
Quinn melebarkan kedua matanya lalu memandang ke arah samping. Di sana ia melihat Dimitri sedang memegang senjata apinya. Pria itulah yang sudah menembak Sherly hingga tewas. Dia tahu kalau Quinn tidak akan memiliki keberanian untuk membunuh wanita itu. Justru berlama-lama ada di sana hanya membuat Quinn semakin sedih dan Dimitri tidak mau hal itu terjadi.
"Bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku ini pria yang sangat kejam. Jadi sekarang terserah kau saja mau memarahiku, memukulku atau apapun itu," ucap Dimitri dengan santai. Pria itu menurunkan senjata apinya lalu memandang Quinn dengan rasa tidak tega. "Yang penting sekarang wanita ini sudah pergi untuk selama-lamanya!"
"Terima kasih," ucap Quinn pelan. Wanita itu segera memeluk Dimitri dan menangis dipelukannya. "Jika kau tidak ada di sini, mungkin aku akan berubah pikiran dan justru akan membawanya ke rumah sakit. Cerita yang sama akan terulang kembali. Lebih baik seperti ini. Dia tidak tersiksa lagi dan aku tidak lagi melihat wajahnya di muka bumi ini."
Dimitri membalas pelukan Quinn dengan erat. "Setelah ini tidak akan ada lagi yang mengkhianatimu. Aku akan menjadi sahabatmu, kekasihmu, suamimu bahkan apapun yang kau inginkan." Dimitri mengecup pucuk kepala Quinn sejenak sebelum memeluknya dengan erat.
Joa dan Robin juga berdiri di sana untuk melihat kejadian itu. Mereka merasa lega karena pada akhirnya Dimitri muncul juga. Sebelum masuk ke dalam ruangan tersebut Joa sudah menjelaskan apa yang terjadi di telepon tadi.
Karena Quinn terlalu sedih saat mengobrol dengan Sherly sampai-sampai wanita itu tidak sadar saat Dimitri melangkah masuk ke dalam. Hingga akhirnya pria itu menembak Sherly tanpa mau menunggu terlalu lama lagi. Baginya ini adalah waktu yang tepat.
"Tapi Quinn, kau ini harus dihukum," ucap Dimitri lagi sebelum melepas pelukannya. Pria itu menatap Quinn dengan serius seolah-olah ia marah dan tidak setuju dengan tindakan Quinn saat itu karena kabur dari rumah secara diam-diam.
"Ya. Aku tahu aku salah karena tidak memberitahumu. Tapi aku hanya tidak ingin mengganggumu saja. Bukan karena aku ingin membohongimu," jawab Quinn sambil berusaha membela diri.
"Dan apakah kau tahu kalau sekarang kedua orang tuamu sangat mengkhawatirkanmu di rumah? Ayo, sekarang kita harus segera kembali." Dimitri mengusap air mata yang tersisa di pipi Quinn.
"Tunggu! Kenapa mereka bisa tahu kalau aku kabur dari rumah? Bukankah tadi aku pergi dengan hati-hati dan aku sangat yakin kalau tidak ada satu orang pun yang berhasil melihatku."
Dimitri mencubit hidung Quinn dengan gemas. "Ternyata malaikat komputer bisa ceroboh juga," ledek Dimitri sebelum melipat kedua tangannya. "Apakah kau lupa kalau di rumahmu itu ada CCTV yang sengaja dipasang oleh Daddy. Semua rekaman CCTV terhubung langsung dengan ponselnya. Mungkin ini ibarat firasat seorang ayah terhadap putrinya. Tiba-tiba saja Daddy tertarik untuk mengotak-atik ponselnya dan melihat keadaan di rumah.
Lalu dia melihat kau kabur dengan menggunakan mobil yang terparkir dekat gerbang. Setelah itu dia datang ke kamarku dan memberitahuku semua ini. Aku segera pergi mengikutimu. Sayangnya aku kehilangan jejak karena kau terlalu cepat. Aku mengambil ponselku yang lain untuk menghubungi Joa. Setelah itu Joa mengatakan kalau kau ada di markas White Snake."
"Baiklah kalau begitu sekarang Ayo cepat kita pulang. Aku tidak mau Daddy dan Mommy semakin khawatir padaku," ajak Quinn. Wanita itu segera menarik Dimitri untuk segera pergi dari sana.
Di depan pintu, Dimitri memandang ke arah Joa dan Robin yang berdiri dan menunggu perintah. "Urus wanita itu. Kubur ia dengan layak. Kabari aku jika sudah selesai!"
"Baik bos," jawab Joa dan Robin secara bersamaan.
"Ayo sayang. Kita harus segera pulang. Bukankah besok akan menjadi hari yang sangat sibuk karena kita harus segera mempersiapkan pesta pernikahan kita."
Quinn menahan langkah kakinya lalu memalingkan tubuhnya ke belakang. Dia kembali memandang Sherly yang sudah terbujur kaku di atas tempat tidur. Ada senyum kecil di bibirnya. "Tidur yang tenang Sherly. Sekarang kau sudah tidak menderita lagi," gumam Quinn di dalam hati.
