My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 201 Pertarungan


__ADS_3

Joa dan Aldo saling memukul satu sama lain. Mereka juga berusaha untuk menusuk belatih yang kini ada di genggaman mereka masing-masing. Kali ini siapapun yang kalah, dia akan tewas. Hanya itu solusi akhirnya.


Pasukan White Snake dan anak buah Aldo sudah berhenti bertarung. Dengan wajah sangat kelelahan mereka memandang bos mereka yang kini bertarung dengan sengit.


Mansion mewah yang semula tertata rapi kini berantakan. Ada banyak ceceran darah di lantai. Belum lagi mayat-mayat yang tergeletak. Entah itu dari pihak Joa maupun Aldo.


Aldo yang masih belum mau membebaskan Joa memikirkan berbagai cara untuk mengalahkan musuh di depannya. Termasuk meminta bantuan kepada rekan-rekannya yang kini sudah dalam perjalanan. Jika semua berkumpul, bisa dipastikan umur Joa tidak akan panjang lagi.


"Aku tidak akan membiarkan orang-orang yang menghalangi jalanku tetap hidup. Kali ini kau pasti mati ditanganku!" umpat Aldo dengan penuh dendam.


Meskipun tidak tahu sebenarnya apa hubungan pria di depannya ini dengan Xander. Akan tetapi Aldo tahu pria itu ada dipihak Xander. Siapapun orang yang memihak Xander, maka harus mati di tangan Aldo.


Joa dan Aldo sama-sama petarung. Meskipun sudah cukup lama bertarung, tapi tidak ada terlihat tanda-tanda mereka akan menyerah. Justru pertarungan itu terlihat semakin sengit ketika anak buah mereka terus saja melempar senjata yang berbahaya dan mampu meregang nyawa.


Aldo lagi-lagi berusaha menusukkan belatih ke arah perut Joa. Tetapi dengan cepat Joa menghindar dan membalas Aldo. Kini Joa justru mengincar tangan Aldo. Semakin banyak cedera, maka Joa akan semakin mudah untuk mengalahkannya.


Sekali tarik saja belatih panjang yang tajam itu berhasil menggores tangan kiri Aldo. Darah segar mengucur dengan deras. Ada seulas senyum puas di bibir Joa. Kini dia sudah membuktikan siapa yang paling cerdas di antara mereka.


Anak buah Aldo melempar sebuah rantai. Joa memandang rantai itu dan berusaha untuk merebutnya. Nyatanya Aldo lebih cepat. Pria itu memegang kuat rantai berwarna hitam itu lalu memutar-mutarnya di udara. Kali ini Aldo siap mencabik-cabik tubuh Joa.


Joa melangkah mundur menghindari rantai itu. Sedikit saja terkena, maka akan ada koyakan pada kulitnya. Joa tidak mau sampai hal itu terjadi. Dia memutar otaknya lagi. Berpikir cepat agar bisa segera memenangkan pertarungan.


"Habislah kau!" umpat Aldo. Pria itu siap mencabik tubuh Joa.


Joa tidak memiliki pilihan lain selain menangkap ujung rantai itu dan menggenggamnya dengan sangat kuat. Pada akhirnya mereka saling memperebutkan rantai tersebut. Kali ini kekuatan otot mereka yang dipertaruhkan.


"Kenapa aku tidak bisa menahan rantai ini," batin Aldo. Dia memandang tangannya yang mengeluarkan darah semakin deras. Karena kehilangan banyak darah, tubuhnya terasa lemas. Bahkan untuk mempertahankan rantai itu dia tidak akan sanggup lagi.


Joa tahu kalau kini lawannya mulai menyerah. Ini kesempatan emas bagi Joa untuk menang. Secara diam-diam Joa mengeluarkan belatihnya dan melemparkannya ke arah Aldo.


Aldo yang tidak mau sampai cedera segera menghindar. Detik itu juga Joa berhasil merebut rantai yang tadinya ingin dijadikan Aldo senjata.


"Menyerahlah!" ujar Joa. Pria itu memandang anak buah Aldo yang seperti siap menyerang karena mereka tahu Aldo sudah kalah.


Aldo memang terlihat kebingungan sekarang. Namun dia tidak mau menyerah. Di waktu yang cepat pria itu mengeluarkan senjata apinya. Senjata yang seharusnya tidak digunakan ketika sedang bertarung seperti ini. Tidak peduli jika harus dibilang curang. Yang ada dipikiran Aldo saat ini adalah kemenangan.


DOR DOR


Joa sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghindar. Tetapi peluru itu meluncur dengan sangat cepat hingga akhirnya bagian tangan Joa terkena tembakan. Keadaan menjadi tidak kondusif karena pasukan White Snake tidak terima dengan gaya pertarungan yang dilakukan oleh Aldo dan mereka pun kembali melakukan penyerangan.


Joa melangkah mundur dan memandang ke arah Aldo yang juga meringis kesakitan. Entah apa yang kini ada di dalam pikiran mereka. Yang pasti mereka harus segera menyelesaikan pertarungan ini dengan cara membunuh.


