Natasya

Natasya
Rara dan Vira


__ADS_3

Tasya turun dari motor Dion, yang kini sudah berhenti di depan rumah Tasya.


"Aku langsung balik ya, Nat. Salam buat mama kamu" ucap Dion tanpa turun dari atas motor.


Tasya mengangguk


"Hati hati" pesan Tasya.


Dion hanya mengangguk dan bergegas memacu motornya meninggalkan Tasya.


Tasya memandang Dion hingga tak tampak lagi.


Ia pun bergegas masuk ke halaman. Motor mama Sarla sudah terparkir di halaman. Berarti mamanya sudah pulang.


Tasya segera masuk ke dalam rumah.


Namun pemandangan di sofa ruang tamu membuat Tasya tercengang.


"Rara?" Gumam Tasya tak percaya. Bagaimana bisa gadis berkacamata itu ada dirumahnya.


"Tasya," Rara sama kagetnya dengan Tasya.


Kedua gadis itupun saling menatap tajam. Berbagai pertanyaan kini memenuhi kepala mereka.


"Sya, udah pulang?" Suara Mama Wina yang baru saja keluar dari arah dapur memecah keheningan di antara Tasya dan Rara.


"Iya, ma. Mama udah lama?" Tasya segera meraih tangan mama sarla dan mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut.


"Mama juga baru aja nyampe. Ayo duduk dulu mama mau cerita sesuatu" mama Sarla membimbing Tasya agar duduk di sofa tak jauh dari Rara.


Tasya melihat gadis yang sekarang menunduk itu.


"Oh ya, mama mau kenalin kamu sama Vira" mama Sarla yang entah sejak kapan sudah duduk di samping Rara merangkul pundak Rara dan memperkenalkannya kepada Tasya sebagai...Vira?


Bukankah namanya Rara? Kenapa mama Sarla menyebut nama gadis itu Vira?


Baiklah sekarang Tasya merasa bingung.


"Kenapa dia ada disini , ma?" Tasya memberanikan diri untuk bertanya.


"Iya, jadi sebenarnya mama dulu pernah punya seorang putri, Sya. Putri mama menghilang pas usianya tujuh tahun. Selama ini mama terus mencarinya. Dan hari ini ternyata Tuhan mempertemukan mama dengan Vira" mama Sarla merangkul erat gadis berkacamata tersebut.


Mata mama Sarla tampak berkaca-kaca menahan haru dan rasa bahagia di hatinya.


Sesaat Tasya masih tak percaya dengan pemandangan yang ada di depannya dan sebuah fakta baru yang ia dengar dari mama Sarla.


Bagaimana bisa Tasya tidak tahu kalau selama ini mama Sarla memiliki seorang putri kandung?


Tapi bagaimana ceritanya mama Sarla bisa bertemu Rara dan menyimpulkan bahwa gadis itu adalah putrinya yang selama ini menghilang?


Berbagai pertanyaan berkelebat di kepala Tasya.


Flashback on

__ADS_1


"Brak"


Mama Sarla yang baru saja pulamg dari kantor, yak sengaja menyerempet seorang gadis yang menyebrang dengan tiba tiba.


Untunglah mama Sarla mengemudikan motornya tidak terlalu kencang.


Mama Sarla dan gadis itu sama sama terjatuh.


Entah bagaimana ceritanya, kepala gadis itu terbentur pinggiran trotoar.


Banyak warga yang berdatangan untuk menolong mama Sarla dan gadis yang sekarang tak sadarkan diri tersebut.


Setelah meminta bantuan, gadis itu dibawa ke rumah sakit. Mama Sarla bergegas menyusul dengan menggunakan motornya.


*****


Mama Sarla menunggu dengan cemas di depan ruang UGD.


Ia ingin mengabarkan pada Tasya tentang kejadian ini. Namun saat membuka ponselnya, ternyata baterei ponselnya habis.


Setelah menunggu sedikit lama, seorang dokter keluar dari ruangan.


"Apa anda keluarga gadis itu?" Tanya dokter tersebut.


"Bukan dok, tadi saya yang yak sengaja membuatnya terjatuh" jawab mama Sarla.


"Dia sudah sadar. Tapi sepertinya dia kebingungan. Silahkan masuk dulu" mama Sarla pun bergegas masuk ke dalam ruangan demi melihat gadis malang tersebut.


Bisa mama Sarla lihat, gadis yang tengah berbaring di atas ranjang rumah sakit tersebut sedang menatap kosong ke arah jendela.


Mama Sarla yang mendengar pembicaraan dokter dan suster tersebut sedikit terkesiap.


"Vira?" Gumam mama Sarla dalam hati. Mendadak ia ingat putrinya yang menghilang.


"Dok, apa boleh saya mengajaknya bicara?" Tanya mama Sarla sedikit ragu.


"Silahkan, bu." Kata dokter tersebut.


Mama Sarla mendekati gadis yang sepertinya berusia sama dengan Tasya tersebut.


"Nak," sapa mama Sarla lirih.


Gadis itu menoleh ke arah mama Sarla.


Netra keduanya bertemu.


Mendadak sebuah bayangan dan kilas kilas kejadian berkelebat di kepala gadis itu.


Ia menatap tajam pada mama Sarla.


Pandangan teduh itu, mengingatkannya pada seorang wanita...


Kilas kejadian kembali berkelebat di kepala gadis itu.

__ADS_1


Seorang wanita yang menangis, seorang gadis kecil yang dipaksa naik ke sebuah mobil dan terus menangis memanggil mamanya.


Seorang ibu dan anak yang dipaksa untuk dipisahkan dan tidak pernah bertemu lagi...


"Mama?" Ucap gadis itu lirih.


Ia sedikit ragu. Apakah wanita di hadapannya ini benar adalah mamanya yanh entah sudah berapa lama tidak dia lihat.


"Vira?" Mama Sarla sedikit ragu


Namun manik mata gadis dihadapannya ini memang persis dengan milik Vira kecilnya.


Apa benar ini adalah putri yang selama ini ia cari?


"Iya, ma. Ini Vira" gadis itu menangis sesenggukan.


Mama Sarla langsung memeluk erat gadis di hadapannya tersebut.


Perlahan, Vira mulai ingat semuanya.


Ia ingat saat penculik membawanya pergi dari rumah kakeknya,


Saat ia melarikan diri dan nekat melompat dari mobil.


Vira juga ingat saat seorang wanita membawanya pulang ke sebuah rumah yang asing baginya.


Bahkan pertengkaran pertengkaran yang setiap hari harus dia saksikan, dan membuatnya menjadi pribadi yang pendendam.


Kini Vira mampu mengingat semua itu.


Namun satu hal yang membuatnya bahagia, kini ia sudah bertemu mama kandungnya.


Vira tak perlu lagi kembali pulang kerumah neraka itu.


Vira akan pulang bersama mama Sarla dan mendapatkan kasih sayang yang selalu ia rindukan selama ini.


Flashback off


Mama Sarla baru saja selesai menceritakan semua kronologi pertemuannya dengan Vira.


Kini Tasya menatap kosong pada dua wanita di hadapannya.


Mendadak ada ketakutan di hati Tasya.


"Ma, Tasya ke kamar dulu" ucap Tasya sedikit ragu.


Entah mengapa salah satu sudut hatinya terasa nyeri.


Mama Sarla hanya mengangguk.


Tasya segera bangkit dari tempat duduknya dan bergegas masuk ke dalam kamar.


Air matanya jatuh bercucuran tanpa permisi.

__ADS_1


Tasya tak tahu kenapa kini dia menangis.


__ADS_2