
Hari yang dinanti-nanti oleh Quinn dan Dimitri akhirnya tiba juga. Sebuah gedung telah di hias dengan dekorasi serba putih. Sebentar lagi akan berlangsung akad pernikahan antara Quinn dan juga Dimitri.
Para tamu undangan yang hadir memakai pakaian serba putih. Semua itu atas permintaan pengantin. Quinn mau ketika dia dan Dimitri mengucapkan janji suci, sejauh mata memandang hanya terlihat warna putih saja.
Di ruangan ganti, Quinn masih dalam proses rias wajah. Wanita itu terlihat sangat cantik. Beberapa orang bahkan mengatakan kalau Quinn terlihat sangat berbeda. Wajahnya semakin cantik. Dia seperti putri kerajaan yang sedang menunggu sang pangeran datang menjemput.
"Quinn, kau cantik sekali," puji Sherin. Wanita itu memeluk Quinn dari belakang. "Aku tidak menyangka kalau kau akhirnya menikah juga. Selamat ya. Semoga kau dan Dimitri segera mendapatkan momongan. Semoga kebahagiaan selalu hadir di antara kalian. Semoga kalian menjadi pasangan sehidup semati."
"Terima kasih, Sherin. Dan semoga kau segera menemukan jodohmu," ucap Quinn sambil tertawa.
"Itu lagi itu lagi," protes Sherin.
Quinn tertawa geli melihat ekspresi wajah Sherin. "Maaf. Aku hanya ingin kau segera merasakan apa yang sekarang aku rasakan. Tidak ada niat sedikitpun untuk meledekmu. Maaf ya." Quinn menunjuk rasa bersalahnya karena sudah membuat Sherin tersinggung atas doa yang baru saja dia ucapkan.
"Hemm," jawab Sherin. "Quinn, aku mau keluar sebentar. Nanti aku akan kembali lagi." Sherin mengecup pipi Quinn sebelum pergi meninggalkan ruangan ganti itu.
"Jangan jauh-jauh!" teriak Quinn.
"Tidak akan," sahut Sherin.
Setibanya di luar, Sherin berjalan menuju ke lorong yang akan menghubungkannya dengan ruangan ganti pengantin pria. Wanita itu sebenarnya tidak mau lewat sana. Namun entah kenapa dia ingin sekali bertemu dengan Joa. Padahal nantinya kalau sudah bertemu paling ujung-ujungnya mereka berdua akan bertengkar.
"Joa, anggap saja ini permintaan seorang sahabat."
Suara Robin membuat Sherin menahan langkah kakinya. Wanita itu mencari posisi yang aman agar bisa menguping pembicaraan dua pria tangguh tersebut. "Itu Joa dan Robin. Mereka sedang bicara apa? Kenapa kelihatannya serius sekali," batin Sherin.
"Robin, apa kau gila? Jika kau menyukainya, kenapa tidak kau saja yang berjuang untuk mendapatkannya? Kenapa memaksaku untuk mendekatinya?" Joa terlihat protes. Pria itu ingin marah namun dia tidak tega.
"Joa, kau tahu sendiri bagaimana keadaanku. Aku ini tidak mungkin menikah."
"Seharusnya kau tidak boleh bicara seperti itu. Bagaimana kalau di luar sana masih ada yang mau menerima kekuranganmu? Robin, banyak kok wanita yang tidak menginginkan anak," ucap Joa dengan ekspresi wajah yang begitu serius.
"Ya. Memang aku akui kalau banyak wanita yang tidak menginginkan anak. Tapi di dunia ini tidak ada satupun wanita yang mau menikah dengan pria impoten sepertiku!" ungkap Robin pada akhirnya. Terlihat jelas kesedihan di mata pria itu ketika mengatakan kalimat menyedihkan seperti tadi.
Sherin melangkah mundur hingga dia menabrak vas bunga yang ada di dekatnya hingga pecah. Hal itu menarik perhatian Joa dan Robin. Dua pria tangguh itu segera mengambil senjata api mereka dan berlari menuju ke sumber suara. Setibanya di sana, mereka tidak melihat siapapun. Joa menunduk dan mengambil sebuah mutiara yang lepas dari sepatu yang dikenakan oleh Sherin.
Joa memandang ke depan sambil mengepal kuat mutiara itu di dalam genggamannya. "Sepertinya orang yang baru saja menguping pembicaraan kita adalah seorang wanita."
...***...
__ADS_1
Sherin mengatur napasnya ketika sudah tiba di ruangan tempat Quinn ganti. Perilaku wanita itu menarik perhatian Quinn. Quinn berdiri di depan cermin untuk melihat penampilannya. Wanita itu sudah cantik dan telah siap pergi menemui Dimitri.
"Ada apa? Apa kau di kejar sesuatu?" tanyanya penasaran.
"Tidak ada." Sherin berusaha menutupi sebuah fakta mengejutkan yang baru saja dia dengar. "Hampir saja aku ketahuan. Astaga! Kenapa sial kali. Kenapa aku tidak ingat kalau ada vas bunga di belakangku berdiri?" protes Sherin pada dirinya sendiri. "Beruntung aku bisa kabur. Apa jadinya kalau tadi aku sampai ketahuan?"
