
Tasya baru saja sampai di depan pintu apartemen tempat tinggalnya. Wanita itu baru saja pulang dari luar kota untuk menghadiri seminar.
Tasya membuka pintu dengan perlahan. Tasya yakin, Dion sudah pulang dan sedang ada di dalam. Mendadak Tasya mendapat ide iseng.
Tasya mengendap-endap masuk ke apertemennya sendiri. Lampu di lorong depan yang menuju ke arah ruang tamu mati. Pun lampu di ruang tamu juga mati. Namun lampu di area meja makan menyala remang-remang.
Dion sedang duduk di salah satu kursi yang membelakangi arah Tasya datang. Pria itu sepertinya sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya.
Tasya mendekati Dion dengan langkah perlahan, sebisa mungkin Tasya tak ingin membuat suara.
Semakin dekat, Tasya sudah semakin dekat sekarang.
Saat sudah berada tepat dibalik punggung Dion, sekilas Tasya bisa melihat apa yang tengah di lihat oleh Dion di layar laptopnya.
Tasya yang tadinya sudah akan mengejutkan Dion, mendadak jadi mengurungkan niatnya.
Video itu...
Gambar-gambar itu...
Dion tampak khusyuk memandanginya. Sesekali pria itu akan tersenyum simpul.
Video bayi-bayi mungil dan lucu yang memang menggemaskan dan membuat jatuh hati siapapun yang melihatnya.
Selama empat tahun ini, Dion memang tidak pernah membahas hal sensitif ini di depan Tasya. Bahkan Dion selalu terlihat baik-baik saja, meskipun Tasya belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Namun, malam ini Tasya sadar kalau sebenarnya Dion sangat merindukan kehadiran makhluk kecil itu di dalam hidupnya.
Tasya merasa semakin bersalah sekarang.
Tes...
Air mata Tasya meluncur begitu saja di kedua pipinya.
Tasya tak sanggup lagi melihat ini semua. Tasya akhirnya berbalik dan berjalan cepat masuk ke dalam kamar.
Dion yang tadinya masih fokus melihat layar, langsung berbalik dan menengok ke arah pintu masuk karena mendengar suara langkah kaki Tasya.
Dion mematikan laptopnya, sebelum akhirnya berjalan menuju ke kamar.
"Nat! Kamu sudah pulang?" Dion memanggil istrinya tersebut.
Tasya yang mendengar suara Dion memanggilnya, langsung buru-buru menghapus airmatanya. Tasya tidak mau Dion tahu, kalau dirinya sedang menangis.
"Nat? Kapan kamu pulang?" Kini Dion sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Hai, Dion, aku baru sampai" jawab Tasya berusaha mengendalikan emosinya.
"Apa kamu menangis?" Dion sedikit curiga dan langsung berjalan menghampiri Tasya.
"Tidak, Di. Aku hanya kelilipan saja" jawab Tasya berbohong. Tasya mengucek matanya demi meyakinkan Dion kalau dirinya tidak sedang menangis.
Dion yang kini sudah berdiri di dekat Tasya, langsung menangkup wajah istrinya tersebut, dan memperhatikan dengan seksama ke arah netra milik Tasya.
"Dion, aku ba..."
Cup
Tasya bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat tiba-tiba bibir Dion sudah mendarat tepat di atas bibirnya.
"Kenapa tidak menelponku, agar aku bisa menjemputmu" ujar Dion sambil melingkarkan kedua lengannya di pinggang Tasya.
"Aku bisa naik taksi. Lagi pula, aku pikir kamu tadi masih di kantor dan belum pulang" Tasya mencari alasan.
"Aku merindukanmu, Nat" Dion mulai menciumi leher jenjang istrinya.
"Aku juga merindukanmu" balas Tasya merasa kegelian.
"Hentikan, Di! Aku belum mandi" pinta Tasya sambil tertawa kecil.
"Aku juga belum mandi. Bagaimana kalau kita lanjutkan di kamar mandi" Dion memberikan penawaran.
