My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 90 Hilang


__ADS_3

Dimitri bertarung dengan sekuat tenaga untuk melindungi penduduk desa saat itu. Pukulan demi pukulan ia layangkan untuk mengalahkan segerombolan musuh yang menyerangnya. Beberapa anggota White Snake juga sudah mengeluarkan senjata dan menembak musuh satu persatu.


Hingga akhirnya musuh hanya tersisa beberapa orang dan lokasi di pulau itu bisa dikuasai oleh White Snake. Ada senyum bahagia di bibir Dimitri karena kemenangan sudah di depan mata. Dia tidak sabar untuk pulang dan pergi menemui Quinn. Dia sangat merindukan kekasihnya itu.


"Bos, kita menang," ucap salah satu pasukan White Snake. Semua orang tersenyum bahagia. Mereka semua siap berpesta.


"Ya. Akhirnya kita berhasil." Dimitri terjatuh. Kepala pria itu mendongak ke langit.


Terik matahari seperti menghangatkan tubuh Dimitri yang kedinginan. Pria itu sakit. Suhu tubuhnya tinggi. Bahkan bibirnya pucat. Ini bukan pertarungan pertamanya. Sebelum berangkat ke pulau untuk menyelamatkan penduduk pulau, pria tangguh itu sudah menyerang sebuah markas besar milik musuh.


Dimitri pergi meninggalkan musuhnya setelah mendapat kabar kalau penduduk pulau dalam bahaya. Dia terpaksa pergi tanpa kata kemenangan saat itu.


Robin berlari menemui Dimitri untuk membawa pria itu mengobati lukanya. "Bos, anda baik-baik saja? Anda masih bisa mendengar saya?"


Meskipun mereka menang, tapi luka yang mereka terima bulan main banyaknya. Perlahan, Robin membopong tubuh Dimitri yang sudah hampir tidak sadarkan diri.


Hingga sebuah kejutan kembali muncul. Sekelompok pria bersenjata muncul dengan bom yang sengaja mereka bawa untuk meratakan pulau tersebut.


Dimitri memandang ke depan dengan tatapan pilu. Tenaganya sudah habis. Dimitri tidak sanggup bertarung lagi. Pasukan White Snake yang saat itu dipimpin langsung oleh Robin mengelilingi Dimitri. Mereka melindungi bos mereka dengan satu-satunya nyawa yang mereka miliki.


"Ternyata mereka menyusul kita sampai ke sini," ucap Dimitri. Dia berusaha berdiri dengan sisa tenaga yang ia miliki. Pria itu maju ke depan. Sebagai seorang pemimpin, dia harus bisa mengatur segalanya.


"Dimitri Huberg. Kau pikir bisa bersembunyi dariku?" Seorang pria berwajah sangat menatap Dimitri dengan penuh kebencian. Dia adalah Gabriel. Saudara Hugo. Kedatangan hanya untuk membalas perbuatan Dimitri karena sudah menewaskan Hugo.


"Aku tidak bersembunyi. Aku hanya memberi kesempatan padamu untuk istirahat. Bukankah waktu itu kau sudah kalah?" ledek Dimitri. Dia terpaksa mengulur waktu sembari memikirkan cara yang tepat untuk menang melawan Gabriel.


"Kau pikir aku percaya?" Gabriel memandang wanita tangguh yang berdiri di sampingnya. Ada senyum licik di bibir pria itu sebagai pertanda kalau ada rencana jahat yang ia susun. "Mungkin kau kenal dengan mereka. Ikut denganku maka aku akan membebaskan mereka."


Wanita tangguh itu maju ke depan untuk menunjukkan sebuah foto yang ia bawa. Di sana terlihat foto Nenek Su dan beberapa penduduk pulau lainnya. Mereka memang disembunyikan Dimitri di tempat yang aman. Tidak di sangka Gabriel mengetahui persembunyian mereka dan menjadikan mereka semua tawanannya.


"Jika kau berani menyentuh mereka, aku akan membunuhmu!" ancam Dimitri dengan penuh emosi. Usahanya akan sia-sia jika Nenek Su dan beberapa wanita itu tewas di tangan Gabriel.


"Ikut denganku. Rasanya aku tidak perlu untuk mengajarimu bagaimana caranya naik ke kapal bukan?" Gabriel menatap Robin yang kini sudah tidak sabar menyerangnya. Namun pria itu sama sekali tidak takut.


"Bos, ini pasti jebakan. Saya akan cek sendiri Nenek Su dan yang lainnya di tempat tadi." Robin berusaha berpikir positif. Dia berharap ini semua hanya jebakan musuh saja. Namun Dimitri mencegah Robin pergi.


"Jangan." Pria itu tahu kalau jumlah mereka tidak banyak. Pasukan White Snake sudah banyak yang tewas. Sedangkan musuh datang dengan personil yang tangguh dan senjata yang lengkap. Jika pertarungan dilanjut, sudah pasti mereka juga akan kalah. Kali ini Dimitri akan mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Nenek Su dan yang lainnya.


