My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 55 Dia Datang


__ADS_3

Keesokan harinya adalah hari Minggu. Quinn tidak perlu repot-repot bangun pagi dan pergi ke kantor. Pagi itu ia masih berbaring di atas tempat tidurnya. Meskipun jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi.


Tadi malam saat makan Quinn sempat berpesan kepada Tiffany untuk tidak membangunkannya. Sesuai dengan permintaan Quinn, sampai detik ini Tiffany tidak juga mengetuk pintunya dan mengganggu waktu istirahat Quinn.


Sambil memandang langit-langit kamar wanita itu kembali mengingat momen kebersamaannya bersama dengan Dimitri. Dimitri terlihat sangat mencintai Quinn. Sampai-sampai memperlakukan dirinya dengan sangat lembut dan penuh hati-hati.


Kini di pikiran Quinn telah dipenuhi dengan nama Dimitri. Namun dalam sekejap senyum manis di bibirnya menghilang. Quinn kembali mengingat musuh yang pernah bertarung dengan Dimitri pada malam itu.


"Bukankah itu Hugo? Kenapa Dimitri bisa bermusuhan dengannya? Bukankah selama ini Hugo terkenal dengan ketidakpeduliannya terhadap orang lain. Biasanya dia tidak akan mungkin menyerang jika tidak merasa terusik. Apa jangan-jangan Dimitri duluan yang mengusik kehidupan Hugo? Hingga akhirnya Huho memutuskan untuk menyerangnya?" Quinn menggumam lirih.


Lalu Quinn duduk di atas tempat tidur dan meraih ponselnya di atas nakas. Wanita itu mengotak-atik nomor Dimitri sebelum melekatkan ponselnya di telinga. Tidak butuh waktu lama panggilan telepon itu tersambung. Terdengar jelas suara Dimitri di kejauhan sana.


"Apa aku mengganggumu?" tanya Quinn sambil turun dari tempat tidur.


"Tidak. Tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau kau akan meneleponku," sahut Dimitri di dalam telepon.


"Kau tidak suka aku telepon?" tanya Quinn dengan wajah yang mulai kesal. Tadinya dia berharap kalau Dimitri akan senang sekali saat ditelepon.


"Bukan seperti itu, Sayang. Jangan marah dulu," bujuk Dimitri.


"Lalu? Kau bilang tidak sedang sibuk. Tapi sepertinya kau keberatan jika aku telepon." Quinn merajuk.


"Sekarang kau ada di mana?" tanya Dimitri tanpa mau membahas masalah sebelumnya.


"Tentu saja di rumah. Hari ini adalah hari Minggu. Aku tidak pergi kemanapun. Aku hanya ingin istirahat," jawab Quinn.


"Kalau begitu aku pulang saja. Sepertinya hari ini aku datang di waktu yang tidak tepat." Tiba-tiba saja Dimitri mengatakan hal yang mengejutkan.


Mendengar jawaban dari Dimitri membuat Quinn terperanjat kaget. "Apa sekarang kau ada di rumahku?"


"Lebih tepatnya di depan gerbang. Tidak seorangpun mengizinkanku masuk ke dalam," jawab Dimitri apa adanya.


"Tunggu disitu. Aku akan segera ke sana. Jangan pergi kemanapun!" perintah Quinn. Sebelum akhirnya wanita itu memutuskan panggilan telepon secara sepihak. Dia melempar ponselnya begitu saja di atas tempat tidur sebelum pergi meninggalkan kamar.

__ADS_1


Pagi itu rumah terlihat sunyi. Semua orang tidak terlihat. Quinn menuruni anak tangga dengan begitu cepat. Ia segera menuju ke pintu utama dan berlari menuju ke gerbang. Ada seulas senyum di bibirnya ketika melihat seorang pria duduk bersandar di balik mobil sportnya.


"Kenapa kalian tidak mengizinkannya masuk? Apa kalian ingin dihukum?" protes Quinn terhadap penjaga yang ada di gerbang sana.


