My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 149 Rencana Bersama


__ADS_3

Sherin hanya bisa menunduk. Wanita itu bingung harus jawab apa. Sebenarnya dia tidak mau Quinn tahu soal Zack Lee. Tetapi karena keadaannya sudah seperti ini, mau tidak mau dia harus cerita.


"Dia yang sudah menyelamatkan kami dari pulau," ucap Sherin tanpa memandang.


"Pria baik?" tanya Quinn dengan penuh antusias. Sherin memandang ke arah Joa sejenak sebelum menggeleng.


"Sebenarnya dia tidak sebaik yang kau pikirkan. Waktu itu aku hanya tidak mau membahas tentangnya terlalu jauh jadi aku katakan saja seperti itu," kata Sherin.


"Tapi kau bilang saat itu dia sudah tua. Kenapa sekarang aku lihat dia masih muda?" Quinn semakin protes karena jelas-jelas Sherin sudah membohonginya.


"Maafkan aku." Hanya itu kalimat yang bisa diucapkan Sherin saat ini. Berdebat dengan Quinn, cari seri aja susah apa lagi ingin menang?


"Lalu, dia ada dimana?" tanya Quinn lagi.


Sherin mengangkat kedua bahunya. "Beberapa hari yang lalu kami bertemu. Sebenarnya kami bertarung di jalanan karena ingin menyelamatkan nyawanya. Bukan berterima kasih justru dia pergi begitu saja."


"Sayang, apa memang kita harus bertemu dengan pria bernama Zack Lee ini?" Dimitri kembali angkat bicara. Dia tahu bagaimana ekspresi Joa saat Quinn dan Sherin terus membahas soal pria itu.


"Tidak!" sahut Quinn. Wanita itu kembali fokus ke layar laptopnya. "Mereka akan menghadiri sebuah acara perlelangan. Sepertinya kau juga bisa hadir. Siapa tahu ada barang bagus," ucap Quinn.


"Kita akan menyerang mereka di sana?" Sherin kembali memperjelas semuanya.


"Ya. Kalau ke Jepang langsung terlalu beresiko. Bukankah kita bermusuhan dengan Chen Li? Itu berarti kita harus menghabisinya saat dia tidak dekat-dekat dengan para Yakuza. Bagaimana?" Quinn memandang Dimitri dan Joa untuk meminta solusi.


"Aku setuju. Tapi kalau aku boleh tahu, sebenarnya siapa yang sudah aku tembak?" tanya Sherin penasaran. "Apa dia orang yang sangat penting bagi Chen Li?"


Kali ini Quinn menghela napas berat seperti tidak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi. "Kau sudah menembak adiknya. Seorang wanita yang masih belia. Dia baru berusia 17 tahun. Wanita ini adik yang sangat disayangi Chen Li. Itu kenapa kita harus mengalahkannya. Karena aku yakin sampai kapanpun dia tidak akan pernah melepaskanmu, Sherin."


Sherin terlihat tidak tenang. Bukan hanya merasa bersalah saja. Tetapi dia tidak mau Quinn dan yang lainnya celaka karena ingin melindunginya dari teror Chen Li. Namun tanpa bantuan dari Quinn dan yang lainnya. Sherin bisa apa?


"Hei, kenapa diam? Kau takut?" Quinn mengusap lengan Sherin lalu memeluknya. "Kami ada di sini untuk membantumu. Kami tidak akan membiarkanmu celaka Sherin. Kita keluarga. Kita harus saling tolong menolong."


"Aku tidak pernah takut. Yang aku takutkan justru keselamatan kau dan juga Dimitri." Sherin melirik Joa. "Begitupun dengan Joa. Masalah ini bukan masalah sepele. Menyangkut nyawa resikonya."


"Sherin. Jika kita bersatu, semua akan terasa mudah. Tenang saja. Kami ada dipihakmu jadi kau tidak perlu merasa khawatir lagi. Oke?" Quinn terus memberi semangat agar Sherin tidak sedih lagi.


Sherin mengangguk. "Aku ingin pulang. Tante Viana pasti sudah sangat mengkhawatirkanku."


"Sherin, untuk beberapa hari ke depan kau harus menginap di sini. Soal Tante Viana akan menjadi urusanku. Aku akan katakan kepada Tante Viana kalau aku memintamu untuk menemaniku mendekor rumah. Dia pasti percaya."


Sherin hanya tersenyum saja. Wanita itu juga tidak bisa menolak permintaan Quinn. "Jadi, kapan kita bertemu dengan mereka?"


Quinn melihat kembali tanggal acara perlelangan tersebut. "Sial! Kenapa aku tidak membacanya dengan teliti." Wajah Quinn terlihat panik hingga membuat semua orang yang ada di sana juga panik.


"Sayang, ada apa?"

__ADS_1


"Quinn, ada apa sebenarnya?"


"Acaranya. Acaranya besok malam!" jawab Quinn.


"APA!"


...***...


Zack Lee sudah ada di dalam pesawat. Sepanjang perjalanan pria itu seperti tidak tenang. Kini ponsel dan camera yang ia temukan di kamar Joa sedang di charger anak buahnya. Pria itu sudah tidak sabar untuk melihat isi di dalamnya.


