Natasya

Natasya
Melanjutkan Hidup


__ADS_3

"Tante senang, akhirnya kamu memilih keputusan ini, Sya" Tante Desi memeluk Tasya dan meluapkan rasa bahagianya.


"Tasya hanya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, Tan" jawab Tasya sambil tersenyum.


"Kita langsung pulang ke rumah ya. Tante sudah siapin kamar buat kamu" ucap tante Desi bersemangat.


Tasya baru saja tiba di kota tersebut.


Sebuah kota besar dengan banyak gedung pencakar langit.


Kota yang akan menjadi tempat tinggal Tasya beberapa tahun kedepan.


"Apa tidak akan merepotkan, kalau Tasya tinggal di rumah tante?" Tanya Tasya masih sungkan.


Tante Desi tertawa kecil.


"Tante malah seneng, Sya. Tante kan jadi ada teman buat ngobrol" jaeab tante Desi santai.


"Bagaimana dengan suami tante?" Tanya Tasya ragu.


"Om Bimo. Kamu bisa panggil suami tante om Bimo. Nanti tante kenalin. Tapi dia jarang di rumah juga. Kerjanya dari pagi sampe sore. Kadang lembur juga sampe malam. Tapi kamu tenang aja. Dia orang yang baik kok" jelas tante Desi panjang lebar.


Tasya hanya mengangguk tanda mengerti.


Mobil yang dikemudikan tante Desi masuk ke sebuah kompleks perumahan asri.


Tak terlalu jauh dari gerbang utama kompleks, mobil tante Desi sudah berhenti tepat di depan sebuah rumah berpagar hitam tinggi.


Sepertinya ini memang rumah tante Desi.


Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, tante Desi dan Tasya bergegas menurunkan barang barang Tasya.


"Rumahnya memang gak terlalu besar, Sya. Tapi tante yakin kamu akan menyukainya" ucap Tante Desi ramah.


Tasya hanya tersenyum.


"Rumahnya bagus, tante" puji Tasya tulus.


"Ayo masuk!" Ajak tante Desi sambil membuka pintu utama rumah tersebut.


Rumah serba putih dengan perabotan yang tidak berlebihan.


Tante Desi membawa Tasya ke sebuah kamar yang berukuran lebih besar dari kamar Tasya di rumah mama Sarla.


"Nah, ini kamar kamu. Kalu ada yang kurang pas kami bisa kasih tahu tante," jelas tante Desi.

__ADS_1


Tasya mengedarkan pandangannya ke dalam kamar tersebut.


Sebuah ranjang, lemari, dan beberapa meja kecil membuat kamar itu terasa simpel namun lega. Ada juga satu jendela besar di sisi ranjang yang sepertinya mengarah langsung ke halaman samping.


Tasya menyukai kamar tersebut.


"Tasya suka tante. Makasih udah siapin kamar buat Tasya dan ngijinin Tasya tinggal disini" ucap Tasya tulus.


"Sama sama Tasya. Yaudah kamu istirahat dulu aja ya. Kamu pasti capek" jawab tante Desi.


Tasya mengangguk dan segera memasukkan semua barang barangnya ke dalam kamar.


Setelah tante Desi pergi dan menutup pintu kamar, bergegas Tasya membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Tasya mencoba untuk melanjutkan hidupnya sekarang. Meskipun tak dapat dia pungkiri, bahwa bayang bayang Dion masih selalu ada di dalam hatinya.


Terlebih sekarang dirinya malah tinggal bersama tante Desi.


'Kalau jodoh gak akan kemana, Sya. Kalau memang kamu dan Dion berjodoh, kalian pasti akan menemukan jalan suatu saat nanti' kata kata dari Salsa masih terngiang di telinga Tasya.


Salsa yang terus memberikannya semangat untuk tetap melanjutkan hidup dan meraih cita cita.


Tasya tak mau terlalu memikirkan perasaannya pada Dion yang sebenarnya ia masih sangat mencintai dan menyayangi Dion.


