My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 86 Salah Sangka


__ADS_3

Karena tidak tahu harus bagaimana lagi, Luca dan Dimitri memutuskan untuk kembali ke rumah yang menjadi tempat persembunyian Tuan Nio. Sedangkan sisanya bertugas untuk membawa Joa menuju ke rumah sakit yang ada di kota. Bagaimanapun juga pria itu membutuhkan penanganan medis dengan obat dan alat yang jauh lebih lengkap.


Setibanya di kediaman Tuan Nio, Luca dan Dimitri segera berlari menuju ke dapur tempat di mana Tuan Nio mengambil penawar racunnya. Mereka berdua sama-sama kaget ketika melihat Tuan Nio tergeletak di lantai dengan kedua mata terbuka. Lantai itu dipenuhi darah yang keluar dari bagian dada Tuan Nio yang tertembak.


"Siapa yang sudah melakukan semua ini?" Luca terlihat sangat sedih ketika ia melihat sebuah botol pecah dan cairan yang ada di dalamnya berserak di lantai. Pria paruh baya itu berpikir kalau botol itu berisi cairan penawar racun yang seharusnya diberikan kepada Quinn.


"Bos, Kenapa Anda harus ke sini? Padahal saya sudah bersiap-siap untuk menemui anda."


Joni muncul dari balik dinding. Pria itu terlihat senang karena pada akhirnya mereka bisa menang melawan Tuan Nio.


"Joni, Kenapa kau membunuhnya dan kenapa kau tidak merebut penawar yang dia bawa?" teriak Luca marah. Emosi pria itu tidak terkendali saat ini. Dia sangat marah dengan kondisi yang terjadi. Di tambah lagi kini Luca tidak tahu bagaimana nasip istrinya.


"Tadinya aku ingin membawa penawar itu dan merebutnya. Tetapi aku melihat ada yang aneh di sana. Tuan Nio seperti ketakutan ketika meneguk menawar itu. Lalu aku biarkan dia meneguk separuh dari penawar yang dia pegang. Tidak lama setelah itu dia justru terlihat semakin kesakitan.


Aku berpikir kalau dia bunuh diri dengan racun yang ia ambil. Lalu tiba-tiba saja anak buah Tuan Nio muncul. Lalu dia menembak Tuan Nio. Saya hanya melihat kejadian itu dari kejauhan. Saya sendiri tidak tahu apa tujuan pria itu melakukan semua ini. Namun sebelum ia pergi untuk kabur, Saya sempat menembaknya. Sepertinya dia yang sudah menukar penawarnya dengan racun lain hingga akhirnya Tuan Nio tewas."


"Tapi aku merasa kalau ada yang janggal dari penjelasan yang baru saja kau katakan itu. Sejak awal aku sudah mencurigaimu!" Luca mengangkat senjata apinya. "Apakah kau dalang dari semua ini? Apakah kau yang sudah merencanakan semua ini Joni? Semua sudah terjadi dan kejahatanmu hampir saja terbongkar. Sebaiknya sekarang akui saja apa yang sebenarnya sudah kau rencanakan!" tuduh Luca dengan penuh amarah.


"Anda menuduh saya? setega itu Anda terhadap saya, Bos. Saya sudah cukup lama mengabdi kepada anda. Bagaimanapun keadaan Anda saya selalu ada di sisi anda dan melindungi anda dengan nyawa saya sendiri. Tapi kenapa setega itu Anda menuduh saya?" Joni terlihat kaget mendengar tuduhan Luca.


"Dad, jangan gegabah. Bagaimana kalau apa yang dikatakan oleh Joni itu benar? Lihatlah di sana. Bukankah ada mayat yang baru saja tertembak. Itu berarti apa yang dikatakan Joni memang benar adanya." Entah kenapa Dimitri merasa kalau Joni tidak bersalah.


"Tapi sejak awal dia menunjukkan tanda-tanda yang begitu mencurigakan. Dimulai dari Quinn yang diracuni selama bertahun-tahun. Bukankah tugas untuk menjaga Quinn adalah tugas utama Joni dan anak buahnya. Tetapi kenapa dia masih saja kecolongan seperti ini? Dari situ aku bisa menyimpulkan kalau dia sengaja untuk pura-pura tidak mengetahui," jawab Luca. Pria itu masih belum mau menurunkan senjata apinya.


"Saya tidak pernah takut mati ketika saya dalam keadaan melindungi dan membela anda. Tetapi hari ini saya merasa takut. Ini adalah mimpi buruk bagi saya. Tidak pernah sedikitpun saya bayangkan kalau saya akan mati di tangan Anda tuan." Joni terlihat sedih sekali. Tetapi pria itu tidak ada menunjukkan tanda-tanda akan melawan Luca.

__ADS_1


"Begini saja. Untuk mengetahui kebenarannya kita minta bantuan Quinn. Quinn bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan kemampuan yang ia miliki," ucap Dimitri memberi solusi.


"Saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Tuan Dimitri. Tetapi jika nanti memang saya terbukti tidak bersalah, Saya tidak mau bekerja dengan Anda lagi Tuan. Perlakuan Anda hari ini sudah cukup mengecewakan bagi saya. Pengabdian saya selama ini hanya dianggap omong kosong yang tidak ada manfaatnya." Kekecewaan Joni semakin terlihat. Luca mulai bimbang dan ragu dengan sikapnya sendiri.


"Baiklah. Kalau begitu kita buktikan sekarang juga!" ucap Luca tidak sabar. Pria itu segera menekan nomor Quinn. Meskipun hari sudah malam tetapi Luca berharap kalau putrinya belum tidur dan kini bisa membantunya menghadapi masalah ini.


"Halo, Dad. Apa Daddy baik-baik saja? Kenapa baru sekarang memberi kabar?" protes Quinn.