"Nona, bukan kami yang tidak mengizinkannya masuk. Tetapi dia yang tidak mau masuk ke dalam," sahut penjaga itu apa adanya. Mereka hanya bisa menunduk ketika Quinn memarahi mereka meskipun pada kenyataannya mereka semua tidak salah.


Quinn melangkah mendekati Dimitri. Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada. Lalu menatap kekasihnya dengan penuh intimidasi. "Siapa yang salah dan siapa yang benar?"


Dimitri tertawa sebelum memalingkan wajahnya sejenak. "Aku sangat merindukanmu. Bukannya aku takut bertemu dengan orang tuamu. Aku hanya sedang menunggu seseorang. Setelah benda itu tiba di sini aku pasti akan segera masuk ke dalam dan menemuimu."


"Seseorang?" tanya Quinn bingung.


"Ya, seseorang. Tadi aku sudah membelinya setelah membayarnya aku lupa untuk membawanya. Lalu aku meminta penjaga toko untuk mengantarkannya ke sini. Itulah kenapa aku kaget ketika kau meneleponku. Tadinya aku ingin membuat kejutan dengan datang ke rumahmu sepagi ini. Tidak kusangka ternyata rencanaku gagal," jawab Dimitri. Pria itu memandang ke arah jalan berharap orang yang membawa pesanannya segera tiba.


"Ayo masuk ke dalam. Untuk apa berdiri di sini? Jika seseorang itu telah tiba, dia bisa masuk ke dalam atau menitipkan barangnya kepada pengawal yang ada di gerbang," ajak Quinn.


"Hmm, baiklah. Tapi jarak gerbang ini dengan rumahmu sangat jauh. Sebaiknya kita naik mobil saja agar kau tidak kelelahan." Dimitri segera meminta Quinn untuk masuk ke dalam mobilnya. Mereka berdua sama-sama masuk ke halaman rumah kediaman keluarga Quinn.


"Apa orang tuamu ada di rumah? Aku ingin bertemu mereka. Aku juga ingin melamarmu seperti yang dilakukan oleh Xander." Dimitri terlihat bersemangat pagi itu.


Dimitri memberhentikan mobilnya. Pria itu memandang ke arah Quinn dengan ekspresi yang begitu serius. "Kita bisa berpacaran setelah menikah. Aku janji tidak akan ada yang berubah. Aku juga bisa berjanji tidak akan menyentuhmu jika kau belum siap. Yang terpenting kau sudah menjadi milikku seutuhnya. Tidak ada lagi pria di luar sana yang berkeinginan untuk memilikimu."


Quinn kembali ingat dengan apa yang pernah dikatakan oleh Luca. "Sebenarnya ada hal penting yang ingin aku tanyakan kepadamu. Tapi berjanjilah untuk tidak salah paham," ucap Quinn dengan nada yang begitu hati-hati.


"Katakan saja. Aku janji tidak akan marah," jawab Dimitri dengan ekspresi wajah yang meyakinkan.


"Jika kau diberi pilihan. Kau akan memilih aku atau geng mafia yang selama ini kau pimpin? Ini hanya pertanyaan iseng saja. Tidak akan merubah apapun setelah kau menjawabnya," ucap Quinn mulai takut. Kini debaran jantungnya sudah tidak karuan.


"Kenapa harus ada pilihan jika aku bisa mendapatkan keduanya? Quinn, apakah kau tidak suka jika aku masih ada di dunia gelap itu? Jika alasanmu agar aku tidak celaka, tanpa ada mereka aku juga bisa saja celaka. Karena musuhku tidak akan mungkin memaafkan kesalahanku begitu saja. Dendam itu akan mereka bawa sampai mati. Tetapi jika kau mengkhawatirkan keselamatanmu, maka aku rela meninggalkan geng mafia yang selama ini aku pimpin. Keinginanku hanya ingin kau selalu merasa tenang ketika berada di sisiku." Dimitri mengecup punggung tangan Quinn.


Jawaban Dimitri yang terlihat begitu tulus membuat Quinn menjadi tidak tega. Kini Quinn tahu kalau Dimitri benar-benar sangat mencintainya. Tidak ada yang perlu diragukan lagi di sana. Secara tiba-tiba Quinn memeluk Dimitri dan meneteskan air mata.