"Bagaimana? Apa kau sudah mengambil keputusan? Waktuku tidak banyak!" ketus Gabriel.


"Baiklah, aku ikut denganmu. Tapi, jika kau tidak membebaskan mereka, kau tangga sendiri akibatnya!" ujar Dimitri hingga membuat Robin tidak setuju.


"Bos, jangan lakukan itu!" Pria tangguh itu berusaha mencegah Dimitri.

__ADS_1


"Aku akan baik-baik saja. Setelah Nenek Su dan yang lainnya dibebaskan, bawa mereka pergi meninggalkan pulau ini. Begitupun denganmu dan pasukan kita yang tersisa," perintah Dimitri.


"Bagaimana dengan anda?" tanya Robin khawatir.


"Kau tidak perlu memikirkanku. Sebelum pergi untuk bertarung, aku sudah bisa menebak. Cepat atau lambat kita pasti akan bertemu dengan kondisi seperti ini," jawab Dimitri dengan wajah menahan rasa sakit.


"Tidak? Saya tidak setuju!" cegah Robin. Pria itu berdiri di hadapan Dimitri. "Tuan, biar saya yang menggantikan Bos Dimitri. Saya rela menjadi budak anda asalkan anda membebaskan Bos Dimitri!"


"Robin! Berani sekali kau melanggar perintahku! Menyingkir!" Dimitri segera membentak Robin agar pria itu menyerang. Dengan tenaga yang sudah hampir habis, Dimitri melangkah maju mendekati Gabriel dan anggotanya.


DUARRR


Sebuah tembakan sengaja didaratkan di kaki Dimitri agar pria itu tidak bisa kabur. Bersamaan dengan itu, pasukan White Snake mengangkat senjata mereka. Namun Robin mencegah mereka untuk menembak. Pria itu tahu, kalau pertarungan hanya akan membuat Dimitri semakin tersiksa.


"Bagaimana rasanya? Apa kau kesakitan?" Gabriel berjongkok di hadapan Dimitri yang berlutut. Pria itu memegang wajah Dimitri dengan kasar. "Ini belum sebanding dengan kematian Hugo. Kau harus lebih menderita lagi!"


Gabriel berdiri. "Bawa pria ini. Seret dia agar kakinya semakin rusak dan dia tidak bisa melangkah lagi!" perintah Gabriel dengan penuh kebencian.


Robin menangis melihat pemandangan dihadapannya. Begitupun dengan pasukan White Snake yang tersisa. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa ketika bos mereka disiksa dengan begitu keji.


"Saya pasti akan menolong anda, Bos. Anda harus bertahan," gumam Robin di dalam hati.


Dimitri memandang ke belakang sejenak sebelum dia naik ke atas kapal. Ada senyum di wajahnya sebagai tanda kalau dia baik-baik saja. Setelah memutar tubuhnya lagi dan melangkah ke depan, pria itu kembali membayangkan wajah cantik kekasihnya.


Gabriel yang melihat kejadian itu hanya tersenyum kecil. "Apa kau pikir aku percaya kalau kau pingsan? Aku tahu ini hanya trik murahan saja!" Gabriel memandang wanita di sampingnya. "Ikat dia. Pasti dia tidak bisa kabur."


"Baik, Bos!"


Wanita itu mendekati Dimitri dan membawanya turun ke ruangan bawah yang ada di kapal. Mereka menyeret Dimitri hingga darah semakin deras mengalir dan menyisakan jejak di lantai kapal.


...***...


Quinn membuka kedua matanya secara perlahan. Pria itu memandang ke kanan dan ke kiri dengan wajah kebingungan. Kondisinya sudah jauh lebih baik saat ini. Quinn merasa dirinya tidak seperti orang sakit.


"Sayang, akhirnya kau bangun. Mommy senang bisa melihatmu membuka mata seperti ini." Tiffany segera memeluk Quinn.


"Mom, dimana Dimitri?" tanya Quinn hingga membuat semua orang yang ada di sana membisu.


"Dimitri sedang mengurus beberapa bisnisnya yang ada di luar negeri. Secepatnya dia akan kembali," dusta Luca. Pria itu mengusap rambut putrinya. "Jangan banyak pikiran. Kau baru saja sembuh."


"Nona Quinn, saya akan memeriksa keadaan anda. Kami harus memastikan lagi kalau racun di tubuh anda sudah hilang seluruhnya," ucap Dokter Fei. Pria itu segera memeriksa Quinn dengan teliti. Sambil memeriksa, Dokter Fei memandang Xander yang terlihat tidak bersemangat saat itu.


"Dok, apa saya sudah boleh pulang?" pinta Quinn. "Saya sudah sehat. Sekarang saya merasa jauh lebih baik."

