My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 113 Mereka Berteman


__ADS_3

selain menyediakan tempat untuk melangsungkan acara-acara penting seperti sebuah pesta pernikahan. Gedung hotel itu juga menyediakan bar di lantai paling atas. Kali ini Joa dan Sherin berada di bar yang ada di gedung Hotel itu.


Awalnya Joa sendiri juga kaget ketika Sherin mengajaknya ke tempat keramaian yang dipenuhi dengan musik dan lampu warna-warni seperti itu. Padahal sudah jelas-jelas tadi Sherin bilang sendiri kalau ia ingin bicara di tempat yang lebih tenang.


"Apa yang mau kita lakukan di sini? Kenapa tidak pergi ke cafe saja? Di sini sangat berisik," protes Joa. Namun tetap saja pria itu mengikuti kemana Sherin melangkah.


"Karena ada sesuatu di tempat ini." Sherin mengajak Joa untuk duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Wanita itu memesan dua gelas minuman. Dia seperti sedang mencari seseorang. Joa sendiri juga merasa ada yang disembunyikan Sherin malam itu.


"Sebaiknya Anda tidak perlu mengulur waktu lebih lama lagi, Nona. Cepat katakan kepada saya sebenarnya apa yang ingin anda katakan. Jika saya bisa menolong Anda pasti saya akan membantu anda," ucap Joa. Pria itu tidak mau terlalu lama berada di sana karena tugas utamanya adalah menjaga Dimitri. Di tambah lagi dia tidak mau sampai Xander salah paham.


"Sudah kubilang sebentar lagi. Kau pasti akan tahu sebenarnya pertolongan seperti apa yang ingin aku minta padamu," jawab Sherin. Lagi-lagi wanita itu memandang ke samping. Setelah menemukan yang dia cari, Sherin mengatur posisi duduknya.


Tidak menunggu terlalu lama tiba-tiba seorang pria muncul dan mendekati Sherin. Pria itu sama sekali tidak peduli dengan kehadiran Joa di sana. Dia duduk di kursi kosong yang ada di samping Sherin lalu dengan beraninya memegang tangan Sherin. Sungguh lancang memang.


"Lepaskan!" ketus Sherin.


Bersamaan dengan itu Sherin berusaha untuk melawan. Namun pria itu sama sekali tidak takut dengan perlawanan Sherin. Dia justru menertawai Sherin.


"Nona, Apa anda mau foto syur anda itu tersebar ke media? Jangan galak-galak dengan saya karena kelemahan Anda ada di genggaman tangan saya," ancam pria itu dengan senyuman penuh arti. Saat ini Sherin ingin merintis karirnya di kota tersebut. Dia tidak mau sampai semua orang memandangnya sebagai wanita murahan.


"Foto syur?" batin Joa.


Pria itu segera beranjak dari kursi yang ia duduki. Namun dengan cepat Sherin mencegahnya. Karena memang bukan itu yang diinginkan Sherin. Dia bisa saja melawan pria itu sendirian dan mengalahkannya. Namun yang dibutuhkan Sherin adalah foto dirinya yang kini ada di tangan pria itu.

__ADS_1


Beberapa hari yang lalu tanpa sengaja Sherin menabrak seorang pria di sebuah mall hingga membuat seluruh pakaiannya basah. Wanita itu terpaksa membeli baju baru dan mengganti pakaiannya yang basah dengan baju baru tersebut.


Tanpa disadari oleh Sherin kalau seseorang sedang merekam dan memotret dirinya yang saat itu tanpa busana. Setelah itu pria yang sekarang ada di samping Sherin muncul dan memberitahu foto itu kepada Sherin. Dia mengancam Sherin dengan foto tersebut hingga akhirnya Sherin tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan? Kenapa kau terus saja mengancamku dengan foto itu?" tanya Sherin tanpa memandang. Dia sudah sedikit lega melihat Joa hanya diam saja di sana. Karena rencananya bisa berantakan jika Joa sampai memukul pria itu.