Hingga tiba-tiba saja Joa juga mengangkat senjata apinya dan ingin menembak Aldo. Aldo yang tidak mau kalah juga mengangkat senjata apinya. Mereka berdua saling memandang dengan tatapan yang begitu tajam. Secara perlahan, keduanya menarik pelatuk senjata api. Hingga tidak lama kemudian....

__ADS_1


DOR DOR


Joa kaget melihat segerombolan orang yang baru saja tiba. Kali ini semua orang yang ada di pihak Leonzio dan Aldo sudah tiba dan siap membantu mereka mengalahkan Joa.


Joa menurunkan senjata apinya. Pria itu mematung melihat senjata yang begitu canggih ada di genggaman musuh.


"Gawat!"


...***...


Di sisi lain, Dimitri baru saja tiba di lokasi tempat Nichole berada. Melihat Nichole sudah tergeletak dengan wajah babak belur membuatnya merasa bersalah. Pria itu segera berlari membantu Nichole.


"Nichole, apa kau masih bisa mendengarku?" tanya Dimitri khawatir. Karena memang saat itu Nichole seperti sudah tidak sadarkan diri. Dimitri bahkan menepuk pelan pipi adik iparnya itu.


"Kak Dimitri? Kakak sudah datang?" Nichole mengukir senyum bahagia. Setidaknya seseorang akan membalas perbuatan Leonzio. Dia sekarang selamat karena kakak iparnya sudah tiba.


"Bawa Nichole dan obati lukanya," perintah Dimitri ke bawahannya.


"Baik, Bos." Mereka segera membawa Nichole masuk ke dalam mobil. Setelah mobil itu melaju cepat, Dimitri memandang ke depan. Dia melihat Leonzio yang duduk dengan santai di mobilnya. Pria itu meminum minuman beralkohol langsung dari botolnya.


"Jika kau berani, hadapi aku!" tantang Dimitri.


Leonzio tersenyum kecil mendengarnya. Pria itu masih belum mau mempedulikan Dimitri dan anak buahnya yang jumlahnya hanya hitungan jari. Belum bertarung juga dia sudah yakin kalau mereka pasti akan menang.


"Serahkan wanita itu maka semuanya akan berakhir," sahut Leonzio pada akhirnya.


"Tidak! Kami menginginkannya. Dia juga tidak mau ada di sini," sahut Dimitri. Dia sudah tahu wanita yang dimaksud Leonzio adalah Audy. Seorang wanita yang kini sangat dicintai oleh Xander.


"Tapi dia akan menikah. Kalian sudah mengambil keputusan yang salah. Mengusik ketenangan orang lain, sangat tidak dibenarkan! Karena jika kau berani melanggar aturan yang ada, siap-siap untuk menyesal!" ujar Leonzio masih dengan ekspresi wajah yang sangat tenang.


Leonzio turun dari mobil lalu berjalan mendekati Dimitri. Semua bawahan Leonzio terlihat waspada. Senjata api ada di tangan mereka. Dalam hitungan detik saja mereka bisa mengalahkan Dimitri dengan mudah.


"Aku tidak pernah menyesali keputusan yang aku ambil. Termasuk ketika aku memutuskan untuk bermusuhan dengan anda Leonzio!" sahut Dimitri dengan sorot mata yang tenang.


Leonzio memberi kode kepada bawahannya untuk menyerang. Kali ini dia ingin membuat Dimitri lelah sebelum menyerang pria itu dengan kemampuan yang ia miliki.


Bukan hanya anak buahnya saja yang jumlahnya semakin bertambah. Tetapi ternyata Leonzio sudah menyiapkan bahan peledak untuk mengalahkan Dimitri.


Memang di antara mereka tidak pernah ada perselisihan. Tetapi Leonzio tahu, kalau White Snake sangat kuat dan terkenal di dunia hitam. Dia tidak mau kedepannya White Snake akan menjadi saingannya dan mengalahkan bisnis besar yang selama ini dia bangun. Dalam kesempatan ini Leonzio memanfaatkan keadaan untuk membuat pemimpin White Snake tewas. Dengan begitu, White Snake hanya tinggal nama yang tidak perlu dikenang lagi.


Satu persatu anak buah Leonzio justru kalah dibuat Dimitri. Meskipun belum mengeluarkan seluruh tenaganya, tapi dia sudah berhasil melumpuhkan musuh. Kini Dimitri memandang ke arah Leonzio dan menantang pria itu untuk maju.


"Apa kau takut melawanku? Kau sengaja mengirim mereka untuk membuatku lelah? Tapi aku tidak selemah itu. Hadapi aku maka kau akan tahu kemampuanku yang sebenarnya Leonzio!"

__ADS_1


Dimitri terus saja membuat Leonzio panas. Dia ingin Leonzio sendiri yang turun tangan melawannya. Dimitri ingin mengetahui seperti apa kemampuan Leonzio.


