
"JOA!" celetuk Sherin kaget ketika mengetahui kalau Joa yang sudah mengunci kedua tangannya.
Tadinya wanita itu berpikir kalau ada seseorang yang berniat jahat terhadapnya. Ketika melihat Joa wanita itu bisa merasa sedikit tenang. Namun sayangnya rasa tenang itu tidak berlangsung lama karena Sherin kembali menyadari kekhilafan yang sudah dia perbuat tadi.
"Anda mau ke mana, Nona? Bukankah acaranya belum selesai. Kenapa Anda kelihatan sangat terburu-buru sekali?" tanya Joa penuh selidik. Pria itu masih belum mau melepaskan tangan Sherin agar wanita itu tidak kabur.
"Itu bukan urusanmu. Aku juga akan segera kembali ke sini. Ada beberapa urusan penting yang harus aku selesaikan. Dan kau tidak perlu mengetahuinya karena kau bukan siapa-siapa bagiku," sahut Sherin dengan begitu ketus. Dia berusaha tetap menunjukkan wajah galaknya agar Joa tidak curiga. Meskipun kini hati kecilnya masih merasa ketakutan.
"Benarkah karena ada urusan penting?" Tetap saja Joa tidak percaya. Pria itu menunduk dan melihat sepatu yang kini dikenakan oleh Sherin. Ada seulas senyum kecil dibibir Joa. Kini pria itu telah tahu kalau seseorang yang sudah menguping pembicaraan mereka adalah Sherin. Dia hanya perlu memikirkan cara yang tepat untuk membuat Sherin bungkam dan melupakan semua yang sudah dia dengar.
Ketika Joa telah lengah, Sherin segera menarik tangannya dengan begitu kuat hingga cengkraman tangan Joa terlepas. Wanita itu bahkan segera mendorong Joa agar menjauh dari tubuhnya. "Jaga sikapmu! Jangan bertindak kurang ajar seperti ini!" ketus Sherin. Sekarang wanita itu siap untuk bertarung jika Joa lagi-lagi berniat untuk menahannya pergi.
"Maafkan saya, Nona. Saya sama sekali tidak memiliki niat untuk menghalangi anda pergi. Sebenarnya saya hanya ingin memberikan mutiara ini kepada Anda. Bukankah ini milik anda?" Joa mengambil tangan Sherin dan meletakkan mutiara itu di atas telapak tangannya.
Sherin segera menggenggam tangannya. Setelah itu ia memperhatikan mutiara tersebut dengan seksama. Bahkan Sherin sendiri tidak tahu kalau mutiara itu adalah bagian dari hiasan sepatu yang kini ia kenakan. Kini wanita itu menatap bingung ke arah mutiara yang ada di tangannya. Sejenak dia berpikir kalau ini akal-akalan Joa saja agar ia bisa lebih lama di sana.
"Apa Anda tidak ingat di bagian mana mutiara ini terletak?" tanya Joa ketika ia menangkap ekspresi kebingungan di wajah Sherin.
"Dari mana kau tahu kalau benda ini milikku? Bukankah setiap wanita pasti akan memiliki hiasan mutiara seperti ini?" tanya Sherin ingin tahu. Dia sama sekali tidak teliti dengan benda-benda yang ia kenakan. Di tambah lagi sepatu yang kini ia kenakan adalah barang yang dipilihkan langsung oleh Viana. Sherin memakainya karena menurutnya cocok dengan gaun yang kini ia kenakan.
Joa memandang ke arah lain sekilas sambil tersenyum sebelum menatap wajah Sherin lagi. "Tadi saat saya dan Robin sedang bercerita tiba-tiba seseorang menguping pembicaraan kami," ucap Joa dengan begitu serius.
Mendengar kalimat yang baru saja dikatakan oleh Joa membuat ekspresi wajah Sherin berubah. Hal itu menambah keyakinan Joa kalau sebenarnya wanita yang tadi menguping mereka adalah Sherin.
"Lalu cerobohnya wanita itu dia menabrak vas bunga yang ada di sana hingga akhirnya kami menyadari keberadaannya. Sayangnya ketika kami mencari wanita itu dia sudah tidak ada di posisinya menguping tadi," sambung Joa lagi.
"Tunggu. Dari mana kalian tahu kalau dia adalah seorang wanita?" tanya Sherin dengan ekspresi wajah yang tenang. Wanita itu berusaha keras agar tidak terlihat mencurigakan di depan Joa.
"Karena kami menemukan sebuah mutiara di sana." Tiba-tiba saja Joa menunduk untuk melihat ke arah sepatu yang kini dikenakan Sherin. Hal itu membuat Sherin semakin kebingungan. "Lalu salah satu mutiara yang ada di sepatunya terlepas," sambung Joa lagi dengan tatapan tajam favoritnya.
