
"Hai, Tiffany!" Viana berlari menuruni tangga ketika melihat Tiffany sudah datang. Wanita itu tersenyum lebar.
"Aku sudah menunggumu! Mana Quinn? Aku rindu sekali. Ya ampun semenjak kau menikah aku tidak berani untuk menghubungimu. Suamimu begitu menakutkan. Kita baru saja bertemu setelah sekian lama. Jadi maafkan aku jika aku terlalu berisik!" Viana memeluk Tiffany.
Ia seolah sedang mengungkapkan sebesar apa kerinduannya selama ini. Walaupun mereka sering kali bertukar kabar melalui pesan chat.
Lebih tepatnya saat Viana sudah menikah dan suaminya berasal dari keluarga konglomerat. Walaupun Viana menikah dengan seorang duda yang sudah memiliki anak seusia Quinn, nyatanya Viana terlihat baik-baik saja.
"Kau sepertinya sudah hidup lebih baik dari sebelumnya. Kau tahu aku sangat senang ketika kau datang ke rumahku. Selama ini aku hanya bertemu dengan suami dan anak-anakku saja. Kau tahu kan bagaimana sifatmu?" Tiffany duduk di sofa panjang. Pun juga sama halnya dengan Viana.
"Bagaimana aku bisa bertemu denganmu? Suamimu itu sangat menakutkan! Jadi aku menyelamatkan nyawaku untuk tidak bertemu denganmu. Walaupun aku sudah menahan diri akan tetapi sekarang aku lega. Kita bisa bertemu hari ini!" Viana menggenggam tangan Tiffany.
"Di mana suamimu? Aku belum berkenalan dengannya. Aku hanya membawa sedikit oleh-oleh untukmu dan suamimu. Tapi aku juga penasaran seperti apa putramu itu. Di pesan kau selalu mengatakan kalau putra sambung mu itu sangat tampan." Tiffany mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Akan tetapi tidak ada seorangpun di sana kecuali para pekerja di rumah itu yang berlalu lalang. Viana mengeluarkan ponselnya dari saku. Kemudian ia mencari foto putra sambungan.
"Dia sudah berusia 27 tahun. Suamiku sangat takut jika dia akan menjadi bujang tua. Sebenarnya kalau urusan personality dia hebat sekali. Kau tahu di usianya yang masih muda Itu dia sudah memiliki satu perusahaan baru. Walaupun tidak sebesar milik perusahaan ayahnya. Tapi itu lumayan karena dia bekerja keras sehingga bisa mendapatkannya. Lihat ini. Menurutmu dia bagaimana?" Viana memperlihatkan foto putra sambungnya. Dua mata Tiffany terlihat kaget.
"Dia tampan sekali! Di mana ibunya? Jangan bilang kau merebut suamimu dari istrinya." Tiffany memberikan tatapan penuh intimidasi untuk Viana.
"Tidak! Istrinya meninggal dunia. Karena itulah dia baru menikah sekarang. Tapi tenang saja itu sudah 15 tahun berlalu kok. Kami juga tidak sengaja bertemu," jelas Viana.
"Bagaimana dengan perlakuan suamimu dan anak sambungmu itu? Jangan sampai hubungan kalian tidak baik. Maaf, Viana. Tapi aku juga tidak ingin bila kau terluka karena ini. Aku tahu kau sudah bersusah payah untuk membuka hatimu. Hanya saja kau juga harus memikirkan perasaanmu sendiri." Tiffany khawatir pada Viana.
"Kau jangan khawatir, Tiffany. Aku baik-baik saja! Ah, pokoknya aku sangat bersyukur sekarang. Kau tahu seperti apa kehidupanku." Viana tersenyum tipis.
Tatapan mata Viana berubah sendu. Membuat Tiffany meringis karena mengingat kehidupan Viana yang tidak mudah. Sama seperti dirinya. Hanya saja, baru hari ini Viana memiliki kehidupan baik.
__ADS_1
"Mami, apakah ada tamu di luar? Jangan berbuat aneh-aneh. Papi sedang berada di luar kota. Mami tidak lupa kalau aku mengawasi Mami, kan? Eh?" Seorang laki-laki muda berbicara sambil memegang ponselnya.
