
Dimitri sangat kaget ketika istrinya kini ada di perusahaan tempatnya bekerja. Robin yang sejak tadi ada di ruangan Dimitri segera berpamitan untuk pergi. Quinn sendiri terlihat sangat ceria siang itu. Dia segera berjalan mendekati Dimitri di meja kerjanya.
"Aku bosan di rumah. Jadi aku memutuskan untuk bermain-main ke sini." Quinn memperhatikan ruang kerja suaminya dengan seksama. "Sepertinya ruangan ini butuh dekorasi ulang. Tata letak barang-barangnya terlihat sangat tidak rapi."
"Benarkah?" Dimitri melingkarkan kedua tangannya di perut Quinn. Pria itu memeluk istrinya dari belakang. Mengecup leher wanita itu dengan mesra. "Kau tahu saja kalau aku memang sangat merindukanmu."
Quinn melebarkan kedua matanya ketika mulai menyadari apa yang diinginkan suaminya. Dia segera memegang tangan Dimitri dan memutar tubuhnya hingga mereka berdua kini posisinya berhadapan. "Sebenarnya ada hal penting yang ingin aku katakan. Aku tidak bisa lama-lama."
Dimitri menaikan satu alisnya. "Aku bisa bermain cepat."
Quinn tertawa terpaksa mendengar jawaban Dimitri. Dia mengusap pipi suaminya dengan lembut. "Sayang, ini kantor. Kita bisa melakukannya di rumah. Tolong jangan cari masalah."
Dimitri menarik tangan Quinn hingga tubuh mereka tidak memiliki jarak lagi. Tanpa permisi pria itu mendaratkan bibirnya di bibir Quinn. Satu tangannya ada di pinggang Quinn untuk mengunci wanita itu agar tidak pergi kemanapun.
Suara deringan ponsel di meja membuat Quinn segera mendorong tubuh Dimitri. Wanita itu tersenyum manis setelahnya. "Sayang, ada telepon. Siapa tahu penting."
Dimitri mengusap bibir Quinn sebelum berjalan ke meja kerja. Dia segera mengangkat panggilan telepon yang berasal dari White Snake itu.
"Bos, markas di serang. Bos Joa dan anggota lainnya juga masih bertarung di jalan."
"Aku akan segera ke sana!" sahut Dimitri. Pria itu memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia berjalan ke laci yang ada di dekat jendela lalu memilih senjata api yang akan dia gunakan untuk bertarung.
Quinn terlihat bingung melihat suaminya membawa senjata. "Sayang, ada apa?"
"Markas White Snake di serang. Kita harus segera ke sana." Dimitri menggenggam tangan Quinn lalu membawanya pergi.
__ADS_1
...***...
Zack Lee segera membuka mata ketika Aigu mengerem mobilnya secara mendadak. Pria itu ingin protes awalnya. Namun ketika, melihat ada banyak sekali pria bersenjata di depan mobilnya. Pria itu memilih untuk diam.
"Bos, sebaiknya anda tetap di dalam mobil. Biar saya yang menghadapi mereka," ucap Aigu sebelum turun dari mobil.
Zack Lee tidak yakin jika Aigu bisa menang menghadapi mereka semua sendirian. Mau tidak mau pria itu juga turun dari mobil dan membantu Aigu untuk menghabisi orang-orang yang sudah menghalangi jalan mereka.
Aigu mengernyitkan dahi melihat Zack Lee keluar dari mobil. Namun pria itu tidak memiliki banyak waktu untuk bicara. Dia segera menyerang musuhnya dengan kemampuan yang ia miliki.
Pertarungan tidak bisa dihindari lagi. Meskipun Aigu sendirian, tetapi pria itu cukup hebat. Hanya dalam waktu singkat pria itu berhasil melumpuhkan musuhnya satu persatu. Tapi sayangnya musuh terus bertambah. Sedangkan energi Aigu sudah terkuras habis.
