My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 83 Perjuangan Berat


__ADS_3

"Dimitri jangan pergi. Dimitri."


"Kak, bangunlah. Itu hanya mimpi kak." Nichole mengguncang tubuh Quinn agar wanita itu tidak terus meneriakkan nama Dimitri. Tidak lama setelah itu Quinn segera membuka matanya dengan napas tersengal. Wanita itu seperti baru saja berlari mengelilingi lapangan luas.


"Nichole," ucapnya saat napasnya sudah stabil.


"Kak, minum dulu ya." Dengan hati-hati Nichole memberikan segelas air putih kepada Quinn. Dia juga membantu Quinn untuk setengah duduk.


"Dimana Mommy? Apa mommy belum kembali juga?"


"Kak, tadi Kak Xander sempat ke sini. Dia meminta kita untuk tetap tenang. Mungkin tidak lama lagi-"


Nichole tidak bisa menyelesaikan kalimatnya ketika melihat Xander dan Dokter Fei muncul dengan wajah khawatir.


"Apa harus sekarang?" tanya Dokter Fei.


"Kita gak punya waktu lagi. Kita harus pergi saat musuh tidak menyadari keberadaan kita," jawab Xander sambil melangkah cepat.


"Tapi kita harus ke mana? Di kota ini, inilah rumah sakit yang paling lengkap. Jika Quinn dalam keadaan darurat, dia harus segera ditangani. Dengan adanya alat-alat di rumah sakit ini, Quinn bisa segera di tolong. Kita juga harus pergi dengan menggunakan apa? Bukan kau bilang musuh berkumpul di lantai bawah dan siap menangkap kita kapan saja. Kita akan celaka jika sampai ketahuan akan kabur," jelas Dokter Fei. Sebenarnya dia merasa pusing melihat kondisi seperti ini.


"Soal itu sudah aku pikirkan sejak tadi," jawab Xander. Dia memandang Quinn lalu berjalan mendekatinya.


"Quinn, apa kau tidak bisa berjalan?" tanya Xander dengan hati-hati agar tidak melukai perasaan Quinn.


"Aku bisa berjalan," jawabnya dengan penuh percaya diri.


"Maksudku kau tidak boleh berjalan, bukan tidak bisa berjalan." Perjelas Xander lagi.


"Lalu apa rencanamu? Di mana Mommyku? Bukankah kau tadi pergi hanya untuk mencari Mommyku. Kenapa tiba-tiba muncul dan memiliki niat untuk membawaku pergi dari rumah sakit ini. Bagaimana kalau Mommyku kembali dan kebingungan mencari keberadaanku."


"Rumah sakit ini sudah dikepung para musuh. Aku tidak menemukan satupun pengawal yang seharusnya bertugas untuk menjagamu. Entah apa yang sudah terjadi di sini. Tadinya aku ingin menghubungi Dimitri dan memberitahu keadaan di sini. Tetapi aku tahu kondisinya di sana juga tidak baik-baik saja. Sebaiknya kita tidak menambah beban pikiran mereka dan memikirkan cara untuk kabur dari rumah sakit ini tanpa sepengetahuannya," jawab Xander. Dia melirik Dokter Fei yang terlihat setuju dengan pendapatnya.

__ADS_1


"Oh iya tadi pengawal yang menemuiku sempat mengatakan sesuatu kepadaku," sela Nichole. Dia memandang ke arah Quinn dan diam. Seperti ada rasa takut untuk mengatakannya.


"Ada apa? Cepat katakan. Jangan buang-buang waktu seperti ini," protes Quinn.


"Dia sempat bilang kalau semua pengawal Daddy di jebak oleh pengawal yang dikirim oleh Dimitri," sambung Nichole lagi.


"Tapi itu tidak mungkin!" sangkal Xander.


"Ya, itu tidak mungkin. Karena Dimitri mengirim orang untuk menjaga Quinn bukan untuk mencelakainya," sambung Dokter Fei.


"Aku juga memiliki pemikiran yang sama seperti anda. Tetapi saya di sini hanya menyampaikan apa yang dikatakan oleh pengawal bayaran Daddy," ucap Nichole tanpa berniat mengalahkan siapapun.


"Sepertinya seseorang ingin memfitnah Dimitri dan membuat hubungan keluarga kita dengan Dimitri buruk," ucap Quinn dengan wajah sedih. "Nichole, di mana laptopku? Cepat berikan aku laptop. Kali ini aku pasti bisa mengalahkan mereka dengan kemampuanku."


Secepat kilat Nichole mengambil laptop Quinn lalu membuka layarnya dan meletakkannya di atas meja yang ada di hadapan Quinn. Xander dan Dr Fei terpaksa harus menunggu sampai Quinn menyelesaikan pekerjaannya. Mereka tidak bisa memaksa Quinn untuk pergi sekarang juga.


"Hanya virus murahan seperti ini sangat mudah untuk disingkirkan. Baiklah sekarang Aku ingin tahu siapa yang sudah berani mengirimkan virus ke laptopku," ucap Quinn dengan wajah kesal.


"Semua CCTV yang ada di rumah sakit dirusak secara manual. Bukan dengan menggunakan program. Aku jadi tidak bisa untuk melihat keberadaan mommy dengan menggunakan CCTV. Kira-kira ponsel siapa yang aktif agar aku bisa mengetahui keberadaan mommy. Ini cukup sulit karena aku tidak memiliki banyak nomor telepon. Aku harus menyelidiki satu persatu orang yang ada di rumah sakit ini."