"Kau ingin menipuku? Kau bahkan sudah harum, bagaimana mungkin kau belum mandi." Tasya membantah dengan cepat penawaran Dion barusan. Tentu saja Tasya sudah hafal dan bisa membedakan Dion yang sudah mandi dan Dion yang belum mandi.
Dion langsung tertawa.
Rayuan gombalnya sepertinya gagal kali ini.
"Di, aku lapar. Bisakah kamu yang memasak makan malam?" Pinta Tasya dengan nada memohon. Sengaja Tasya memasang mimik sok imut agar Dion tak bisa menolaknya kali ini.
Dan tentu saja Dion benar-benar gemas saat Tasya mulai memasang mimik seperti ini. Pria itu hanya menahan tawanya sebelum akhirnya mencubit pipi Tasya yang sekarang memang lebih chubby.
"Baiklah, istriku sayang kamu ingin makan apa malam ini?" Dion akhirnya menuruti permintaan Tasya.
"Apa saja, jika kamu yang memasak semuanya terasa enak" apa Tasya sedang menggombal juga sekarang? Dasar pasangan aneh.
"Baiklah. Beri aku satu ciuman, dan aku akan memasak istimewa untukmu" Dion memonyongkan bibirnya, dan sudah siap menerima satu ciuman dari Tasya.
Tasya benar-benar ingin tertawa keras sekarang.
Tapi pada akhirnya, Tasya tetap memenuhi permintaan suaminya tersebut.
Cukup lama keduanya saling berpagutan, hingga akhirnya Tasya yang terlebih dulu mengakhirinya.
"Baiklah, aku akan mandi. Selamat memasak, suamiku sayang" sedikit berjinjit Tasya mencium pipi Dion sebelum akhirnya wanita itu kabur masuk ke kamar mandi.
Dion hanya tersenyum sambil mengelus pipinya sendiri, sebelum akhirnya pria itu keluar dari dalam kamar dan menuju ke arah dapur.
Tasya baru saja keluar dari kamar, saat mencium aroma harum dari arah dapur mungil di apartemennya.
Tasya buru-buru berjalan ke arah dapur, tak sabar ingin tahu apa yang dimasak oleh Dion.
Sampai di deoan dapur, Tasya melihat Dion yang masih mengenakan celemek masak, sedang menuang nasi goreng dari wajan ke dalam piring. Pria itu juga menambahkan irisan telur dan beberapa sayur pelengkap ke atas piring.
Tasya memilih untuk melihatnya saja, saat Dion melakukan itu semua.
Tentu saja ini bukan kali pertama Dion harus memasak di rumah. Cukup sering Dion melakukan hal itu. Dan menurut Tasya, Dion sungguh sexy saat pria itu mulai berkutat dan memasak di dapur mungil tersebut.
Dion sudah selesai dan hendak membawa dua piring berisi nasi goreng tersebut ke meja makan.
Dion sedikit terkejut saat mendapati Tasya yang sudah duduk manis di salah satu kursi meja makan dan sedang memperhatikan dirinya.
"Sudah selesai yang mandi?" Tanya Dion berbasa-basi sambil meletakkan piring dengan perlahan di atas meja makan.
Tasya mengangguk,
__ADS_1
"Baunya harum, apa rasanya seenak baunya?" Tanya Tasya menggoda.
Dion melepas celemek yang tadi ia kenakan, sebelum akhirnya ikut duduk di kursi di depan Tasya.
"Cobalah!" Dion menyendok nasi goreng tersebut, lalu menyuapkannya ke mulut Tasya.
Tasya mengunyah perlahan nasi goreng tersebut, dan membiarkan indra perasanya bekerja. Sebelum akhirnya wanita itu manggut-manggut.
"Ini enak" Ucap Tasya bersungguh-sungguh.
"Habiskan kalau begitu, sebelum aku memakanmu malam ini" ucap Dion sedikit berbisik.
