My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 92 Secepatnya


__ADS_3

Joa kembali memeriksa senjata yang mereka miliki. Sampai detik itu dia masih belum sadar kalau Xander juga ada di pesawat yang mereka tumpangi. Robin belum memberi tahu Joa karena dia terlalu sibuk.


Pesawat itu memang pesawat pribadi milik Dimitri. Selain Dimitri, hanya Joa dan Robin yang bisa memerintahkan pilot. Meskipun pilot tahu kalau Xander adalah sahabat Dimitri. Tetap saja sang pilot tidak mau terbang jika Xander yang memberinya perintah.


Joa masuk ke gudang. Setelah memeriksa senjata yang mereka bawa, pria tangguh itu berniat untuk pergi mencari air putih. Tenggorokannya terasa kering. Dia juga butuh istirahat karena besok mereka tidak akan memiliki waktu untuk bersantai lagi.


Setibanya di pantry pesawat, Joa dibuat kaget melihat Xander juga ada di sana. Pria itu meneguk anggur merah langsung dari botolnya. Ia terlihat sangat frustasi sampai-sampai memutuskan untuk mabuk seperti itu. Xander duduk dan terus meneguk minuman yang ada di genggaman tangannya.


"Tuan, apa yang anda lakukan? Kenapa anda bisa ada di sini?" Joa segera mendekati Xander. Pria itu tahu kalau Xander mabuk. Dengan paksa dia merebut botol yang di genggam oleh Xander. "Kenapa anda mabuk di sini?"


"Ini semua salahku!" ujar Xander. "Aku seharusnya tidak membiarkannya pergi. Sekarang bagaimana? Dia menderita! Jika dia mati, aku akan menyalahkan diriku seumur hidup!"


Joa tahu bagaimana kedekatan Xander dan Dimitri selama ini. Mendengar kabar kalau Dimitri di sandera dan disiksa membuat Xander sedih. Pria itu merasa tidak berguna.


"Tuan, saya akan antar anda ke kursi." Joa membantu Xander berjalan menuju ke kursi. Pria itu sendiri juga merasakan hal yang sama seperti Xander. Sampai-sampai mau bernapas saja terasa tidak tenang karena sangat mrngkhawatirkan Dimitri.


"Ada apa?" tanya Robin khawatir.


"Tuan Xander mabuk. Kenapa kau tidak bilang kalau Tuan Xander ikut bersama kita?" protes Joa. Pria itu mendudukkan Xander dan meminta pramugari membawakan segelas air putih.


"Tuan Xander muncul secara tiba-tiba. Aku sendiri kaget saat mendengar permintaan Tuan Xander. Dia mau turun tangan langsung untuk menyelamatkan Bos Dimitri. Bukankah ini hebat?"


Robin dan Joa menjauh dari Xander. Seorang pramugari kini mengambil alih untuk mengurus Xander.


"Kau yakin? Maksudku, ini misi berbahaya. Bisa saja penyerangan ini memakan korban." Joa terlihat ragu untuk membawa Xander ikut bersama mereka.


"Kita butuh bantuan. Kau lihat berapa sekarang jumlah kita? Kalau dipikir-pikir lagi, kemampuan bela diri Tuan Xander tidak jauh beda denganku. Sudahlah. Jangan permasalahkan hal ini lagi. Sekarang sebaiknya kita fokus untuk menyusun rencana."


Robin beranjak dan pergi meninggalkan Joa sendirian di sana. Joa masih melamun sambil memandang ke arah Xander yang kini sudah tertidur pulas.


"Oh iya, aku baru ingat kalau Tuan Xander memang memiliki kemampuan bertarung. Kenapa tadi aku memandangnya seperti orang tidak berguna?" Joa tersenyum kecil. Pria itu juga mencari posisi yang nyaman untuk istirahat.


***


Hongkong


Di ruangan yang gelap Dimitrilah duduk dengan posisi tangan dan kaki terikat. Pria itu menunduk dengan kucuran darah segar dari dahinya. Setiap harinya Dimitri disiksa. Gabriel sengaja memberikan penyiksaan itu agar Dimitri mati dengan begitu menderita. Jauh lebih menderita jika dibandingkan dengan kematian Hugo.

