My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 119 Liburan


__ADS_3

Sherin terlihat gelisah sampai-sampai berjalan mondar mandir di bandara. Berulang kali dia memandang ke arah pintu masuk. Namun Joa tidak juga memperlihatkan batang hidungnya.


"Dimana dia? Apa dia ingkar janji?" umpat Sherin kesal. Tadi malam Sherin sudah mengirimkan pesan singkat ke email Joa. Dia memberi tahu pria tangguh itu untuk datang jam 8 pagi di bandara. Namun ini sudah jam 07.55 tetapi Joa tidak juga memperlihatkan batang hidungnya. "Fix ini. Dia nggak datang!"


Sherin segera memutar tubuhnya dan berjalan ke pesawat. Karena belum memiliki pesawat pribadi, Sherin harus mengikuti jadwal penerbangan yang sudah ditentukan. 


Sherin terus berjalan sambil mengumpat sampai akhirnya tiba di dalam pesawat. Wanita itu duduk di kursi yang sudah dia pesan sebelum melipat kedua tangannya. Kedua matanya berkaca-kaca. Ini pertama kalinya dia kagum dengan seorang pria tetapi justru pria itu menyakiti hatinya.


"Sepertinya aku memang tidak ditakdirkan untuk memiliki pasangan hidup. Apa aku akan sendiri sampai mati?" Sherin memandang ke luar jendela ketika pesawat mulai lepas landas. Kursi yang ada di samping Sherin masih kosong. Wanita itu masih berusaha menenangkan diri agar air mata tidak menetes lagi.


Tiba-tiba seorang pria dengan topi hitam duduk di samping Sherin. Wanita itu sama sekali tidak peduli. Bahkan ketika pramugari menawarkan minuman Sherin menolaknya dan memaksanya untuk segera pergi.


"Apa kau mengajakku hanya untuk menjadikanku pajangan?"


Sherin mengernyitkan dahi mendengar suara Joa ada di dekatnya. Wanita itu segera menarik topi hitam pria yang duduk di sampingnya. Kedua matanya berseri indah ketika melihat Joa ada di hadapannya.

__ADS_1


"Joa? Kau datang?" Karena terlalu senang akhirnya Sherin memeluk Joa dengan erat. Wanita itu sama sekali tidak peduli kalau kini Joa terlihat kaget dan tidak mau dipeluk olehnya. "Kau kemana saja? Aku pikir kau tidak datang!"


"Aku sudah menunggumu cukup lama di pesawat ini. Tetapi kau tidak juga muncul!" protes Joa gantian. Jelas saja pria itu tidak mau disalahkan.


"Darimana kau tahu kalau aku memesan kursi di sini? Kau seharusnya menungguku di pintu masuk!" protes Sherin. Kini dia akan menjalani liburan yang menggembirakan.


Di sisi lain, Quinn dan Dimitri baru saja tiba di tempat liburan mereka. Sebuah pulau pribadi yang sangat indah. Kedatangan mereka di sambut oleh penjaga vila yang ada di sana. Kali ini tidak terlihat Joa ataupun Robin yang seharusnya menjaga Dimitri secara pribadi. Dimitri ingin bukan madunya dengan Quinn mereka lalui tanpa kemunculan orang lain di sekitar mereka.


"Selamat datang, Tuan. Nona. Ini kunci vilanya. Selamat bersenang-senang," ucap pengurus vila. "Saya akan datang setiap pagi untuk membersihkan vila. Tapi jika anda membutuhkan bantuan saya, saya tinggal di rumah yang tidak jauh dari vila ini."


Ketika Quinn ingin berjalan, tiba-tiba Dimitri memegang tangannya dan menahannya agar tidak menjauh. 


"Ada apa?"


Tiba-tiba saja Dimitri menggendong Quinn hingga membuat Quinn kaget. "Dimitri, aku bisa jalan sendiri!" pekiknya.

__ADS_1


"Lebih romantis seperti ini istriku," sahut Dimitri. 


"Baiklah suamiku. Ayo kita ke kamar," sahut Quinn hingga membuat Dimitri tertawa lepas setelahnya.


Saat mau melangkah tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Dimitri yang kesal segera menurunkan Quinn dan membuka pintu itu dengan marah.


"Ada apa!" umpatnya kesal.


"Maaf, Tuan. Apa ini barang anda?" tanya si penjaga vila.


Dimitri memandang tas milik Quinn yang kini di pegang oleh pria itu. Kali ini Dimitri tidak marah lagi. Dia segera mengambil tas Quinn.


"Pergilah. Ingat, kembali lagi besok pagi!" ucap Dimitri memperingati. Pria itu segera menutup pintu.


penjaga vila hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Dimitri. "Dasar pengantin baru."

__ADS_1


__ADS_2