My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 200 Demi Xander


__ADS_3

Quinn tahu, kalau dia turun dia harus bertarung melawan mereka semua. Itu merupakan ide yang sangat konyol karena Quinn memikirkan keselamatan anak yang ada di dalam perutnya. Jika tidak dalam kondisi hamil, mungkin sejak tadi Quinn sudah ikut bertarung dengan Dimitri.


Kali ini Quinn tidak memiliki cara lain lagi. Dia harus segera pergi dari sana apapun caranya. Wanita itu memegang erat stir mobilnya.


"Pegangan!" perintah Quinn.


Audy memandang ke arah Quinn dengan tatapan tidak percaya. Dia tahu kalau Quinn pasti ingin menabrak semua orang yang sudah menghalangi jalan mereka. Akan tetapi ada Leonzio di sana. Audy tidak mau sampai kakaknya itu celaka.


"Nona, ini ide yang buruk. Pikirkan cara lain," ucap Audy. Dia tidak mau sampai terlambat menolong kakaknya. Padahal yang sebenarnya terjadi, Leonzio tidak selemah itu. Dia pemimpin yang sangat tangguh dan hebat. Cosa Nostra tidak akan berdiri jika dia pria yang lemah.


Quinn sama sekali tidak menghiraukan teriakan Audy. Wanita itu menginjak gas mobilnya hingga mobilnya melaju dengan sangat kencang. Segerombolan pria yang menghalangi jalan segera menyingkir karena tidak mau sampai tertabrak.


Akan tetapi, Leonzio justru dengan tenang berdiri sambil mengarahkan senjata apinya. Quinn baru sadar kalau mobilnya tidak memiliki kaca anti peluru. Wanita itu segera memutar stir mobilnya hingga laju mobil tersebut berbelok ke kanan.


Leonzio segera menembak ban mobil hingga Quinn kehilangan keseimbangan untuk melajukan mobil tersebut. Daripada celaka, kini wanita itu memutuskan untuk menyerah. Dia menginjak rem hingga mobil berhenti sempurna.


Audy bernapas lega melihat kakaknya baik-baik saja. Wanita itu segera memegang tangan Quinn karena kini Quinn hanya diam seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia juga tidak mau sampai Quinn celaka.


"Nona, apa anda baik-baik saja?" tanya Audy hati-hati.


Quinn memandang Audy dan menghela napas. Dia bisa melihat segerombolan pria itu berlari ke posisinya. Quinn segera mengeluarkan bom asap yang memang ia bawa sejak tadi.


"Turunlah. Kita akan lari ke arah sana." Quinn menunjuk pohon besar yang bisa dijadikan tempat bersembunyi.


Audy mengangguk setuju. Mereka sama-sama turun. Quinn segera melempar bom asap yang ia bawa lalu mereka sama-sama lari. Saling berpegangan tangan karena Quinn tidak mau sampai kehilangan Audy.


Leonzio mengepal kuat tangannya. Kini dia tahu kalau wanita yang dia hadapi bukan wanita biasa. Pria itu segera berlari menerjang kabut asap yang belum hilang untuk menangkap Audy.


"Nona, apa anda baik-baik saja?" Audy memandang ke arah tangan Quinn yang kini memegang perut. "Anda hamil?"

__ADS_1


Quinn mengangguk. Dia mengeluarkan senjata api dan menembak musuh yang mendekat. Termasuk Leonzio. "Bagaimana ini?" batin Quinn. Dia mencari ponselnya untuk meminta bantuan. Akan tetapi mereka justru mendengar suara tembakan.


DOR DOR


Quinn menurunkan ponselnya lalu mengintip dari balik pohon. Ada seulas senyum di bibirnya melihat adiknya telah muncul untuk menolong. "Nichole, kau datang di waktu yang tepat."


"Ayo, kita harus segera pergi dari sini," ajak Quinn.


Quinn tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia menarik tangan Audy dan membawanya segera pergi dari sana. Karena saat ini target mereka adalah Audy. Jika wanita itu sampai tertangkap, maka misi mereka kali ini bisa dibilang gagal.


Di sisi lain, Xander tidak lagi bisa duduk dengan tenang. Kini pria itu sudah ada di dalam pesawat. Quinn meminta Sherin untuk menjaga Xander. Meskipun awalnya Sherin tidak setuju karena dia ingin membantu Joa. Akan tetapi meninggalkan Xander di pesawat tanpa penjagaan juga tindakan yang sangat beresiko.


"Kenapa mereka lama sekali? Apa terjadi sesuatu?" tanya Xander. Dia beranjak dari kursi. "Sherin, pergilah temui mereka. Aku yakin mereka butuh bantuan."


