
Dokter Fei memeriksa denyut nadi Sherly dengan ekspresi wajah yang tidak terbaca. Pria itu meletakkan tangan Sherly lalu memeriksa bagian lain dengan stetoskop yang ia miliki. Hingga tidak lama kemudian pria itu sudah mengambil sebuah keputusan.
"Jika kalian ingin wanita ini tetap hidup, dia harus dibawa ke rumah sakit. Namun jika kalian ingin wanita ini segera mati ya kalian biarin saja dia di sini." Dokter Fei membereskan barang-barang medis yang ia bawa. "Keputusan ada di tangan kalian. Bukankah kalian sendiri tahu di mana alamat rumah sakitku?"
"Apa tidak bisa dirawat di sini saja? Beri dia obat apapun itu agar dia tidak mati. Bos Dimitri tidak mau dia mati secepat ini," pinta Joa hingga membuat Dokter Fei kembali geleng-geleng kepala.
"Kalian ini pria yang kejam tapi sayang kejamnya setengah-setengah. Kalau niat untuk menyiksa dan membiarkannya mati, kenapa harus memanggil dokter? Untuk apa kalian peduli dengan tawanan kalian sendiri? Biarkan saja dia mati dengan sendirinya maka masalah akan selesai. Toh jika dibiarkan hidup tidak ada jaminan kalau dia tidak akan balas dendam terhadap kalian semua."
Dokter Fei berusaha memperingati Joa agar mereka tidak sampai salah mengambil keputusan. Awalnya pria itu juga malas ketika dipanggil ke markas White Snake untuk memeriksa keadaan Sherly. Hanya mendengar namanya saja sudah membuatnya muak. Dikarenakan wanita bermuka dua itu hampir saja mereka semua kehilangan Dimitri untuk selama-lamanya. Meskipun Dokter Fei terkenal baik dan pemaaf, tapi kali ini pria itu tidak respect lagi terhadap Sherly. Bahkan sama sekali tidak memiliki niat untuk menyembuhkannya.
"Aku sendiri juga tidak tahu kenapa Bos Dimitri masih mempertahankan nyawa wanita ini. Dia bilang agar Nona Quinn yang memberinya pelajaran. Tapi belum juga mereka sempat bertemu wanita ini sudah sekarat dan nyawanya hampir tidak bisa tertolong," jawab Joa apa adanya. Detik ini pria itu juga tidak bisa mengambil keputusan apakah Sherly dibawa ke rumah sakit atau tidak.
"Oke baiklah. Semua terserah pada kalian saja. Aku tidak mau ikut campur. Tugasku hanya menolong ketika kalian membutuhkan bantuanku. Sekarang aku mau pulang. Sekarang sudah malam sekali." Dokter Fei melirik jam di tangannya. "Tidak. Tapi sudah hampir pagi. Aku juga butuh istirahat. Kabari aku jika kalian berubah pikiran dan membawa wanita ini ke rumah sakit."
"Terima kasih, dok. Oh iya kalau boleh saya tahu kenapa malam ini Anda tidak datang ke pesta ulang tahun Nona Quinn? Bukankah waktu itu Saya dengar sendiri kalau Nona Quinn mengundang Anda secara langsung."
"Bukannya aku tidak mau datang tetapi kebetulan ada pasien kritis yang harus aku tangani sendiri. Aku sudah sampaikan alasan ini kepada Dimitri. Semoga saja pria itu tidak lupa untuk menyampaikannya kepada Quinn," jawab Dokter Fei sambil terus berjalan.
Joa mengangguk. "Oke. Kalau gitu mari saya antar ke depan."
Joa mengantar Dokter Fei untuk pergi meninggalkan markas White Snake. Setelah pria itu pergi, Joa kembali masuk ke dalam. Dia pergi ke ruangan tempat di mana Sherly berbaring. Karena wanita itu demam tinggi pada akhirnya Joa memindahkannya ke tempat yang lebih layak. Bahkan meminta anak buahnya untuk memberikan minum.
"Quinn. Maafkan aku. Aku menyesal Quinn. Tolong maafkan aku," igau Sherly.
Seperti itulah kalimat yang terus saja diucapkan oleh Sherly selama wanita itu tidak sadarkan diri. Hanya nama Quinn yang ada di dalam pikirannya. Tidak ada kata lain yang paling sering ia ucapkan selain kata maaf.
"Wanita sepertimu seharusnya berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan yang nantinya akan merugikan dirimu sendiri," sahut Joa kesal.
Joa mengambil ponsel di dalam sakunya. Dia melirik ke arah jam di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi. Pria itu sebenarnya merasa sedikit ragu untuk menghubungi Dimitri di jam seperti sekarang. Tetapi mau bagaimana lagi? Dia harus segera menelepon atasannya itu agar mereka bisa mengambil keputusan tentang Sherly.
Tidak lama kemudian panggilan telepon itu tersambung meskipun belum terdengar suara Dimitri di kejauhan sana. Saat ini Joa sudah melakukan kesalahan yang fatal. Tetapi ketika ditelepon di waktu yang sangat pagi, Dimitri sama sekali tidak protes. Itu menunjukkan kalau kini suasana hati Big Boss itu sedang baik-baik saja.
