My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 202 Daddy Tercinta


__ADS_3

Luca tersenyum melihat menantunya masih hidup. Ada perasaan lega. Dia datang di waktu yang tepat. Meskipun Dimitri harus terluka, tetapi setidaknya pria itu tidak sampai tewas di tangan musuh.


"Terkadang kalian harus melibatkan orang tua ke dalam masalah yang kalian miliki," ucap Luca dengan senyuman. "Pergi tanpa pamit." Luca masih tidak habis pikir dengan lelaki anak dan menantunya. Mereka bertiga pergi tanpa memberi tahu kemana tujuan mereka.


Namun Luca selalu memiliki firasat yang kuat jika anaknya dalam bahaya. Dia segera mengirim orang kepercayaannya untuk melacak keberadaan Quinn, Dimitri dan Nichole. Hingga pada akhirnya dia tahu kalau anak-anaknya butuh bantuan.


"Hei pria tua! Siapa anda!" teriak Leonzio. Rasanya pria itu tidak memiliki banyak waktu untuk mendengar basa-basi ayah dan anak didepannya.


Luca memutuskan tubuhnya. Dia melihat ke arah jalan. Ternyata Aldo juga sudah tiba bersama dengan segerombolan mafia yang ingin membantunya.


Dimitri semakin khawatir. Karena masalahnya Luca datang sendirian. Dia tidak membawa satu pasukanpun!


"Orang tua?" Luca tertawa geli di depan Leonzio. Seolah tidak ada ancaman apapun di sana. "Hei, anak muda. Apa kau lupa siapa yang sudah menyelamatkan nyawamu 10 tahun yang lalu? Kau berhutang budi padaku. Hari ini kau justru ingin membunuh menantuku!"


Leonzio tidak percaya begitu saja. Dia sendiri juga ingin tahu sebenarnya apa maksud pria tua di depannya itu. Seingat Leonzio, dia tidak pernah utang budi dengan siapapun.


"Sebaiknya kita habisi mereka sekarang. Jangan memberi mereka kesempatan untuk bernapas. Bisa saja sebentar lagi pasukan mereka datang dan itu hanya akan mengukur waktu," ujar Aldo. Sepertinya dia sudah tidak sabar menghabisi White Snake sampai ke akar-akarnya.


"Memang anak muda jaman sekarang itu kebanyakan pikun. Oke, akan aku ingatkan. Malam itu, kau tergeletak dijalanan karena kau tertembak musuh. Lalu seorang pria bermantel cokelat muncul untuk menolongmu. Dia membawamu ke rumah sakit dan meninggalkan setumpuk uang. Sekarang, apa kau ingat?" pertegas Luca lagi.


Leonzio kaget bukan main mendengar cerita singkat Luca. Pantas saja selama ini dia tidak pernah berharap menemukan sosok yang sudah membantunya. Ternyata seseorang yang mereka cari adalah pemimpin mafia.


"Bagaimana anak muda? Kau ingat akan sesuatu? Masih mau melanjutkan pertempuran ini? Kau lupa kalau nyawamu yang sekarang berkat uluran tanganku?" Luca merasa sangat yakin kalau rencana ini pasti akan berhasil.


Rasanya dia memperoleh buah manis dari kebaikan yang pernah dia tanam. Padahal dulunya Luca menolong Leonzio karena kebetulan saja. Dia tidak tega membiarkan Leonzio tewas begitu saja. Tidak di sangka, 10 tahun kemudian dia kembali dipertemukan dengan Leonzio lagi.


"BRENGSEK!" umpat Aldo. Dia ingin maju dan melawan Luca dengan tangannya sendiri. Tiba-tiba saja Leonzio memegang pundak Aldo dan menahan pria itu agar tidak melangkah lebih jauh lagi. "Kau percaya dengan apa yang baru saja dia katakan?" tanya Aldo dengan wajah mulai emosi.


"Aku tidak bisa melanjutkan pertarungan ini. Aku berhutang budi padanya," jawab Leonzio hingga membuat Aldo kecewa.

__ADS_1


"Kau percaya dengan apa yang baru saja dia katakan? Dia bahkan tidak membawa bukti apapun!" ketus Aldo dengan wajah menahan emosi.


"Dia tidak perlu membawa bukti apapun. Karena saat kejadian itu hanya aku dan dia yang ada di sana. Tidak ada satu orangpun yang mengetahui kejadian sebenarnya. Aku percaya dengan apa yang dia katakan," sahut Leonzio.


