My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 180 Penolakan Audy


__ADS_3

Sherin melingkarkan kedua tangannya di leher jenjang Joa. Wanita itu lalu mengecupnya mesra. Joa menarik pinggang Sherin dan membalas ciuman kekasihnya. Rasanya dia butuh Sherin untuk menenangkan pikirannya.


"I Love You," ucap Sherin setelahnya. Wanita itu melirik pengawal yang kini sudah memalingkan wajahnya.


Joa mengikuti arah pandang Sherin sebelum tersenyum. "Kita ini disandera. Kenapa bertingkah seperti Tuan Rumah?"


"Sayang, kita hanya disuruh menunggu. Mereka memberi kita tempat tidur yang nyaman dan makanan yang enak. Ini namanya berlibur." Sherin memandang ke depan. Saat ini mereka dihadapkan dengan pemandangan kota Roma yang sangat indah. "Jika tidak ada masalah ini, aku tidak tahu kapan bisa menginjakkan kakiku di tempat ini."


"Tapi keputusanmu pasti melukai hati Kak Xander." Joa segera berdiri di samping Sherin lalu memandang ke depan. "Dari cara dia memandang Audy, aku tahu kalau dia tertarik dengannya. Bahkan dia rela melindunginya dari orang-orang yang ingin menangkapnya. Bahkan aku sempat berpikir jika mereka berjodoh. Itulah yang membuatku untuk mengizinkannyq bersembunyi di markas White Snake."


"Maafkan aku. Tapi aku tidak mau berpisah lagi. Joa, berjanjilah padaku untuk tidak pernah meninggalkanku apapun yang terjadi. Aku bisa bertarung. Bawa aku ketika kau bertarung. Aku juga bisa mengurus urusan perusahaan. Aku janji tidak akan merepotkanmu asalkan kau tidak meninggalkanku sendiri."


Sherin memandang ke arah Joa dengan tatapan penuh harap. Dia sangat tergila-gila dengan Joa. Sampai-sampai berjauhan beberapa menit saja rasanya tidak rela. Sherin mau Joa selalu ada di depan matanya.


Joa mengangguk. "Maafkan aku. Setelah ini semua akan baik-baik saja." Sherin hanya menjawab dengan senyuman sebelum berhambur ke dalam pelukan Joa. Wanita itu memejamkan mata sembari menikmati hembusan angin yang kini menyelimuti mereka.


...***...

__ADS_1


Audy yang saat itu baru saja selesai sarapan dibuat kaget dengan kemunculan Xander. Pria itu terlihat sangat lelah. Meskipun aroma parfum bisa tercium jelas, akan tetapi Audy bisa membedakan mana orang yang belum pernah istirahat dan banyak masalah.


"Apa kau baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu? Apa Mr. Zeno sudah tertangkap?" tanya Audy langsung. Karena memang sejak kemarin hanya itu informasi yang ingin dia dengar kejelasannya. Pasalnya Joa dan Xander pergi menyusul Sherin tanpa memberitahu Audy. Jelas saja wanita itu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Ikut denganku!" Xander langsung menarik tangan Audy dan memaksa wanita itu berdiri. Audy beranjak. Namun dia segera menghempas tangan Xander karena pria itu terlihat berbeda.


"Kau mau membawaku kemana?" tanyanya penasaran.


"Ke Roma! Kau harus pulang!" ketus Xander. Tidak ada lagi nada sopan di sana. Pria itu benar-benar muak dengan semua masalah yang terjadi. Dia ingin masalah ini segera berakhir dan hidup normal seperti biasanya.


Audy menggeleng. Ada kekecewaan di sana. Xander sendiri sempat tidak tega. Akan tetapi hanya ini solusi untuk semuanya. "Tidak! Aku tidak mau pulang. Jika kau tidak mau melindungiku lagi, ya sudah. Aku akan pergi dan mencari tempat bersembunyi yang lain." Audy ingin segera pergi dari sana. Akan tetapi Xander segera menangkap tangannya. Bahkan menggenggamnya dengan erat.