Pintu terbuka lebar. Tiffany dan Luca muncul di sana. Mereka mengukir senyum melihat Quinn sudah siap. Mereka melirik ke arah Sherin sejenak sebelum memandang Quinn lagi.
"Quinn, kau cantik sekali sayang," puji Tiffany. Wanita itu memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang. "Mommy tidak menyangka kalau putri kecil Mommy hari ini akan menikah. Selamat ya sayang. Mommy doakan agar kau dan Dimitri selalu bahagia dan hidup dengan dipenuhi cinta."
"Terima kasih, Mom." Quinn memandang ke arah Luca. "Dad."
Luca melebarkan kedua tangannya. Quinn segera masuk ke dalam pelukan ayah kandungnya itu. Untuk sejenak mereka berdua sama-sama terdiam.
Tidak mengeluarkan satu kata pun. Begitupun dengan Tiffany dan Sherin yang kini lebih memilih untuk menjaga kondisi di ruangan itu agar tetap tenang. Hingga tidak lama setelahnya Luca melepas pelukannya lalu memandang wajah Quinn dengan mata berkaca-kaca. Dia sangat bahagia melihat putrinya menikah. Sekaligus sedih.
"Daddy pasti akan sangat merindukanmu. Sebentar lagi kau akan pergi mengikuti seorang pria yang menjadi suamimu," ucapnya dengan suara yang lirih. Pria tangguh itu berusaha menahan kesedihannya agar tidak sampai menangis di depan putrinya.
"Daddy jangan bicara seperti itu. Aku bisa menangis nanti. Lihatlah bedakku ini sudah sangat tebal. Aku tidak mau di pernikahan nanti wajahku menjadi jelek," protes Quinn agar Luca tidak sedih. Wanita itu lagi-lagi memeluk Luca lalu memejamkan mata. Hanya membayangkannya saja sudah membuatnya sedih. Entah seperti apa yang nanti dia rasakan ketika dia pergi meninggalkan rumah.
"Sayang acaranya akan segera dimulai. Ayo kita ke sana," ajak Tiffany.
"Daddy, aku sayang Daddy." Wanita itu segera merangkulnya dan mereka sama-sama berjalan menuju ke lokasi pernikahan.
...***...
Dimitri sudah menunggu dengan pakaian serba putih yang kini ia kenakan. Pria itu seperti sudah tidak sabar untuk melihat wajah kekasihnya. Berulang kali ia memandang ke arah pintu berharap pintu itu segera terbuka dan Quinn muncul di depan sana.
Joa dan Robin juga terlihat gelisah. Mereka berdua penasaran kira-kira siapa yang tadi sudah menguping pembicaraan mereka. Rahasia tentang Robin yang ternyata adalah pria impoten hanya Joa sendiri yang tahu. Mereka tidak mau jika sampai informasi itu tersebar ke semua orang.
"Sekarang aku jadi tidak tenang. Aku menyesal sudah bicara denganmu tadi," umpat Robin tanpa memandang. "Itu akan menjadi aib yang memalukan jika semua orang sampai mengetahuinya."
"Kau yang memulainya," jawab Joa cepat. Pria itu masih tetap membela diri meskipun dia juga bersalah. "Tapi kau tenang saja. Jika informasi ini sampai menyebar aku akan mencari tahu siapa yang sudah berani menguping pembicaraan kita. Aku pasti akan memberikan hukuman kepadanya." Joa berusaha menyakinkan Robin agar pria itu tidak khawatir lagi.
Robin terlihat tidak setuju. Pria itu memandang rekannya dengan sangat serius. "Jangan tunggu sampai informasi ini menyebar karena itu akan membuatku malu. Setelah pesta pernikahan selesai Aku minta kau segera menyelidiki masalah ini dan tangkap orang itu," pinta Robin. Kali ini pria itu tidak mau tawar-menawar lagi karena masalah ini menyangkut harga dirinya. Dia memaksa Joa untuk segera menangkap orang yang menguping mereka. Bagaimanapun caranya.
"Baiklah," jawab Joa pasrah. Percuma juga dia menikah permintaan Robin. Itu semua hanya akan sia-sia.
Pintu terbuka lebar. Semua tamu undangan beranjak dari kursi yang sejak tadi mereka duduki. Dimitri tersenyum melihat Quinn berdiri di sana. Di dalam hati Ia terus saja memuji kecantikan calon istrinya.
__ADS_1
Debaran jantungnya semakin tidak karuan ketika Quinn mulai melangkah untuk mendekat. Wanita itu berjalan sambil merangkul lengan Luca. Dia melangkah dengan sangat hati-hati karena tidak mau melakukan kesalahan sedikitpun di hari pernikahannya ini. Tatapannya tidak teralihkan ke arah lain lagi.
Hanya Dimitri satu-satunya orang yang ia pandang saat ini. Bahkan ketika Nenek Su dan penduduk pulau ada di sana dia tidak menyadari keberadaan mereka. Quinn terlalu bersemangat untuk menikah dengan Dimitri. Sampai-sampai dia tidak fokus ke hal lainnya.
