
"Quinn! Kau mau kemana?" teriak Luca.
Tentu saja Luca mendadak panik. Sebagai seorang ayah pasti akan takut kehilangan putrinya. Saat ini Quinn menyeret koper. Bahkan Tiffany juga terkejut. Pagi-pagi mansion sudah heboh dengan Quinn yang ingin minggat.
"Quinn!" Tiffany ikut berteriak memanggil Quinn. Wanita itu menarik tangan Quinn. Kini mereka saling berhadapan.
"Quinn, kau mau kemana, Nak?" tanya Tiffany.
"Kan Mommy dan Daddy nggak butuh anak yang nggak nurut. Jadi, lebih baik Quinn pergi saja dari mansion. Percuma, kalau Daddy dan Mommy selalu menekan! Jika perlu aku pergi dari rumah ini tanpa membawa apapun. Tidak masalah. Aku bisa hidup di pulau terpencil itu selama 2 minggu. Jadi, bagiku tidak sulit untuk keluar dari mansion tanpa uang dari Daddy!" Quinn akhirnya saat inilah yang terjadi.
Luca dan Tiffany kaget. Quinn ingin pergi dari mansion setelah kemarin Quinn dan Luca berdebat. Kedua mata Tiffany mulai berkaca-kaca. Wanita itu menggenggam erat tangan Quinn.
"Tidak, Quinn. Jangan begini! Mommy tahu Daddy-mu sangat keras kepala. Tapi, tolong. Jangan pergi dari sini! Tidak, Nak!" Tiffany mulai terisak. Gadis kecilnya itu masih tidak menatap matanya.
"Kenapa kau ingin pergi, Nak? Hiks! Apa kau tidak sayang lagi sama mommy?" tanya Tiffany.
"Daddy bilang aku tidak perlu lagi pergi ke perusahaan. Daddy mengatakan aku harus tetap di rumah dan harus patuh, Mom! Quinn sudah berusia 25 tahun! Quinn punya kehidupan sendiri! Quinn capek!" Quinn pun tak dapat menahan air matanya.
__ADS_1
Namun, Quinn memilih untuk menahannya. Walaupun mati-matian Quinn menahan tangisan, nyatanya Quinn mampu melakukannya. Kini Tiffany beralih pada Luca. Wanita itu memeluk suaminya sambil menangis.
"Sayang, tolong! Jangan biarkan Quinn pergi dari sini!" pinta Tiffany.
Luca menarik napas dalam-dalam. Ia tidak habis pikir ternyata Quinn memilih untuk keluar dari sini. Bila Quinn keluar dari mansion, maka Luca yang akan kelimpungan.
Mengapa? Karena Quinn memegang kendali semua kendali telematika perusahaan. Bahkan data penting perusahaan juga Quinn yang memberikan pengamanan. Untuk itulah perusahaan Luca semakin berkembang selama bertahun-tahun ini.
Ibaratnya, Quinn adalah kartu as perusahaan Luca. Jika Quinn berbalik berkhianat, maka Luca bisa hancur bagai butiran debu. Kini Luca menghela napas dalam-dalam.
"Ah, syukurlah. Sini kopermu. Kau pergilah bekerja, Nak. Jangan pernah berniat untuk pergi dari mansion ini." Tiffany memeluk Quinn.
"Quinn hanya capek, Mom. Quinn seperti terasingkan dari keramaian dunia. Padahal banyak sekali hal-hal yang menyenangkan. Kalau begitu, Quinn pergi dulu ya! Sampai jumpa, Mom!" Quinn mengecup pipi Tiffany.
Sehingga Tiffany kembali tersenyum dan menghapus air matanya. Tiffany terus menatap kepergian Quinn dengan lega. Setidaknya Quinn sudah bersikap seperti biasanya.
"Nichole, bawa koper kakakmu ke kamar," ucap Tiffany.
__ADS_1
"Oke, Mom." Nichole yang tahu perubahan ekspresi Tiffany pun diam.
Sama halnya dengan si bungsu yang enggan bersuara. Mereka berdua tidak memiliki kebebasan mutlak seperti Quinn. Jadi, jika keduanya sampai melanggar aturan, maka Luca akan memberikan hukuman.
Senyuman Tiffany yang menghilang. itu telah digantikan mimik wajah datar. Tiffany pun berjalan menuju ke ruang kerja Luca. Tanpa mengetuk pintu, Tiffany masuk ke dalam. Terlihat Luca sedang mengawasi sesuatu di luar jendela.
"Sepertinya kita perlu berbicara." Tiffany berbicara dengan nada tegas dan lugas. Membuat Luca memilih mengikuti keinginan Tiffany.
"Ada apa, Sayang?" tanya Luca.
"Berikan kebebasan untuk Quinn. Dia sedang berada di fase emas. Masa muda yang indah akan tergantikan masa suram. Kau boleh mendidik keras anak-anak. Tapi, jangan lupakan masa-masa emas yang tidak akan mungkin ada lagi di masa depan," terang Tiffany.
"Tiffany, jangan membahas ini. Kau tahu kalau aku melakukan ini semua demi masa depan anak-anak. Mereka harus dididik dengan keras. Supaya nanti mereka tidak akan kalah dari yang lain." Luca menolak.
"Oh, begitu. Bagaimana kalau kau kehilangan istri dan ketiga anakmu karena sikapmu yang kelewatan, Sayang?" ancam Tiffany.
"A-apa?"
__ADS_1