"Kenapa? Kenapa kau berubah pikiran seperti ini? Untuk apa kau menolongku jika pada akhirnya kau berniat untuk memulangkanku!" teriak Audy hingga suaranya terdengar sampai beberapa meter. Pengawal White Snake yang ada di luar ruangan saling memandang. Mereka tahu kalau ada keributan di dalam. "Apa kau tahu. Aku sudah sangat mempercayaimu. Bahkan memandangmu seperti pahlawan. Tapi, apa yang aku dapat sekarang? Hanya kekecewaan!"


"Jika kau tidak ingin masalah ini terjadi, seharusnya kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi! Kau membohongi kami semua!" teriak Xander.


Sebelum naik pesawat memang Joa sempat mengirim pesan yang isinya adalah informasi tentang Audy. Bukan hanya Joa saja yang kaget. Bahkan Xander juga kaget ketika mengetahui kalau Audy adalah wanita manja yang suka berbuat sesuka hatinya.

__ADS_1


Tidak pernah peduli dengan perasaan orang lain. Dia tidak pernah mau hidup dengan penjagaan dari pengawal Cosa Nostra. Akan tetapi selalu membuat masalah yang merugikan Cosa Nostra.


Tidak jarang mereka harus bermusuhan dengan orang-orang penting hanya karena kelakuan Audy. Kali ini Leonzio tidak bisa memaafkan kesalahannya lagi hingga mengambil keputusan untuk menikahkan Audy dengan pria yang mencintainya.


Audy menelan salivanya dengan kasar. Bahkan napasnya sampai tersengal ketika teriakan Xander tepat di depannya. "Aku tidak membohongi kalian semua. Aku memang dijodohkan dengan seorang pria yang tidak aku sukai." Audy mengambil tangan Xander dan menatap pria itu dengan tatapan berkaca-kaca.


"Jika boleh berkata jujur. Aku siap jika menikah dengan anda Tuan. Meskipun anda tidak mencintai saya. Daripada harus menikah dengan pria yang tidak saya sukai. Pernikahan itu bukan sebentar. Seumur hidup kita harus tinggal satu atap dengan pasangan yang sama. Mungkin jika permintaan Kak Leonzio lain, aku masih bisa memakluminya. Tolong jangan paksa saya." Audy berlutut dihadapan Xander.


"Joa dan Sherin di sandera. Leonzio tidak akan mau membebaskan mereka sebelum aku berhasil membawamu pulang," jelas Xander pada akhirnya. Kali ini pria itu tidak marah-marah lagi. Dia semakin tidak tega melihat Audy.


Audy tertegun mendengar penjelasan Xander. Ini memang benar-benar posisi yang sulit. Audy sendiri merasa buntuh. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Tetapi menyerahkan diri bukan sebuah solusi. Meskipun harus mati, dia rela asal tidak menikah dengan pria pilihan kakak kandungnya.


"Mereka akan menikah beberapa hari lagi. Aku yang salah. Aku telah menjebak mereka hingga berada di lingkaran masalah yang tidak pernah berujung. Tadinya aku pikir niat baikku bisa membuat hidupmu dengan baik. Tidak aku sangka, keputusanku justru membuat celaka semua orang," sambung Xander lagi.


Audy masih membisu. Satu persatu buliran air mata mulai menetes. Dia terus menyalahkan kebodohannya.


"Bersiap-siaplah. Aku tunggu di depan. Pesawat akan berangkat setengah jam lagi." Xander segera pergi meninggalkan Audy. Dia tahu kalau Audy butuh waktu untuk sendiri.

__ADS_1


Audy menghapus air matanya. Dia memandang punggung Xander dengan wajah yang dipenuhi kecewa. "Kenapa harus aku?"


__ADS_2