Berulang kali Zack Lee melirik jam di pergelangan tangannya. Dia ingin waktu cepat berlalu agar camera dan ponsel itu bisa kembali digunakan. Beberapa minuman beralkohol telah tersaji dihadapan Zack Lee. Pria itu meneguknya sebelum kembali fokus ke jam yang ada di tangannya.


"Bos," sapa seseorang.


Zack Lee memandang ke samping. Pria itu terlihat bersemangat melihat apa yang di bawa anak buahnya tersebut. "Baterainya sudah penuh."


"Letakkan di sini." Zack Lee menunjuk meja yang ada di dekatnya.


Pria itu meletakkan ponsel dan camera milik Aigu di atas meja. Sebenarnya dia juga penasaran dengan isi di dalamnya. Namun dia tidak memiliki keberanian untuk memeriksanya lebih dulu.


"Pergilah. Tinggalkan aku sendiri!" usir Zack Lee. Pria itu menunduk hormat sebelum pergi.


Zack Lee memperhatikan camera dan ponsel secara bergantian. Dia bingung mana dulu yang harus dia lihat. Secara perlahan dia menghirup oksigen sebelum menghembuskannya perlahan. Entah kenapa ada debaran aneh ketika ia ingin melihat hasilnya.


Zack Lee ingin memeriksa video lainnya. Baginya itu adalah video yang tidak penting. Saat ingin mengeluarkan video itu, tiba-tiba Zack Lee melihat Peiyu masuk ke dalam kamar Aigu.


"Peiyu? Apa yang dia lakukan di kamar Aigu?" batin Zack Lee penasaran. Dia semakin serius memandang clip video yang ada di camera.


"Nona Peiyu? Apa yang anda lakukan?" Aigu segera berdiri dan panik. Dia tidak menyangka kalau Peiyu berani masuk ke dalam kamarnya seperti itu.


"Jangan panggil aku dengan sapaan seperti itu. Apa kau lupa kalau kita adalah teman?" Peiyu duduk di atas tempat tidur. Dia memandang Aigu sejenak sebelum menghela napas kasar. "Katakan, apa gosip itu benar?"


"Gosip?" Aigu terlihat kebingungan. "Gosip apa? Siapa yang berani bergosip di markas?"


"Mereka bilang kau mencintaiku!" Peiyu menatap Aigu dengan serius. Mendengar pernyataan Peiyu membuat Aigu memalingkan wajahnya.


"Tidak! Itu tidak benar!" sangkal Aigu.


"Lalu, kenapa ada banyak fotoku di ponsel ini?" Peiyu memamerkan ponsel milik Aigu yang tanpa sengaja hilang.


Aigu terlihat semakin panik. Pria itu ingin merebut ponsel miliknya namun Peiyu segera menyembunyikannya di dalam saku. "Aigu, kita teman. Aku mencintai Zack Lee. Aku dan Zack Lee akan segera menikah. Tidak bisakah kau melupakan namaku dari pikiranmu?"


Aigu berjalan menghampiri Peiyu. Pria itu menarik paksa Peiyu agar berdiri. "Aku yang salah? Aku yang lebih dulu kenal denganmu. Aku yang lebih dulu akrab denganmu. Aku yang lebih dulu jatuh cinta padamu. Lalu, dimana letak kesalahanku? Buktinya sampai detik ini aku tidak menggangu hubunganmu dengan Bos Zack Lee. Semua berjalan sesuai dengan apa yang kau inginkan!" jelas Aigu. Dia hanya tidak mau sampai masalah ini di ketahui oleh Zack Lee.


"Oke, aku tidak akan membahas masalah ini. Lupakan. Anggap saja kita tidak pernah saling bertemu!" ketus Peiyu sebelum berjalan menuju ke meja. Wanita itu mengambil minuman beralkohol di sana lalu meneguknya dengan rakus.

__ADS_1


Aigu mengusap wajahnya dengan kasar. Dia ingin Peiyu segera pergi dari sana. Akan tetapi Peiyu justru lebih tertarik untuk mabuk-mabukan di kamarnya.


"Peiyu, sudah! Cepat keluar. Kau harus istirahat dikamarmu," bujuk Aigu.


"Aigu, apa aku cantik?" racau Peiyu yang sudah mabuk. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher Aigu. "Katakan Aigu. Katakan."


"Tidak!" dusta Aigu. Pria itu ingin menyingkirkan tangan Peiyu dari lehernya. Akan tetapi Peiyu tiba-tiba mencium Aigu hingga membuat Aigu mematung.


"Itu tanda persahabatan kita Aigu. Nanti setelah aku menikah, aku tidak akan pernah mau menemuimu lagi. Aku akan pergi sejauh mungkin dari hidupmu. Aku akan meminta Zack Lee untuk-"


Kali ini justru Aigu yang mencium Peiyu. Dia merem*ada rambut Peiyu lalu mengunci pinggang wanita itu agar tidak pergi.


Zack Lee menggenggam kuat camera yang ada di tangannya. Rasanya dia sangat kecewa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Bukan hanya berciuman. Aigu dan Peiyu berakhir di atas dengan percintaan panas mereka.


