
Joa berada di dalam toilet. Pria itu sedang membasuh wajahnya dengan air dingin. Ia ingin pesta ini segera berakhir agar bisa segera pulang. Pria itu sudah sangat bosan sampai-sampai dia tidak bersemangat lagi.
Joa mengambil ponselnya di dalam saku untuk memeriksa beberapa informasi penting yang baru saja disampaikan oleh anak buahnya. Pria itu menatap tajam ke arah cermin ketika mendengar seseorang mendekatinya.
Secara perlahan ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan memeriksa pistol yang selalu ia bawa. Tubuhnya mematung ketika melihat seorang wanita seksi berdiri di hadapannya. Bukan Joa namanya jika ia tidak berpikir kalau wanita itu adalah musuh.
"Hai tampan, kau sendirian saja?" goda si wanita.
Dengan balutan gaun panjang berwarna hitam, wanita itu memang terlihat sangat feminim. Belahan gaunnya yang terbuka sampai ke paha hingga bagian dadanya yang sengaja diekspos berhasil menggoda pria mana saja yang melihatnya. Tubuhnya yang wangi dan rambutnya yang bergelombang menambah kesempurnaan wanita tersebut.
Perlahan kakinya melangkah maju untuk mendekati Joa. Sepatu high heels hitam yang wanita itu kenakan menimbulkan suara yang begitu menegangkan. Ya, karena memang kini debaran jantung Joa tidak bisa dikondisikan lagi. Entah apa yang sebenarnya dirasakan pria itu. Entah takut, marah atau tergoda?
"Pria ini benar-benar sangat tampan. Bahkan tanpa dibayar sekalipun Aku rela tidur dengannya berulang kali. Tubuhnya kekar dan dia terlihat seperti laki-laki jagoan," batin wanita itu dengan penuh rasa kagum.
Joa masih berdiri tegap seperti patung. Bahkan ketika wanita itu sudah dekat dengannya dan siap untuk memberikan godaan. Dia tetap tidak bereaksi apapun seperti pria normal pada umumnya. Secuilpun tidak ada rasa ingin memuji wanita cantik dihadapannya.
Jemari lentik wanita seksi itu mulai berani untuk menyentuh kemeja yang kini dikenakan oleh Joa. Satu kancing berhasil ia buka, lalu wanita itu mendekati leher Joa untuk mulai menggodanga. Dijilatinya leher pria tangguh itu dengan senyuman puas. Lalu dia mendekati telinga Joa untuk membisikkan sesuatu."
"Tuan, apa Anda mau saya temani? Saya bisa memberikan Anda kepuasan tanpa batas. Saya juga -"
Wanita itu tidak bisa melanjutkan kalimat rayuannya. Dia menunduk ke bawah lalu melebarkan kedua matanya ketika melihat sebuah pistol kini melekat sempurna di perutnya yang rata. Joa masih menatapnya dengan tatapan penuh arti. Pria itu belum mengeluarkan satu kata pun.
"Tuan, setahu saya dalam permainan ranjang tidak pernah menggunakan pistol. Lalu untuk apa anda mengeluarkan benda mengerikan seperti ini?" Wanita seksi itu masih berpikiran positif. Dia sama sekali tidak sadar kalau pria yang berdiri di hadapannya adalah singa kelaparan yang kapan saja bisa melahapnya hidup-hidup.
Wanita itu memberanikan diri untuk menyentuh pistol yang masih ada di perutnya. Jantungnya berdebar tidak karuan. Bahkan keringat dingin mulai berkucur dengan deras. Dia kembali menatap mata Joa yang terlihat semakin menakutkan.
"Apa ini pistol beneran?" Tanyanya lagi untuk memastikan.
"Menurutmu?"
Pada akhirnya Joa mengeluarkan sebuah kata. Tapi tetap saja kata-kata yang keluar dari mulutnya hanya akan membunuh lawannya meskipun ia belum menembak.
"La ... Lalu. Un ... untuk ... Apa?" Wanita itu mulai gagap. Sampai-sampai dia lupa harus mengeluarkan kalimat apa lagi untuk merayu Joa. Wajahnya kini berubah pucat pasi. Bahkan untuk bergerak mundur saja ia sudah tidak berani.
