
Vina langsung melemparkan ponsel milik Denny ke arah pemiliknya dengan kasar.
Namun dengan sigap, Denny langsung menangkapnya.
"Ada apa?" Tanya Denny bingung.
"Kamu sadar gak sih? Kamu itu udah punya istri. Kenapa kamu masih saja godain cewek-cewek di luar sana. Trus aku ini kamu anggap apa?" Ucap Vina berapi-api.
Vina meluapkan segala emosi yang ada di hatinya.
"Aku tidak menggoda siapapun, Vin" Denny berusaha membela diri.
"Lalu itu, pesan pesan di ponselmu itu. Apa kamu masih mau menyangkal?" Vina masih kekeh dengan tuduhannya.
"Pesan apa? Kamu buka-buka ponsel aku?" Denny membuka ponselnya dan langsung menemukan puluhan chat dari nomer-nomer asing yang Denny tahu itu memang chat dari gadis yang pernah ia kencani.
Denny tak pernah lagi membalas chat-chat tersebut, karena dirinya memang benar-benar ingin menjadi suami yang baik untuk Vina. Namun sepertinya istrinya itu salah paham.
Seharusnya Denny memblokir nomer-nomer sialan itu dan menghapus semua chat bodoh tersebut.
Sekarang Denny hanya bisa merutuki kebodohannya.
"Vin, mereka memang mengirimiku pesan, tapi kamu lihat sendiri aku tidak pernah membalas ataupun menanggapinya" Denny mencoba menjelaskan.
Vina berdecak,
"Tetap saja kamu sudah pernah kencan dan tidur dengan mereka semua" kini Vina mulai menangis.
"Vin, aku dulu memang brengsek, tapi sekarang aku sudah berusaha untuk menjadi suami yang baik buat kamu, apa itu salah? Bukankah setiap orang punya masalalu?" Denny tetap berusaha mencari pembenaran.
Vina masih menangis sesenggukan.
"Vin aku minta maaf" Denny menangkup wajah istrinya tersebut, mencoba menghapus air mata di kedua pipi Vina.
"Baiklah, aku akan mengganti nomer ku agar para wanita itu tidak lagi menggangguku ataupun mengirim pesan padaku. Apa kamu senang sekarang?" Denny menatap tajam ke arah netra milik Vina.
"Lalu setelah itu kamu akan kembali menghubungi mereka dengan nomer barumu" Vina masih terus berprasangka buruk.
Denny langsung melepaskan tangannya dari wajah Vina dan mendengus kesal.
"Astaga, Vin. Berapa kali aku harus menjelaskannya padamu. Aku sudah tidak ada hubungan dengan mereka semua. Aku sudah melupakan mereka semua" Kini Denny mulai menaikkan nada bicaranya.
Sepertinya pria itu mulai emosi dengan sikap istrinya yang keras kepala dan terus-terusan berprasangka buruk padanya.
Vina masih diam,
Sesaat kemudian ponsel Denny berdering, buru-buru ia mengangkatnya
"Halo ada apa?" Jawab Denny cepat
"...."
"Baiklah aku akan kesana sekarang" ucap Denny lagi sebelum akhirnya menutup tellon yang entah dari siapa tersebut.
Denny segera merapikan penampilannya sebelum akhirnya berpamitan pada Vina.
"Aku akan ke kafe, ada sedikit masalah. Mungkin aku pulang agak malam. Aku ada kuliah sore ini. Jadi sekalian aku akan pergi ke kampus" jelas Denny pada Vina.
Vina hanya berdecak.
"Kamu mau titip sesuatu?" Tanya Denny sebelum benar-benar keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Vina menggeleng dengan malas.
"Pergilah!" Ucap Vina ketus.
Denny hanya mengendikkan bahu dan segera meninggalkan kamar tersebut.
Masabodoh dengan Vina yang mungkin masih marah kepadanya.
Vina duduk di sisi ranjang. Kepalanya terasa sakit setelah berdebat dengan Denny tadi. Mungkin karena dirinya terlalu emosi.
Vina memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
'Mungkin tidur sebentar akan membuat sakit kepala ini hilang' gumam Vina sebelum memejamkan matanya.
Ia merapatkan selimut yang membalut tubuhnya, karena mendadak suhu di kamarnya terasa begitu dingin.
*****
"Denny dan Vina dimana?" Mamanya Denny yang baru saja pulang dari luar kota bertanya pada salah satu pelayan yang menyambutnya.
"Tuan Denny pergi kuliah, Nyonya. Sedangkan Nona Vina dikamar sejak sore." Jawab pelayan itu menjelaskan.
Mama mengangguk dan segera menuju kamar Vina.