Sherin melebarkan kedua matanya. Wanita itu lalu memalingkan wajahnya ke samping. "Tapi aku tidak mendengar apapun yang kalian ucapkan," dusta wanita itu berharap Joa percaya.
Joa tersenyum mendengarnya. "Mudah sekali membuat anda mengaku. Padahal saya belum bilang kalau wanita itu adalah anda."
Sherin mengepal kuat tangannya karena kesal. "KAU!"
...***...
Di dalam gedung, Quinn terlihat sangat bahagia ketika melihat Nenek Su dan yang lainnya muncul dihadapannya. Wanita itu sama sekali tidak menyangka kalau nenek sudah yang warga pulau lainnya akan datang ke pesta pernikahannya.
__ADS_1
"Apa kau yang mengundang mereka?" tanya Quinn sambil memandang wajah suaminya.
Dimitri mengangguk. Dia merangkul pinggang Quinn. "Apa kau bahagia sekarang?"
"Selama aku ada di sisimu aku akan selalu merasa bahagia. Terima kasih atas hadiah tidak terduga ini. Aku tidak menyangka kalau sekarang aku bisa bertemu lagi dengan mereka," jawab Quinn. "Ini benar-benar kejutan yang sangat berharga."
"Nona, selamat," ucap Nenek Su.
"Nek, terima kasih." Quinn segera memeluk Nenek Su. Dia tidak lagi memanggil wanita tua itu dengan sebutan Tante. Nenek Su sendiri yang memintanya memanggil dengan sebutan Nenek Su.
"Nona, ini ada hadiah kecil dari kami semua. Kami doakan semoga anda dan Tuan Dimitri segera diberi momongan. Hidup bahagia selamanya sampai maut memisahkan." Nenek Su memberikan sebuah kado kepada Quinn. Karena tidak mau melihat Quinn kerepotan, Dimitri meminta Robin untuk mengambil kado itu dan menyimpannya di suatu tempat.
"Terima kasih, Nek. Apa Nenek dan yang lainnya sudah makan? Ada banyak makanan dan minuman di sana. Kalian semua bisa mencicipinya," gawat Quinn sambil menunjuk meja di mana makanan dan minuman dihidangkan.
"Ya, Nona. Tentu. Tanpa ditawari juga kami pasti akan ke sana. Sekali lagi saya ucapkan selamat kepada anda dan Tuan." Nenek Su memandang ke arah Dimitri.
"Terima kasih Nenek Su," ucap Dimitri dengan bibir tersenyum. Setelah itu rombongan nenek Su dan yang lainnya pergi untuk mencari makanan.
Kini di hadapan Dimitri dan Quinn ada Xander dan Dokter Fei yang juga tidak mau ketinggalan. Mereka ingin mengucapkan selamat kepada sahabat mereka seperti yang lainnya.
"Akhirnya kau menikah juga. Tinggal kami berdua yang belum mendapatkan jodoh. Tadinya aku pikir akulah yang lebih dulu menikah dibandingkan kalian berdua," ucap Dokter Fei sambil tersenyum. Dia menepuk lengan Dimitri lalu memandang Quinn dan mengulurkan tangan. "Selamat, Nona. Semoga anda dan Dimitri bahagia selalu."
"Itu semua sudah tugas saya sebagai seorang Dokter."
Dokter Fei menyingkir dan memberikan ruang kepada Xander untuk mengucapkan selamat kepada Dimitri dan juga Quinn. Xander mematung sejenak sambil memandang ke arah Dimitri. Begitupun dengan Dimitri yang tidak mengucapkan satu kata pun ketika Xander berdiri di hadapannya. Hingga tidak lama kemudian dua pria itu saling berpelukan dan tertawa keras.
"Selamat berbahagia. Dimitri, aku minta padaMu untuk menjaga Quinn dengan sebaik mungkin. Lindungi dia dari bahaya. Jadikan Dia wanita paling bahagia yang ada di dunia ini. Jangan sekali-sekali membiarkan air mata menetes di wajahnya," pesan Xander kepada Dimitri.
"Aku janji padamu. Aku pasti akan selalu membahagiakan Quinn," jawab Dimitri. Pria itu melepas pelukannya. Xander berjalan ke arah Quinn. Pria itu menatap Quinn untuk beberapa saat sebelum akhirnya mereka berpelukan.
"Selamat Quinn!"
"Terima kasih atas segalanya Xander. Kau akan selalu menjadi sahabat terbaikku!" ucap Quinn sembari menepuk pundak Xander.
Quinn dan Xander melepas pelukan mereka. Setelah itu Xander memandang ke arah Dimitri lagi. "Kami berdua belum ada makan sejak tadi pagi. Mungkin kami akan menghabiskan beberapa makanan yang dihidangkan di sana," ucap Xander penuh basa-basi agar suasana di sana tidak lagi menegangkan.
