
Saat rasa benci perlahan berubah menjadi cinta, apa yang selanjutnya akan terjadi?
Ah, Sudahlah.
Salsa sungguh tak ingin memikirkan itu semua.
Ia sendiri masih bingung apa dia mencintai kak Ronny, atau hanya sekedar ingin menurut pada kedua orang tuanya.
Namun selama ini, Salsa selalu merasa nyaman saat berada di samping kak Ronny. Apa ini yang di sebut cinta?
Namun terkadang rasa jengkel itu juga muncul saat dirinya mengingat hal hal konyol yang dilakukan oleh Ronny.
Apapun itu, hari ini adalah hari bahagianya, jadi Salsa memilih untuk menikmati semuanya dan membiarkan semuanya mengalir saja.
Pesta pernikahan ala garden party yang dipilih oleh Salsa dan Ronny di hari bahagia mereka.
Kedua mempelai berpenampilan santai dengan baju pengantin serba putih.
Tasya yang sudah menemani Salsa sejak semalam, hari ini juga tampil anggun dengan gaun putih selutut berbahan sifon.
"Selamat ya, kak" Tasya memeluk erat kak Ronny.
Hatinya ikut bahagia karena akhirnya impian kak Ronny untuk bersanding dengan Salsa kini terwujud.
"Makasih, Sya. Semoga kamu juga bahagia dan segera menemukan laki laki baik yang mau menerima kamu apa adanya" ucap kak Ronny panjang lebar.
Tasya tersenyum simpul. Namun dalam hati Tasya mengaminkan doa dari Ronny tersebut.
Tasya ganti memeluk Salsa.
"Selamat ya, Sal." Ucap Tasya tulis pada sahabatnya tersebut.
Tasya ingat saat pertama kali dirinya mengenal Salsa. Gadis ramah yang selalu setia menjadi teman curhatnya bahkan sampai sekarang.
"Makasih, Sya. Semoga kamu juga cepet nyusul" ucap Salsa sambil terkekeh.
Tasya ikut tertawa kecil.
"Apa aku harus memanggilmu kakak sekarang?" Tanya Tasya sedikit berbisik.
"Ayolah, aku belum setua itu. Lagipula kita kan seumuran" jawab Salsa sedikit mencebik.
"Tapi kamu kan udah jadi kakak iparku. Gak sopan rasanya kalau aku tetap memanggilmu Salsa" Tasya mencari alasan.
Sontak Salsa langsung menampilkan wajah kesalnya.
"Tasya..." geram Salsa semakin mencebik.
Namun Tasya malah tertawa.
"Kenapa mencebik seperti itu? Tersenyumlah atau aku akan menciummu" Ronny yang melihat istrinya mencebik sedikit protes.
Sontak Salsa langsung melotot tajam ke arah Ronny.
"Baiklah, aku tidak mau terlibat dalam pertengkaran rumit ini. Jadi sepertinya aku akan pergi saja" ucap Tasya cengengesan.
Salsa gantian melotot ke arah Tasya. Namun gadis itu malah semakin tertawa puas.
"Tapi aku harus benar benar pergi sekarang, sebelum tertinggal pesawat" lanjut Tasya lagi.
__ADS_1
"Kenapa terburu-buru, Sya. Pestanya belum selesai" Salsa mulai protes.
"Besok pagi aku ada ujian. Jadi aku harus belajar dan menyiapkan segalanya" jawab Tasya serius.
Salsa menghela nafas.
"Baiklah, hati hati. Semoga ujianmu lancar" Salsa kembali memeluk sahabatnya tersebut.
"Kau berangkat sendiri?" Tanya Ronny khawatir.
"Aku akan naik taksi. Kakak gak perlu khawatir." Jawab Tasya cepat.
"Baiklah, hati hati. Telpon kami kalau kau sudah sampai" pesan Ronny.
Tasya segera mengangguk dan sekali lagi memeluk sepasang suami istri tersebut sebelum berpamitan.
Tasya sudah akan berjalan menuju pintu keluar, saat sebuah suara yang terdengar familiar menyapanya.
"Tasya!" Vina yang tampil sangat anggun menyapa Tasya sambil tersenyum bahagia.
Seorang anak laki laki berusia sekitar tiga tahun, berada di gendongan Vina.
Vina datang bersama Denny.
"Hai, Vina" Tasya segera membalas sapaan Vina dan bercipika cipiki sambil menanyakan kabar masing masing.
"Kamu datang sendirian?" Tanya Vina berbasa basi.
"Ya. Aku sudah disini sejak semalam dan sekarang aku sudah harus kembali" jelas Tasya panjang lebar.
"Secepat itu" Vina sedikit kecewa. Tadinya ia ingin mengobrol banyak hal pada Tasya.
Vina mengangguk tanda mengerti.