"Quinn, apakah sekarang kau tahu di mana posisi Daddy berada?"


"Tunggu, aku akan melacaknya," ucap Quinn. Wanita itu memainkan laptopnya sebelum akhirnya mengeluarkan suara lagi. "Sudah. Bahkan aku tahu kalau kini Dimitri ada di samping Daddy dan Paman Joni ada di depan Daddy."


"Apakah kau bisa mengetahui kejadian setengah jam yang lalu. Tepat di lokasi ini?"


"Tentu saja aku bisa. Ruangan itu ada cctv-nya. Aku bisa melacak apa yang terjadi dengan menggunakan CCTV tersebut," jawab Quinn dengan penuh percaya diri.


"Baiklah akan aku atur. Tapi untuk apa?"


"Lakukan saja. Daddy tunggu sekarang juga!"


Luca segera memutuskan panggilan teleponnya bersama dengan Quinn. Sedangkan Dimitri dan Joni hanya saling memandang dengan pikiran mereka masing-masing. 5 menit setelah menunggu akhirnya Quinn mengirimkan rekaman yang diminta oleh luca. Tanpa menunggu lama lagi pria paruh baya itu segera memutar rekaman yang dikirim oleh putrinya.


Betapa kagetnya Luca ketika melihat rekaman tersebut. Semua yang terjadi sama persis dengan apa yang diceritakan oleh Joni. Kini pria itu merasa menyesal karena sudah menuduh orang kepercayaannya. Ketika rekaman itu berakhir, Luca hanya bisa memandang lemas ke arah Joni.


"Mungkin ini adalah akhir dari pertemuan kita Tuan. Saya senang bisa bekerja sama dengan Anda selama ini. Anda pria yang sangat baik. Pemimpin yang cukup peduli terhadap bawahan anda. Saya tidak akan pergi dengan membawa kesan buruk tentang anda. Saya harap kedepannya Anda bisa menemui orang yang jauh lebih baik dari saya." Joni melangkah maju dan mengeluarkan tiga botol berisi cairan bening. "Saya menemukan ini tersimpan rapi di sebuah kamar yang ada di rumah besar ini. Menurut saya ini adalah penawarnya. Karena pria yang tadi sempat membunuh Tuan Nio keluar dari ruangan yang menjadi tempat tersimpannya botol-botol ini. Tetapi sebaiknya sebelum memberikan penawar ini kepada Nona Quinn, alangkah baiknya diperiksa lebih dahulu di laboratorium untuk memastikan apa benar ini penawarnya."

__ADS_1


Luca hanya diam saja memandang 3 botol yang baru saja diletakkan oleh Joni. Pria itu kehabisan kata-kata saat ini. Dia tidak tahu harus bicara apa lagi. Hatinya benar-benar menyesal.


"Terima kasih Tuan. Sejak awal saya tahu kalau Anda pria yang baik," puji Dimitri. Joni hanya menjawab dengan anggukan saja. Dia kembali memandang ke arah Luca.


"Saya juga sudah tua. Sudah sepantasnya saya pensiun bukan? Jadi anda tidak perlu sedih seperti itu Tuan."


Joni segera memutar tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan Luca dan Dimitri yang masih berada di sana. Hingga tidak lama kemudian terdengar teriakan yang keluar langsung dari mulut Luca.


"Tunggu!"


Joni menahan langkah kakinya. Namun pria itu tidak langsung berputar. Luca segera berjalan menghampiri Joni. Sedangkan Dimitri segera mengamankan 3 botol yang berisi penawar racunnya.


"Maafkan aku Joni. Keadaan membuatku berpikiran pendek hingga akhirnya aku menyakiti orang yang selama ini melindungiku," ucap Luca dengan penuh penyesalan.


Joni tersenyum mendengarnya. Namun masih terlihat jelas rasa kecewa dari tatapan pria paruh baya itu. "Anda adalah atasan yang sangat baik. Saya tahu dan saya sangat paham posisi anda tadi. Jika saya ada di posisi anda mungkin saya akan berpikiran seperti itu. Awalnya saya sendiri juga sudah menyalahkan diri saya karena telah gagal menjaga Nona Quinn hingga akhirnya Nona Quinn berada di posisi sekarang. Jadi saya anggap semua ini impas. Saya sama sekali tidak dendam dengan Anda tuan."


"Joni, Maafkan Aku." Luca segera memeluk bawahannya itu. "Kapanpun jika kau ingin kembali datanglah padaku."


"Anda tidak perlu merasa menyesal seperti itu Tuan. Seperti yang saya katakan tadi saya sama sekali tidak dendam dengan anda. Mungkin memang ini takdir yang sudah dituliskan untuk kita berdua."


Luca melepas pelukannya lalu menepuk pundak Joni. "Aku ini Pria tua yang menyebalkan. Sering sekali melakukan kesalahan. Apakah kau tidak mau memaafkan kesalahan pria tua ini?"


Kedua mata Joni terlihat berkaca-kaca mendengar perkataan Luca. Pada akhirnya pria itu segera memeluk Luca dan menepuk pundaknya. "Kenapa sulit sekali untuk berpisah. Apa seumur hidup kita ditakdirkan untuk selalu bersama?"


Luca tertawa mendengarnya. Pria itu membalas pelukan Joni. "Apa sekarang kita sudah berdamai?"

__ADS_1


Joni mengangguk. "Aku tidak akan pergi. Kita akan selalu bersama sampai salah satu diantara kita pergi duluan."


Melihat pemandangan itu membuat Dimitri kembali ingat dengan Joa. Hubungannya dengan Joa juga sudah seperti saudara kandung. "Aku harap aku dan Joa nantinya bisa seperti mereka. Bersama sampai tua dan saling melindungi."


__ADS_2