"Kau boleh menghabiskan semuanya jika perutmu sanggup!" sahut Dimitri tanpa rasa keberatan sedikitpun.
"Ayo kita makan," ajak Dokter Fei. Dua pria itu segera pergi meninggalkan pengantin.
__ADS_1
Setelah itu muncullah Viana dan juga Jeremy. Diikuti oleh tamu undangan lainnya. Quinn dan Dimitri terlihat sangat sibuk saat itu.
Robin yang sejak tadi menunggu kembalinya Joa mulai terlihat gelisah. Ketika pergi Joa tidak memberitahu Robin mau pergi ke mana. Robin takut jika terjadi sesuatu terhadap Joa saat ini.
"Apa terjadi sesuatu sampai-sampai Joa tidak segera kembali?" tanyanya yang hanya berani di dalam hati saja.
...***...
Di tempat lain, ternyata Joa sudah ada di dalam mobil Sherin. Kini pria itu mengemudikan mobil sport berwarna putih milik Sherin menuju ke suatu tempat. Sherin yang duduk di bangku penumpang terlihat kesal melihat kelakuan Joa.
"Sebenarnya kau ini mau membawaku ke mana? Apakah kau mau menculikku hanya gara-gara aku menguping pembicaraan kalian? Kesalahanku itu sama sekali tidak fatal. Jika aku tidak menceritakan hal tersebut kepada semua orang itu berarti rahasia ini hanya diketahui oleh kita bertiga saja," ucap Sherin sambil memandang ke arah Joa.
"Saya tidak suka bicara dalam mobil. Lebih baik kita cari tempat yang lebih aman untuk membicarakan masalah ini. Saya membawa anda pergi bukan karena berniat untuk menculik anda, Nona. Tetapi saya tidak mau ada yang melihat kita dan mencurigai kita," jawab Joa tanpa memandang.
Sherin menjadi kesal mendengar jawaban Joa. "Kau ini benar-benar pria yang begitu merepotkan. Siapa juga yang mau mencurigai kita!"
Joa memberhentikan mobil yang ia kemudikan di sebuah Padang rumput yang sangat luas. Dia segera turun dan duduk di depan mobil. Sherin juga mengikuti Joa lalu ia berdiri tidak jauh dari posisi Joa berada.
"Ya sudah, jangan banyak mengulur waktu. Sekarang cepat katakan sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku!" ketus Sherin.
"Awalnya aku juga kaget ketika mendengar pengakuan dari Robin kalau sebenarnya dia adalah pria impoten," ucap Joa membuka obrolan mereka.
"Lalu apa hubungannya denganku? Kenapa kau menceritakan masalah sensitif seperti ini kepadaku?" tanya Sherin bingung.
"Nona, sebenarnya Robin sangat mencintai anda. Dia jatuh cinta dan tertarik pada anda sejak pertama kali bertemu. Tetapi dia tidak berani mendekati anda lebih jauh lagi karena dia sadar diri. Sebagai pria impotent Robin lebih menutup diri. Dia tidak mau mengenal wanita dan tidak mau membuka hatinya untuk seorang wanita."
Sharin diam sejenak ketika ia mengetahui kalau sebenarnya Robinlah yang lebih menyukainya.
"Nona, Apa Anda tidak tertarik terhadap Robin? Penampilannya tidak buruk. Saya berani jamin kalau dia adalah pria yang setia." Tanpa disadari Joa, kini justru dia yang ingin menjodohkan Robin dengan Sherin.
"Maaf. Tapi aku tidak menyukai Robin. Bukan karena dia pria impoten tapi memang sejak awal aku tidak tertarik dengannya. Jadi tolong jangan memaksaku untuk membuka hatiku agar mau menerimanya sebagai kekasihku!" jawab Sherin dengan jelas.
"Baiklah saya juga tidak akan mungkin memaksa anda untuk mencintai Robin. Setidaknya anda sudah tahu siapa yang sebenarnya suka pada anda." Joa beranjak dari posisinya ingin kembali masuk ke dalam mobil. Tetapi tiba-tiba saja Sherin memegang tangan pria tangguh itu.
"Apa maksud dari perkataanmu tadi?" tanya Sherin dengan wajah serius.
"Tidak ada. Saya hanya ingin memberitahu anda kalau Robin mencintai anda. Apa itu salah?"
Sherin melepas tangan Joa lalu berdiri di hadapan pria itu. Posisinya sangat dekat hingga mereka menghirup udara yang sama. "Lalu bagaimana denganmu? Apakah kau tidak tertarik padaku? Apakah kau tidak menyukaiku?"
__ADS_1