Meskipun sempat sedih dan tidak tega tetapi kini Quinn merasakan sebuah kelegahan. Dia tidak lagi mengingat kejahatan yang sudah dilakukan Sherly terhadapnya. Wanita itu sudah berhasil melepas rasa kecewa dan sakit hati yang sempat dia rasakan. Kini Quinn memutuskan untuk membuka lembar baru kehidupannya tanpa ada bayang-bayang Sherly lagi.
...***...
__ADS_1
Sherin baru saja selesai mandi. Wanita itu merasa bahagia ketika melihat Viana sudah duduk di atas tempat tidurnya. Sambil tersenyum manis wanita itu berjalan menghampiri Viana dan duduk di samping wanita paruh baya tersebut.
"Tante, aku sangat merindukan Tante," ucap Sherin sebelum memeluk Viana dengan begitu erat.
"Maafkan Tante karena tadi malam tidak bisa menyambut kehadiranmu. Tante sangat ngantuk," ucap Viana dengan penuh rasa bersalah.
"Nggak masalah. Yang penting sekarang aku diterima untuk tinggal di rumah ini selama beberapa hari," jawab Sherin sambil tersenyum ceria.
"Jangankan beberapa hari, jika kau ingin tinggal di rumah ini untuk selama-lamanya juga Tante tidak akan menolak. Tante sangat menginginkan anak perempuan agar ada teman tante berbelanja. Menunggu Xander menikah sepertinya akan sangat lama." Viana mengusap rambut Sherin dengan penuh kasih sayang. Setelah Quinn, hanya Sherin yang bisa membuat Viana merasa seperti memiliki seorang anak perempuan.
"Oh iya apa Kak Xander sudah pergi ke kantor? Hari ini aku bangun terlalu siang. Padahal tadi malam aku sudah mengatur janji dengan Kak Xander untuk membahas strategi berbisnis."
"Ya. Memang Xander sudah pergi ke kantor. Tapi kalian masih memiliki banyak waktu untuk membahas soal bisnis. Bagaimana pesta ulang tahun Quinn tadi malam?" tanya Viana penasaran.
"Sangat meriah Tante. Quinn benar-benar dimanja oleh kedua orang tuanya." Tiba-tiba saja wajah Sherin berubah sedih. Wanita itu merindukan kedua orang tuanya yang kini sudah tidak ada di dunia ini lagi.
"Sayang, kau tidak perlu sedih lagi seperti ini. Masih ada Tante yang akan selalu mendukungmu dan menyayangimu." Viana tahu kenapa wajah Sherin tiba-tiba berubah sedih.
"Terima kasih Tante. Sherin sangat senang memiliki Tante seperti Tante Viana."
"Baik tante." Sherin segera menuju ke sofa untuk melahap sarapan pagi yang sudah dihidangkan di sana. Sedangkan Viana juga ikut menemani Sherin sarapan. Namun wanita itu hanya meneguk segelas kopi saja karena sebelumnya Ia baru saja sarapan dengan suaminya dan Xander.
Tidak butuh waktu lama bagi Sherin untuk menghabiskan semua makanan yang ada di atas meja. Setelah wanita itu merasa sangat kenyang, ia kembali merengek kepada Viana dan bermanja-manja seolah-olah memang Viana adalah ibu kandungnya.
"Tante ... Sebenarnya ada satu hal yang ingin aku ceritakan. Tapi cerita ini sangat memalukan. Aku harap Tante tidak tertawa ketika mendengarnya," ucap Sherin. Kini wanita itu sudah ada di atas pangkuan Viana yang terus saja mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Ada apa? Cepat ceritakan kepada Tante. Tante janji tidak akan tertawa," jawab Viana dengan penuh keyakinan.
Sherin menghela napas sebelum bercerita. "Tadi malam aku hampir saja merusak pesta ulang tahun Quinn."
"Kenapa bisa seperti itu? Bukankah kau ini orang yang sangat hati-hati dan penuh dengan perhitungan?" tanya Viana dengan wajah bingung.
"Ya Itu dia masalahnya Tante. Tanpa sengaja aku melihat ada seorang penyusup di tengah-tengah pesta. Dia memakai pakaian pelayan. Penyamarannya cukup sempurna hingga semua orang tidak sadar akan keberadaannya. Mungkin Quinn juga terlalu sibuk dengan acaranya sendiri sampai-sampai Ia tidak menyadari penyusup yang terus saja berkeliaran di sekelilingnya. Lalu aku mengikuti penyusup itu saat dia pergi ke dapur. Dia membawa bom." Sherin kembali terdiam sambil membayangkan momen buruk itu.
