My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 72 Malaikat Komputer


__ADS_3

"Quinn, tidurlah. Kenapa kau terus saja memandang laptopmu? Apa Daddy memaksamu untuk bekerja?"


Tiffany benar-benar kesal melihat putrinya tidak kunjung tidur. Wanita paruh baya itu sendiri sebenarnya juga tidak bisa tidur karena sekarang tidak berada di kamarnya yang nyaman. Meskipun ruangan tempat Quinn di rawat itu sangat elit. Tetap saja Tiffany lebih merindukan kamarnya.


"Mom, bukankah sejak siang akg tidur terus? Sekarang mataku tidak sanggup terpejam lagi mom." Quinn berusaha merengek agar Tiffany tidak menggangunya.


"Tidak, Quinn. Apapun alasannya, kau tetap harus tidur." Tanpa izin dari Quinn, Tiffany merebut laptop tersebut dan meletakkannya di atas meja. "Mommy dan Daddy juga sudah sepakat. Setelah kondisimu dinyatakan jauh lebih baik, kau boleh kembali ke perusahaan lagi. Tetapi dengan status yang baru." Tiffany menjatuhkan bokongnya di pinggiran tempat tidur.


"Status apa Mom?" tanya Quinn penasaran.

__ADS_1


"Semua orang akan tahu kalau sebenarnya kau adalah pemilik perusahaan. Menurut mommy ini sudah saatnya kau bekerja dengan santai dan menikmati hasil kerja kerasmu. Quinn, ilmumu dalam berbisnis sudah diakui Daddy. Dengan begitu kau sudah sah menjadi pemilik perusahaan." Tiffany terlihat bersemangat. Berharap kabar baik ini juga bisa membuat Quinn semangat untuk sembuh. Nyatanya ekspresi Quinn jauh dari apa yang dibayangkan oleh Tiffany.


"Tapi aku lebih nyaman dengan statusku yang sekarang Mom. Setidaknya dari sana aku bisa menemukan orang yang benar-benar tulus berteman denganku." Bicara soal teman membuat Quinn kembali ingat dengan Sherly. "Mom, apa hari ini Sherly gak ada ke sini?"


"Tidak, sayang." Sebenarnya Tiffany sangat membenci Sherly. Bahkan menyebut nama wanita itu saja jijik. Namun di depan Quinn dia harus bersikap sewajarnya agar Quinn tidak curiga.


"Apa yang terjadi padanya? Apa dia sakit ya Mom?" Wajah Quinn terlihat khawatir. Ketika dia mengambil ponselnya lalu ingin menelan nomor Sherly, tiba-tiba Luca berdehem hingga membuat Quinn menahan gerakannya.


"Bagaimana bisa kamu tidur jika putri kami belum tidur," jawab Luca. Dia mengusap pundak istrinya dengan mesra. "Sayang, tidurlah. Biar aku yang jaga Quinn."

__ADS_1


Tiffany yang memang merasa sangat lelah memilih untuk segera berbaring. Kini Luca yang bertugas menemani Quinn. Sebagai Daddy pria itu ingin terlihat sempurna di depan putrinya.


"Apa masih ada yang terasa sakit?"


Quinn menggeleng kepalanya. "Aku merasa jauh lebih baik. Bahkan aku berpikir kalau sekarang aku sudah sembuh. Apa tidak sebaiknya besok kita pulang saja?"


"Jangan! Dokter Fei belum mengizinkamu pulang Quinn. Apa kau sangat bosan? Kira-kira apa yang bisa Daddy lakukan agar kau tidak bosan lagi?" Luca berusaha keras untuk menghibur Quinn meskipun dia tidak memiliki bakat dalam bidang itu. Luca yang selalu terlihat serius justru terlihat aneh ketika berusaha memasang wajah lucu agar putrinya tertawa.


"Tidak, Dad. Itu membosankan." Quinn memalingkan wajahnya ke arah lain. "Dad, sepertinya aku ingin menikah saja. Jika aku menikah dengan Dimitri, dia tidak akan pergi sesuka hatinya seperti ini lagi."

__ADS_1


Sekarang Luca tahu apa yang membuat putrinya tidak bisa tidur. "Sayang, dengarkan kata Daddy. Jika kau sudah siap untuk menikah, Daddy akan dukung keputusanmu. Namun sebaiknya pikir-pikir dahulu. Masa depanmu masih panjang. Bukankah kau sendiri yang bilang ingin menjadi orang sukses dengan kerja kerasmu sendiri? Sekarang buktikan kepada Daddy!"


Quinn tersenyum mendengarnya. "Dad, aku sayang Daddy. Sepertinya aku tidak jadi menikah cepat. Aku ingin buktikan kepada Daddy kalau aku bisa melakukan segalanya." Quinn langsung memeluk Luca yang memang jaraknya sangat dekat dengan posisinya berada. "Aku juga ingin jadi Hacker handal agar bisa segera memberantas orang-orang yang memusuhi Daddy," batinnya lagi.


__ADS_2