My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 203 Mertua Baik


__ADS_3

Audy membuka kedua matanya secara perlahan ketika matahari menerangi kamarnya yang sempat redup. Wanita itu tersenyum manis ketika melihat langit-langit kamar berwarna putih yang kini ada di hadapannya. Dia telah tidur di sebuah kamar mewah yang terasa sangat nyaman dan juga aman. Rasanya semua seperti mimpi. Audy kini benar-benar bebas. Sekarang dia sudah bersama dengan pria yang ia cintai. Tidak akan ada lagi orang yang memisahkan mereka berdua.


Suara ketukan pintu membuat Audy terperanjat kaget. Wanita itu segera menyingkirkan selimut yang sempat menutupi tubuhnya dan turun secara perlahan. Sambil mengucir rambutnya, Audy berjalan menuju ke pintu. Sebelum membuka pintu wanita itu berdoa di dalam hati semoga ia tidak menemukan bahaya lagi. Rasanya kejadian yang kemarin membuat trauma yang begitu besar bagi Audy.


Ketika pintu dibuka lebar, Audy melihat wanita paruh baya yang kini tersenyum di sana. Dia adalah Viana. Wanita paruh baya itu membawa nampan berisi sarapan untuk Audy. Dia menyambut kedatangan Audy dengan penuh suka cita. Bahkan melayani wanita itu layaknya putri sendiri.


"Maafkan Tante karena sudah mengganggumu. Kau pasti terbangun karena mendengar suara ketukan pintu. Tapi sekarang waktunya sarapan. Tante Tidak mau kau sampai jatuh sakit," ucap Viana dengan senyuman yang begitu tulus.


Audy sangat terharu mendengarnya. Selama ini belum pernah ada wanita yang memperhatikannya hingga seperti itu. Audy tumbuh besar tanpa hadirnya sosok seorang ibu. Dan kini ia sangat bersyukur karena dengan mencintai Xander ia bisa mendapatkan seorang ibu yang menyayanginya dengan begitu tulus.


"Tante? Apa Tante ibu Xander?" tanya Audy kembali memastikan. Karena sejak tiba dirumah itu, ini pertama kalinya mereka bertemu.


"Ya. Tante Viana adalah mama Xander. Lebih tepatnya ibu sambung Xander. Jadi jangan kaget jika melihat wajah Tante yang awet muda ini," ujar Viana sambil tertawa kecil.


"Tante terima kasih. Ayo masuk. Jangan berdiri di situ saja," ajak Audy.


Viana tersenyum mendengarnya. Wanita itu segera melangkah masuk ke dalam kamar dan meletakkan sarapan yang ia bawa di atas meja yang tidak jauh dari jendela. "Audy, cepat habiskan sarapanmu selagi hangat," perintah Viana.


Audy mengangguk sebelum duduk. Tanpa menunggu lagi wanita itu segera melahap habis sarapan yang sudah disajikan. Ada senyum berseri di wajahnya. "Makanan ini sangat enak. Aku belum pernah memakan makanan seperti ini sebelumnya," puji Audy sebelum melahap makanan itu lebih banyak lagi.


"Kau anak yang baik Audy. Bahkan sangat pintar membuat orang lain bahagia. Tante yang menyiapkan sarapan pagi ini. Tadinya Tante pikir kau tidak menyukai masakan yang Tante buat," ucap Viana.


"Terima kasih Tante karena Tante begitu baik padaku," ucap Audy sebelum melanjutkan sarapan paginya. Untuk sementara suasana di sana terasa hening. Sampai pada akhirnya sarapan yang dimiliki Audy benar-benar habis.


"Audy, maafkan Tante karena harus memberimu beberapa pertanyaan. Memang Tante tahu ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal-hal seperti ini. Tetapi bertanya kepada Xander itu hanya akan sia-sia saja. Dia tidak akan mungkin mau menjawab pertanyaan Tante. Tante harap kau mau menjawab semua pertanyaan Tante dengan jujur," ucap Viana dengan ekspresi wajah yang serius.


Suasana yang tadinya terasa tenang dan hangat kini berubah menjadi panas dan begitu menegangkan. Audy sendiri terlihat gugup ketika Viana memandangnya dengan begitu serius. Dia takut jika salah bicara justru Viana akan membencinya dan tidak merestui hubungannya dengan Xander.


"Apa yang ingin Tante tanyakan? Aku pasti akan menjawab semua pertanyaan Tante," jawab Audy. Meskipun dia sendiri tidak tahu harus jawab jujur atau bohong nantinya, yang pasti sekarang dia harus tetap bersikap manis di depan calon mertuanya.


"Audy, apakah kau dan Xander sudah lama kenal?" tanya Viana hati-hati.


"Belum Tante. Kami baru saja kenal," jawab Audy singkat. Dia tidak mau menjelaskan terlalu panjang karena takut akan timbul pertanyaan baru dari jawaban yang ia berikan.