"Bos, Dokter Fei bilang kalau Sherly harus segera dibawa ke rumah sakit jika kita ingin dia tetap hidup. Obat yang diberikan Dokter Fei tidak akan bisa menyembuhkan penyakitnya karena wanita Ini membutuhkan penanganan medis secara khusus. Tetapi jika anda ingin wanita ini mati, saya tidak akan membawanya ke rumah sakit. Kita biarkan saja sampai dia menghembuskan nafas terakhirnya," ucap Joa dengan penuh panjang lebar.
__ADS_1
"Dimana dia? Beritahu aku alamatnya!"
Joa mematung mendengar suara Quinn yang mengangkat teleponnya di seberang sana. Dia kembali menatap layar ponselnya untuk memastikan kalau nomor telepon yang ia hubungi adalah nomor Dimitri.
Hal itu cukup aneh karena tiba-tiba saja Quinn yang mengangkat telepon Dimitri. Padahal mereka berdua belum menikah. Tidak mungkin sepasang kekasih itu tidur di kamar yang sama. Apa lagi kini mereka ada di rumah orang tua Quinn.
"Nona, di mana bos Dimitri?" tanya Joa ingin tahu.
"Ponselnya tanpa sengaja terbawa olehku. Mungkin sekarang dia sedang tidur karena terlalu lelah. Aku tidak akan mau membangunkannya meskipun kini kau sangat membutuhkan keputusan darinya. Sekarang cepat katakan padaku di mana alamatnya. Di mana kalian menyembunyikan Sherly. Aku akan datang ke sana untuk melihat keadaannya. Keputusan ada di tanganku. Jadi kau tidak perlu meminta persetujuan Dimitri!" ujar Quinn tanpa mau dibantah lagi.
Joa kali ini benar-benar dilema. Dia takut melakukan kesalahan dengan memberitahu alamat keberadaan Selly kepada Quinn. Namun jika ia tidak memberitahunya Quinn pasti akan marah besar.
"Saya akan mengirimkan alamatnya, Nona," jawab Joa pada akhirnya.
"Baiklah aku tunggu."
Panggilan telepon itu terputus begitu saja setelah Quinn menekan tombol merah. Joa masih mematung pada posisinya berada. Tidak mau diam saja, pria itu segera pergi meninggalkan Sherly. Dia ingin menemui Robin untuk membahas kedatangan Quinn malam ini.
Tidak butuh waktu lama bagi Quinn untuk tiba di markas White Snake yang menjadi tempat disembunyikannya Sherly. Kedatangan wanita itu disambut langsung oleh Joa dan Robin. Mereka berdua sengaja tidak tidur hanya untuk menanti kedatangan Quinn.
"Dimana dia?" tanya Quinn tanpa mau basa-basi.
"Mari saya antar, Nona," tawar Robin. Pria itu berjalan lebih dulu lalu diikuti oleh Quinn dari belakang. Sedangkan Joa hanya mengawasi dari kejauhan saja. Sampai detik ini pria itu masih memikirkan cara agar bisa menyampaikan informasi ini kepada Dimitri.
"Tadi kami sudah memanggilkan Dokter Fei untuk memeriksa keadaannya dan Dokter Fei menyarankan untuk membawanya ke rumah sakit," ucap Robin sambil berjalan. Pria itu membuka lebar sebuah pintu lalu mengizinkan Quinn untuk masuk ke dalamnya. "Saya menunggu di sini Nona. Jika anda butuh bantuan anda hanya perlu memanggil saya," ucap Robin lagi.
"Terima kasih Robin," sahut Quinn. Wanita itu segera masuk ke dalam untuk melihat langsung keadaan Sherly saat ini.
Setibanya di dalam ruangan itu Quinn hanya mematung memperhatikan Sherly yang belum juga sadarkan diri. Wanita itu masih saja terus mengigau nama Quinn dan meminta maaf atas kesalahan yang sudah ia perbuat. Bibirnya pucat. Tubuhnya terlihat sangat lemah. Berbeda jauh dengan Sherly yang selama ini ditemui oleh Quinn.
"Sejak kau memutuskan untuk mencelakaiku dan menghianatiku. Sejak saat itu aku sudah memutuskan untuk menghapus namamu dari ingatanku Sherly. Mungkin kedengarannya sangat kejam tetapi di antara kita berdua kaulah yang lebih dulu berlaku kejam padaku. Jadi jangan salahkan aku jika aku tidak lagi memiliki rasa kasihan kepadamu," ketus Quinn dengan emosi tertahan. Kalau saja Sherly masih sehat, ingin sekali Quinn memukul wanita itu untuk melampiaskan rasa kecewanya.
"Aku menyesal sudah mengenalmu. Aku menyesal karena sudah pernah percaya padamu!"
__ADS_1
Quinn tetap berbicara meskipun Sherly tidak akan merespon perkataannya. Tiba-tiba saja wanita itu mengeluarkan pistol yang dia bawa dari rumah. Quinn mengarahkan senjata itu ke arah Sherly. Sepertinya detik ini Quinn ingin mengakhiri penderitaan Sherly dengan cara membunuhnya.