"AIGU!" Zack Lee mengehentikan video itu karena tidak sanggup melihat adegan selanjutnya. Pria itu masih berusaha tenang agar emosi tidak memenuhi pikirannya.


Kali ini Zack Lee memutar video selanjutnya. Video itu di rekam satu minggu setelah kejadian. Di sana terlihat Aigu dan Peiyu yang tiba-tiba bertemu di bar yang ada di markas. Kebetulan memang hanya ada mereka berdua di sana. Peiyu terlihat sangat panik. Bahkan bisa dilihat jelas bagaimana mata wanita itu memerah.


"Apa yang terjadi? Kau menangis?" tanya Aigu khawatir.


"Chen Li," sahut Peiyu. "Dia mengetahui apa yang telah kita lakukan malam itu. Dia akan memberi tahu Zack Lee." Peiyu terlihat semakin panik.


Aigu diam membisu. Namun dalam sekejap dia kembali tenang. "Bukankah itu bagus? Kita tidak perlu merahasiakan semua ini. Jika harus mati aku siap. Aku juga tidak sanggup menyimpan rahasia ini selamanya. Bos Zack Lee terlalu baik kepadaku," sahut Aigu pasrah.


"Bodoh!" umpat Peiyu. Bukan hanya marah. Akan tetapi Peiyu menampar pipi Aigu dengan keras. "Aku akan membereskan semuanya." Lalu Peiyu pergi. Aigu sendiri tidak tahu pergi kemana.


Setelah video itu berakhir. Zack Lee melihat foto-foto Peiyu dan Aigu yang terlihat sangat akrab. Mereka sering foto berdua.


Memang Peiyu masuk ke dalam geng mafia Zack Lee karena atas rekomendasi Aigu. Zack Lee saat itu suka dengan gaya bertarung Peiyu hingga menerima wanita itu untuk menjadi bawahannya. Tidak di sangka lama kelamaan Zack Lee jatuh cinta pada Peiyu. Peiyu sendiri tidak bisa menolak ketika Zack Lee melamarnya dan ingin menjadikannya istri.


"Peiyu, apa sebenarnya kau juga mencintai Aigu? Lalu kenapa kau menerima cintaku!" protes Zack Lee. Kali ini kesabaran pria itu masih cukup untuk menahan emosinya agar tidak semakin memuncak. Zack Lee meletakkan camera dan mengambil ponsel milik Aigu.


Tidak ada yang bisa dilihat dari ponsel jadul tersebut. Ponsel itu berisi panggilan keluar dan panggilan masuk dari anggota mafia. Zack Lee membuka email ponsel tersebut. Betapa kagetnya Zack Lee ketika membaca pesan yang dikirimkan Peiyu ke email Aigu. Email itu di kirim satu hari setelah Peiyu di tembak.


"Aigu, selamat tinggal. Kau sahabat terbaikku. Maafkan aku karena sudah mengecewakanmu. Aku sengaja melakukan semua ini untuk melindungimu. Aku tidak mau hubungan baikmu dan Zack Lee menjadi rusak. Sejak awal aku yang salah. Aku terlalu murah hingga kita bisa melakukan hubungan terlarang.


Tapi, kau tenang saja. Aku tidak benar-benar memberi tahu Chen Li rahasia yang selama ini di simpan rapat oleh Zack Lee. Aku sengaja mengatakan semua ini karena aku tidak sanggup membohonginya. Sama sepertimu. Setiap kali aku melihat wajah Zack Lee aku merasa bersalah dan menyesal.


Aku tidak bisa menikah dengannya. Dia terlalu baik padaku. Hanya ini satu-satunya cara yang bisa aku lakukan agar dia membenciku. Aku tahu nasipku akan menjadi buruk. Aku pasti akan mati di tangan Zack Lee. Tapi, ini setimpal. Aku telah mengkhianatinya. Dia pantas menembakku sampai mati.


Jika kau sudah membaca pesan ini berarti aku sudah tidak ada lagi di dunia. Aku mengatur pesan ini agar di kirim 24 jam setengah aku tewas. Tolong jaga rahasia ini Aigu. Biarkan seumur hidupnya, Zack Lee memandangku sebagai seorang pengkhianat. Itu jauh lebih baik. Daripada dia harus mengetahui apa yang pernah kita lakukan."


Zack Lee menatap ponsel tersebut lalu membantingnya dengan keras. Karena marah, dia sampai menghempaskan semua botol minuman yang ada di meja. Suara pecahan kaca bisa terdengar dengan jelas. Anak buah Zack Lee segera muncul untuk memeriksa.


"Peiyu! Kau memang wanita kejam Peiyu. Kenapa harus Aigu? Kenapa kau harus mencoreng nama baiknya? Peiyu! Aku sama sekali tidak menyangka kalau kau wanita yang seperti ini!" umpat Zack Lee. Pria itu menendang semua barang yang ada di hadapannya. Kali ini Zack Lee benar-benar emosi. Dia tidak bisa mengontrol emosinya lagi. "ARRGHHH!"

__ADS_1


__ADS_2