"Diantara kalian berdua siapa dulu yang jatuh cinta?" Viana sengaja menanyakan kalimat seperti itu karena dia ingin tahu apakah Xander sudah benar-benar melupakan Quinn atau belum.

__ADS_1


"Saya duluan yang jatuh cinta kepada Xander Tante. Akan tetapi semuanya tidak berjalan baik karena Xander menolak cinta saya. Bahkan saat itu dengan beraninya saya mengajak Xander untuk menikah. Tetapi sepertinya kami memang berjodoh. Di saat Saya memutuskan untuk menikah dengan pria yang mencintai saya justru Xander kembali muncul dan mengakui perasaannya. Saya sangat bahagia. Tetapi sayangnya masalah besar ini harus muncul dan membuat semua orang menjadi susah."


Jawaban dari Audy membuat Viana semakin kagum. Meskipun terdengar begitu sangat menyakitkan tetapi Audy masih berusaha untuk jujur. Dan Viana sangat menghargai jawaban jujur dari Audy.


Sebelumnya Xander pernah bercerita kalau dia membawa Audy pergi meninggalkan Roma karena agar Audy bisa melupakan pria yang mau menikah dengannya. Xander tidak mau menceritakan pertarungan sengit itu agar Viana tidak khawatir.


"Tante sangat berterima kasih kepadamu karena sudah berhasil meluluhkan hati Xander. Tadinya Tante pikir Xander akan menjadi lajang tua. Ada banyak sekali wanita yang mengejar-ngejarnya. Tetapi tidak ada satupun yang berhasil menarik hatinya. Itulah yang membuat Xander sampai detik ini belum menikah. Tante berharap kalian berdua berjodoh dan akan segera lanjut ke jenjang pernikahan." Doa yang diucapkan Viana sangat tulus. Sampai-sampai Audy berharap besar agar doa itu segera dikabulkan oleh sang pencipta.


"Tapi bahkan sampai detik ini kami belum jadian," ucap Audy sambil tertawa malu-malu. Karena memang jika diingat-ingat lagi mereka belum pernah menentukan kapan mereka resmi pacaran.


"Tidak perlu jadian. Jika kalian berdua memang benar-benar saling mencintai, Tante sarankan kalian berdua segera bertunangan dan menentukan kapan tanggal pernikahan kalian. Tante dan Xander akan menemui keluargamu untuk melamarmu," jawab Viana.


Ternyata dia belum mengetahui masalah yang dimiliki Audy kalau ternyata Wanita itu sudah tidak dianggap adik lagi oleh pria yang selama ini dipanggilnya kakak. Kini bisa dibilang Audy itu wanita yang hidup sebatang kara.


"Tapi Anda tidak perlu menemui keluarga saya karena saya sudah tidak memiliki keluarga lagi," jawab Audy dengan wajah yang sangat sedih. Sebenarnya ia berharap besar ketika hari bahagianya nanti ada Leonzio yang berdiri di sampingnya untuk menggantikan Ayah kandungnya yang sudah tiada. Akan tetapi impian Audy sepertinya tidak pernah menjadi nyata.


"Audy, maafkan Tante. Tante tidak memiliki niat untuk menyinggung perasaanmu." D


engan wajah yang dipenuhi rasa bersalah Viana segera memeluk Audy dan mengusap punggung calon menantunya itu.


Audy mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Dia sangat tersentuh dengan kalimat yang baru saja dikatakan oleh Viana. Bahkan di dalam hati yang paling dalam Audy rasanya ingin cepat-cepat menikah dengan Xander agar statusnya benar-benar menjadi bagian dari keluarga harmonis tersebut.


Xander berdiri di ambang pintu sambil tersenyum melihat pemandangan di depannya. Meskipun tidak sempat mendengar obrolan antara Viana dan juga Audy akan tetapi ia merasa jauh lebih tenang ketika melihat Audy kini sudah ada di kediamannya.


"Xander, sejak kapan kau ada di sana? Kemarilah. Ada yang ingin mama katakan padamu," pinta Viana hingga membuat Xander segera melangkah dan duduk di sofa yang tidak jauh dari posisi Audy.


"Ada apa Ma?" tanya Xander dengan begitu sopan.


"Apa kata dokter? Apa luka di tubuhmu itu bukan merupakan luka yang serius? Apa tidak sebaiknya kau dirawat di rumah sakit saja. Jika sudah sembuh kau baru boleh pulang ke rumah," ucap Viana sembari memandang luka yang masih basah pada tubuh putranya.


"Ini hanya luka kecil saja Ma. Aku ini seorang laki-laki. Aku pasti kuat. Hanya luka seperti ini saja tidak ada apa-apanya. Sangat jauh berbeda dengan luka di hati," jawab Xanders sembari melirik ke arah Audy.


"Maksudmu patah hati?" tanya Viana yang lagi-lagi kembali ingat kalau putranya pernah ditolak cintanya oleh Quinn.


Xander mengangguk tanpa menjawab apapun. Audy sendiri hanya diam saja karena tidak tahu harus bicara apa.