Namun satu hal tidak terduga terjadi. Tiba-tiba saja Sherly membuka mata setelah dia mendengar suara Quinn. Wanita itu menatap Quinn dengan wajah yang begitu sedih dan menyesal. Dia sama sekali tidak takut dengan senjata api yang kini ada di genggaman tangan Quinn.
"Terima kasih karena kau telah datang untuk mengunjungiku. Tadinya aku berpikir kalau aku tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk meminta maaf kepadamu secara langsung," ucap Sherly dengan suara yang sangat lemah. Bahkan nyaris tidak terdengar. Untungnya ruangan itu sangat sunyi jadi Quinn bisa mendengarnya dengan jelas.
"Kau tidak perlu meminta maaf padaku karena itu sama sekali tidak akan mengubah keputusanku malam ini," jawab Quinn tanpa mau memandang wajah Sherly lagi. Wanita itu memutuskan untuk memalingkan pandangannya karena dia tidak mau hatinya kembali luluh dan gagal membunuh Sherly malam ini.
Sherly berusaha mengatur nafasnya yang sudah terasa sangat sesak. Sebenarnya ia ingin duduk dan mendekati Quinn. Tetapi apalah daya karena tubuhnya sangat lemah tidak bertenaga.
"Aku tahu kau tidak akan mungkin memaafkanku. Quinn, selamat ulang tahun ya. Sebenarnya aku sudah menyiapkan sebuah kado untukmu tetapi sepertinya aku tidak bisa memberikannya secara langsung. Jika kau ada waktu kau bisa mengambil hadiah itu di laci meja kerjaku. Kertas kadonya berwarna biru. Aku sudah menyiapkannya sejak lama. Bahkan sebelum masalah besar ini terjadi."
Quinn menurunkan senjata apinya secara perlahan. Entah kenapa kedua matanya terasa sangat perih. Buliran air mata itu ingin segera menetes namun Quinn masih berusaha untuk menahannya. Dia tidak mau berubah menjadi wanita lemah hingga dengan mudahnya Sherly membodohinya.
"Hanya itu permintaan terakhirmu?" tanya Quinn masih dengan posisi tidak berani untuk memandang Sherly secara langsung.
"Apa lagi yang bisa aku katakan? Bukankah sebentar lagi aku akan mati? Jika nanti aku mati tolong kuburkan aku dengan layak. Jangan buang mayatku kelautan karena itu terkesan sangat buruk. Anggap saja pemakaman itu sebagai wujud persahabatan kita yang terakhir kalinya. Meskipun aku tahu tidak ada sedikitpun rasa kasihanmu kepadaku saat ini. Tetapi setidaknya pandanglah aku ketika beberapa kali aku menolongmu ketika kau dalam kesusahan. Memang aku selama ini tidak tulus untuk berteman denganmu. Tetapi kau harus tahu ada beberapa hal yang justru aku memang benar-benar melakukannya secara suka rela tanpa dipaksa oleh siapapun dan tanpa memiliki niat untuk dibalas olehmu."
Kali ini Quinn tidak berhasil menahan bendungan air matanya, hingga akhirnya kedua pipinya basah. Wanita itu secara sembunyi-sembunyi menghapus air mata yang menetes. "Apa ada lagi?"
"Tidak ada. Selamat tinggal."
Sherly memandang ke atas dengan tangan terlipat di atas perut. Wanita itu tersenyum sebelum akhirnya ia memejamkan mata. "Sekarang saatnya. Kau sudah bisa menembakku."
Quinn tidak mau bicara lagi. Wanita itu segera mengangkat senjata apinya. Entah kenapa kali ini keberaniannya hilang begitu saja. Berbeda jauh dengan tekadnya ketika ia pertama kali tiba di tempat itu. Wanita itu sangat-sangat menyesal karena sudah mengobrol dengan Sherly. Karena sejak obrolan itu terjadi kini wanita itu sudah tidak lagi memiliki keberanian untuk membunuhnya.
"Kau wanita yang sangat jahat Sherly. Sangat-sangat jahat," umpat Quinn kesal. Berharap Sherly mengatakan sesuatu yang membuat hatinya kembali terluka agar ia bisa mengumpulkan keberanian untuk menembak wanita itu lagi.
Namun sayangnya Sherly tidak memberikan respon apapun lagi. Meskipun wanita itu masih hidup, tetapi ia terlihat seperti orang yang tertidur dengan tenang. Dia sudah siap untuk menghadapi kematiannya yang sudah tidak akan lama lagi.
"Selama ini aku sangat takut mati sampai-sampai aku bertekad untuk menghianati sahabatku sendiri. Tidak aku sangka kali ini aku justru akan mati di tangan sahabatku. Takdir memang sangat jahat. Takdir mempermainkanku dengan begitu kejam," gumam Sherly di dalam hati. Meskipun dia tahu kalau Quinn belum juga menembaknya tetapi Sherly sama sekali tidak memiliki niat untuk bernegosiasi. Hingga pada akhirnya suara tembakan itu terdengar dengan begitu jelas.
DUARRR DUARRR
__ADS_1