Xander kini bukan hanya mengkhawatirkan Audy saja. Tetapi semua orang yang dia sayangi.


Setelah mendapat kabar dari Sherin, Quinn segera melacak keberadaan Xander. Wanita itu kaget melihat sahabatnya di siksa. Dimitri segera memutuskan untuk menolong Xander. Akan tetapi Quinn tidak mau ditinggal. Dia juga sangat dibutuhkan untuk mengetahui lokasi musuh.


"Tidak, Kak. Tidak ada yang menjaga kakak di sini." Sherin tetap teguh pendirian meskipun kini dia sangat mengkhawatirkan suaminya. "Quinn wanita yang cerdas. Dia pasti berhasil membawa Audy."


"Kenapa Quinn harus ikut? Sherin, bagaimana dengan kandungan Quinn? Aku tidak mau dia celaka," ujar Xander lagi.


Sherin semakin pusing mendengarnya. Wanita itu juga tidak bisa berbuat banyak saat ini. Dia membuka laptop milik Quinn yang ada di meja. Tadi sebelum pergi Quinn sempat mengajarinya. Meskipun terlihat sangat sulit, Sherin berusaha untuk membobol cctv yang ada di Roma agar bisa melihat apa yang terjadi dengan suaminya.


Suara langkah kaki membuat Sherin dan Xander waspada. Mereka berdiri dan memandang ke arah pintu masuk. Dari balik tirai, muncul dua orang wanita yang sejak tadi sangat mereka khawatirkan.


"Audy? Quinn?" Sherin kini bisa tersenyum lega. Begitupun dengan Xander yang kembali berseri melihat Audy ada di hadapannya.


"Audy?" celetuk Xander dengan tatapan tidak percaya.

__ADS_1


Audy berlari dan memeluk Xander. Wanita itu bahagia bisa melihat Xander baik-baik saja. "Maafkan aku. Maafkan aku," ujar Audy.


Quinn mengambil telepon untuk menghubungi pilot. "Kita berangkat sekarang," perintah Quinn.


Sherin kembali duduk dengan perasaan yang sangat gelisah. Memang Dimitri sendiri yang meminta Quinn, Sherin, Xander dan Audy segera pergi meninggalkan Roma. Mereka tidak mau orang-orang yang mereka sayangi dalam bahaya.


Quinn memandang ke jendela lalu mengatur napasnya agar kembali tenang. Rasanya begitu berat meninggalkan Dimitri di Roma. Akan tetapi ini yang terbaik untuk anak mereka.


"Quinn, aku tahu apa yang kau pikirkan," ucap Sherin. Wanita itu duduk di samping Quinn. Mereka berpelukan.


"Semoga suami kita bisa pulang dalam keadaan selamat," ucap Sherin sambil menepuk pundak Quinn.


"Ya. Semoga mereka pulang dengan selamat," jawab Quinn.


Audy memandang ke arah Sherin dan Quinn. Lagi-lagi dia merasa bersalah. Namun Xander memegang tangan Audy dan mengusapnya. "Semua akan baik-baik saja. Mereka orang-orang hebat." Audy hanya bisa mengangguk pelan.


***


Joa dan Dimitri menghadapi musuh yang sangat hebat. Saat itu Aldo sendiri belum turun tangan langsung. Dia masih berdiri memperhatikan gaya bertarung Joa dan Dimitri. Seseorang berlari mendekati Aldo. Dia seperti ingin menyampaikan informasi penting kepadanya.


"Bos, mereka gagal menangkap Nona Audy," ucapnya tanpa berani memandang langsung wajah Aldo.


Aldo semakin emosi. Dia berjalan menghampiri Joa. Karena memang saat ini pria itu adalah target utama Aldo sebelum Dimitri.


Joa menyambut pukulan Aldo. Mereka saling memukul untuk mengalahkan satu sama lain. Dimitri yang baru saja berhasil mengalahkan anak buah Aldo mengangkat teleponnya karena seseorang telah menghubunginya.


"Ada apa?"


"Bos, Tuan Nichole tidak akan sanggup melawan Leonzio jika anda tidak membantunya," ujar seseorang di dalam telepon.

__ADS_1


Dimitri baru ingat kalau adik iparnya juga ikut dalam misi penyelamatan ini. Pria itu memandang Joa dan menyerahkan masalah Aldo kepada Joa. Sedangkan Dimitri sendiri yang akan berhadapan langsung dengan pemimpin Cosa Nostra tersebut.


"Leonzio, aku tidak menyangka kita akan bertemu dengan cara seperti ini!"


__ADS_2