"Terima kasih," ucap Quinn sambil memejamkan mata.

__ADS_1


"Untuk apa kau mengucapkan terima kasih? Seharusnya aku yang mengatakan kalimat seperti itu. Terima kasih, Quinn. Terima kasih karena kau sudah mau menerimaku." Dimitri memegang kedua tangan Quinn sebelum mengecupnya dengan mesra.


"Ayo kita turun." Dimitri mengangguk mereka berdua sama-sama turun dari mobil. Ketika ingin melangkah masuk, Dimitri melihat seseorang yang ia beri tugas untuk mengantarkan hadiah untuk Quinn. Dengan penuh semangat Dimitri mengambil hadiah kecil tersebut lalu memberikannya kepada Quinn.


"Ini adalah hadiah yang sudah aku persiapkan untukmu. Aku tidak tahu kau suka atau tidak. Tetapi seburuk apapun itu aku harap kau tidak menolaknya," ucap Dimitri. Pria memberikan sebuah kotak berwarna biru tua kepada Quinn.


Quinn segera membuka kotak tersebut. Di sana dia melihat sebuah gelang berlian yang sangat indah. Hal yang menjadi perhatian utama Quinn terdapat GPS hingga akhirnya membuat Quinn tertawa.


"Benda mungil itu bertujuan untuk menenangkan pikiranku. Jadi ketika kau tidak ada di depan mataku aku tetap akan selalu tahu di mana kau berada," jelas Dimitri.


"Oke. Baiklah aku akan segera memakainya." Quinn mengambil gelang itu lalu memberikannya kepada Dimitri. Senyuman lebar telah menghiasi bibir wanita itu. "Tolong, pakaikan di sini."


Dimitri segera menuruti perkataan Quinn. Pria itu memakai kan gelang pesanannya di pergelangan tangan Quinn. Gelang itu melingkar indah di sana. "Jangan pernah lepaskan gelang ini."


"Baik, Bos!" sahut Quinn sambil menunduk hormat.


Dimitri yang merasa geram segera menarik tubuh Quinn lalu memeluknya. Berulang kali pria itu mengecup pucuk kepala Quinn tanpa peduli di mana kini mereka berada.


Tiba-tiba pintu utama terbuka lebar. Tiffany dan Luca berdiri di sana dengan pakaian yang sudah rapi. Sepertinya mereka ingin pergi ke suatu tempat. Namun ketika mereka sempat memergoki Quinn dan Dimitri yang sedang bermesraan, rencana pergi itu hilang sudah. Baik Tiffany maupun Luca memutuskan untuk tetap berada di rumah sampai Dimitri pulang.


"Quinn, kau belum mandi tetapi sudah keluar seperti itu!" ucap Tiffany dengan tangan terlipat di depan dada.


Quinn yang terlihat malu segera menunduk. Dia sendiri juga tidak sadar kalau sebenarnya belum mandi. Dimitri yang mengerti ekspresi wajah Quinn segera mendekat dan membisikkan sesuatu.


"Kau tetap cantik meskipun belum mandi, Quinn. Tenang saja aku tidak akan mempermasalahkan hal sepele seperti ini," bisiknya pelan.


Quinn hanya tersenyum bahagia mendengarnya. Senyum merona di pipi Quinn membuat Tiffany menjadi tidak tega untuk menentang hubungan Quinn dan juga Dimitri.


"Quinn, masuklah ke dalam dan mandi. Biar Daddy dan mommy yang berbicara dengan Dimitri," ucap Luca.


Quinn memandang ke arah Dimitri sejenak sebelum masuk ke dalam. Wanita itu terlihat berat untuk melangkah masuk karena ia takut kedua orang tuanya segera mengusir Dimitri dari sana.


"Ayo kita masuk!" ucap Tiffany. Wanita itu merangkul lengan suaminya lalu membawanya masuk ke dalam.

__ADS_1


Dimitri mengikuti mereka dari belakang. Walaupun debaran hatinya semakin tidak terkendali, tapi Dimitri dapat menahannya asalkan dia mendapatkan restu dari kedua orang tua Quinn.


__ADS_2