__ADS_1


Ada beberapa tikus besar yang berlalu lalang karena memang lantai ruangan itu bau dan kotor. Tidak ada sedikitpun cahaya yang bisa masuk ke dalam karena ruangan itu ada di bawah tanah. Ditambah lagi udara didalamnya tidak terganti. Ada genangan air yang membuat sepatu siapa saja berpijak di sana akan kotor.


Keadaan Dimitri memang sungguh menyedihkan. Dia tidak diberi makan dan minum selama berhari-hari. Seseorang akan muncul beberapa kali untuk memberikan suntikan agar Dimitri tetap hidup. Gabriel tidak mau Dimitri mati secepat itu.


Perlahan Dimitri membuka kedua matanya. Rasa perih yang begitu luar biasa membuatnya sangat menderita. Kini pria itu baru tahu bagaimana rasanya disiksa. Selama ini Dimitri begitu bahagia melihat musuhnya disiksa sampai mati membusuk di penjara bawah tanah.


Karma telah dia dapatkan. Ada seulas senyum pahit di sana. Entah kenapa pria itu mulai merasa kalau kematian semakin dekat dengannya. Harapan untuk menikah dengan Quinn seperti kandas sudah. Jantungnya seperti diremas setiap kali dia merindukan wanita cantik itu.


"Quinn, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu."


Tiba-tiba pintu terbuka. Dimitri kembali menunduk dan memejamkan mata. Memang seperti itu yang dia lakukan setiap kali musuh masuk untuk memberikannya suntikan. Bahkan Dimitri yang selama ini tidak pernah menyentuh obat terlarang kini tubuhnya sudah dipenuhi dengan obat terlarang tersebut.


Seseorang berlutut dihadapan Dimitri lalu menangis tersedu-sedu. Dia bahkan tidak bicara sepatah katapun karena tidak sanggup mengeluarkan kata lagi.


Dimitri membuka matanya secara perlahan. Tatapannya sedikit tidak percaya melihat Quinn ada dihadapannya seperti itu. Dia semakin yakin kalau kematian sudah sangat dekat dengannya.


"Quinn, aku mencintaimu. Maaf aku karena tidak bisa menemuimu lagi," ucap Dimitri. Pria itu memuntahkan darah yang begitu banyak.


Sekujur tubuh Quinn gemetar. Dia segera mengambil belatih dan melepas tali yang mengikat tubuh Dimitri.


Dimitri yang sudah seperti orang linglung menatap Quinn dengan tatapan bingung. Pria itu mengangkat tangannya yang gemetar. Belum juga tangan itu sampai di pipi Quinn, Dimitri sudah terjatuh ke lantai. Dia bahkan tidak lagi sanggup berdiri.


"Dimitri," lirih Quinn. Kali ini air matanya kembali menetes. "Bertahanlah sayang. Bertahanlah. Aku sudah di sini. Aku akan membawamu." Dipeluknya dan diciumnya Dimitri yang keadaannya sudah sangat menyedihkan. Wanita itu tidak peduli dengan bau menyengat yang ada di tubuh Dimitri. Bahkan jika sekujur tubuhnya ikut kotor, Quinn juga tidak peduli.


"Sayang, kau harus kuat. Aku sendirian. Aku tidak akan mungkin bisa menggendongmu."


Quinn kembali terdiam. Waktu itu Luca pernah mengerjainya. Pria itu pura-pura pingsan saat tidak ada orang di rumah. Quinn yang panik segera menggendong ayah kandungnya tersebut. Dan dia bisa.


"Aku pasti bisa. Berat badan Dimitri pasti sama kayak Daddy."


Quinn mengantongi belatih dan pistol yang sempat di genggam lalu berdiri mengumpulkan tenaga. Quinn melirik jam di tangannya. Dari sana dia bisa tahu berapa meter jarak musuh dari posisinya berada. Semua sudah direncanakan dengan rapi oleh Quinn.


"Sayang, kau harus tetap hidup!"


Quinn menggendong tubuh Dimitri. Wanita itu memejamkan matanya sejenak. Jika dalam keadaan sehat mungkin Quinn tidak sesulit ini. Tapi dia juga baru saja sembuh dari masa kritisnya.