"Cantik, aku ingin kau melayaniku malam ini. Bagaimana? Aku akan memberikan semua foto dan video itu setelah kau selesai melayaniku," ucap pria itu dengan mesumnya hingga membuat Joa mulai geram.


"Baiklah. Tapi, aku tidak bisa percaya denganmu begitu saja. Bagaimana kalau kau menipuku. Lalu foto dan video yang asli masih kau simpan di suatu tempat?" tanya Sherin.


Pria itu tertawa lagi. "Aku tidak berbohong. Kau bisa mempercayaiku cantik."


Sekarang Joa mengerti apa yang harus dia lakukan. Pria itu kembali duduk di kursinya lalu meneguk minuman yang baru saja tiba. Begitupun dengan Sherin. Mereka akan menjebak pria itu. Setelah Sherin berhasil mendapatkan foto dan video tersebut, mereka berdua akan menghajar pria itu habis-habisan.


...***...


Sherin dan pria itu berjalan menuju ke salah satu kamar hotel. Sedangkan Joa hanya mengawasi dari kejauhan. Sekarang bukan waktunya untuk Joa bertindak. Pria itu sendiri juga yakin tanpa pengawasan darinya pasti Sherin bisa menjaga dirinya dengan baik.


"Oke, sekarang hanya kita berdua yang ada di kamar ini. Cepat berikan padaku video dan foto itu," ucap Sherin sembari mengulurkan tangannya.


Pria itu tertawa mendengarnya. "Nona, jangan terlalu terburu-buru. Kita masih memiliki banyak waktu."


Ketika pria itu ingin menyentuh tubuh Sherin, wanita itu berusaha menghindar. "Aku ini hanya seorang wanita lemah. Sudah pasti aku tidak bisa mengalahkan pria jagoan seperti anda. Kamar ini juga sudah di kunci. Bahkan ruangannya juga kedap udara. Saya minta untuk memperlihatkan foto dan video itu agar saya tenang. Setidaknya saya tidak berpikiran kalau sekarang anda pasti membohongi saya." Sherin menunjukkan ekspresi wajah ketakutan. Hal itu membuat pria yang ada di depannya percaya begitu saja.

__ADS_1


Pria itu berjalan mendekati jendela lalu mengambil sesuatu dari dalam laci. Ia memamerkannya di depan Sherin. "Ini dia. Sekarang apa kau percaya?"


Pria itu memamerkan foto Quinn. Bahkan dia juga memutar video yang ada di ponselnya. "Oke, agar kau percaya, aku akan menghapus videonya. Tetapi untuk foto-foto seksimu ini. Aku akan menghapuskan setelah kau melayaniku!"


Sherin menggeram karena pria di depanku sudah melihat tubuh polosnya. Sekarang adalah waktu yang tepat baginya untuk memberi pelajaran kepada pria tersebut.


Tiba-tiba saja Joa muncul dari kaca. Pria itu Lang mengikat leher pria tersebut dan merebut foto dan juga ponselnya.


"Lepaskan! Apa yang kau lakukan?" tanya Pria itu sambil menahan sakit.


"Katakan padaku. Apa kau masih menyimpan file video ini di tempat lain?" tanya Joa.


"Tidak. Hanya ini saja," jawab pria itu ketakutan.


"Kau yakin?" Joa mendorong pria itu ke pinggiran jendela. "Aku akan melemparmu ke bawah jika kau berani membohongiku."


"Ampun, Tuan. Ampun. Apa yang saya katakan benar. Memang saya sudah tidak memiliki filenya lagi. File yang asli ada di ponsel ini." Pria itu menunjuk ponsel yang kini ada di genggaman Joa.


"Oke, selamat tinggal!" Dengan santainya Joa mendorong pria itu hingga terjun ke bawah.


Sherin melipat kedua tangannya sambil geleng-geleng kepala. "Apa seperti ini cara para mafia menyelesaikan masalah?"


"Ini yang paling cepat karena waktu kita tidak banyak," jawab Joa. Mereka berdua tertawa bersama setelahnya.

__ADS_1


"Ayo kita turun. Quinn pasti mencariku."


__ADS_2