__ADS_1


"Mama sudah dengar penjelasan dari Audy. Dilihat dari cerita Audy sepertinya kalian ini sama-sama saling mencintai. Jadi Mama minta kepada kalian untuk segera bertunangan saja dan menentukan tanggal pernikahan kalian.


Tidak ada lagi yang harus ditunggu karena usiamu juga sudah layak untuk menikah. Audy sendiri juga hanya wanita yang hidup sebatang kara. Akan lebih baik jika dia tinggal di rumah ini sebagai istrimu," jelas Viana berharap putranya itu mau mengerti kalau tujuan Viana mengatakan semua ini demi kebaikan semua orang.


"Mama tenang saja. Aku dan Audy pasti akan segera menikah. Tetapi untuk saat ini kami ingin seperti ini saja dulu," jawab Xander hingga membuat ekspresi kecewa di wajah Audy. Padahal tadinya wanita itu berharap kalau Xander akan mempercepat tanggal pertunangan mereka agar secepatnya juga mereka menikah.


"Baiklah. Terserah kau saja. Toh yang menjalani pernikahan ini kau dan juga Audy bukan mama. Mama tidak bisa memaksamu. Setidaknya kini calon istrimu sudah ada di depan mata. Jadi mama bisa sedikit bernafas lega," ucap Viana sambil beranjak dari sofa yang ia duduki. "Mama mau ke kamar. Untuk beberapa hari ini sebaiknya kalian jangan keluar rumah dulu. Mama takut saingan bisnismu kembali muncul dan mencelakaimu."


Xander menggangguk. "Baik, Ma. Ingat jangan tidur karena ini masih sangat pagi," ucap Xander menasehati.


Viana sendiri hanya tertawa saja mendengar nasehat putranya sebelum pergi meninggalkan kamar. Setelah Viana benar-benar hilang dari balik pintu Xander kembali memandang ke arah Audy yang kini lebih banyak menunduk daripada memandang wajahnya.


"Maafkan aku karena harus membohongi Mama. Aku tidak mau mama mengetahui yang sebenarnya terjadi. Jadi aku katakan kepada Mama kalau aku diserang oleh saingan bisnisku. Aku hanya tidak mau mama berpikir yang aneh-aneh tentangmu dan itu akan mempersulit restunya terhadap hubungan kita. Aku harap kau mau mengerti," ucap Xander dengan sungguh-sungguh karena ia takut Audy salah paham.


Audy mengangkat kepalanya lalu tersenyum. "Aku sama sekali tidak menyalahkanmu. Justru aku mendukung keputusan yang telah kau ambil karena memang aku sendiri juga tidak tahu harus jawab apa jika sampai Tante Viana mengetahui masalah ini. Aku merasa malu dan sangat berdosa karena demi mendapatkanku, kau harus mengalami rintangan yang begitu sulit seperti ini."


Xander mengambil tangan Audy lalu mengusapnya dengan lembut. "Tapi semua sudah berlalu. Keluargaku juga sudah pulang dalam keadaan selamat."


Audy kembali membisu. Sebenarnya ia ingin tahu bagaimana keadaan Aldo dan Leonzio. Akan tetapi dia takut Xander salah paham.


"Kakakmu memutuskan untuk mundur dari pertarungan. Aku sendiri tidak tahu bagaimana cerita jelasnya karena Sherin tidak mau menceritakan semuanya kepadaku. Soal Aldo dia ada di rumah sakit dalam keadaan kritis."


Audy masih diam saja tanpa mau memberikan respon apapun. Hal itu membuat Xander ingin tahu sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran wanita yang dia cintai itu. "Apakah kau ingin menjenguk Aldo?"


"Untuk apa aku menjenguknya?" jawab Audy sembari memalingkan wajahnya yang menunjukkan kalau wanita itu sedang berbohong.


"Tapi dari tatapan matamu aku melihat kalau sebenarnya kau ingin menjenguk Aldo. Audy, aku yakin meskipun sedikit ada rasa cinta di dalam hatimu untuk Aldo. Aku juga tidak bisa menyalakan hal itu jika sampai terjadi." Xander semakin cemburu.


"Apa kau meragukan cintaku?" Audy kali ini menatap wajah Xander dengan begitu serius. Dia ingin meyakinkan Xander kalau hanya ada nama Xander di dalam hatinya. Dia mengkhawatirkan Aldo karena ada sesuatu yang sampai detik ini membuatnya tidak rela jika Aldo sampai tewas. Dimata Audy, Aldo itu pria yang baik.


"Maafkan aku. Tetapi ya aku memang meragukan cintamu saat ini. Bukankah dia itu pria yang jahat? Lalu untuk apa kau memikirkannya? Bahkan dia sudah ...."


Xander tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya karena hatinya terasa begitu perih ketika membayangkan wanita yang dicintainya sudah dimiliki oleh pria lain.


Audy menggeleng. "Sebenarnya yang terjadi tidak seperti apa yang kau pikirkan. Aldo sama sekali tidak menyentuhku. Aku masih perawan Xander."

__ADS_1


__ADS_2