
Quinn baru saja menginjakkan kakinya di lobby perusahaan. Namun tiba-tiba saja dia dipanggil oleh dua resepsionis. Quinn hanya bisa menghela nafas dan menghampirinya. Hingga Quinn berada di sana. Lagi-lagi Quinn mendapatkan buket bunga.
"Maaf Quinn. Tapi kau tetap harus menerimanya. Kami hanya menjalankan pesan yang diberikan seseorang. Ngomong-ngomong kenapa kemarin kau membuang bunga ini?" Resepsionis yang bernama Bella itu bertanya pada Quinn.
Ia penasaran sebab teman-temannya yang lain juga memintanya untuk bertanya pada Quinn. Walaupun resepsionis itu tahu kalau Quinn tidak begitu dekat dengannya.
"Kau pasti tahu kejadian terakhir kalinya itu bukan? Kupikir kau tidak perlu bertanya lagi setelah mengingatnya. Itu sesuatu yang buruk untuk diingat. Jadi kalau ada orang mengirim ini lagi, pastikan untuk menolaknya. Kali ini aku menerimanya." Quinn lalu mengambil dua tangkai bunga.
Perbuatan Quinn membuat dua resepsionis itu terkejut. Quinn memang sangat suka berulah di luar batas pemikiran mereka. Padahal buket bunga itu sudah dikemas dengan sangat indah.
"Mengapa kau merusak bunganya?" Resepsionis itu bertanya lagi. Ia hanya tidak mengerti mengapa Quinn melakukannya. Karena Quinn mengatakan akan menerimanya.
"Ini satu untukmu dan satu untukmu. Ambillah. Seseorang sudah memberikannya padaku. Jadi ini sudah menjadi hak milikku. Biarkan aku membuat barang pemberiannya ini lebih berguna. Hanya saja besok-besok kalau mau mendapatkan hal-hal ini lagi lebih baik menolaknya. Atau aku akan benar-benar membuangnya ke tengah jalan!" Quinn kesal bukan main karena Xander masih mengirim bunga untuknya. Quinn memberikan satu tangkai bunga untuk masing-masing resepsionis itu.
"Kau akan memberikannya pada kami? Wah terima kasih! Bunga ini sangat harum. Aku akan menaruhnya di vas bunga." Dua resepsionis itu akhirnya berterima kasih pada Quinn walaupun sebelumnya mereka penasaran mengapa Quinn ingin membuang bunga itu lagi.
Menanggapi kata-kata dua resepsionis itu Quinn hanya tersenyum tipis. Kemudian Quinn pergi menuju ke ruangannya. Tapi Quinn harus mampir dulu di tempat Sherly.
Sepanjang perjalanannya, Quinn juga memberikan setiap tangkainya untuk orang-orang yang dilewatinya. Sampai hanya tersisa satu tangkai saja. Dia akan menyimpannya buat Sherly.
__ADS_1
"Kau baru datang, Quinn? Tumben hari ini terlambat." Sherly menegur Quinn yang datang terlambat.
"Apa ini?" tanya Sherly.
"Menurutmu apa? Kau punya mata Sherly! Mau tidak? Kalau tidak mau aku akan memberikannya pada yang lain." Quinn mengancam Sherly. Sehingga dengan cepat Sherly menahan tangan Quinn.
"Siapa yang menolak saat diberikan bunga? Orang itu hanyalah kau saja. Jika aku atau yang lain, mereka tidak akan membuangnya! Tapi jenis bunga ini sama seperti bunga yang kemarin. Apa orang kemarin mengirim bunga lagi?" Sherly mengambil setangkai bunga itu dari tangan Quinn.
"Bagiku itu tidak penting. Setidaknya aku sudah menerima bunganya. Walaupun aku membagikannya ke semua orang." Quinn lalu duduk di kursi yang ada di depan meja Sherly. Dia mengabaikan Sherly yang mulai cerewet. Quinn bertopang dagu dan menatap Sherly. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Quinn.
"Tidak adakah yang ingin kau ceritakan padaku?" tanya Sherly.
"Apakah laki-laki itu sangat tampan?" Sherly masih tetap bertanya pada Quinn.
Wanita itu sangat penasaran setelah ia mengetahui fakta bahwa Quinn saat ini sedang berdekatan dengan dua orang laki-laki. Sebab Sherly ingin tahu siapa yang akan dipilih oleh sahabatnya itu.
"Pekerjaanku sangat banyak. Apakah kau bersedia untuk membantuku? Jika begitu aku akan menjawabnya setelah kamu membantuku bekerja." Quinn tersenyum. Terlebih saat ia melihat perubahan mimik wajah Sherly. Sepertinya Sherly kesal dengan jawabannya.
"Maaf, Quinn. Aku tidak mendengarmu bicara apa. Ya sudahlah. Lebih baik kita bekerja." Sherly memilih untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa. Wanita itu lalu fokus pada komputernya.
__ADS_1
Melihat Sherly sudah bekerja Quinn pergi ke tempatnya. Dia juga harus bekerja karena pekerjaannya belakangan ini menumpuk. Setidaknya setelah ini Sherly tidak akan berani bertanya lagi padanya. Kecuali saat istirahat tiba.
Quinn lalu duduk di tempatnya. Pikirannya berkecamuk. Ada banyak kegelisahannya belakangan ini. Luca yang tidak ada. Perasaannya pada Dimitri. Lalu ada Xander yang akan dijodohkan dengannya.
"Dasar si*l! Mengapa hidupku penuh dengan kemelut begini?" lirih Quinn.
Di samping itu, seseorang sangat gelisah mengetahui fakta bahwa orang yang dicintainya akan dijodohkan. Orang itu menopang dagu di perusahaannya. Sedangkan ia tidak menyadari kehadiran seseorang yang sedang menunggu ia menandatangani berkas-berkas penting.
"Tuan, saya sudah berada di sini selama 30 menit. Apakah Anda baik-baik saja? Tidakkah Anda kasihan kepada saya? Kaki saya sudah lelah," ucap Joa.
"Hmm? Sebentar. Aku sedang berpikir. Apa matamu buta?" ketus Dimitri.
"Tapi, Tuan. Anda kemarin sudah membatalkan janji. Pekerjaan Anda juga sudah menumpuk," sahut Joa.
"Urusanku lebih penting. Hmm. Aku harus bagaimana? Tiba-tiba saja perasaanku tidak enak." Dimitri semakin berpikir keras. Membuat Joa mengepalkan tangannya.
"Perusahaan juga penting, Tuan. Ini menyangkut kehidupan Anda selanjutnya," timpal Joa.
"Hmm. Ini juga menyangkut kehidupanku di masa mendatang. Menurutmu, aku harus bagaimana?" Dimitri melemparkan pertanyaan kepada Joa yang sedang menahan kekesalannya. Tapi, Joa sadar diri. Dimitri tetaplah bosnya.
__ADS_1
"Uh, dia semakin lama semakin mempersulitku bernapas! Bagaimana ini? Mengapa harus Xander?"