Para tamu undangan terlihat kagum melihat gaun mewah yang kini dikenakan oleh Quinn. Belum lagi dengan riasan di wajah Quinn yang terlihat sangat sempurna. Wanita itu tersenyum manis memandang ke depan tepat di mana posisi Dimitri berada. Baik Dimitri maupun Quinn sama-sama tidak sabar untuk mengucapkan janji suci.
Di antara para tamu undangan yang kini tersenyum melihat sepasang pengantin. Ada Xander yang terlihat kacau. Meskipun dari segi penampilan pria itu baik-baik saja. Tetapi sebenarnya kini hatinya hancur-sehancurnya.
Dokter Fei menepuk pundak Xander agar sahabatnya bisa lebih tegar lagi. Meskipun Xander berusaha keras menyembunyikan kekecewaannya. Tetap saja dokter Fei bisa mengetahuinya.
"Sudah saatnya kau bangkit dan lupakan Quinn selamanya. Sekarang dia sudah menjadi milik Dimitri seutuhnya!" ucap Dokter Fei. Sebagai sahabat dia ingin memperingati Xander agar tidak sampai salah jalan.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkanku!" sahut Xander. Pria itu memejamkan mata sejenak lalu mengatur napasnya. Ketika sudah kembali tenang dia mengukir senyuman.
Dari kejauhan Viana memperhatikan Xander dengan wajah sedih. Namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Wanita itu merangkul lengan Jeremi dan memandang ke depan untuk melihat sepasang pengantin mengucapkan janji suci mereka.
Luca berhenti ketika mereka sudah dekat dengan Dimitri. Pria itu menyerahkan putrinya kepada Dimitri. Sebelum menyerahkan Quinn ada beberapa kalimat yang diucapkan Luca sebagai bentuk kalau ia telah mempercayakan putrinya kepada Dimitri dan berharap agar Dimitri tidak menyia-nyiakan Quinn dan selalu membahagiakannya.
"Sebagai seorang Daddy aku sangat berat melepas putriku agar menikah dengan pria lain. Tetapi inilah hidup. Quinn sudah besar. Sudah waktunya dia pergi dan membentuk keluarganya sendiri," gumam Luca di dalam hati.
"Sayang, kau cantik sekali," puji Dimitri ketika wanita itu sudah ada disisinya. Quinn hanya tersipu malu mendengarnya. Dia memandang Dimitri sekilas sebelum memandang ke depan.
Dalam waktu singkat akad itu berjalan dengan lancar. Semua tamu undangan bertepuk tangan ketika Quinn dan Dimitri telah resmi menjadi suami istri. Mereka berpelukan dan berciuman untuk beberapa saat sebelum melambaikan tangan kepada para tamu undangan. Beberapa kerabat dekat maju ke depan untuk memberi selamat langsung kepada pengantin.
Sherin yang duduk diantara para tamu menghapus air matanya dengan tisu. Memang suasana akad tadi sangat menguras air mata. Terlebih lagi ketika Quinn dan Dimitri mengucapkan janji suci mereka di depan para saksi.
"Kapan aku bisa merasakan hal seperti itu juga?" gumam Sherin di dalam hati. Tanpa sengaja tatapan wanita itu tertuju kepada Joa dan Robin yang kini berdiri tidak jauh dari posisi pengantin berada.
Tiba-tiba wanita itu menunduk dan ketakutan. Dia kembali mengingat pembicaraan Joa dan Robin di lorong tadi. "Gawat! Jangan sampai mereka tahu kalau aku yang sudah menguping pembicaraan mereka. Sebaiknya sekarang aku pergi saja dari sini. Quinn juga kelihatannya sangat sibuk. Dia tidak akan sadar kalau aku kabur. Nanti malam aku akan kembali lagi ke sini untuk merayakan resepsi pernikahan Quinn dan Dimitri," batin Sherin.
Wanita itu beranjak dari kursi yang sejak tadi ia duduki. Dengan cepat ia melangkah pergi meninggalkan gedung. Sherin ingin menenangkan diri agar tidak terlihat mencurigakan di depan Joa.
Setibanya di parkiran Sherin kembali menghela nafas panjang. Dia menghirup udara lalu menghembuskannya. Hal itu ia lakukan berulang kali sampai pikirannya benar-benar tenang.
"Syukurlah dia tidak mengikutiku," ucap Sherin. Dia memandang keadaan sekitar untuk memastikan tmemang benar tidak ada yang mengikutinya. Setelah itu Sherin berjalan menuju ke mobil miliknya yang terparkir tidak jauh dari posisinya berdiri.
Baru juga ingin masuk ke dalam mobil tiba-tiba seseorang menarik tangan Sherin dan mendorong wanita itu hingga bersandar di samping mobil. Secara spontan Sherin ingin melawan. Akan tetapi pria itu lebih dulu mengunci tangan Sherin hingga ia tidak bisa bergerak bebas lagi.
"Siapa kau? Apa yang mau kau lakukan?" Sherin mengangkat kepalanya ke atas. Kedua mata wanita itu melebar.
__ADS_1
"Joa?"