Meskipun terasa berat, tetapi dia harus mengatakan hal ini sekarang juga di depan Aldo. "Aku akan mundur. Semua masalah ini aku serahkan sepenuhnya padamu."


Aldo menggeleng. Dia benar-benar kecewa karena sudah dikhianati dengan cara seperti ini. "Oke, aku bisa menghadapi mereka sendiri. Tanpa bantuan Cosa Nostra!" ketus Aldo dengan penuh keyakinan.


Leonzio kembali memandang ke arah luca. Sebelum dia pergi dari sana ada beberapa kalimat yang ingin Ia sampaikan. "Terima kasih karena Anda telah menyelamatkan nyawa saya 10 tahun yang lalu. Waktu itu saya tidak sempat untuk mengatakannya. Hari ini saya membalas kebaikan anda dengan cara mundur dari pertarungan ini. Itu berarti diantara kita tidak ada hutang budi lagi.


Kedepannya jika kita bertemu sebagai musuh, maka aku tidak akan memberikan kesempatan kepada anda dan juga keluarga anda untuk bebas begitu saja!"


Meskipun kalimat yang disebutkan Leonzio terdengar begitu mengerikan. Akan tetapi kini Luca merasa sedikit tenang karena setidaknya pasukan Cosa Nostra akan mundur. Beberapa geng mafia yang dibawa oleh Aldo juga tunduk atas perintah Leonzio. Luca merasa sangat yakin jika Leonzio mundur maka separuh dari anggota yang sekarang ada di hadapannya akan menghilang.


"Tapi aku harap ketika kita bertemu lagi nanti, kita sudah menjadi teman. Untuk apa kita bermusuhan? Bukankah selama ini kehidupan kita tidak pernah saling mengusik satu sama lain?" jawab Luca dengan ekspresi yang begitu tenang.


Leonzio mengangguk sebelum memutar tubuhnya dan pergi. Bersamaan dengan itu, pasukan Cosa Nostra juga mundur. Begitupun dengan beberapa ketua mafia yang tunduk atas perintah Leonzio.


"Kalian hanya berdua. Aku yakin pasti bisa mengalahkan kalian. Bahkan mungkin tidak perlu waktu lama!" ucap Aldo dengan penuh keyakinan.


Dia sudah dibutakan oleh cintanya terhadap Audy hingga tidak bisa berpikir jernih lagi. Bahkan ia kini tidak lagi mempedulikan satu-satunya nyawa yang ia miliki. Yang ada di dalam hatinya hanya dendam. Dia ingin membalaskan rasa sakit hatinya dengan cara membunuh orang-orang yang ingin menghalangi jalannya.


"Anak muda, sebaiknya Anda mundur saja. Wanita di dunia ini tidak hanya satu. Jika saya tidak salah, bukankah pertarungan ini terjadi karena memperebutkan seorang wanita?


Wanita itu jelas-jelas tidak mencintai anda. Anggap saja saya ini orang tua yang sedang menasehati putranya. Masa depan Anda masih sangat panjang. Anda dikenal sebagai pria hebat yang sangat disegani. Rasanya sangat disayangkan jika anda tewas dengan cara seperti ini."


Luca terus saja bersuara untuk mengulur waktu. Ya, sebenarnya pria itu tidak datang sendirian. Lebih tepatnya dia yang tiba lebih dulu di Roma. Sedangkan pasukan sniper andalan Luca sedang dalam perjalanan menuju ke Roma. Tetapi jika dihitung dari jam terbang mereka, seharusnya sekarang mereka semua sudah tiba. Akan tetapi sampai detik ini Luca tidak melihat tanda-tanda mereka sudah ada di lokasi pertempuran.


"Berhenti bicara omong kosong karena aku tidak seperti Leonzio. Aku tidak akan terbedaya dengan apa yang anda katakan!" ketus Aldo dengan wajah semakin marah.

__ADS_1


Aldo maju dan menyerang Luca. Luca meminta Dimitri tetap diam karena memang saat itu Luca sendiri yang ingin berhadapan langsung dengan Aldo. Dia ingin menguji sampai di mana kemampuannya di saat usianya hampir 60 tahun.


Baru juga ingin menghajar Luca, Aldo sudah dibuat kesakitan ketika Luca menggenggam tangannya dan memelintirnya dengan begitu kuat. Namun Aldo tidak menyerah begitu saja. Dia segera memberi perlawanan dengan cara menendang kaki luca. Kali ini serangan Aldo berhasil karena nyatanya Luca justru melangkah mundur seperti menahan sakit.


"Daddy, biar aku saja yang menghadapinya," ucap Dimitri.