"Untuk membunuh wanita murahan sepertimu! Pistol ini tidak mengeluarkan suara. Jadi tidak ada yang tahu kalau aku yang telah membunuhmu." Kali ini Joa yang mendekatkan bibirnya di telinga wanita itu. "Setelah kau tewas aku akan mencincang tubuhmu lalu membuangnya ke lautan. Bagaimana? Apakah kau setuju? Atau kau lebih suka jika tubuhmu di santap oleh serigala di hutan."
Wanita itu langsung melebarkan kedua matanya dan memberanikan diri untuk melangkah mundur. Namun semua terlambat karena Joa segera menjambak rambut wanita itu dan melekatkan senjata apinya di pelipis kanan si wanita.
"Ampun!" hanya itu kalimat yang akhirnya terucap.
"Ampun kau bilang?" sahut Joa. "Sudah terlambat!"
__ADS_1
"Saya tidak ada niat untuk mengganggu Anda. Maafkan saya jika kehadiran saya membuat anda marah Tuan." Wanita itu memejamkan matanya dengan tangan terkatup. Dia memohon. Berharap pria di hadapannya itu segera memberinya maaf dan membiarkannya pergi. Dia merasa sangat menyesal karena sudah mengusik Joa malam itu.
"Wanita sepertimu tidak bisa dibiarkan berkeliaran lebih jauh!" Joa semakin bersemangat untuk menghabisi nyawa wanita di depannya. Tetes demi tetes air mata mulai berjatuhan karena Wanita itu semakin ketakutan. Jika saja waktu bisa diputar kembali, mungkin ia tidak akan mau melakukan ide konyol ini.
"Ampun, Tuan. Saya akan melakukan apapun yang anda perintahkan!" tawar si wanita. Berharap Joa setuju.
"Apa tujuanmu? Siapa yang mengirimmu?" Joa masih ingin tahu sebenarnya apa niat utama wanita itu muncul dihadapannya.
"Seorang pria meminta saya untuk menggoda anda," jawab wanita itu. Namun sayangnya dia tidak tahu nama pria yang memberinya tantangan.
"Siapa?"
"Saya tidak tahu, Tuan!" sahut wanita itu apa adanya.
"Kalau begitu, ucapkan kata-kata terakhirmu. Aku benci penyusup licik sepertimu!" Joa mulai menarik pelatuk senjata apinya. Ketika ingin menembak, tiba-tiba pintu terbuka lebar. Robin berdiri di sana dengan napas tersengal.
"Joa, lepaskan wanita itu. Dia hanya bercanda!" ucap Robin panik.
Ketika Joa sadar kalau semua ini rencana yang dibuat oleh Robin, pria itu segera mendorong wanita tersebut. Joa memutar tubuhnya lalu menyimpan senjatanya dan mencuci tangan. Rasanya dia sangat jijik karena sudah menyentuh tubuh dan rambut wanita yang menggodanya tadi.
"Tuan, kenapa anda tidak bilang kalau-"
"Pergilah jika kau tetap ingin hidup!" potong Robin. Wanita itu segera pergi meninggalkan dua pria di dalam toilet.
"Darimana aku tahu kalau wanita tadi suruhanmu," jawab Joa dengan santainya.
"Lalu, jika kau tahu. Kau mau menghabiskan malam panas dengannya?" tanya Robin sedikit bersemangat.
Joa melirik Robin memalui cermin di depannya. "Apa untungnya kau melakukan semua ini? Kau tidak perlu mencarikanku pasangan hidup. Bukankah kau sendiri juga masih jomblo?"
Ucapan Joa berhasil membuat Robin membisu. Hingga pada akhirnya tangan kanan Dimitri itu memilih untuk diam dan membasuh wajahnya.
"Dimana Bos Dimitri? Berapa lama kita ada di sini?"
"Sebentar lagi ada pesta dansa setelah itu pesta kembang api. Mungkin setelah pesta kembang api baru pesta ulang tahun ini berakhir," jawab Robin cuek. Pria itu mengeringkan tangannya sebelum pergi begitu saja meninggalkan Joa.
"Tunggu!" ketus Joa hingga membuat Robin kembali berhenti.
"Ada apa?" Robin bahkan belum mau memutar tubuhnya untuk memandang Joa.
"Kau marah?"