Tasya hanya mencibir,
"Dasar mesum" jawab Tasya sedikit terkekeh.
"Aku tidur sendirian tadi malam, Nat. Apa kamu tidak kasihan kepadaku" Dion memasang wajah memelas.
Tasya menahan tawanya,
"Hanya semalam dan kau sudah mengeluh." Tasya menyuapkan nasi goreng lagi ke dalam mulutnya sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Jadi, apa yang kau lakukan semalam? Meratapi kesendirianmu?" Kali ini Tasya berkata sambil tertawa kecil.
Dion menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sebenarnya, aku menginap di mess kemarin malam. Aku kesepian disini" ujar Dion ragu-ragu.
Tasya hanya manggut-manggut.
"Lalu, apa yang kamu lakukan di mess? Bermain playstation lagi?" Tuduh Tasya sedikit melotot.
"Tidak..." sangkal Dion cepat.
"Aku berlatih hingga malam di sana" Dion menjelaskan.
"Pantas saja, aku telpon tidak diangkat" Tasya berdecak.
"Aku sudah menelpon balik setelah latihan. Tapi kau tidak mengangkatnya" Dion membela diri
"Aku sudah tidur" jawab Tasya enteng.
Gantian Dion yang mencibir.
"Lalu seharian tadi kau kemana?" Tasya melanjutkan menginterogasi Dion.
"Pagi aku latihan lagi bersama tim, setelah makan siang aku ke kantor dan baru pulang sore tadi jam empat." Tukas Dion menjelaskan semuanya.
Pria itu meneguk air putih yang ada di gelas di hadapannya.
Nasi goreng di piringnya sudah tandas tak bersisa.
"Mama menelponku tadi siang" ujar Tasya singkat sambil menyendokkan nasinya yang terakhir ke dalam mulutnya.
Sejenak suasana menjadi hening.
"Soal acara itu?" Tebak Dion.
Tasya hanya mengangguk.
Dion tahu, ini pasti berat untuk Tasya.
Menghadiri acara syukuran atas kelahiran putra kedua Kevin dan Vira, pasti akan membuat Tasya kembali tertekan.
Tasya menggeleng,
"Kita harus pergi, Di. Aku akan baik-baik saja" ucap Tasya bersungguh-sungguh.
Dion menatap lekat wajah istrinya tersebut.
Wajah yang selalu Dion pandangi setiap malam sebelum ia menutup mata ataupun setiap pagi saat dirinya membuka mata.
"Apa kau yakin?" Tanya Dion masih ragu.
Tasya mengangguk dengan yakin.
Tasya akan menghadapi semuanya.
Empat tahun berlalu dan Tasya merasa sudah pasrah dengan kedaannya yang sekarang. Tasya tak mau terlalu memikrkan tentang omongan ataupun cibiran orang lain mengenai dirinya yang tak kunjung hamil di usia pernikahan yang sudah masuk empat tahun.
Ini adalah hidupnya, dan Tasya memilih untuk menikmatinya. Tasya masih yakin suatu hari nanti dirinya dan Dion akan mendapatkan kesempatan indah itu. Entah kapan.
Tapi apa salahnya Tasya berharap.
Lagi pula, hubungannya dengan Dion juga tetap baik-baik saja selama ini. Dan Dion...
Tak bisa di pungkiri, Dion ternyata memang merindukan kehadiran seorang bayi di dalam pernikahan mereka. Dan Tasya baru mengetahui semuanya sore tadi.
Kini Tasya merasa sedikit bersalah
"Baiklah kalau itu keputusanmu. Aku akan memesan tiket" ujar Dion memecah keheningan di ruangan tersebut.
Tasya mengangguk samar, sebekum akhirnya wanita itu beranjak berdiri dan membereskan peralatan makan yang tadi mereka pakai.
Tasya membawa semua piring kotor tersebut ke dapur dan mencucinya. Tak lupa Tasya juga membereskan kekacauan di dapur yang tadi di buat oleh Dion saat menyiapkan makan malam. Tasya melakukan semua itu dalam diam.
