
"Oke," jawab pria bertato dengan senyum sinis di bibirnya. Kedua matanya sempat melirik ke arah Sherin sebelum memandang ke Joa.
Melihat musuhnya melirik Sherin dengan tatapan penuh arti membuat Joa cemburu. Pria itu semakin panas dan sudah tidak sabar untuk bertarung. Namun ketika dia baru maju satu langkah Sherin tiba-tiba menarik tangan pria itu dan menahannya.
"Aku tidak setuju. Aku tidak mau ada pertumpahan darah di sini." Tatapan Sherin terlihat memohon. Wanita itu tidak mau sampai Joa terluka. Apalagi jumlah mereka kalah banyak dengan musuh.
"Kita harus mengambil tindakan agar tidak mati sia-sia. Jika kau ingin aku baik-baik saja tetap berdiri di sini dan jangan pergi kemanapun. Apapun yang terjadi." Joa menarik paksa tangan yang sempat dirangkul oleh Sherin lalu berjalan maju untuk menantang pria bertato tersebut. Meskipun tidak tega berlalu kasar seperti itu terhadap Sherin. Tetapi kini Joa juga tidak memiliki pilihan lain.
Pria bersenjata lainnya yang datang bersama dengan pria bertato itu melangkah mundur dan membuat posisi setengah lingkaran. Senjata yang mereka bawa mereka arahkan ke Sherin untuk berjaga-jaga jika Joa sampai melakukan kecurangan.
Baik joa maupun pria bertato itu masih belum saling menyerang. Mereka masih menunggu lawan untuk menyerang duluan. Si pria bertato menunjukkan seni bela diri kungfu sedangkan Joa menggunakan seni bela diri karate.
"Gawat. Bahkan lawan Joa kali ini terlihat sangat berpengalaman. Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa diam saja," gumam Sherin di dalam hati.
Joa yang sudah tidak sabar dan sudah sangat-sangat geram memutuskan untuk menyerang duluan. Hingga akhirnya pria itu langsung terjatuh ketika pria bertato tersebut langsung menendangnya dengan gerakan kuda-kuda.
__ADS_1
"Joa!" teriak Sherin panik. Detik itu Sherin semakin yakin kalau dia sudah jatuh cinta pada Joa. Dia tidak mau melihat Joa celaka.
Nalurinya sebagai seorang wanita yang sedang jatuh cinta membuatnya segera melangkah maju. Namun belum sempat Sherin berhasil mendekati Joa tiba-tiba wanita itu kembali berhenti ketika semua pria bersenjata siap untuk menembaknya.
Joa memuntahkan darah yang keluar begitu saja akibat tendangan keras yang diberikan oleh lawannya. Dia tersenyum kecil melihat tetesan darah yang kini terlihat jelas di atas permukaan pasir. Sejenak ia memandang ke arah Sherin dan memperingati wanita itu agar tidak mendekat sebelum akhirnya kembali berdiri dan menyerang lawannya dengan begitu ganas.
Kali ini Joa tidak mau kalah lagi. Pria itu sangat waspada ketika musuhnya memberi serangan demi serangan meskipun Joa masih belum memiliki kesempatan untuk membalas pukulan pria itu. Akan tetapi setidaknya ia masih bisa mempertahankan kekuatannya.
Pria bertato itu terus saja melakukan gerakan kungfu namun ketika ia ingin memukul bagian perut Joa tiba-tiba Ia mendapat pukulan di wajahnya. Joa dengan gerakan cepat berhasil menghajar wajah pria itu hingga ia terjatuh. Ada senyum puas dari wajah Joa ketika melihatnya lawannya lumpuh meskipun hanya sejenak.
"Lumayan," ucap pria bertato. Pria itu kembali berdiri dan melakukan penyerangan.
Kali ini pria bertato itu tidak dengan menggunakan tangan kosong lagi. Dia memiliki belati yang cukup tajam. Sedikit saja Joa lengah maka benda tajam itu akan mendarat di dadanya. Tetapi Joa tidak kehilangan akal. Dia juga memiliki belatih favoritnya dan kini dia sudah mengeluarkannya dan menggunakan benda tajam itu sebagai senjata untuk membela diri.
Cukup lama dua pria tangguh itu bertarung dan bergelut di atas permukaan pasir. Hingga pada akhirnya segerombolan pria kembali muncul dari dalam hutan. Kemunculan mereka membuat pria bertato itu mengakhiri pertarungannya. Dia melangkah mundur lalu menunduk hormat. Sedangkan Joa masih berdiri di sana. Pria itu mengatur nafasnya.
__ADS_1
"Joa, apa kau baik-baik saja?" tanya Sherin khawatir. Dia segera merangkul lengan Joa.
Pria bertato itu mengangkat tubuhnya. Dia menatap pria yang kini berjalan mendekatinya. Hingga saat pria itu tiba, si pria bertato ingin memberikan penjelasan. Sayangnya bosnya itu tidak menerima penjelasan darinya.
"Peiyu? Kau masih hidup sayang?" tanya pria yang baru saja muncul sembari memandang ke arah Sherin.
Sherin menatap ke arah Joa dengan wajah bingung. "Apa maksud dia?"
"Dia Sherin. Bukan Peiyu. Anak buah anda ini sudah salah paham. Kami terdampar di pulau ini. Tidak ada niat untuk mengusik ketenangan kalian semua. Jika diizinkan, kami ingin pergi tanpa meninggalkan masalah," ucap Joa. Pria itu berusaha untuk bernegosiasi dengan seseorang yang ia anggap adalah pimpinan dari rombongan pria bersenjata tersebut.
"Kau mau menipuku?" Pria itu tidak terima. Dia melangkah mendekat karena ingin sekali memegang Sherin
Namun Joa segera menyembunyikan wanita itu di belakang tubuhnya. Jelas saja Joa tidak mau sampai terjadi sesuatu terhadap Sherin.
"Jika anda masih nekat untuk menyentuh wanita saya maka saya tidak akan segan-segan untuk memberi pelajaran kepada anda," ancam Joa dengan wajah yang serius.
__ADS_1
Mendengar perkataan dari Joa membuat pria bertato tadi kembali emosi. Rasanya ia sudah tidak sabar ingin menghajar Joa lagi. Namun sang pemimpin segera mencegahnya. Pria itu mengangkat satu tangannya sebagai kode agar tidak ada satu orang pun yang berani mengambil tindakan tanpa perintah darinya.
"Siapa nama anda, Tuan. Saya rasa kita juga tidak perlu bermusuhan." Pria itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum. "Perkenalkan. Nama saya Zack Lee. Saya pemilik pulau ini."