My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 156 Aku Lagi!


__ADS_3

"TIDAK! AKU TIDAK MAU! Ini ide yang konyol. Apa tidak ada cara lain?" tolak Xander mentah-mentah.


Dimitri baru saja tiba di perusahaan milik Xander. Kedatangan pria itu mendapat sambutan hangat dari sahabatnya. Saat itu Dimitri tidak datang sendirian. Ada Robin yang juga ikut bersama dengannya. Sebelum tiba di perusahaan Xander, Dimitri sudah menceritakan semuanya kepada Robin.


Robin juga sangat setuju dengan ide Dimitri dan berharap Sherin dan Dimitri segera jadian. Memang itu yang ia harapkan sejak kemarin. Hanya saja Robin sendiri tidak tahu bagaimana cara menyatukan kedua insan tersebut.


Setelah menjelaskan semua rencana yang ia buat di depan Xander, ekspresi wajah Xander justru sangat tidak terduga. Pria itu marah seperti tidak setuju. Jelas saja hal ini membuat Dimitri menjadi bingung.


"Kau tidak perlu melakukan apapun. Kau hanya sekedar mengetahuinya saja," ucap Dimitri yang berharap kali ini Xander tidak lagi marah padanya.


"Tapi ini sangat beresiko. Jika informasi ini sampai ke telinga Mama, maka perjodohan ini akan benar-benar dilakukan!" sahut Xander lagi. "Kau ini sangat merepotkan. Apa tidak ada ide lain?"


"Apa mungkin hal seperti ini terjadi? Kalian ini kan kakak adik. Tidak mungkin sampai dijodohkan," sangkal Dimitri.


Dia tidak mau sampai cerita bohongnya justru menjadi kenyataan karena itu akan membuat mereka semua menjadi sulit untuk menyatukan Joa dan Sherin nantinya.


"Tidak ada yang tidak mungkin. Apa lagi jika sudah berhubungan dengan Mama. Pikirkan saja rencana lain dan jangan melibatkanku di dalamnya." Xander kembali fokus dengan layar laptopnya untuk kembali kerja. Pria itu bahkan tidak tertarik untuk memandang wajah sahabatnya secara langsung.


"Sekali saja. Kau harus membantuku. Jika kami gagal, kami akan menceritakan yang sebenarnya terjadi kepada Joa. Aku janji. Apakah kau tidak percaya lagi padaku? Quinn sudah mengetahui rencana ini dan dia menyetujuinya. Awalnya aku juga tidak mau memberitahu informasi ini kepadamu. Tetapi Quinn memaksaku untuk mengatakannya." Dimitri mulai emosi. Pria itu memang tidak pernah suka dengan penolakan. Dia ingin apa yang dia inginkan terjadi.


Xander menutup layar laptopnya denga kasar. Pria itu mendengus kesal. "Baiklah. Kali ini aku akan membantumu! Kau ini selalu saja merepotkan!"


Xander tahu bagaimana keras kepalanya Dimitri. Tidak menyetujui ide Dimitri itu sama saja mempersulit diri sendiri. Karena Dimitri pasti akan tetap melakukannya. Dan lebih parahnya lagi, Xander tidak akan mengetahui semuanya karena sudah pasti Dimitri akan melakukannya diam-diam.


Dimitri tersenyum mendengar jawaban dari Xander karena memang itulah jawaban yang sejak tadi ia nanti-nanti.


"Rencana awalnya aku ingin kau dan Sherin makan bersama di sebuah cafe. Lalu aku akan memberitahu Joa kalau kalian sedang membahas perjodohan itu," jelas Dimitri dengan begitu serius. "Tapi aku belum menemukan waktu yang tepat. Saat ini Joa juga masih fokus dengan satu masalah. Mungkin aku akan menunggu sampai masalahnya selesai."


"Bukankah tadi kau bilang aku hanya sekedar mengetahuinya saja. Tidak terlibat di dalamnya. Lalu kenapa tiba-tiba kau mengaturku agar makan dengan Sherin? Omonganmu ini memang benar-benar tidak bisa dipercaya!" umpat Xander kesal.


