
Robin, Xander dan Luca kembali masuk ke dalam. Melihat kemunculan Robin membuat Quinn segera duduk. Wanita itu tahu kalau Robin adalah orang kepercayaan kekasihnya selain Joa.
"Robin, dimana Dimitri? Kenap kau datang sendirian?" tanya Quinn. Wanita itu semakin tidak sabar mendengar penjelasan dari Robin. Dia berharap pria itu datang untuk menyampaikan kabar baik untuknya.
"Nona, bagaimana keadaan anda?" tanya Robin penuh basa-basi. Dia juga harus memastikan kalau Quinn memang benar-benar sudah sembuh.
"Seperti yang kau lihat, kalau keadaanku sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku tidak merasakan rasa sakit sedikitpun saat aku bergerak untuk duduk," jawab Quinn apa adanya. "Lalu, dimana Dimitri?" Lagi-lagi pertanyaan yang serupa ia lontarkan.
"Nona, saya sangat membutuhkan bantuan anda. saat ini Bos Dimitri dalam bahaya," ucap Robin pada akhirnya. Hingga membuat ekspresi Tiffany protes. Wanita itu tidak mau putrinya kepikiran dan jatuh sakit lagi.
"Kenapa kau mengatakan kalimat seperti itu di depan putriku? Dia baru saja sadar. Dia baru saja sehat. Kenapa kalian ingin memaksanya untuk sakit lagi!" protes Tiffany. Dia merasa sangat kesal. Bahkan ingin sekali mengusir Robin dari ruangan itu.
Luca cepat-cepat mendekati Tiffany. Kali ini masalah istrinya adalah tugasnya. "Sayang, ayo kita keluar. Ada yang ingin aku bicarakan," bujuk Luca.
"Tidak. Aku ingin berada di sini. Aku tidak mau orang-orang yang ada di ruangan ini memaksa putriku," tolak Tiffany.
"Mom, percayakan semuanya padaku. Aku janji tidak akan membuat Mommy khawatir lagi. Aku ingin menolong Dimitri, Mom. Aku sangat mengkhawatirkannya," bujuk Quinn.
"Sayang, ayo." Luca masih belum menyerah. Hingga pada akhirnya dia berhasil membujuk Tiffany agar keluar dari ruangan itu. Luca tahu, keberadaan Tiffany hanya akan merusak segalanya.
Setelah Tiffany dan Luca menghilang di balik pintu, Quinn kembali memandang wajah Robin. Wanita itu meminta Robin untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Wajah Quinn berubah sedih. Begitupun dengan Xander dan juga Dokter Fei. Mereka semua kini sangat mengkhawatirkan keadaan Dimitri. Ingin segera membebaskan pria tangguh itu.
"Mana laptopku?" tanya Quinn kebingungan. Sebisa mungkin dia menahan air matanya agar tidak sampai menetes. Nanti Tiffany akan sedih dan mengkhawatirkannya jika Quinn sampai menangis.
"Apa harus menggunakan laptop milikmu?" tanya Xander bingung. Laptop Quinn tidak ada di sana. Saat berangkat ke rumah sakit tidak seorangpun ingat untuk membawa laptop. Mereka hanya fokus pada kesehatan Quinn saja kala itu.
"Aku bisa menggunakan laptop milik siapapun," jawab Quinn mantap. Kali ini dia tidak mau mengulur waktu lagi. Secepat mungkin dia harus melacak keberadaan kekasihnya.
"Ini laptopku." Dokter Fei membuka laptop miliknya di depan Quinn. Pria itu berharap besar jika Quinn bisa menemukan posisi Dimitri saat ini.
Quinn menatap layar laptop itu dengan serius. Kesepuluh jarinya sangat handal. Dalam waktu hitungan detik Quinn sudah bermain dengan maps. Semua orang kini menatap Quinn dengan penuh harap.
Quinn melacak keberadaan Dimitri dan apa saja yang dilakukan pria itu selama beberapa kebelakang. Hanya saja Quinn tidak bisa memutarnya satu persatu. Karena kini wanita itu hanya fokus dengan posisi Dimitri sekarang.
__ADS_1
"Hongkong. Dimitri berada di Hongkong. Sebuah ruang bawah tanah." Buliran air mata yang sejak tadi di tahan jatuh juga membasahi pipi. Wanita mana yang kuat melihat kekasihnya dalam keadaan mengenaskan seperti itu.
Quinn memutar laptopnya agar semua orang bisa melihat. Sama seperti Quinn. Semua membisu melihat keadaan Dimitri di sana. Rasa geram dan emosi memenuhi dada Robin. Pria itu mengepal kuat tangannya.
"Terima kasih, Nona. Saya akan berangkat malam ini juga untuk menolong Bos Dimitri." Pria itu segera pergi setelah mengantongi alamat tempat Dimitri berada. Xander dan Dokter Fei hanya bisa membisu melihat video di depan mereka. Rasanya ingin sekali mereka juga ikut bersama dengan Robin untuk menolong Dimitri. Tetapi saat ini tugas mereka adalah menjaga Quinn.
"Kenapa semua harus terjadi? Kenapa dia bisa sampai seperti itu?" Quinn menutup wajahnya lalu menangis. Xander melangkah mendekat dan mengusap punggung Quinn. Sedangkan Dokter Fei segera menjauhkan laptop itu agar Quinn tidak terus-terusan melihat keadaan Dimitri.
"Quinn, tenanglah. Ingat! Kau harus memiliki kesehatanmu. Kau tidak boleh ceroboh. Kita semua pasti akan menolong Dimitri," bujuk Xander. Meskipun pria itu tahu bujukannya tidak akan semudah itu menenangkan pikiran Quinn. Tetapi setidaknya dia sudah berusaha.
