My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 135 Pulang


__ADS_3

Suasana di dermaga diselimuti dengan air mata perpisahan. Baik Quinn maupun Nenek Su dan penduduk pulau. Mereka sama-sama merasakan sedih karena harus berpisah. Meskipun Dimitri berjanji kalau dalam waktu dekat akan datang ke pulau itu lagi. Tetap saja yang namanya perpisahan adalah perpisahan. Mereka tidak akan bersama lagi seperti hari-hari sebelumnya.


"Nona, waktu itu di pulau kami yang lama. Anda tidak sempat berpamitan dengan kamu karena kondisi anda kritis. Tetapi kami tidak berat melepas anda pergi meninggalkan pulau kami. Tapi kenapa sekarang di saat anda baik-baik saja justru kami merasa sangat berat melepas anda. Seperti ada yang hilang," ucap Nenek Su.


"Nek, kita pasti akan bertemu lagi. Waktunya masih panjang. Kita masih akan melalui hari-hari dengan penuh kebahagiaan," jawab Quinn sambil tersenyum.


Nenek Su mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya. Wanita itu memandang Quinn lalu tersenyum. "Gelang ini akan menjadi gelang keberuntungan bagi anda, Nona. Anda akan dilindungi dimanapun anda berada. Maafkan saya karena baru sekarang memberikan gelang ini kepada anda." Nenek Su langsung memasang gelang itu di tangan Quinn. Dia tersenyum bahagia sembari melihat mutiara yang kini melingkar di tangan Quinn.


"Terima kasih, Nek." Quinn memeluk Nenek Su lagi. "Kamu harus segera pergi."


Nenek Su mengangguk. "Maafkan atas kesalahan yang pernah saya perbuat, Nona."


"Ya, Nek. Begitupun dengan saya. Maafkan saya jika ada salah kata atau perbuatan saya selama ada di pulau ini," jawab Quinn sambil tersenyum.

__ADS_1


"Sayang, ayo," ajak Dimitri. Mereka juga harus segera pergi meninggalkan pulau. Perjalanan sangat panjang. Setelah ini mereka juga akan naik pesawat sebelum tiba di negara mereka.


"Hati-hati, Nona."


Quinn mengangguk lalu memutar tubuhnya. Sebelum melangkah dia sempat menahan langkah kakinya lalu berputar. Wanita itu tersenyum melihat satu persatu penduduk pulau yang juga ada di sana. Mereka semua menangis. Meskipun begitu, Quinn tetap harus pergi karena dia harus menuruti perintah Dimitri sekarang.


Dimitri segera merangkul pinggang Quinn lalu membawanya menuju ke kapal yang sudah satu jam lalu menunggu mereka. "Setelah kau melahirkan satu anak untukku, aku akan membawamu ke sini lagi," bisik Dimitri yang langsung di balas dengan cubitan oleh Quinn.


"Nenek Su!"


"Apa yang terjadi?" Quinn segera mengangkat kepala Nenek Su lalu meletakkannya di atas pangkuan. Dia segera memeriksa denyut nadi Nenek Su dan bagian lain untuk mengetahui kondisi wanita tua itu. "Tidak mungkin. Ini tidak mungkin," ucap Quinn ketika dia tidak lagi menemukan tanda-tanda kehidupan di sana.


"Sayang, tenanglah," ucap Dimitri. Pria itu memandang ke salah satu penduduk desa. "Dimana Dokter yang bertugas di pulau? Panggilkan dia ke sini!"

__ADS_1


"Saya di sini, Tuan." Dokter itu muncul lalu segera memeriksa keadaan Nenek Su. Namun dilihat dari ekspresinya, Quinn bisa menilai kalau terjadi sesuatu yang buruk terhadap Nenek Su.


"Ada apa? Kenapa anda diam saja Dok? Nenek Su bagaimana?" tanya Quinn tidak sabar.


"Nenek Su sudah tidak ada, Nona," jawab Dokter itu dengan wajah sedih.


"Tidak! Tidak mungkin! Periksa sekali lagi. Dia baik-baik saja," tolak Quinn. Air mata mulai menetes.


Dimitri dan penduduk pulau lainnya hanya bisa membisu memandang Nenek Su yang kini tidak bisa membuka mata lagi.


"Maafkan saya, Nona. Tapi memang ...."


"Nek, bangun," lirih Quinn. Wanita itu memeluknya dengan erat. Penduduk pulau juga mulai menangis. Mereka semua merasa kehilangan. Mereka tidak menyangka kalau Nenek Su akan pergi dengan cara seperti ini. Sangat mendadak.

__ADS_1


"Sayang, kita harus kuat," bujuk Dimitri.


Dokter dan warga pulau membawa Nenek Su ke rumah. Quinn segera memeluk Dimitri dan menangis lirih. "Dia wanita yang baik. Kenapa harus pergi secepat ini?"


__ADS_2