
Dimitri berlari menuju kebawah. Disusul oleh Luca yang tidak ingin kalah. Dua pria itu berlari sekuat tenaga untuk mencari keberadaan Sherly.
"Kemana dia?" tanya Luca.
Luc mengedarkan pandangan ke seluruh tempat. Malam yang sunyi ini membuat orang-orang yang lalu lalang dapat terhitung jari. Tidak banyak memang, sehingga orang-orang itu tak terlalu menanggapi Luca dan Dimitri yang berlari sepanjang koridor rumah sakit.
"Aku yakin dia tidak jauh dari kita, Tuan. Mengingat dia hanya seorang wanita," ucap Dimitri.
"Tapi, biar begitu, dia pasti memiliki tujuan besar. Karena dia melakukannya dengan sangat rapi. Aku bahkan sampai tidak sadar." Luca menyipitkan mata. Mencoba mencari jejak Sherly yang kabur.
"Sejak dia memintaku membawa ke rumah sakit yang letaknya jauh dari perusahaan, aku sudah memperhatikan gerak-geriknya. Dia gelisah. Bukan mengkhawatirkan Quinn yang notabenenya sahabatnya. Ditambah lagi, ada gerak gerik yang membuat semuanya menjadi jelas. Hanya saja siapa yang menjadi dalang sesungguhnya? Benar hanya dia atau ada yang lain?" Setelah mengatakan hal itu, Dimitri berlari kencang.
Tidak salah lagi. Ia tadi melihat sebuah bayangan hitam bertepatan di dalam kegelapan. Luca yang melihat Dimitri berlari itu tidak tinggal diam. Pria berusia paruh baya itu berlari mengejar Dimitri. Mata Luca membulat saat mendapatkan todongan senjata api.
"Joa! Jangan gegabah! Dia orang yang ada di pihak kita. Aku tidak tahu jika kau ada di sekitar sini." Dimitri berjalan mendekati Joa dan mengeluarkan senjata api dari balik saku jasnya.
__ADS_1
"Kau membawa senjata api? Aku tidak punya." Luca menyipitkan mata ketika melihat jenis senjata api yang dibawa oleh Dimitri bukanlah jenis senjata api familiar..
"Desain senjata api milikmu mengapa berbeda dari yang kukenal selama ini?" tanya Luca.
"Tuan Dimitri mendesain sendiri. Lalu ada ukiran yang merupakan simbol milik kami." Joa menatap tidak suka ke arah Luca.
"Tuan, anak buahku mungkin tidak banyak. Karena memang sebelumnya aku ingin berjaga-jaga saja. Sayangnya, aku tidak pernah mengira jika ternyata ada orang yang ingin membunuh Quinn seperti ini. Bahkan musuh tiba-tiba datang menyerang entah dari mana asal mereka," ungkap Dimitri.
"Berikan aku senjata api. Aku tadi terlalu panik karena putriku pingsan lagi," pinta Luca.
"Tuan, awas!" Dimitri melompat dan menabrak tubuh Luca yang kekar.
Dua pria itu sontak tersungkur di lantai. Luca tentu saja mengumpat saat tubuhnya terasa sakit. Namun, belum sempat Luca memaki Dimitri, sebuah ledakan terjadi. Asap tebal nan hitam bergumul menjadi satu. Dimitri dan Luca pun menutup hidungnya setelah beberapa waktu terbatuk.
"Tuan, itu gas terkompresi!" seru Joa.
__ADS_1
"Jelas ada dalang yang memiliki pengaruh hebat sehingga bisa membuat kondisi seperti ini! Joa pimpin yang lain untuk menangkap musuh. Kita juga membutuhkan informasi nantinya. Berikan senjata api untuk Tuan Luca, Joa," perintah Dimitri.
"Maafkan saya, Tuan. Tapi, saya hanya memiliki senjata api berjenis revolver." Joa memberikan senjata api itu kepada Luca.
Dimitri kembali berlari. Pria itu melewati asap yang membumbung tinggi diakibatkan oleh ledakan tadi. Dimitri yang berlari kencang itu pun terpaksa tersungkur saat tanpa diduga melesat sebuah peluru. Untung saja, Dimitri dapat mendengar seseorang yang bergerak.
"Siapa itu?" Dimitri memasang kuda-kuda. Dia siap untuk bergerak bila musuh kembali beraksi.
"Argh!"
Dimitri tersentak kaget ketika dia mendengarkan suara yang dikenalinya. Otak Dimitri bekerja keras untuk mengingat suara itu.
"Si*l! Itu suara wanita bernama Sherly! Mengapa dia harus berteriak?" Dimitri berlari ke arah sumber suara. Ternyata Luca juga sedang berlari menuju ke arah yang sama dengannya.
"Tebakanku benar. Ada dalang yang berkuasa dibalik wanita tadi! Tapi siapa? Mengapa mereka menargetkan kematian Quinn? Padahal selama ini Quinn jarang bersentuhan dengan dunia hitam secara langsung." Luca membatin heran.
__ADS_1
Sebenarnya, apa yang terjadi?