__ADS_1


"Besok anda baru diperbolehkan pulang setelah hasil tes darah keluar. Nona, meskipun anda sudah merasa jauh lebih sehat. Tetapi sebaiknya anda istirahat dulu di rumah sakti ini." Dokter Fei berusaha membujuk Quinn.


"Sayang, jangan keras kepala lagi ya. Dengarkan apa yang dikatakan Dokter Fei," ujar Tiffany. Quinn hanya menghela napas panjang. Tanpa sengaja tatapan wanita itu terhenti pada Xander. Dia merasa curiga melihat ekspresi Xander yang sedih.


"Dad, mana ponselku? Aku mau menghubungi Dimitri," pinta Quinn hingga membuat semua orang saling memandang dengan wajah bingung.


"Sayang, nanti saja ya. Kau baru sadar. Tolong istirahat dulu dan jangan pikirkan sesuatu!" Tiffany mengusap rambut Quinn lagi.


"Apa terjadi sesuatu pada Dimitri?" tebak Quinn. Dia memandang ke arah Xander lagi. "Xander, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi!"


Xander tidak tahu harus jawab apa sekarang. Baru saja satu jam yang lalu anak buah yang dibayar oleh Xander memberi kabar menyedihkan. Pria itu bilang kalau White Snake kalah dan kini Dimitri dibawa musuh. Sisanya mereka tidak tahu karena mereka tidak berhasil mendapatkan informasi lengkapnya.


"Quinn, Dimitri memang lagi sibuk. Kau harus percaya dengan apa yang dikatakan kedua orang tuamu."


"Percaya?" tanya Quinn lagi. Wanita itu memandang langit-langit ruangan tersebut. "Bagaimana kau bisa percaya. Ekspresi semua orang terlihat seperti sedang menutupi sesuatu dariku. Aku butuh kejujuran semua orang. Aku kuat mendengar berita buruk sekalipun."


"Sayang, Mommy dan Daddy tidak mungkin membohongimu. Dimitri baik-baik saja. Dia akan kembali dan menemuimu. Kau harus sabar ya."


"Sudah berapa lama aku tidak bangun, Mom? Apa selama itu juga Dimitri sibuk dan tidak memiliki waktu untukku?" Quinn memandang wajah ibu dan ayah kandungnya secara bergantian. "Aku tahu kapan Mommy dan Daddy berbohong. Tolong katakan padaku!"


"Pergilah! Kalian tidak diperbolehkan masuk!" teriak seseorang di depan. Hal itu menarik perhatian Luca dan yang lainnya.


"Aku akan periksa apa yang terjadi di depan," ucap Xander sebelum beranjak dari sofa dan melangkah ke pintu.


Luca tidak mau diam saja di dalam. Pria itu juga mengikuti Xander untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi di depan ruangan tempat Quinn di rawat.


Xander menutup rapat pintu itu. Dia mengernyitkan dahi melihat Robin berdiri di sana dengan wajah sedih. "Robin, kau kembali? Dimana Dimitri?"


Robin segera mendekat. "Saya dengar Nona Quinn sudah sadar. Saya butu pertolongannya."


"Pertolongan? Pertolongan apa?" tanya Luca. Jelas saja dia tidak bisa mengizinkan Robin menemui putrinya sekarang juga.


"Bukankah kemampuan Nona Quinn sangat hebat? Dia pasti tahu dimana Bos Dimitri berada saat ini. Saya hanya ingin tahu dimana Bos Dimitri berada. Setelah itu saya tidak akan menyusahkan Nona Quinn lagi. Saya akan pergi sendiri untuk menolongnya."


"Tapi-"


Luca tidak bisa menyelesaikan kalimatnya melihat Robin berlutut dihadapannya. "Tolong, Tuan. Kondisi Bos Dimitri sangat mengenaskan. Saya takut jika terlalu lama, nyawanya tidak akan tertolong."


Xander tiba-tiba juga berlutut dihadapan Luca. Kepala pria itu menunduk. "Saya tahu, jika Quinn mengetahui keadaan Dimitri, dia pasti akan segera turun tangan untuk membantunya. Tapi, Tuan. Waktu yang dimiliki Dimitri tidak banyak. Kita harus segera menolongnya. Hanya Quinn yang bisa menolong Dimitri saat ini. Tolong izinkan Quinn melacak keberadaan Dimitri," ucap Xander dengan wajah memohon.


Luca mengepal kuat tangannya. Sebagai seorang ayah ini pilihan yang sulit baginya. Dia takut putrinya jadi kepikiran dan kembali jatuh sakit. Tapi Luca juga tidak mau sampai terjadi sesuatu terhadap Dimitri.


"Baiklah. Sekarang ayo masuk. Ceritakan pada Quinn apa yang terjadi. Aku yakin dia wanita yang kuat. Dia tidak akan menangis hanya karena berita ini!"

__ADS_1


__ADS_2