Dia baru saja menyadari keadaan bahwa Viana tidak sendiri. Namun, laki-laki itu hanya tersenyum ramah. Meski begitu, Tiffany dapat merasakan aura menakutkan darinya.
"Xander! Jangan berpikiran buruk seperti itu! Sini, ikut mami. Ayolah!" Viana menarik tangan laki-laki yang bernama Xander.
"Mam!" rengek Xander.
"Hust! Dia mommy-nya Quinn! Calon mertua juga! Apa? Kenapa menatapku begitu? Jangan mengelak! Mami tahu kok kau suka sama foto yang mami kasih kan? Kayak mami nggak pernah muda saja! Sini! Pasang senyuman dong!" Viana berbisik di dekat Xander. Bahkan Viana menarik pipi Xander supaya tersenyum. Hingga wanita itu menyerah.
"Kenapa kau sangat mirip papi-mu? Senyum!" gerutu Viana.
"Viana, ada apa? Siapa dia?" tanya Tiffany.
"Ini putraku, Tiffany! Tampan kan?" Viana memainkan dua alisnya bergerak naik turun.
"Oh, ini putra sambungnya Vina? Lebih tampan aslinya daripada di foto. Sepertinya Quinn akan menyukainya. Tidak mungkin Quinn mengabaikan laki-laki tampan ini," batin Tiffany.
"Tiffany!" Viana menggoyangkan tubuh Tiffany. Membuat Tiffany tersadar dari lamunannya.
"A-apa?" gagap Tiffany.
"Kau melamun? Bagaimana? Tampan kan putraku?" ulang Viana.
"Iya, tampan," sahut Tiffany.
__ADS_1
"Tante sendirian?" tanya Xander.
"Aku hanya sendiri. Mungkin putriku akan datang sebentar,-" Belum juga Tiffany menyelesaikan ucapannya, terdengar suara Quinn yang keras memanggil Viana.
"Tante Viana! Tante Viana! Tante di mana? Mommy? Mom!" Quinn sangat kesal karena harus berada di tempat ini. Pekerjaannya masih banyak tapi Tiffany memintanya untuk segera datang.
"Quinn! Mommy di sini!" teriak Tiffany.
Bibir Quinn mengerucut. Kemudian Quinn datang menghampiri Tiffany. "Pekerjaanku banyak sekali, Mom!"
"Xander, kenalkan ini Quinn." Tiffany mengabaikan Quinn yang mengomel. Quinn yang sebelumnya tidak pernah menyadari kehadiran Xander, kini Quinn tersadar.
"Sekarang aku tahu. Aku harus bersikap baik pada mami. Apa aku boleh berharap kali ini?" batin Xander dalam hati.
Xander tersenyum. Laki-laki itu mengulurkan tangannya karena ingin berkenalan dengan Quinn sendiri. Namun, Quinn hanya memasang ekspresi datar dan tidak menyambut uluran tangan Xander. Pandangan Quinn kemudian beralih pada Tiffany.
"Mommy sudah selesai berbincang dengan Tante Viana? Kalau sudah, bagaimana jika kita segera pulang?" ucap Quinn.
Tubuh Xander terpaku terdiam di tempatnya. Ada seorang wanita yang tidak tertarik dengan wajah tampannya? Xander meneguk ludahnya sendiri. Sepertinya dia menjilat ludahnya sendiri kalau tebakannya salah.
"Dia semakin menarik," batin Xander.
"Pulang? Kenapa buru-buru sekali? Kau baru saja tiba sayang." Tanpa segan Viana merangkul lengan Quinn dan memaksanya masuk ke ruang tamu. "Ayo. Tante tadi sudah susah-susah buat kue untukmu. Kau tidak boleh pulang sebelum menghabiskan kue buatan Tante."
"Tapi aku sudah makan Tante," tolak Quinn. Namun pada akhirnya wanita itu tetap ikut melangkah masuk ke dalam. Sedangkan Xander, pria itu mengikuti dari belakang.
__ADS_1