Zack Lee juga tidak tinggal diam saja. Dia menembak musuhnya dengan senjata api yang ia miliki sembari bersembunyi agar tidak terkena tembakan juga. Saat itu posisi Zack Lee bersembunyi di samping mobil. Ketika ingin berdiri tiba-tiba ia merasakan sakit yang luar biasa. Lagi-lagi pria itu muntah darah. Kondisinya semakin lemah.
Aigu terpental ke tanah ketika musuh yang jauh lebih kuat menendangnya sekuat tenaga. Dia memandang ke arah Zack Lee. Pria itu merasa sedikit tenang karena Zack Lee bisa bersembunyi. Saat memandang ke depan, tiba-tiba musuhnya sudah menodongkan pedang dihadapan Aigu.
"Ini adalah momen yang sangat aku tunggu-tunggu!" ujar pria yang memegang pedang itu sebelum menusukkan ujung pedang ke perut Aigu. Darah segar langsung keluar dari mulut Aigu. Pria itu menunduk ke bawah untuk melihat perutnya yang sudah kotak.
Zack Lee memaksa dirinya untuk berdiri dan melawan musuh. Jelas saja dia tidak tinggal diam melihat Aigu celaka.
DUARRR DUARRR
Tembakan demi tembakan dilayangkan oleh Zack Lee. Pria itu terus berjalan sampai akhirnya dia berhasil mendekati Aigu. Bukan hanya cara menembak Zack Lee saja yang patut diacungi jempol. Tapi gaya mengelak pria itu dari peluru yang mengincarnya membuat musuh geleng-geleng kepala.
"Sekarang bagaimana? Apa kita lawan saja dia?" tanya salah satu musuh kepada rekannya.
__ADS_1
"Sebaiknya kita mundur saja. Target kita sudah kalah. Aku yakin pria songong itu akan tewas karena pedangku sudah kuberi racun," jawab pria itu. Dia memandang rekannya yang lain dan memberi kode.
Musuh merasa tidak sanggup melawan Zack Lee. Mereka segera mundur dan segera pergi dari sana. Setidaknya kali ini mereka sudah berhasil membuat orang kepercayaan Zack Lee celaka. Mereka juga tidak ditugaskan untuk membunuh Zack Lee. Mereka diminta untuk membawa Zack Lee ke Jepang.
"Aigu, bertahanlah. Ini hanya luka kecil," ucap Zack Lee. Dia segera membuka kemeja yang ia kenakan lalu mengikatnya di perut Aigu agar darahnya tidak mengalir lebih deras lagi.
"Bos, sudah waktunya kita berpisah," ucap Aigu dengan suara yang lemah.
"Kau akan sembuh. Ayo kita ke rumah sakit," ujar Zack Lee.
Aigu memegang tangan Zack Lee lalu menggeleng kepalanya. Dia menolak di bawa ke rumah sakit. Hal itu membuat Zack Lee marah.
"Apa kau menyerah? Kau tidak pantas menjadi anak buahku Aigu! Sekarang cepat berdiri. Kita harus segera ke rumah sakit!" ketus Zack Lee sembari memaksa Aigu berdiri.
"Bos, Peiyu tidak bersalah."
Zack Lee mematung setelah mendengar perkataan Aigu. Pria itu menatapnya dengan tajam. "Apa maksudmu?"
Aigu mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya. "Semua ada di sini. Di kamar saya. Semua tersimpan rapi di dalam brangkas. Hari ini Tuhan sudah menghukum saya. Saya pantas mendapatkan semua ini."
Zack Lee semakin tidak tenang mendengarnya. Meskipun begitu dia tetap tidak mau melepaskan Aigu. Dia ingin membawa Aigu ke rumah sakit dan menyelamatkan nyawa orang kepercayaannya itu.
"Bos, maafkan saya," ucap Aigu sebelum memejamkan mata. Bibirnya sudah pucat karena racun telah bereaksi di dalam tubuh. Zack Lee mematung melihat Aigu telah tewas. Pria itu menggenggam erat kunci yang baru saja diberikan oleh Aigu.
"Aigu, sebenarnya rahasia apa yang sudah kau sembunyikan dariku?"
__ADS_1