
Sherin dan Joa masih sama-sama gengsi. Sherin tidak mau membujuk dan Joa tidak mau meminta penjelasan dari Sherin. Wanita itu merasa kalau semua ini bukan sebuah kesalahan. Sedangkan Joa yang memang keras kepala, merasa paling benar saat itu. Sampai akhirnya mobil berhenti dengan sendirinya. Joa sendiri sempat kesal karena seumur-umur baru ini mobilnya rusak.
"Apa yang terjadi?" tanya Sherin pada akhirnya.
"Akan aku cek!"
Joa segera turun dari mobil. Pria itu memeriksa mobilnya untuk mengetahui bagian mana yang rusak. Baru juga ingin memeriksa mesin mobil, tiba-tiba sebuah pistol melekat di pelipis kiri Joa. Pria itu memandang ke arah Sherin yang kini menatapnya dengan khawatir.
"Angkat tangan!" perintah pria yang belum diketahui identitasnya itu.
Joa menuruti perintah pria tersebut. Dia ingin tahu sebenarnya apa yang diinginkan oleh musuhnya siang ini.
Pria itu dibantu dengan rekannya segera memeriksa seluruh tubuh Joa. Ketika ingin mengambil senjata milik Joa, di saat itu juga Joa mengambil tindakan. Dengan cepat dia memberi pukulan kepada dua pria yang ada di depannya. Tidak hanya sekedar pukulan saja. Joa juga merebut ponsel mereka untuk mengetahui dalang dari semua ini.
Sherin turun dari mobil melihat kondisi telah aman. Wanita itu memandang ke arah bawah untuk melihat dua musuh yang sudah sekarat akibat pukulan dari Joa.
"Siapa mereka?"
Joa mendengus kesal ketika dia tahu kalau dua pria itu kiriman dari musuh. "Orang kurang kerjaan!" sahut Joa.
Pria itu melempar ponsel yang sempat dia genggam ke tanah lalu memandang keadaan sekitar. Yang ada hanya jalanan sunyi yang tidak berpenghuni. Pepohonan di pinggiran jalan memang memperindah lokasi di sana. Namun kini Joa merasa bingung karena tidak ada yang bisa dia mintai pertolongan.
"Lalu, bagaimana? Apa aku telepon Kak Xander saja untuk mengirimkan mobil?" tawar Sherin. Wanita itu juga tidak mau berlama-lama di sana. Selain panas dia juga ingin segera pulang dan istirahat. Toh sekarang dia sudah bertemu Joa dan sudah tidak khawatir lagi.
"Tidak perlu. Aku bisa mengatasinya," tolak Joa. Pria itu kembali memeriksa mesin mobil.
Karena kepanasan, Sherin memilih untuk duduk di bawah pohon yang ada di pinggir jalan. Wanita itu tersenyum melihat pohon cery yang kini ada di pepohonan.
"Aku benar-benar beruntung bisa menemukan pohon Cery yang sedang berbuah di sini." Dengan lebih semangat Sherin memanjat pohon tersebut dan memetik satu persatu Cery yang sudah matang. Dia duduk di dahan pohon tanpa memperdulikan gaun yang kini ia kenakan. Wanita itu terlihat sangat bahagia.
Joa berjalan mendekati pohon Cery yang dipanjat oleh Sherin. Pria itu mendongak ke atas sebelum mengalihkan pandangannya.
"Bisakah kau bertingkah layaknya seorang wanita? Kau memakai gaun tapi bisa-bisanya memanjat pohon!" Joa benar-benar tidak habis pikir dengan pemandangan di depannya.
"Kau iri kan karena tidak bisa mengambil cery ini? Joa, apa kau bisa memanjat?" tanya Sherin sambil mengunyah Cery yang baru saja dia petik.
__ADS_1
Joa hanya diam saja. Hal itu membuat Sherin merasa bersalah. Dia segera mencari posisi untuk turun ke bawah. Karena terlalu bersemangat saat naik. Sekarang dia tidak tahu bagaimana caranya naik tadi. Bagian mana yang dipijak. Wanita itu terlihat kebingungan sekarang.
"Joa, aku tidak bisa turun," rengek Sherin.
Joa memandang ke atas. "Lalu? Kau mau apa sekarang?"
"Tolongin," ucap Sherin sambil tersenyum manis.
"Tidak! Usaha sendiri!" tolak Joa. Pria itu masih kesal sama Sherin.
"Ya sudah. Kalah gitu aku lompat saja." Sherin segera mencari posisi untuk melompat. Wanita itu berharap besar jika Joa akan menangkapnya nanti. Namun ada keraguan di hatinya. Sherin takut jika nanti Joa tidak menangkapnya, dia akan cedera.
"Kenapa gak lompat? Takut?" ledek Joa sambil tersenyum jahat.