Dion juga tak lagi bersuara atapun mengajak Tasya mengobrol. Pria itu sudah meninggalkan ruang makan dan entah pergi kemana.
Setelah semuanya beres dan dapur kembali rapi, Tasya bergegas mematikan lampu di ruangan tersebut.
Tasya berjalan menuju ke arah ruang tengah. Dion juga tak ada di sana.
Tasya lanjut masuk ke dalam kamar. Dion tak ada di ruangan itu.
Namun pintu kamar yang menuju ke arah balkon terbuka. Mungkin Dion sedang di balkon sekarang.
Tasya berjalan menuju pintu tersebut, dan benar saja Dion sedang berdiri termenung di balkon yang terbuka tersebut.
Kepala Dion menengadah ke langit, menatap bintang-bintang yang tak terlalu terlihat karena kalah oleh sinar lampu kota dan lampu dari gedung-gedung tinggi pencakar langit.
"Kau sedang apa?" Tanya Tasya yang kini sudah ikut berdiri di samping Dion.
"Sedang memandangi bintang-bintang di langit" jawab Dion singkat.
__ADS_1
Dion mengulurkan lengannya dan merangkul pundak Tasya untuk kemudian ia bawa ke dalam pelukannya.
"Apa kau merasa kesepian? Apa kau merindukan kehadiran mereka?" Tanya Tasya sedih.
Dion hanya tersenyum tipis.
"Kita akan mendapatkan kesempatan itu suatu hari nanti, Nat. Mungkin bulan depan, atau bulan depannya" jawab Dion optimis.
Tasya hanya diam. Ia bahkan sudah menyerah dan pasrah sekarang. Semua saran dari Elena sudah Tasya lakukan, tapi tetap saja semuanya seperti sia-sia.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam, Nat" Dion membimbing Tasya agar masuk kembali ke dalam kamar.
*****
Tasya baru saja pulang dari rumah sakit. Hari ini dirinya memang ada jadwal siang, jadilah dia tiba di rumah agak malam.
Tadinya Tasya ingin Dion menjemputnya, namun pria itu mengatakan kalau ada latihan mendadak atau entahlah. Tasya juga tak terlalu tahu.
Tasya sudah masuk ke dalam apartemennya. Suasana di dalam gelap gulita, menandakan Dion memang juga belum pulang.
Saat Tasya sedang melepas sepatu yang ia kenakan, ponselnya berbunyi.
Tasya merogoh ke dalam tasnya dan mencari-cari keberadaan benda persegi tersebut.
Tertulis nama Salsa di layar ponselnya. Buru-buru Tasya mengangkatnya.
"Halo, Salsa. Ada apa?" Tanya Tasya sesaat setelah mengangkat telepon dari Salsa.
"Apa aku mengganggumu?" Terdengar nada khawatir dari Salsa di seberang sana.
"Tidak. Aku baru saja sampai di rumah. Ada apa?" Jawab Tasya dengan nada santai.
"Apa kamu sibuk minggu ini?" Tanya Salsa lagi.
"Tidak. Ada apa sebenarnya, Sal?" Tasya mulai khawatir. Karena dari nada bicara Salsa sepertinya ada hal penting yang ingin wanita itu sampaikan.
"Apa kamu ada waktu berkunjung ke sini? Sebenarnya ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Aku tidak bisa membahasnya di telepon. Ini rumit, Sya" kata Salsa panjang lebar, membuat Tasya mengernyit bingung.
"Sebenarnya, aku dan Dion memang akan ke rumah mama lusa, jadi aku rasa aku bisa mampir ke panti sebentar." Ucap Tasya menjawab pertanyaan dari Salsa.
"Bagus kalau begitu. Kita akan membicarakannya nanti. Aku tutup dulu telponnya, Sya" ujar Salsa berpamitan.
"Oke, Sal. Selamat malam" balas Tasya sebelum menutup panggilan dari Salsa.