"Ada beberapa nomor cleaning service yang kebetulan aku simpan. Mungkin nomor ini berguna bagi anda, Nona." Dokter Fei segera memberikan nomor cleaning service yang tadi ia katakan. Quinn cepat-cepat menyimpan nomor itu dan mulai melakukan pemrograman. Dalam hitungan detik saja kini ada senyum manis di bibir Quinn. Hal itu membuat tiga pria yang ada di depannya kembali bernapas lega.


"Apa cara seperti itu berhasil?" tanya Xander penasaran.


"Kakakku ini orang hebat. Jadi jangan diragukan kemampuannya. Dia bisa melakukan segala cara dengan menggunakan cara yang di luar akal pikiran kita," puji Nichole.


"Seseorang menangkap mommy dan memaksa mommy untuk naik ke atas lift. Dia sudah menunggu mommy sebelum mami masuk ke dalam. Oke sekarang kita lihat ke mana dia membawa Mommy." Quinn kembali melihat menggunakan nomor telepon yang lain. Kali ini dia cukup kesulitan karena penculik tidak lagi berada di rumah sakit. Quinn beralih ke CCTV yang ada di pinggiran jalan dan depan depan toko.


"Ini aneh," ucap Quinn dengan wajah sedih.


"Ada apa kak?" Nichole jadi penasaran.

__ADS_1


"Orang yang menculik Mommy menggunakan tato White Snake. Bukankah itu berarti orang yang membawa Mommy adalah pengawal dari White Snake?"


"Apa? Kau yakin?" tanya Xander masih tidak percaya.


"Mommy dibawa ke sebuah rumah kosong yang ada di tengah hutan. Aku tidak tahu apa rencana mereka selanjutnya. Semoga saja mereka tidak mencelakai Mommy untuk saat ini. Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan Mommy. Kondisiku benar-benar lemah," ucap Quinn dengan wajah sedih


Dia juga tidak bisa mengandalkan adiknya karena Nichole baru saja belajar ilmu bela diri. Tentu saja remaja itu belum bisa dilepas untuk melawan musuh yang kekuatannya sangat hebat. Bahkan setara dengan kemampuan Luca.


"Beritahu aku di mana alamat lengkapnya. Biar aku yang menyelamatkan tante Tiffany," ucap Xander menawarkan diri.


"Apa kau bisa?" tanya Dokter Fei ragu. "Bagaimana kalau kita telepon polisi saja? Dengan begitu kita tidak perlu merasa khawatir lagi. Polisi memiliki senjata yang lengkap dan mereka bisa dijamin untuk menyelamatkan Tante Tiffany.


"Kalau komplotan yang menculik tante Tiffany adalah komplotan mafia, tidak akan berhasil jika hanya menggunakan polisi," sahut Xander.


"Aku masih bisa berjalan. Aku akan menyelamatkan Mommy," ucap Quinn dengan penuh keyakinan.


"Nona, sebaiknya jangan memiliki pemikiran seperti itu dan jangan pernah terlintas sedikitpun untuk bertarung sebelum kondisi Anda benar-benar pulih. Semakin banyak bergerak racun yang ada di tubuh anda akan cepat sekali menyebar dan itu akan membahayakan nyawa anda sendiri," tolak Dokter Fei.


"Apa yang dikatakan oleh Dokter Fei itu benar. Aku setuju dengannya dan aku harap kakak tidak keras kepala dalam kondisi seperti ini. Kakak juga harus ingat kalau semua orang berkorban hingga separah ini hanya demi keselamatan Kakak. Jika terjadi sesuatu kepada kakak pengorbanan semua orang hanya akan sia-sia saja. Apakah kakak mau hal seperti itu terjadi?"


Hanya Nichole yang berani mengatakan kalimat sekejap itu di hadapan Quinn. Sedangkan dua pria lainnya memilih diam dan memikirkan rencana lain.


"Kita sudah cukup banyak membuang-buang waktu. Sebaiknya sekarang kita segera tinggalkan rumah sakit ini. Quinn, aku harus menutup tubuhmu dengan kain putih dan kita bertiga harus menyamar sebagai seorang nenek-nenek. Kita buat kondisinya seperti sedang mengantarkan jenazah menuju ke ambulan," ucap Dokter Fei. Hanya itu cara yang bisa dia pikirkan saat ini.


"Apa harus dengan cara horor itu, dok?" tanya Nichole.


"Hanya itu satu-satunya cara yang bisa membuat musuh tidak sadar. Dia tidak mungkin membuka kain putih yang sudah pasti berisi orang yang sudah tidak bernyawa," jelas Dokter Fei lagi.


"Kalau begitu cepat urus semuanya. Aku ingin segera pergi dari rumah sakit ini agar pikiranku bisa lebih jernih lagi. Aku sangat tidak tenang mengetahui Mommy dalam bahaya," ucap Quinn tidak sabar.


Saat semua orang telah sibuk memakai kostum penyamaran mereka, Xander terlihat mematung sambil memikirkan keadaan yang sekarang terjadi. "Aku tahu betul bagaimana anak buah Dimitri. Mereka semua orang-orang yang setia bahkan rela mati hanya demi menyelamatkan nyawa Dimitri. Lalu kenapa sekarang mereka berkhianat? Sebenarnya apa yang sudah terjadi. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk menyampaikan masalah ini kepada Dimitri. Tetapi aku harus tetap bersabar agar tidak mengganggu Dimitri di sana," gumam Xander di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2