Sherin menyipitkan kedua matanya. Melihat ledekan Joa membuatnya segera melompat. Joa melebarkan kedua matanya melihat Sherin tiba-tiba lompat. Dengan sigap pria itu menangkap tubuh Sherin hingga akhirnya membuat Sherin tertawa terbahak-bahak setelahnya.
"Lihatlah. Kau takut aku cedera bukan? Joa, katakan saja kalau sebenarnya kau peduli padaku."
Joa memandang Sherin dengan tatapan penuh arti. Pria itu seperti tidak peduli dengan ocehan Sherin siang itu. Dia hanya fokus ke tawa Sherin yang terlihat begitu lepas. Seperti tidak ada beban di dalam hidupnya.
Joa segera menurunkan Sherin. "Kalah taruhan kau bilang?" Meskipun terlihat cuek tapi nyatanya dia ingin sekali mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Ya. Aku tidak percaya padanya ketika dia bilang kalau dia pemilik Mall terbesar di kota ini. Tadinya aku pikir mall itu milik Tuan Luca. Ayah kandung Quinn."
Joa mengernyitkan dahinya. "Mall itu milik Tuan Dimitri."
"Apa?" Sherin melebarkan kedua matanya. "Ternyata benar dugaanku kalau dia menipuku. Dia benar-benar hebat bisa membuat cerita bohong seperti itu," umpat Sherly kesal.
"Dia datang ke sini untuk mengejarmu. Apa kau belum sadar juga?" tanya Joa. Kali ini pria itu memandang Sherin dengan serius.
"Karena wajahku mirip Peiyu tunangannya?" Sherin menunjuk wajahnya sendiri.
"Dia ingin menjadikanmu pengganti kekasihnya yang sudah tiada. Apa kau mau?"
"Tentu saja tidak!" jawab Sherin mantap. "Aku tidak mungkin tertarik padanya karena sudah ada seorang pria yang mengisi hatiku."
__ADS_1
Joa menyipitkan kedua matanya. "Siapa?"
Sherin menatap Joa dengan serius juga. "Rahasia!"
...***...
Quinn menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memejamkan mata. Wanita itu merasa sangat lelah karena tadi dia membantu Nenek Su dan warga lainnya membuat arena bermain untuk anak-anak. Quinn merasa sangat bahagia karena di hari terakhir bulan madunya bersama dengan Dimitri dia bisa meninggalkan sebuah kenangan yang bermanfaat besar bagi penduduk desa.
"Kau terlalu banyak beraktivitas hari ini sayang. Aku sudah bilang jangan terlalu memaksakan diri," protes Dimitri. Pria itu memijat kali Quinn dengan penuh perasaan.
"Aku memang merasa lelah tapi aku bahagia." Quinn membuka matanya lalu memandang wajah Dimitri. "Sayang, besok sebelum pulang kita jumpai Nenek Su lagi ya," bujuknya mesra.
"Hemm." Dimitri terlihat kesal karena malam ini dia tidak bisa mengajak istrinya untuk bercinta. Dia tidak tega melihat kondisi Quinn yang terlihat kelelahan.
"Oh iya, anak kecil di desa tadi. Mereka semua sangat menggemaskan. Nanti jika aku hamil, kau ingin anak pertama kita laki-laki atau perempuan?" Quinn menatap wajah Dimitri dengan serius. Dia ingin mendengar jawaban Dimitri.
"Apapun itu asal kau yang melahirkan mereka. Aku akan sangat menyayangi anak yang nantinya kau lahirkan. Entah itu laki-laki atau perempuan," jawab Dimitri sambil tersenyum.
"Curang. Hanya boleh pilih satu," protes Quinn.
"Perempuan," jawab Dimitri lagi.
"Kenapa?"
"Agar ada temanmu berbelanja nanti," jawab Dimitri asal saja.
"Sayang. Itu alasan yang kurang tepat. Aku akan belanja denganmu meskipun anak kita perempuan." Quinn segera memeluk Dimitri.
"Aku mau anakku nanti memiliki hati yang lembut seperti ibunya. Fisik yang kuat seperti ayahnya. Meskipun dia laki-laki dia tetap harus menjadi pria yang lembut terhadap wanita." Dimitri mengusap rambut Quinn.
"Ya. Dia pasti akan menjadi anak yang tampak sepertimu. Dan cantik seperti aku jika perempuan," kata Quinn.
"Sayang, tapi kita harus berusaha lebih keras lagi agar segera memiliki anak." Dimitri bicara dengan wajah yang sangat serius hingga membuat Quinn geram dan mencubit perut suaminya itu.
"Kau tidak membiarkanku libur satu haripun!" protesnya sambil bercanda.
__ADS_1
"Itu karena kau selalu membuatku tergila-gila," sahut Dimitri. Quinn tersenyum lalu memalingkan wajahnya malu-malu. Dimitri segera mencium Quinn dengan mesra sebagai awal dari malam panjang mereka.