"Kau ini perhitungan sekali. Jika sudah memutuskan untuk menolong kau harus menolong Kami sampai berhasil!" jawab Dimitri tanpa mau disalahkan.

__ADS_1


"Terserah kau saja," ucap Xander pasrah. "Sekarang kita kembali fokus dengan perusahaan. Bukankah seharusnya kau datang ke sini untuk membahas kerja sama kita? Jangan bilang kau ke sini tanpa membawa berkas-berkas yang aku minta."


Dimitri mengernyitkan dahinya. Sebenarnya dia lupa akan rencana kerja sama di antara mereka. Dia terlalu bersemangat untuk menceritakan rencana besarnya di depan sahabatnya itu. "Tadi aku terburu-buru. Jadi-"


"Tenang, Tuan. Saya sudah membawa semua berkasnya," ucap Robin sembari mengeluarkan berkas-berkas yang diminta oleh Xander. Pria itu meletakkannya di atas meja. Dimitri langsung tersenyum melihatnya. Pria itu sangat puas dengan hasil kerja Robin.


"Benar-benar bisa diandalkan! Rasanya aku tidak sia-sia meletakkanmu di perusahaan, Robin!"


...***...


Dokter membantu Zack Lee untuk menggerakkan kakinya. Dokter laki-laki itu juga yang sudah merawat Zack Lee selama beberapa minggu ini. Kondisi Sherin yang memang sangat lemah membuatnya harus dirawat dalam waktu yang cukup lama.


Selama Sherin ada di rumah sakit, Sherin dan Joa yang selalu mengunjunginya. Namun biasanya mereka berdua datang ketika Zack Lee sedang tidur. Baru kali ini Sherin dan Joa datang saat Zack Lee tidak dalam posisi tidur.


"Kapan saya bisa berjalan lagi?" tanya Zack Lee kepada dokter yang ada di depannya. "Apa luka tembak ini sangat parah? Biasanya juga segera sembuh!" Zack Lee kembali mengingat kondisi yang sebelumnya. Dimana saat dia mendapatkan luka tembakan, dia pasti akan segera sembuh. Tidak perlu waktu yang lama hingga berminggu-minggu seperti ini.


"Sebentar lagi Anda pasti bisa berjalan dan beraktivitas dengan normal, Tuan. Keadaan anda sekarang sudah jauh lebih baik. Tetapi sebaiknya anda tidak memaksakan diri untuk melakukan aktivitas yang berat karena itu hanya akan memperlambat proses pemulihan anda." Dokter itu merapikan alat medisnya sebelum pergi meninggalkan ruangan tempat Zack Lee di rawat. Kini hanya tersisa mereka bertiga di ruangan tersebut.


Sherin memandang ke arah Joa sejenak sebelum berjalan mendekati Zack Lee. "Dilihat dari kondisimu, sepertinya sekarang kau sudah bisa merawat dirimu sendiri. Mulai besok aku dan Joa tidak akan ke sini lagi. Kami juga harus kembali ke dunia kami. Ada banyak sekali pekerjaan yang telah kami tinggalkan selama kau ada di rumah sakit." Sherin mengucapkannya dengan hati-hati agar Zack Lee tidak sampai tersinggung.


"Terima kasih karena sudah merawatku dan menjagaku selama aku berada di rumah sakit. Terima kasih juga karena sudah menolongku," ucap Zack Lee tanpa memandang.


"Bukan kami yang menolongmu. Tetapi kau yang sudah menolongku. Jika Chen Li masih hidup, mungkin saat ini hidupku terus saja diteror olehnya. Memang aku akui aku telah salah karena sudah merenggut nyawa adik kesayangannya. Akan tetapi aku melakukannya tanpa sengaja," ucap Sherin.


Kali ini wanita itu sudah bisa bicara dengan nada yang sopan di depan Zack Lee. Dia melihat sendiri bagaimana Zack Lee membunuh Chen Li kemarin bahkan sampai keadaannya seperti sekarang.


Zack Lee tidak lagi mau membahas hal-hal yang berhubungan dengan Chen Li. Bahkan mendengar namanya saja membuat Zack Lee ingin muntah. Pria itu memandang ke arah Joa. Dia tahu kalau penyelidikan Peiyu kini ditangani oleh Joa langsung.