"Vina" mama mengetuk pintu kamar Vina.
Namun hening, tidak ada jawaban dari Vina.
Mama membuka pintu kamar tersebut dan langsung masuk ke dalam.
Gelap
"Vin, kamu tidur?" Tanya mama sambil menyalakan lampu di ruangan itu.
Mama segera menghampiri Vina. Sepertinya ada yang tidak beres.
"Vin..." mama menyibak selimut yang membungkus tubuh Vina.
Kini bisa ia lihat wajah Vina yang pucat dan menggigil kedinginan.
"Vin, kamu kenapa, Nak" ucap mama panik.
Buru-buru ia memanggil pelayan agar segera menghubungi dokter.
*****
Vina sudah selesai diperiksa oleh dokter.
Kata dokter, Vina sedikit stress dan banyak pikiran, karena itulah mendadak ibu hamil itu jadi demam.
Mama masih mondar-mandir di ruang tengah menunggu Denny pulang.
Geram sudah dirinya kini, ia akan memarahi anak lelakinya tersebut karena sudah mengabaikan istrinya yang sedang sakit.
*****
Denny yang baru saja datang, sedikit terkejut saat mendapati sang mama yang sudah berdiri bersedekap sambil melotot ke arahnya,
"Mama, kapan datang?" Tanya Denny berbasa-basi.
"Darimana kamu?" Bukannya menjawab sang mama malah balik bertanya dengan nada galak.
__ADS_1
"Dari kampus. Denny ada kuliah sore tadi" jawab Denny menjelaskan.
"Apa lebih penting kuliah kamu daripada mengurus istri kamu yang sedang sakit?" Mama masih melotot tajam ke arah Denny,
"Vina sakit? Tapi tadi siang dia masih baik-baik saja" Denny mencari pembelaan.
"Jadi kamu pikir mama berbohong dan istrimu pura-pura sakit begitu? Wajahnya sampai pucat badannya menggigil, apa kamu pikir Vina itu hanya akting?" Mama berucap dengan emosi.
"Bukan begitu, Ma. Denny hanya kaget saja. Karena tadi siang Vina..." Denny belum sempat menyelesaikan kata-katanya, namun sang mama sudah memotongnya.
"Dengar ya, Denny. Vina itu sedang mengandung cucu pertama mama. Jadi mama gak mau dia kenapa-kenapa. Ini yang terakhir kamu mengabaikan menantu mama." Ucap mama sambil menekankan setiap kata yang dia ucapkan.
Denny hanya mengangguk patuh.
Berdebat atau melawan sang mama sama saja menabuh genderang perang.
Entahlah, Denny juga bingung kenapa mamanya selalu saja membela Vina.
Padahal dirinya yang merupakan anak kandung mama, tapi tetap saja Denny yang selalu di salahkan.
Mama segera beranjak dari tempatnya tadi.
Kini Denny bisa sedikit bernafas lega.
Seorang pelayan yang membawa nampan berisi makanan terlihat berjalan menuju ke arah kamar Vina.
Buru-buru Denny menghentikannya,
"Ini buat siapa?" Tanya Denny pada pelayan tersebut.
"Untuk nona Vina, Tuan." Jawab pelayan itu sopan.
"Biar aku yang bawa" Denny dengan cepat mengambil nampan tersebut dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Ia harus secepatnya membujuk Vina agar wanita itu tak lagi ngambek.
Mamanya akan semakin murka kalau tahu dirinya dan Vina sedang bertengkar.
Vina tengah duduk bersandar di kepala ranjang sambil memainkan ponselnya, saat Denny masuk ke dalam kamar.
"Hai, sudah baikan?" Tanya Denny dengan nada selembut mungkin.
Vina hanya melengos.
"Apa pedulimu" jawab Vina ketus.
Seperti yang Denny duga, Vina masih ngambek ternyata.
"Vin, aku minta maaf" ucap Denny sungguh-sungguh
Vina masih diam.
"Vin, dulu aku memang play boy dan brengsek, tapi itu dulu. Sekarang aku benar-benar udah berubah, Vin. Di hati aku cuma ada kamu" ucap Denny sekali lagi.
Terdengar gombal mungkin, tapi itulah yang sekarang Denny rasakan.
Denny benar-benar ingin berubah dan memperbaiki semuanya.
"Baiklah, aku memaafkanmu kali ini. Tapi kalo sampai aku melihatmu merayu wanita lain, aku akan langsung minta pisah" ancam Vina sedikit emosi.
"Iya, aku janji" ucap Denny sedikit bernafas lega.
__ADS_1
"Kamu makan ya, aku suapin" ucap Denny lagi.
Vina mengangguk.