My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 36 Janji


__ADS_3

"Quinn, bisakah kau berikan nomor ponselmu?" tanya Dimitri.


"Tapi, handphone-ku hilang. Kau tahu aku terjun ke laut tanpa berpikir tentang ponsel," jawab Quinn.


Dimitri berdecak kesal. Kalau begini maka dia akan kehilangan jejak Quinn lagi. Otak Dimitri berpikir keras. Setelah keluar dari tempat ini, maka Dimitri tak akan bisa menghubungi Quinn lagi.


"Sebentar. Pinjam ponselmu. Setelah itu, kau pergilah dari sini. Jangan membuang waktu." Quinn mengambil ponsel Dimitri.


Ia mengetikkan sesuatu di sana. Selebihnya Quinn mengembalikan ponsel Dimitri. Kemudian, Quinn mendorong tubuh Dimitri supaya segera pulang. Dimitri terkejut saat Quinn buru-buru masuk ke dalam mansion.


"Quinn, tunggu! Bagaimana aku bisa menghubungimu?" Dimitri berseru. Ia tidak peduli lagi pada para penjaga yang mulai waspada.


Dimitri putus asa. Pasalnya Quinn sama sekali tak menoleh ataupun membalikkan badannya. Dimitri menarik napas panjang. Setelah itu matanya beralih ke ponsel. Seketika kedua matanya membulat.


"Email? Ini email Quinn! Baiklah! Dimitri, kau harus berjuang lebih keras lagi!" Dimitri menyimpan ponselnya ke saku celana. Ia pun akhirnya masuk ke dalam mobilnya.


"Ayo, pulang! Jangan banyak bertanya!" Dimitri tahu kalau bawahannya itu kaget setelah melihat wajahnya yang penuh luka lebam.


Pada akhirnya, Dimitri pergi meninggalkan mansion Quinn dengan hati yang puas. Benar. Dimitri sangat puas setidaknya ia bisa menjadi lebih dekat dengan Quinn. Hubungan ini jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Hanya perkara waktu saja, mungkin aku bisa membuat Quinn menerima cintaku," batin Dimitri dalam hati.


Berbanding terbalik antara Dimitri yang senang, dan Quinn justru masih harus berhadapan dengan Luca. Saat ini Tiffany sedang mengobati luka-luka Quinn yang didapatkan saat berada di pulau terpencil itu.


"Kau mendapatkan luka yang cukup banyak, Quinn. Tidak ingin mengatakan sesuatu?" desak Luca.

__ADS_1


Quinn menggelengkan kepala. Wanita itu sangat tenang duduk di tempatnya. Sikap tenang Quinn membuat Luca mendesah.


Sebenarnya Luca masih tidak terima dengan kedekatan Quinn dan Dimitri. Akan tetapi Luca tidak bisa bertanya lebih banyak lagi kepada Quinn karena Quinn sendiri memilih untuk diam.


"Quinn, kenapa kau lagi-lagi membuat daddy-mu kesal?" tegur Tiffany.


"Memang tidak ada lagi yang bisa Quinn katakan, Mom. Karena apa yang sudah Quinn jelaskan tadi adalah kenyataan. Aku dan Tuan Dimitri memang salah paham. Mungkin Tuan Dimitri tersinggung dengan perbuatanku. Tapi sejauh ini Tuan Dimitri begitu peduli padaku." Quinn tidak ingin mengatakan tentang kejadian perompak yang pernah bertarung dengannya.


Quinn takut kalau Luca akan semakin marah ketika mendengar putrinya bertarung antara hidup dan mati. Hanya seperti ini saja sudah membuat Luca marah besar.


Bagaimana kalau Quinn juga mengatakan bahwa ia harus berperang melawan para perompak itu? Quinn menghela napas panjang tatkala Tiffany sudah selesai mengobati lukanya.


"Apa hubunganmu dengan orang itu?" Luca masih saja penasaran tentang Dimitri.


"Mengapa Daddy terus bertanya? Sudah aku bilang Tuan Dimitri orang baik," ucap Quinn.


"Aku hanya bertanya saja. Takutnya kau malah jatuh cinta dengan orang yang salah. Daddy tidak akan membiarkan putri tercinta Daddy terluka. Jangan sembarangan jatuh cinta, Quinn. Pokoknya nanti biar daddy yang memilih," tekad Luca.


"Memilih?" Quinn mengerutkan keningnya.


"Ya, memilih. Memilih siapa orang yang pantas menjadi kekasihmu atau suamimu. Daddy yang akan menentukannya, Quinn. Biar kau tidak salah memilih," tegas Luca.


"Apa? Daddy jangan bercanda dong! Masa semua laki-laki yang ingin mendekati Quinn harus menunggu persetujuan dari Daddy. Ini nggak lucu, Dad!" tolak Quinn.


"Quinn, ini demi kebaikanmu. Kau pasti kesulitan memilih kekasih yang benar-benar mencintaimu." Luca masih belum ingin mengalah. Ia bersikeras ingin mencarikan jodoh untuk Quinn.

__ADS_1


"Daddy keterlaluan," lirih Quinn.


Wanita itu beranjak pergi dari tempatnya. Ia mengabaikan panggilan Tiffany. Quinn lelah apabila jalan hidupnya harus ditentukan oleh Luca.


"Quinn! Beraninya kau mengabaikan ibumu!" teriak Luca.


"Sudah. Sayang, kau harus ingat jika Quinn juga membutuhkan kebebasan. Kau tidak bisa mengatur hidup Quinn seperti itu. Kau tidak ingat kalau Quinn sudah menginjak usia 25 tahun?" Tiffany angkat bicara. Dia yang sejak lama terus membisu.


"Tentu saja aku tahu. Quinn sudah menginjak 25 tahun. Itu artinya putriku yang paling berharga itu sudah dewasa," ucap Luca.


"Di usia Quinn yang menginjak 25 tahun, Quinn tidak pernah pergi berkencan!" ketus Tiffany.


"Putriku bukan wanita murahan!" sahut Luca.


"Lalu bagaimana denganku? Kau meniduriku tanpa bertanggung jawab, Sayang." Tiffany tersenyum miris.


"Sa-sayang, bukan begitu maksudku. Kondisi Quinn dan kau berbeda." Tiffany memalingkan wajah dan pergi. "Tunggu, kau mau kemana, Sayang?" Luca panik ketika melihat Tiffany berdiri.


"Aku ingin menghibur putri kita. Selama ini aku diam saja kau memberikan batasan-batasan untuk Quinn. Sehingga Quinn menjadi penurut. Kau harus bersyukur untuk itu. Tapi, kenyataannya tidak. Sudah. Aku ingin melihat bagaimana Quinn terluka saat ini," pamit Tiffany.


"Hah! Apa yang salah? Mengapa semuanya menyalahkan cara mendidikku? Huh! Pokoknya apapun yang terjadi, si Dimitri itu tidak akan aku biarkan mendekati putriku!" Luca memijat pelipisnya.


Darahnya begitu mendidih kala mengingat Quinn lebih peduli pada Dimitri. Peduli pada orang yang baru dikenalnya.


"Teganya, Quinn. Lebih memilih si cecunguk itu. Sepertinya aku harus mencari tahu tentang Dimitri. Ya, ini tidak boleh dibiarkan!"

__ADS_1


__ADS_2