"Apa sudah ada hasilnya? Apa benar Peiyu masih hidup?" tanya Zack Lee kepada Joa.


Joa diam sejenak seperti sedang berpikir. Namun pada akhirnya pria itu mengeluarkan suara. "Hasilnya akan kau ketahui nanti setelah kau keluar dari rumah sakit ini," jawab Joa tanpa mau menjelaskan.

__ADS_1


"Kenapa harus seperti itu? Kenapa tidak sekarang saja?" protes Zack Lee tidak setuju.


"Kau akan tahu sendiri nanti. Jadi, mulai sekarang fokuslah dengan kesehatanmu," jawab Joa.


"Joa, kau sudah mengetahui semuanya tetapi kenapa tidak mau menceritakannya kepadaku? Tolong beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi pada Peiyu. Apa benar dia masih hidup atau memang dia sudah tiada? Lalu suara wanita itu milik siapa?" Zack Lee benar-benar penasaran. Dia ingin mengetahuinya sekarang juga.


Joa seperti tidak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi. "Aku sudah bilang padamu agar kau segera sembuh. Jika nanti kau sudah bisa berjalan dan beraktivitas normal seperti biasa, segera temui aku. Karena mulai besok aku tidak akan datang ke rumah sakit ini lagi," jawab Joa. Pria itu masih bersih keras untuk merahasiakan informasi yang dia ketahui.


"Kau ini benar-benar keras kepala. Baiklah kalau begitu Aku pastikan besok aku sudah sembuh dan bisa berjalan lagi. Aku akan menemuimu dan menagih semua penjelasan darimu!" sahut Zack Lee.


Sherin hanya mengernyitkan dahi mendengar apa yang dikatakan oleh Joa. Pria itu belum cerita apapun kepadanya. Sherin juga tidak tahu sebenarnya sampai di mana penyelidikan yang dilakukan oleh Quinn terhadap Peiyu.


"Kalau begitu Kami pergi dulu." Sherin segera menggandeng lengan Joa dan membawanya pergi dari sana. Zack Lee menatap punggung dua orang itu sebelum memalingkan wajahnya ke jendela. Setelah mendengar informasi singkat dari Joa membuatnya semakin bersemangat untuk sembuh. Pria itu menggerakkan kakinya secara perlahan lalu menurunkannya ke lantai.


Zack Lee ingat betul bagaimana peluru yang dilayangkan oleh Chen Li mendarat di kakinya. Pria itu masih bisa merasakan rasa sakitnya sampai detik ini setiap kali mengingat semua yang terjadi.


Zack Lee tersenyum bahagia ketika kedua kakinya mendarat di lantai dengan sempurna. Kini ia hanya butuh mengangkat tubuhnya agar berdiri dengan tegak.


"Aku tahu kalau tubuhku tidak selemah itu. Aku pasti bisa berjalan lagi," ucap Zack Lee dengan penuh percaya diri.


Saat ingin melangkah maju tiba-tiba Zack Lee kehilangan keseimbangannya. Pria itu merasa kakinya lemas seperti tidak bertenaga. Tubuhnya terhuyung ke depan.


Namun saat itu seorang wanita segera menangkap tubuh Zack Lee dan menahannya agar tidak sampai terjatuh. Zack Lee memandang ke samping sejenak sebelum memberontak.


"Lepaskan aku Sherin! Lepaskan! Aku bisa berjalan. Aku harus segera sembuh! Aku tidak mau terus-terusan berada di rumah sakit ini!" protes Zack Lee.


Pria itu berusaha untuk melepaskan pelukan seorang wanita yang ia anggap adalah Sherin. Namun dalam waktu singkat pria itu kembali menatap wajah wanita yang kini berada di sampingnya.


Wajahnya memang milik Sherin tetapi rambut wanita itu panjang dan penampilannya sangat jauh berbeda dari Sherin. Zack Lee mematung dengan tatapan tidak percaya. Dia berpikir kalau semua ini adalah mimpi.


"Peiyu, apakah benar ini kau?"

__ADS_1


__ADS_2