmu? Bukankah seharusnya kau bertunangan dengan pria pilihan kakakmu itu? Kenapa sekarang kau ada di sini?" Xander tidak mau memandang wajah Audy secara langsung.
"Aku ...." Audy menahan kalimatnya. "Tidak! Aku tidak mau bilang kalau ternyata pertunanganku gagal dan sekarang anak buah Aldo sedang mengejarku," batin Audy.
"Kenapa diam saja? Apakah kau sedang merangkai kata untuk membohongiku?" tebak Xander.
"Percaya diri sekali!" ketus Audy. Dia menepuk pundak pengawal pribadi Xander. "Pak supir, kita pergi ke tempat ini." Audy memberikan ponselnya untuk menunjukkan lokasi yang ingin mereka datangi.
Pengawal pribadi Xander tidak langsung setuju. Dia melirik Xander sejenak. Setelah Xander mengangguk setuju, dia baru memberi jawaban. "Baik, Nona."
Mobil itu melaju cepat menuju ke tempat yang ingin dikunjungi Audy.
Audy memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia membuang tatapannya karena tidak mau terlalu lama memandang Xander.
Xander tiba-tiba tersenyum. Entah kenapa dia merasa bahagia melihat Audy kini ada disisinya lagi. "Aku ingin tahu sebenarnya apa lagi yang akan kau lakukan."
__ADS_1