"Kau akan menyesal sudah mengatakan kalimat seperti itu Dimitri!"


Leonzio kali ini mulai mendidih melihat Dimitri yang begitu sepele memandangnya. Dia melempar granit yang sejak tadi dia bawa. Prinsip Leonzio tidak mau mengeluarkan banyak tenaga jika dia masih memiliki alat untuk mengalahkan musuhnya.


DHOM DHOM.


Suara ledakan terdengar dengan jelas. Dimitri berhasil menghindar. Karena ledakannya tidak terlalu besar, pria itu masih memiliki kesempatan berlindung. Namun kali ini dia tidak bisa melawan Leonzio lagi. Dari segi jumlah pasukan saja sudah kalah. Jalan satu-satunya memastikan Nichole dan Joa aman sebelum kabur.


"Cari informasi tentang Joa dan Nichole," perintah Dimitri kepada bawahannya.


Pria itu segera pergi untuk mencari informasi. Namun sayangnya dia terkena tembakan yang dikeluarkan Leonzio. Orang suruhan Dimitri gagal mencari informasi.


Dimitri mengumpat melihat pemandangan itu. Satu persatu anak buahnya tergeletak tidak bernyawa. Sebenarnya sebelum tiba di Roma, Dimitri sudah bisa membaca situasi di sana. Mereka masuk ke kandang musuh. Musuh yang mereka temui juga komplotan besar yang kuat. Tidak semudah itu untuk mengalahkan mereka. Namun menyerahkan diri juga bukan solusi.


Dimitri mengeluarkan bom asap yang diselipkan Quinn sebelum mereka berpisah. Hanya itu satu-satunya senjata yang bisa dihandalkan oleh Dimitri saat ini. Dia kembali fokus ke mobil yang terparkir tidak jauh dari posisinya sembunyi. Rencananya Dimitri akan kabur dengan mobil itu.


Ponsel Dimitri berdering. Ini merupakan sesuatu yang sangat tidak terduga. Joa menelepon Dimitri.


"Bagaimana? Apa kau baik-baik saja?" tanya Dimitri sambil sesekali mengintip anak buahnya yang masih bertarung. Dia tetap waspada.


"Bos, kita kumpul di titik pertemuan. Saya dalam perjalanan ke sana. Semua komplotan mafia yang ada di Italia akan berkumpul untuk membantu Aldo dan Leonzio. Kita tidak akan menang melawan mereka. Kita dikepung," jelas Joa sebelum memutuskan kembali panggilan teleponnya.


Dimitri segera menyimpan ponselnya. Sebelum terlambat dia akan kabur dari sana. Pria itu membayangkan wajah Quinn hingga membuatnya semangat dan bertekad untuk pulang dalam keadaan selamat.


DHOMMMM


Dimitri kaget ketika mendengar suara ledakan yang sangat dahsyat. Ternyata satu-satunya mobil yang ingin dikendarai Dimitri kini sudah meledak. Harapan Dimitri pupus sudah. Dia harus memutar otak untuk menemukan ide yang baru.


Pria itu berdiri dan mengeluarkan dua senjata apinya. Kini dia menembak dengan membabi buta. Peluru yang ia keluarkan sama sekali tidak ada yang terbuang. Semua berhasil mengenai sasaran. Hingga saat tembakan itu di arahkan ke arah Leonzio. Pria itu harus melompat untuk menghindarinya.


Di detik itu adalah momen yang tepat bagi Dimitri untuk kabur. Dia melempar bom asap yang menjadi senjata terakhir sebelum berlari kencang menuju ke kebun yang Dimitri sendiri tidak tahu kebun apa itu. Yang pasti lokasinya sangat mendukung jika dijadikan tempat bersembunyi.


Leonzio tahu kalau ini adalah rencana Dimitri untuk kabur. "Tembak dia!" perintah Leonzio. Dia tidak mau sampai targetnya lolos. Mereka semua menembak ke sembarang arah.


Dimitri terjatuh ketika kakinya terkena tembakan. Pria itu melihat darah segar berkucur deras. Sedikit lagi di depan ada kebun jagung. Ya, setelah dilihat dengan jarak yang lebih dekat Dimitri tahu kalau itu adalah kebun jagung.


Pria itu merangkak menuju ke kebun jagung hingga akhirnya berhasil. Sayangnya darah yang dikeluarkan Dimitri seperti meninggalkan jejak. Cepat atau lambat keberadaannya pasti akan ditemukan.


Dimitri menekan nomor Joa. Dia ingin mengirim lokasinya berada untuk meminta bantuan. Namun sialnya tiba-tiba jaringan hilang. Seperti keadaan yang sudah diatur oleh seseorang.


Dimitri segera menggenggam senjata apinya. Dia tahu kalau anak buah Leonzio sudah semakin dekat. Langkah kaki itu membuatnya semakin waspada. Hingga saat dia berputar dan siap untuk menembak, gerakannya terhenti.

__ADS_1


"Daddy?"


__ADS_2