Quinn tahu kalau kini Xander dan White Snake sudah tiba dan bertarung di atas. Ini adalah kesempatan emas bagi Quinn untuk membawa Dimitri kabur dari penjara bawah tanah.

__ADS_1


Dengan sepatu high heels berwarna hitam Quinn masih tetap sanggup berjalan dengan tubuh tegap sambil menggendong. Sesekali dia memandang wajah Dimitri. Semakin jauh melangkah wanita itu ingin muntah. Ternyata dia belum ada makan hingga membuatnya juga sakit.


"Quinn," lirih Dimitri. Pria itu mulai bisa menguasai keadaan. Dia memaksa diri untuk turun. "Apa yang kau lakukan?"


Dimitri memegang kedua pipi Quinn. Pria itu menatapnya dengan serius. Dia ingin memastikan kalau semua ini bukan mimpi. "Kau di sini sayang?"


Quinn mengangguk. Dia melirik jam di pergelangan tangannya lagi. Wanita itu menarik Dimitri ketika dia tahu kalau musuh sudah semakin dekat dengan posisi mereka berada. Quinn memeluk Dimitri. Apapun yang terjadi dia akan tetap melindungi kekasihnya.


Lorong yang gelap itu menjadi tempat yang pas untuk mereka bersembunyi. Quinn menusukkan belatihnya di punggung musuh hingga satu sama lain dari musuh itu tidak ada yang sadar akan kebenaran Quinn.


Setiap ada yang datang Quinn selalu tahu. Hal itu cukup mudah baginya. Hingga saat musuh tidak lagi muncul, Quinn menarik tangan Dimitri dan memaksanya pergi.


Namun satu hal yang cukup aneh terjadi. Dimitri menahan langkah kakinya. Pria itu seperti menolak untuk pergi. Dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak bisa pergi," ucapnya sangat pelan. Sampaikan Quinn harus mendekatkan telinganya di bibir Dimitri.


"Tapi, kenapa?"


Dimitri membuka kemeja yang ia kenakan. Di sana terlihat jelas bom yang sudah aktif siap menghancurkan tubuh Dimitri.


Quinn mundur dengan wajah kaget. Dia menutup mulutnya sambil menggelengkan kepala. Ternyata saat tali yang mengikat tubuh Dimitri dilepas, di saat itulah bom mulai aktif. Waktu yang tersisa hanya 30 menit. Untuk masuk ke penjara bawah tanah itu Quinn membutuhkan waktu 2 jam karena sangat dalam dari permukaan tanah. Rasanya mustahil untuk membawa Dimitri kabur dengan bom di tubuhnya. Sedangkan Quinn sendiri tidak dibekali ilmu menjinakkan bom.


"Pergi, Quinn!" perintah Dimitri lagi. "Jangan mengorbankan dirimu seperti ini."


Quinn melangkah dan memeluk Dimitri. Wanita itu menangis. Ini pertama kalinya dia merasakan cinta yang begitu tulus dan membahagiakan. Jika sampai berpisah mungkin dia akan gila. Dia tidak akan sanggup.


"Pergi, sayang ...," bujuk Dimitri lagi. Dia mencium Quinn sambil tersenyum. "Pergilah."


"Kita akan pergi bersama," jawab Quinn. Pikirannya sangat pendek. Quinn benar-benar frustasi. Sampai akhirnya dia ingat akan sesuatu. Wanita itu memandang Dimitri dan memegang kedua pipinya. "Masih ada harapan. Kita pasti akan selamat."


"Quinn, jangan mengorbankan nyawamu," tolak Dimitri. "Waktu yang kita miliki tidak banyak."


Quinn memandang waktu yang tersisa 20 menit. Cukup mustahil memang. Tapi tidak ada salahnya di coba. Quinn mengangkat senjata apinya dan menembak ke lorong tempat musuh muncul tadi. Dia sengaja mengeluarkan suara untuk memancing musuh muncul lebih banyak lagi.


Entah apa rencana yang dipikirkan wanita itu saat ini. Dimitri hanya bisa berdiri diam dan memperhatikan kekasihnya dari jarak yang tidak terlalu jauh. Begitu besar pengorbanan wanita yang ia cintai. Quinn seperti pahlawan yang cukup sempurna bagi Dimitri.


"You are My Perfect Hero, Quinn!"

__ADS_1


__ADS_2