Setelah menyimpan kembali ponselnya, Tasya meraba-raba dinding di dekat pintu masuk untuk mencari keberadaan tombol lampu.
Tasya memencet tombol itu berulang kali namun entah mengapa lampu tidak juga menyala.
"Aneh" gumam Tasya bingung.
Tiba-tiba tak tahu darimana datangnya, ada lampu-lampu kecil yang menyala di atas lantai di depan Tasya. Lampu itu menyala membentuk sebuah jalan kecil menuju ke ruang tengah apartemen tersebut.
Tasya sedikit terkejut, namun wanita itu memutuskan untuk mengikuti cahaya lampu-lampu tersebut yang berakhir di meja bundar yang ada di tengah-tengah ruangan.
Meja dengan dua buah kursi, yang dikelilingi oleh cahaya lilin.
Sepertinya meja itu memang sudah disiapkan untuk acara makan malam romantis.
Dan tentu saja yang membuat Tasya semakin terkejut adalah Dion yang sudah berdiri di sana mengenakan kemeja dan berdandan rapi serta membawa sebuket bunga mawar.
Senyuman tersungging di bibir Dion membuat Tasya semakin bertanya-tanya, ada apa ini sebenarnya?
"Selamat malam, Bidadari" sapa Dion dengan nada mesra sambil mengulurkan buket bunga pada Tasya.
"Selamat malam, suaminya bidadari" Tasya menerima buket bunga tadi dari tangan Dion dan membalas sapaan suaminya tersebut.
"Ayo duduk!" Dion menarik kursi untuk Tasya dan meminta istrinya tersebut duduk di kursi.
Meskipun masih bertanya-tanya, Tasya tetap menurut.
Dion sendiri duduk di kursi yang ada di depan Tasya.
"Ada apa ini, Di?" Tasya akhirnya tak dapat menahan diri lagi untuk tidak bertanya.
"Apa kau sungguh tak ingat?" pertanyaan dari Dion membuat Tasya mengernyit bingung.
Tasya mencoba mengingat-ingat.
Tapi entahlah.
Pikirannya mendadak menjadi buntu.
Tasya menggeleng.
"Anniversary pernikahan kita yang keempat, Nat" ucap Dion akhirnya.
Refleks Tasya langsung menepuk keningnya sendiri.
Bagaimana mungkin Tasya melupakan hari penting ini?
"Baiklah, jangan menyakiti dirimu sendiri. Tidak masalah jika kamu tidak mengingatnya, kamu memang sibuk belakangan ini" Dion meraih tangan Tasya dan menggenggamnya erat.
"Maafkan aku," Ucap Tasya merasa bersalah.
"Tidak perlu minta maaf. Aku jadi bisa membuat kejutan untukmu, karena kamu lupa" jawab Dion sambil terkekeh.
Tasya ikut terkekeh.
"Jadi, kamu yang menyiapkan ini semua?" Tanya Tasya masih tak percaya.
"Ya. Aku menyiapkannya dari sore. Aku juga memasak makanannya sendiri" Dion menunjukkan makanan yang kini sudah terhidang dan tertata apik di atas meja.
"Tapi bukankah, tadi katamu kamu ada latihan mendadak?" Tanya Tasya lagi.
"Aku berlatih untuk menggodamu malam ini" ujar Dion sedikit berbisik.
Sontak pipi Tasya langsung merona merah.
"Baiklah, aku akui kamu berhasil mengejutkanku malam ini. Dan ini sungguh romantis. Kamu memang jagonya, Di" ucap Tasya sambil tersenyum tulus.
"Jadi... bisa kita lanjutkan acara makan malam ini? Aku sudah lapar" ujar Dion sambil meringis, membuat Tasya tertawa kecil.
"Baiklah aku juga sudah lapar" Tasya mulai menyendok makanan yang ada di piringnya.
__ADS_1
Keduanya makan sambil mengobrol banyak hal.