"Sebuah bom? Kenapa begitu mengerikan sekali. Sepertinya kehidupan Tiffany tidak akan pernah tenang setelah ia menikah dengan ketua mafia itu. Nyawanya selalu saja dalam bahaya. Bagaimana kalau kau tidak mengetahui keberadaan penyusup itu dan penyusup itu berhasil meletakkan bom dan membuat rumah itu meledak?" Viana sangat khawatir meskipun kejadian itu sudah berlalu.
"Tante dengar dulu ceritaku baru tante protes," ucap Sherin sambil memajukan bibirnya karena kesal.
__ADS_1
"Maaf maaf. Baiklah sekarang lanjutkan ceritamu. Tante akan mendengarkannya sampai habis tanpa mau memotong ceritamu lagi, Sherin." Ekspresi wajah Viana sangat menyakinkan sekali.
Sherin menghela napas panjang. Masih membayangkan wajah Joa saja sudah membuatnya kesal. Meskipun kini pria itu tidak ada di hadapannya lagi. Karena Shein hanya diam saja dalam waktu beberapa saat, pada akhirnya Viana lagi-lagi mengeluarkan suara.
"Apa ceritanya sudah selesai? Kenapa kau diam saja?" tanya Viana sambil memandang Sherin dengan serius.
"Lalu aku salah tangkap orang," ucap Sherin pada akhirnya.
"Kok bisa? Bukankah sebelum menilai kalau pelayan itu adalah seorang penyusup, kau sudah benar-benar yakin dan menyelidikinya terlebih dahulu. Dan bom tadi bukankah itu bisa dijadikan barang bukti kalau kau bukan salah orang."
Lagi-lagi Viana tidak bisa diam saja untuk menjadi pendengar setia. Sebagai seorang wanita. Apa lagi sudah berumur seperti itu, Viana suka sekali ikut campur dengan urusan anak muda seperti Sherin.
"Itu dia masalahnya Tante. Tiba-tiba saat aku datang ke sana seorang pria memegang sebuah bom. Ya maksudku yang memegang bom dan ingin meletakkannya di bawah meja itu bukan orang yang memakai pakaian pelayan tadi. Jadi di dapur itu ada dua orang pria. Karena aku tidak mungkin menangkap keduanya sekaligus. Apa lagi mereka berdua sama-sama seorang pria, jadi aku memutuskan untuk menangkap salah satunya." Nada bicara Sherin meninggi pertanda ceritanya semakin seru.
"Ya itu keputusan yang sangat tepat. Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Viana tidak sabar.
"Aku menangkap pria itu dan membuang bomnya. Lalu menghajarnya habis-habisan. Pria itu juga hampir memukulku. Jika saja aku tidak menghindar mungkin aku sudah celaka dan mungkin saja wajahku sudah babak belut dibuat olehnya.
Tapi di situlah kesalahanku Tante. Aku justru menangkap orang yang salah karena sebenarnya pria itu adalah Joa. Orang kepercayaan calon suami Quinn. Karena aku salah tangkap jadi penyusup yang asli kabur begitu saja.
Aku merasa sangat malu karena semua orang memperhatikanku. Padahal tadinya aku ingin memberi kejutan kepada Quinn kalau sekarang aku sudah bisa bela diri. Tetapi semuanya ketahuan gara-gara masalah kecil ini." Wajah Sherin berubah sedih. Hal itu membuat Viana tidak tega. Wanita itu cepat-cepat memeluk Sherin dan mengusap lembut punggungnya.
"Sayang ... Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Kau tidak akan mungkin melakukan semua itu jika kau mengenal Joa sebelumnya. Sebaiknya Kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri lagi. Tante yakin Quinn dan yang lainnya juga tidak akan mengingat-ngingat masalah ini. Dan soal penyusup itu pasti dalam waktu dekat akan ditangkap oleh Tuan Luca." Viana berusaha menghibur Sherin agar tidak sedih lagi.
"Tapi karena kejadian ini aku jadi tidak berani bertemu dengan Quinn lagi. Aku merasa malu Tante."
"Jangan seperti itu. Bukankah sejak dulu kau dan Quinn menjalin hubungan yang sangat baik. Jangan karena masalah sepele seperti ini persaudaraanmu dengan Quinn jadi renggang. Jika kau tidak berani untuk menemui Quinn sendirian nanti akan Tante temani, bagaimana?" Penawaran dari Viana membuat Sherin kembali bersemangat.
"Beneran? Tante mau nemani Sherin bertemu dengan Quinn?"
"Iya sayang. Apapun akan tante lakukan agar kau tetap bahagia. Sejak ibumu tiada, Tantelah yang bertanggung jawab atas kebahagiaanmu. Jadi jangan pernah ragukan Tante lagi."
"Terima kasih Tante. Sherin sayang sama Tante." Sherin memeluk erat tubuh Viana. Wanita itu menenggelamkan tubuhnya di dalam kehangatan yang diberikan oleh Viana. Sedangkan Viana sendiri hanya bisa tersenyum bahagia.
"Sekarang Ayo kita ke taman. Setelah itu kau harus menemani Tante ke salon dan berbelanja."
"Oke Tante."
__ADS_1