My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 144 Tetap Kagum


__ADS_3

Zack Lee mendengus kesal. "Dia benar-benar mirip Peiyu. Kenapa semua harus sama?" batin Zack Lee.


Sherin kembali melayangkan tembakan. Wanita benar-benar boros dengan pelurunya. Dia terus menembak musuh karena tidak mau bertarung lagi. Sampai akhirnya peluru yang ada pada senjata apinya habis.


"Kenapa ini? Apa secepat ini pelurunya habis?" protes Sherin kesal.


"Jika cara kerjamu seperti ini, kau pasti kehabisan peluru sebelum musuhmu habis." Joa sudah berdiri di samping Sherin. Pria itu menembak satu persatu musuh yang tersisa.


"Kenapa kau ke sini? Apa kau mengkhawatirkanku?" ledek Sherin tanpa memandang.


"Sherin, pergilah dari sini. Bawa Zack Lee ke rumah sakti," pinta Joa tiba-tiba hingga membuat Sherin kaget bukan main.


"Aku?" Sherin masih tidak percaya mendengar permintaan Joa.


"Biar aku yang membereskan kekacauan di sini. Kau bisa lihat sendiri kalau musuh kita terus bertambah. Anak buah Zack Lee tidak akan sanggup mengalahkannya. Aku sudah meminta bantuan White Snake. Mereka dalam perjalanan ke sini."


"Tidak! Aku tidak mau." Sherin melangkah maju. "Aku lebih baik terluka di sini bersamamu daripada harus mengantarkannya ke rumah sakit."


Joa terdiam mendengar jawaban Sherin. Meskipun wanita itu mengucapkannya dengan nada yang kasar, tetapi ada kebahagiaan di hati Joa. Dia merasa kalau kini Sherin hanya ingin bersama dengannya.


"Jika kau ingin di sini, bertarung lah lebih serius. Jangan membuatku repot!" ketus Joa sebelum melangkah pergi. Sambil berjalan pria itu tersenyum bahagia.


Sherin yang masih kesal segera mencari posisi untuk melawan musuh. Kali ini tujuannya bukan hanya untuk mengalahkan musuh. Akan tetapi melampiaskan kekesalannya terhadap Joa.

__ADS_1


"Sadar pria kulkas. Bisa-bisanya dia memintaku pergi agar bisa berduaan dengan Zack Lee. Apa dia tidak memiliki rasa sedikitpun padaku?" umpat Sherin di dalam hati.


Wanita itu berhenti di hadapan pria berbadan kekar yang tingginya hampir dua meter. Sedangkan Sherin yang hanya tinggi 160 harus mendongakkan kepalanya jika ingin melihat jelas wajah musuhnya itu. Meskipun begitu, dia tidak takut sama sekali. Sherin justru ingin segera menghajar pria berbadan tinggi tersebut.


"Ayo maju! Apa kau pikir aku takut?" Sherin mencari posisi sembari memperhatikan bagian tubuh musuhnya yang ingin dia serang lebih dulu.


Tiba-tiba Joa muncul dan menghajar pria itu dengan tendangan. Dari jauh dia sudah melompat hingga tendangannya sangat kuat. Sherin menahan langkah kakinya melihat Joa. Meskipun sempat kesal, tetapi kini justru wanita kagum melihat aksi Joa. Ada senyum manis dibibir Sherin.


Joa terus menghajar musuhnya sampai babak belur. Meskipun sesekali dia juga terkena pukulan, tetapi itu sama sekali tidak berarti baginya. Joa masih tetap kuat dan memiliki banyak kekuatan untuk menghajar musuh.


Zack Lee berdiri sambil memegang perutnya yang terasa sakit. Pria itu menatap Sherin dengan serius. Dia tahu kalau kini Sherin memandang Joa tanpa berkedip. Detik itu dia sadar kalau wanita yang sangat mirip kekasihnya telah menambatkan hatinya kepada pria lain.


"Kenapa kita harus bertemu jika pada akhirnya kita tidak bisa bersama? Apa takdir sengaja mempertemukan kita agar aku semakin sulit melupakan Peiyu?" Zack Lee memandang anak buahnya yang sudah tergeletak dengan luka yang parah. Sebagian justru sudah tewas.


Sherin masih berdiri sambil melamun. Entah apa saja yang kini memenuhi pikirannya hingga Joa bingung melihat Sherin.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Joa dengan alis saling bertaut.


"Kau punya pacar?" tanya Sherin tiba-tiba. Sebuah pertanyaan yang tidak seharusnya dibicarakan dalam kondisi seperti sekarang.


"Apa maksudmu? Pacar? Apa itu pacar?" Joa justru memilih untuk menghindari pertanyaan Sherin.


"Tidak mungkin kau tidak tahu," sahut Sherin tidak percaya. "Joa, meskipun kau terkadang terlihat lugu, tetapi-"

__ADS_1


DUARRRR


Sherin kaget ketika mendengar suara tembakan di dekatnya. Mereka berdua melihat seorang pria tersungkur ke depan karena tembakan yang ia terima.


Joa memandang ke sumber tembakan. Dia melihat Zack Lee yang memegang senjata. Pria itu berjalan pergi lalu masuk ke dalam mobil anak buahnya yang baru saja tiba. Joa tidak mempermasalahkan kepergian Zack Lee. Toh cepat atau lambat dia juga akan berhadapan dengan para Yakuza karena mereka mengincar nyawa Sherin.


...***...


Zack Lee tidak lagi memandang ke lokasi pertempuran. Pria itu duduk diam dengan tatapan tidak terbaca. Bahkan dia sama sekali tidak mau menagih penjelasan dari orang kepercayaannya itu. Bisa dibilang ini semua kesalahan anak buahnya. Mereka terlalu sepele hingga akhirnya musuh bisa berkeliaran dengan begitu bebas di sekitar mereka.


"Bos, maaf. Apa anda terluka parah?" Aigu mengeluarkan suara lebih dulu. Pria itu terlihat takut dan khawatir melihat keadaan Zack Lee saat ini. Bahkan kemeja yang dikenakan Zack Lee kini sudah dipenuhi banyak darah.


"Kembali ke apartemen. Aku hanya butuh istirahat," perintah Zack Lee.


"Bos, bagaimana dengan luka anda? Apa mau saya panggilkan dokter?"


Zack Lee menatap sinis ke depan. Aigu bisa melihat jelas melalui spion yang ada di depannya. "Maafkan saya, Bos." Pria itu menambah laju mobilnya agar segera tiba di apartemen yang selama ini menjadi tempat tinggal Zack Lee.


"Bagaimana dengan Peiyu? Kau sudah mendapatkan informasi yang aku minta?" tanya Zack Lee di sela-sela kesunyian.


Ekspresi wajah Aigu berbeda. Seperti ada sebuah rahasia besar yang sudah dia ketahui namun dia takut untuk menceritakannya di depan Zack Lee.


"Aku yakin dia memang berkhianat," ucap Zack Lee pada akhirnya. Pria itu tersenyum sinis. Meskipun sudah lama, tetap saja setiap kali membayangkan pengkhianatan yang dilakukan Peiyu membuatnya sakit hati dan kecewa.

__ADS_1


Aigu menggenggam erat stir mobilnya. "Apa yang akan terjadi jika Bos Zack Lee mengetahui yang sebenarnya terjadi," gumam Aigu di dalam hati.


__ADS_2