__ADS_1
"Memangnya itu penting?" Robin berputar. "Joa, kau tahu sendiri kekurangan dalam diriku. Sampai mati aku tidak akan mungkin menikah. Karena jika aku menikah, aku hanya akan melukai wanita yang kunikahi. Berbeda denganmu. Kau ini pria normal. Jadi, sesekali nikmatilah hidup ini. Jangan hanya fokus dengan White Snake saja!"
Robin pergi meninggalkan Joa sendirian. Tidak lupa pria itu membanting pintu untuk memperlihatkan kalau dia marah.
Joa menaikan satu alisnya. "Ini pertama kalinya aku melihat dia marah. Lucu juga!"
***
"Dasar pria gila! Di goda wanita seksi mala wanitanya mau dibunuh. Jika terus seperti ini, dia akan hidup sendiri sampai tua!" umpat Robin sambil berjalan. Ternyata umpatan pria itu tidak juga berhenti. Dia terus mengumpat sampai rasa kesalnya terhadap Joa sirna.
Karena terlalu fokus mengomel, Robin tidak sadar kalau ada seorang wanita yang juga berjalan menuju ke arahnya. Hingga pada akhirnya mereka berdua tabrakan. Gelas yang ada di genggaman wanita itu mengenai kemeja Robin dan membuatnya basah.
"Maaf," ucap wanita itu dengan lebih rasa bersalah. "Saya akan membantu anda mengeringkannya."
Robin memandang wajah wanita itu sebelum mematung. Wanita itu seperti bidadari yang jatuh dari surga. Dia cantik, rambutnya pendek, baju yang dikenakan cukup sopan. Dan yang pasti, sikapnya sopan tidak murahan.
"Tuan, apa anda mendengar perkataan saya?" Wanita itu berusaha untuk mengajak Robin mengobrol. Akan tetapi pria itu hanya melamun saja seperti sedang memikirkan sesuatu. "Dasar pria aneh," umpat wanita itu pada akhirnya. Karena tidak juga mendapatkan respon, dia segera pergi meninggalkan Robin.
Ketika wanita itu tidak ada lagi dihadapannya, Robin baru tersadar. Pria itu segera berputar lalu mengejar wanita cantik itu dengan cepat.
"Nona, tunggu." Robin memegang tangannya. Tapi dengan cepat wanita itu memelintir tangan Robin hingga membuat Robin kesakitan. Dia tidak menyangka akan mendapatkan sambutan seperti itu.
"Jangan sentuh aku!" ketus wanita itu sebelum melepas tangan Robin.
Robin mengusap tangannya yang masih terasa sakit. Pria itu lalu memandang wanita cantik itu lagi. "Cantik-cantik kok galak!"
Bersamaan dengan itu, Dimitri juga ada di sana. Tadinya dia ingin menolong Robin ketika melihat pria itu disakiti. Namun pada akhirnya dia mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk menjadi penonton saja.
"Bukankah kau duluan yang cari masalah? Aku sudah minta maaf tetapi kau hanya diam saja seperti patung," ucap wanita itu. Pada akhirnya dia mengutarakan kekesalannya.
"Maafkan saya. Anda terlalu cantik sampai-sampai saya terpesona," jawab Robin.
Pria itu tidak bicara lagi ketika melihat Quinn berjalan menghampiri mereka. Wanita itu sendirian hingga membuat Robin mencari-cari keberadaan Dimitri.
"Sherin, apa yang kau lakukan di sini?" sapa Quinn. Dia memandang ke arah Robin sejenak sebelum memandang Sherin lagi. "Robin, dimana Joa? Tadi Dimitri mencarinya."
"Joa, Nona?" Robin mencari ke segala arah. Tetapi ternyata pria itu sudah menghilang entah kemana.
"Sherin, apa kau mengalami kesulitan? Kenapa kau bisa berdamai Robin di sini?"
"Kau kenal dengan pria ini?" Sherin terlihat kesal menatap Robin.
__ADS_1
"Tentu. Ayo kita ke tempat dansa. Aku ingin mengenalkan seseorang denganmu." Quinn segera merangkul Sherin dan membawanya pergi. Belum jauh dia kembali berhenti untuk bicara dengan Robin. "Jika kau bertemu Joa. Katakan padanya untuk segera menemui Dimitri."
Robin menunduk hormat. "Baik, Nona."