Meskipun kini kakinya terluka, dia tidak mungkin diam saja melihat mertuanya bertarung. Memang saat dulu Luca terkenal dengan kehebatannya ketika sedang berada di lokasi pertempuran. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, semua sudah berubah. Tenaga yang dimiliki Luca juga sudah tidak sama seperti dulu lagi.


"Jangan ragukan kemampuan Daddy," sahut Luca tanpa mau mendengarkan nasehat Dimitri. Pria tua itu kembali melangkah. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk menghajar Aldo hingga pria itu minta ampun.


Dari arah belakang satu persatu anak buah Aldo tewas terkena tembakan. Sampai detik ini Aldo belum menyadarinya karena ia lebih asik bertarung dengan luca. Sedangkan Dimitri sudah merasakan ada keanehan di sana. Namun ia tidak mau bersuara karena tidak mau Aldo menyadarinya secepat itu.


Luca tersenyum puas melihat sniper andalannya telah tiba dan kini sedang beraksi. Pria itu terus saja berupaya untuk mengalihkan perhatian Aldo agar pria itu tidak menyadarinya.


"Sepertinya kemampuan anda tidak ada bagus-bagusnya. Bahkan mengalahkan orang tua seperti saya saja Anda harus mengeluarkan seluruh kemampuan yang anda miliki," ledek Luca semakin menjadi. Dia tahu seseorang yang bertarung dengan emosi akan berakhir dengan kekalahan karena saat itu dia tidak mampu berpikir jernih.


Aldo telah terperangkap dalam jebakan luca. Pria itu semakin marah dan bertekad untuk menghabisi Luca dengan tangannya sendiri. Dia terus saja berusaha untuk menghajar wajah Luca dan menendang perut pria tua itu. Akan tetapi trik bela diri yang dimiliki Luca sungguh hebat. Aldo tidak mampu menyentuh tubuh Luca dengan semudah itu.


Aldo melangkah mundur karena dia sudah kehabisan banyak tenaga. Kali ini satu-satunya cara yang ada di pikiran Aldo adalah meminta bawahannya untuk segera menyerang dua orang yang masih berdiri di hadapannya itu.


Ketika memandang ke belakang Aldo dibuat kaget melihat pemandangan di sana. Semua pasukan miliknya yang jumlahnya begitu banyak kini sudah terbaring di bawah. Entah mereka masih bernyawa atau tidak Aldo tidak mengetahuinya. Yang pasti kini Aldo tidak bisa mengandalkan mereka lagi.


"Dalam pertarungan kita tidak hanya membutuhkan tenaga dan kemampuan bela diri saja. Tetapi kita butuh trik untuk mengelabuhi musuh. Anak muda, Anda baru saja terjun ke dalam dunia yang penuh dengan darah ini. Sedangkan saya sudah lama berada di dalamnya.


Manusia yang sifatnya seperti anda sudah sering saya temui. Bahkan saya sangat paham bagaimana cara menghadapinya. Di sini Saya hanya ingin memberi dua pilihan kepada anda. Yang pertama lanjut bertarung dengan saya sampai akhir penentuan nanti siapa yang akan menang. Atau Anda mundur dan menyimpan baik-baik energi yang sekarang anda miliki.


Kalau saran saya sebaiknya Anda pilih saja pilihan kedua. Anda sama sekali tidak dirugikan di sana. Menang atau kalah anda dalam pertarungan ini, wanita yang anda cintai juga tidak akan kembali. Karena cinta yang dipaksakan tidak akan pernah abadi."


Aldo benar-benar di pojokkan oleh Luca hingga pria itu tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sorot mata Aldo semakin tajam ketika ia mengetahui kalau ada banyak sekali sniper yang kini siap untuk menembaknya. Bertarung dengan Luca dan berusaha untuk memenangkan pertarungan ini juga tidak ada jaminan kalau dia akan lepas dari incaran para sniper yang sedang bersembunyi itu.

__ADS_1


"Daddy benar-benar cerdas. Aku sama sekali tidak menyangka kalau Daddy memiliki kemampuan negosiasi yang begitu bagus. Pantas saja perusahaan Daddy berkembang pesat. Dia bisa mengalahkan musuh tanpa menyentuh," puji Dimitri yang hanya berani di dalam hati saja.


"Tidak! aku tidak akan menyerah." Aldo mengangkat senjata apinya ke atas. "Jika aku mundur, tidak ada jaminan aku akan selamat dari tempat ini. Jadi aku putuskan agar kita bertiga mati bersama-sama di tempat ini!"


__ADS_2