
Dimitri meringis kesakitan ketika Quinn mengompres memar yang ada pada wajahnya. Meskipun terasa sakit, tetapi dia masih bisa merasa tenang karena kini Quinn ada di hadapannya. Meskipun mereka tidak hanya berdua di sana. Ada Luca dan Tiffany yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua tanpa berkedip.
"Terima kasih," ucap Dimitri ketika Quinn telah selesai mengompres memar pada wajah Dimitri dan luka pada tubuh pria itu.
"Pulanglah," usir Quinn. Wanita itu beranjak lalu duduk di sofa yang sedikit jauh dari Dimitri.
Dimitri memandang ke arah Luca. Dia tahu kalau pria paruh baya itu membutuhkan penjelasan darinya. Sebuah kejujuran yang menunjukkan kalau sebenarnya dia adalah pria sejati. Bukan pecundang!
"Quinn, aku harus mengatakan yang sebenarnya terjadi agar kedua orang tuamu tidak salah paham padaku." Dimitri memandang ke arah Luca lagi. Belum juga bicara, pria itu kembali membayangkan pukulan-pukulan yang dilayangkan Luca ke wajah dan tubuhnya. Sakitnya juga masih belum hilang.
__ADS_1
"Kau pria yang keras kepala!" umpat Quinn kesal. Jika saja tadi dia tidak memukul penjaga yang ada di depan pintu, mungkin Dimitri sudah dilarikan ke rumah sakit. Quinn berdiri di depan Dimitri dan melindungi pria itu. Tiffany yang juga keluar segera menarik Luca agar pertarungan tidak dilanjutkan. Karena tidak tega melihat keadaan Dimitri, Quinn meminta izin kepada Luca untuk mengobati lukanya.
"Tuan, maafkan saya karena sudah membuat keluarga ini merasa khawatir atas hilangnya Quinn. Tapi ...." Dimitri memandang ke arah Quinn. "Saya tidak pernah memiliki niat jahat terhadap Quinn. Saya hanya ingin berteman dengannya. Tidak lebih."
"Daddy, seseorang menculikku lalu aku terjebak di sebuah pulau terpencil. Di sana tidak ada aliran listrik. Kebetulan Tuan Dimitri datang ke pulau itu untuk mengirim bahan makanan. Jadi dia berinisiatif untuk membawaku pulang. Daddy jangan salah paham. Seharusnya Daddy berterima kasih padanya."
"Tapi di depan tadi pria ini tidak bicara seperti itu!" sahut Luca. Ternyata pria itu ingin menjebak putrinya. Dia ingin tahu Quinn jujur atau tidak.
"Daddy tidak percaya padaku? Oke, ayo kita ke pulau itu. Aku di tolong oleh wanita bernama Su. Aku memanggilnya Tante Su. Dia baik."
__ADS_1
Dimitri semakin berbunga-bunga mendengar penjelasan Quinn. Lagi-lagi wanita yang ia sukai itu membelanya. "Tuan, apa yang dikatakan Quinn benar. Saya hanya menolongnya dan membawanya ke kota."
"Lalu, apa yang kau lakukan selama di pulau itu Quinn? Kenapa tubuhmu dipenuhi luka?" Kali Tiffany yang mulai menyelidiki.
"Mommy, pulau itu di serang perompak. Aku terpaksa turun tangan untuk membela warga desa. Jika tidak mereka akan membunuh semua wanita dan anak kecil." Quinn berbicara dengan serius berharap kedua orang tuanya percaya.
"Lalu, kenapa Daddy dan Mommy diam saja? Ucapkan maaf dan terima kasih kepada Tuan Dimitri!" ujar Quinn ketika Luca dan Tiffany hanya diam dan saling memandang.
"Quinn, kau lupa siapa Daddy?" Ekspresi wajah Luca semakin serius. "Dia pria terakhir yang kau temui sebelum kau hilang. Ada rekaman yang menunjukkan kalau pria ini terus saja mengikutimu! Lalu sekarang kau bilang kalian bertemu di pulau? Tidak semudah itu membohongi Daddy, Quinn!"
__ADS_1