"Padahal aku kangen banget sama kamu" Vina memeluk Tasya sekali lagi.
"Mungkin lain kali kita bisa membuat jadwal untuk bertemu dan reuni. Aku juga kangen sama kalian semua" usul Tasya.
Vina langsung tersenyum sumringah.
"Ide bagus. Nanti kita atur waktunya" ucap Vina bersemangat.
Tasya mengangguk sambil tersenyum.
"Hai, semua. Lagi reunian?" Julian yang baru saja datang, menyapa ketiga temannya demgan sedikit terkekeh.
"Hai, bro. Sendirian? Mana cewek loe" Denny yang menjawab sapaan Julian malah gantian mengejeknya.
"Sialan loe. Cewek gue gak lagi bisa datang"ucap Julian sambil menonjok bahu Denny.
Tasya dan Vina ikut tertawa.
"Gue penasaran, siapa sih ceweknya seorang Julian" ucap Vina dengan nada mengejek.
"Tunggu aja tanggal mainnya. Loe semua bakalan kaget liat siapa cewek gue" jawab Julian dengan bangga.
"Baiklah, aku tidak sabar nunggu undangan dari kamu dan cewek misterius kamu itu" Tasya ikut ikutan menggoda Julian.
"Awas kalian semua" Kini Julian mulai kesal.
__ADS_1
Namun ketiga temannya tersebut malah semakin terbahak.
"Baiklah baiklah. Aku harus pergi sekarang, sebelum tertinggal pesawat" Tasya mencoba menyudahi tawanya.
"Mau kemana emang, Sya?" Tanya Julian penasaran.
"Melanjutkan hidup dan mengejar cita cita" jawab Tasya cengengesan. Tentu saja hal itu membuat Julian menjadi kesal dan semakin penasaran.
"Yaudah, Sya. Hati hati. Sukses ya ujiannya" Vina bercipika cipiki dengan Tasya.
Tasya berpamitan pada Denny dan Julian seperlunya dan segera pergi meninggalkan pesta tersebut.
Sebuah taksi sudah menunggu Tasya. Setelah Tasya naik,taksi tersebut segera meluncur ke arah bandara.
Sesaat setelah kepergian taksi yang membawa Tasya, mobil Dion memasuki area pesta pernikahan tersebut.
Dion sedikit terlambat. Ia datang bersama mama Wina dan papa Rian.
Setelah bersalaman dan memberi selamat kepada kedua mempelai pengantin, Dion bergegas menghampiri Julian dan Denny yang sepertinya sedang membahas hal seru.
"Hai, semua. Lagi bahas apa? Kayaknya seru banget" sapa Dion pada teman temannya tersebut.
"Dateng loe, Di? Gue kira pingsan di mess" jawab Julian sambil terbahak.
Denny ikut tertawa. Vina sudah bergabung dengan tamu yang lain dan meninggalkan ketiga pria tersebut.
"Pesawat gue delay, makanya telat" ucap Dion memberi alasan.
Dion celingukan seperti tengah mencari seseorang.
"Kalo loe nyariin Tasya, loe telat. Tasya udah pergi dari tadi" Julian seperti bisa membaca pikiran sahabatnya tersebut.
Dion tadinya ingin menyangkal, namun ia malah penasaran kenapa Tasya pergi. Apa gadis itu memang sengaja menghindarinya?
"Bukannya Tasya sahabat deketnya Salsa? Kok cepet banget perginya" ucap Dion dengan nada sinis. Padahal dalam lubuk hati Dion sungguh merasa penasaran.
"Tasya harus ngejar pesawat. Jadi dia pergi duluan. Lagipula dia sudah disini sejak semalam" Kali ini Denny yang menjawab dan menjelaskan.
Dion sedikit terkejut.
"Memangnya Tasya mau kemana?" Tanya Dion semakin penasaran.
"Loe belum tahu? Tasya sekarang kuliah kedokteran di luar kota" jawab Denny santai.
Dion semakin tak percaya.
Sejak kapan Tasya kuliah ke luar kota? Kenapa dirinya tidak tahu?
Ia baru setahun putus hubungan dengan Tasya, dan sudah banyak hal yang tidak ia ketahui.
"Kuliah dimana?" Tanya Dion semakin penasaran. Dia sungguh-sungguh ingin menemui Tasya sekarang dan ingin bicara banyak hal pada gadis itu.
Denny mengendikkan bahu.
"Gue gak tahu. Tasya gak pernah ngasih tahu ke Vina. Gue rasa yang tahu semuanya cuma Salsa dan pelatih Ronny" Denny memandang ke arah Ronny dan Salsa yang kini masih sibuk menyalami tamu yang hadir.
Dion benar benar ingin tahu sekarang.
Dion bertekad untuk bertanya pada pelatih Ronny.
__ADS_1