"Xander, ada yang ingin aku bicarakan padamu," ujar Dokter Fei. Xander memandang ke arah Quinn sejenak sebelum pergi bersama dengan Dokter Fei.
Setibanya di depan ruangan, di ujung lorong mereka melihat Tiffany dan Luca seperti sedang membahas sesuatu. Xander menghela napas sejenak sebelum memandang wajah Dokter Fei.
"Aku harus pergi," ucap Xander pada akhirnya.
"Ya. Itu yang ingin aku katakan. Nona Quinn sudah baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Aku lihat-lihat lagi, anak buah Tuan Luca juga banyak. Sekarang yang membutuhkan bantuan adalah Dimitri. Pergilah bersama dengan White Snake milik Dimitri." Dokter Fei menepuk pundak Xander. "Tetap jaga kesehatanmu."
Xander mengangguk. Dia memeluk Dokter Fei dengan erat. "Rahasiakan masalah ini dari orang tuaku. Mereka pasti akan sangat mengkhawatirkanku jika sampai tahu kalau aku berangkat ke Hongkong untuk menolong Dimitri."
"Ada apa? Kau terlihat sangat terburu-buru, Xander," tanya Tiffany penasaran.
"Tante, saya harus pergi," jawab Xander. "Ada urusan bisnis yang harus segera saya selesaikan. Maafkan saya karena tidak bisa menemani Quinn lagi."
"Bagaimana dengan orang tuamu? Apa mereka sudah tahu?" timpal Tiffany lagi.
"Saya akan menghubungi mereka nanti. Tante, saya tidak sempat berpamitan dengan Quinn."
"Nanti akan Tante sampaikan. Xander, kau harus segera memberi kabar Viana. Dia akan sangat mengkhawatirkanmu." Tiffany memandang Luca. Dia memaksa suaminya untuk segera masuk ke dalam dan bicara dengan Quinn.
Bersamaan dengan itu, Xander berlari pergi menuju ke lift. Pria itu berharap bisa mengejar pasukan White Snake agar mereka sama-sama berangkat ke Hongkong.
Di dalam kamar, Tiffany dan Luca di buat kaget ketika melihat tempat tidur yang seharusnya menjadi tempat Quinn berbaring kini kosong. Dengan cepat Tiffany berlari ke kamar mandi. Dia berharap putrinya ada di sana.
Begitupun dengan Luca yang saat itu memilih untuk memeriksa jendela. Dia juga harus memastikan kalau tidak ada penyusup saat dia keluar.
__ADS_1
Langkah suami istri itu terhenti melihat secarik surat di atas nakas. Luca segera mengambilnya dan mereka membacanya sama-sama.
"Mom ... Dad. Maafkan aku. Tapi aku harus menolong Dimitri."
Tiffany langsung terjatuh di lantai karena kakinya lemas. Luca yang tidak tahu harus berbuat apa lagi segera menolong istrinya. Dia berusaha memberi semangat kepada Tiffany agar tidak sedih dan berpikiran buruk.
"Ini semua salahmu! Kau sendiri tahu bagaimana kata putri kita. Kenapa masih mengizinkan mereka masuk?" protes Tiffany. Rasanya dia ingin terus menyalahkan suaminya.
"Sayang, Quinn mengambil keputusan yang tepat," jawab Luca tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Keputusan yang tepat kau bilang?" Tiffany tersenyum pahit mendengarnya. "Dia baru saja sembuh. Aku tidak mau dia celaka."
"Doakan yang terbaik maka semua akan baik-baik saja. Percayalah padaku." Luca memegang tangan Tiffany. "Kau percaya padaku kan?"
Tiffany diam membisu. Dia terus memikirkan keadaan putrinya. Namun, Tiffany juga tidak bisa memarahi Luca terus terusan. "Ya, aku percaya. Dia pasti akan pulang dalam keadaan selamat."
Tiffany lalu memeluk suaminya. Meskipun sedih, dia berusaha untuk tetap tegar dan memberikan doa terbaik untuk putrinya yang kini pergi menuju medan pertempuran.
...***...
"Apa semua sudah siap? Apa senjata yang kita bawa sudah lengkap?" tanya Robin sembari memandang pasukan White Snake yang ada dihadapannya.
"Sudah, Bos!" sahut mereka secara serempak. Tatapan mereka tertuju ke arah belakang Robin. Hal itu membuat Robin mengernyitkan dahinya dan memandang ke belakang. Mereka melihat Joa yang muncul dengan perlengkapan perang ditubuhnya. Pria itu sudah terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Joa, kenapa kau ada di sini?" tanya Robin khawatir. "Kau seharusnya istirahat."
"Sudah waktunya aku bergerak. Tubuhku terasa kaku karena terlalu sering berbaring," jawabnya tanpa memandang. Pria itu menurunkan sniper yang ia bawa lalu memandang pasukan White Snake yang ada di hadapannya. "Setelah sekian lama kita tidak bertemu, malam ini aku ingin menyampaikan info penting pada kalian. Saya tidak membunuh dua pengkhianat karena ada alasan yang cukup kuat."
"Bos, itu tidak adil! sahut salah satu pasukan White Snake. "Karena mereka berdua kita kehilangan banyak anggota. Apa kita harus memaafkan mereka begitu saja?"
"Mereka sudah dikeluarkan dari White Snake. Mulai detik ini mereka bukan lagi bagian dari White Snake. Aku pikir itu hukuman yang cukup menyakitkan," jawab Joa lagi hingga membuat semua orang terdiam.
"Sebaiknya sekarang kita berangkat. Tidak perlu membahas masalah yang sudah lewat," ucap Robin. "Joa, kau yakin sudah benar-benar kuat?"
"Ya," jawabnya mantap.
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita berangkat. Kita bawa pulang Bos Dimitri!"