Namun Tasya juga tak mau begitu saja melupakan Dion, meskipun kini tak ada lagi hubungan apapun diantara mereka.


Namun Tasya juga tidak mau terlalu berharap bahwa Dion akan kembali lagi kepadanya


Entahlah...


Mungkin sebaiknya Tasya fokus saja pada kuliahnya sekarang dan mengabaikan tentang perasaan cinta yang tanpa ujung itu.


*****


"Loe yakin gak mau pulang dan berlibur , Di?" Tanya Julian bingung.


Kompetisi musim ini telah berakhir. Apalagi sekarang sudah masuk akhir tahun.


Beberapa pemain sudah pulang ke kotanya masing masing untuk berlibur dan menghabiskan waktu bersama keluarga.


"Gue mau fokus sama tugas tugas kuliah, Ju" jawab Dion singkat.


"Loe mau sampe kapan sih menghindar dari Tasya? Kalau memang loe udah gak ada perasaan sama dia, kenapa gak loe putusin aja sekalian" ujar Julian kesal.


"Gue emang udah putus dari Tasya" jawab Dion datar namun sukses membuat Julian terkejut.

__ADS_1


"Hah? Serius loe? Apa ini soal insiden antara Tasya dan Kevin?" Tanya Julian bertubi tubi.


Ia sendiri sudah mendengar tentang kejadian buruk yang menimpa Tasya waktu itu dari Denny.


"Tasya yang mutusin gue. Jadi gue bisa apa? Dia yang mau lepas dari gue" Dion mencoba membela diri.


Julian menghela nafas.


"Loe aja yang dari awal mengabaikan dia. Mungkin Tasya mikirnya loe udah gak mau lagi sama dia. Jadi daripada loe gantung gak jelas statusnya ya dia minta putus" Julian mulai berasumsi.


"Gue cuma kecewa" ucap Dion lirih.


Julian berdecak,


"Tasya pasti punya alasan kenapa dia menyembunyikan itu semua dari loe, Di" ujar Julian berusaha berpikir positif.


"Apapun alasannya, bukankah harusnya dia jujur dari awal. Trus selama ini dia nganggep gue ini apa? Kalo rahasia sebesar itu dia simpen rapat sendiri" ucap Dion emosi.


"Mungkin Tasya gak mau membebani pikiran loe" ujar Julian lirih.


Dion terdiam.


"Ngomong-ngomong, loe dapet undangan juga dari pelatih Ronny?" Tanya Julian mengalihkan pembicaraan.


Dion mengangguk


"Ya" jawab Dion singkat


"Kau akan datang?" Tanya Julian lagi.


"Entahlah, gue ada jadwal ujian satu hari sebelum acara. Mungkin gue akan datang" jawab Dion ragu.


Tasya sudah pasti akan ada di acara tersebut.


Dion masih merasa belum siap bertemu Tasya.


"Jangan hanya karena loe sedang bermasalah dengan Tasya lalu loe memutuskan untuk tidak datang. Itu sungguh konyol. Mengingat jasa pelatih Ronny yang lumayan besar buat karier basket loe" Julian menepuk punggung sahabatnya tersebut.


Dion hanya mengangguk sambil menghela nafas.


"Baiklah, gue balik dulu. Sampai jumpa di pesta pernikahannya Pelatih Ronny. Gue harap loe datang" ucap Julian lagi sambil berlalu meninggalkan Dion sendirian di ruangan tersebut.


Dion mengusap wajahnya dengan kasar. Ia masih bingung dengan keputusan yang akan ia ambil setelah ini.


Tak bisa dipungkiri, selama setahun ini, Pikiran Dion masih tidak bisa lepas dari Tasya. Sekuat apapun dirinya mencoba melupakan Tasya, namun bayangan Tasya dan rasa bersalah itu semakin besar saja ia rasakan.

__ADS_1


Hati kecilnya selalu mengatakan kalau sebenarnya ia merindukan Tasya. Dion masih mencintai Tasya.


"Dasar pengecut" Dion merutuki dirinya sendiri.


__ADS_2