Natasya

Natasya
Gadis Unik


__ADS_3

Salsa berjalan menyusuri rak panjang di sebuah swalayan.


Sesekali kepalanya mengangguk angguk mengikuti irama musik dari headset yang terpasang di telinganya.


Dulu, Salsa benci saat sang mama menyuruhnya untuk berbelanja. Namun kini hal itu menjadi aktivitas rutin Salsa seminggu dua kali.


Saat sedang asyik memilih milih makanan ringan, ada sebuah tangan yang menepuk pundak Salsa lumayan keras.


Salsa yang kaget langsung menoleh untuk melihat siapa yang sudah mengganggu dirinya.


Pelatih Ronny tersenyum sok manis pada Salsa membuat Salsa mendadak menjadi illfeel.


'Kenapa harus ketemu pelatih resek ini sih' batin Salsa kesal.


"Sedang berbelanja?" Tanya pelatih Ronny berbasa basi.


Salsa segera membuka headset nya demi bisa mendengar suara pelatih Ronny.


Ya meskipun kesal, tapi Salsa merasa tetap harus bersikap sopan pada om resek di depannya itu.


Salsa tidak mau kuwalat gara gara nyuekin om om tua nan resek.


"Bapak ngapain disini?" Bukannya menjawab, Salsa malah bertanya balik pada pelatih Ronny.


Pelatih Ronny berdecak sedikit kesal.


"Bisa kah memanggilku dengan sebutan lain? Ronny saja misalnya." Ucap pelatih Ronny sambil menatap tajam pada Salsa.


"Maaf, pak tidak bisa. Bapak kan lebih tua dari saya. Gak sopan namanya kalo saya manggil nama" ucap Salsa panjang lebar. Sepertinya gadis itu sengaja membuat pelatih Ronny kesal dengan terus terusan memanggil bapak.


"Kalo begitu panggil saja mas atau kak atau bang juga gak papa" jawab pelatih Ronny mencari solusi.


"Kayak abang tukang bakso aja" gumam Tasya sambil tertawa sendirian. Membuat pelatih Ronny mengernyit heran.


"Apa ada yang lucu?" Tanya pelatih Ronny yang heran melihat gadis di depannya tersebut tertawa tawa sendiri.


"Gak ada kok, Bang" jawab Salsa sedikit menahan tawa.


Ia merasa aneh memanggil pelatih Ronny dengan sebutan itu.


"Kok tumben sendirian. Teman teman kamu pada kemana?" Tanya Ronny berbasa basi lagi.


Salsa memutar bola matanya.


"Cuma belanja, apa harus rame rame?" Jawab Salsa sedikit sinis.


Ronny hanya terkekeh.


"Oh, ya. Nama kamu siapa?" Tanya Ronny lagi. Ia terus mengikuti langkah Salsa yang berjalan menyusuri rak lainnya.


Ronny sebenarnya sudah tahu nama gadis di depannya tersebut. Namun sengaja ia masih bertanya demi bisa mengajaknya mengobrol.

__ADS_1


"Apa pentingnya nama saya buat bapak. Emangnya bapak siapa?" Lagi lagi Salsa memanggil Ronny dengan sebutan bapak.


Namun kali ini, Ronny tak lagi menunjukkan kekesalannya.


"Saya kakaknya Tasya teman kamu" jawab Ronny santai.


"Trus, kenapa gak tanya aja ke Tasya?" Tanya Salsa berputar putar.


Ronny menarik nafas panjang berusaha mengumpulkan kesabaran.


Gadis di depannya ini benar benar unik dan berbeda dari gadis kebanyakan yang ia temui.


Ronny terus mengekori Salsa berharap bisa ngobrol banyak hal dengan gadis tersebut.


Salsa berjalan menuju kasir.


"Bapak mau kemana?" Tanya Salsa sambil melotot


"Ke kasir juga bayar belanjaan" jawab Ronny sambil menunjukkan keranjang belanjanya, yang hanya terisi beberapa barang.


Salsa memutar bola matanya.


'Kenapa sih, ni pelatih resek ngikutin gue mulu" gumam Salsa kesal.


Kasir sudah selesai menghitung belanjaan Salsa,


"Mbak, ini sekalian ya. Jadiin satu saja belanjaannya" Ronny menyodorkan keranjang belanjanya .


"Ini mbak jadi satu aja bayarnya" Ronny menyodorkan sebuah kartu ke mbak kasir.


"Aku bisa bayar sendiri, pak. Mbak pisah in belanjaannya" perintah Salsa pada mbak kasir.


"Udah gak papa, sekalian aku yang bayar" Ronny bersikeras.


Ronny dan Salsa pun saling berdebat di depan kasir dan membuat mbak kasir menjadi bingung.


"Ini mau bagaimana, mbak, mas?" Tanya mbak kasir bingung.


"Udah pisahin. Aku bayar sendiri mbak" ucap Tasya.


"Udah biarin, sekalian aja aku bayarin" Ronny masih bersikeras


"Mbak, mas tolong jangan ribut disini" seorang security menghampiri Ronny dan Salsa yang masih berdebat.


Seketika mereka berdua langsung diam. Salsa menarik nafas panjang.


"Jadi bagaimana ini belanjaannya?" Tanya mbak kasir sekali lagi.


"Udah mbak jadiin satu aja bayarnya. Tapi bungkus nya tolong dipisah" ucap Salsa akhirnya.


Dia yang waras, jadi dia saja yang mengalah.

__ADS_1


Bisa panjang urusannya berdebat sama orang resek macam begini.


'Dasar pelatih resek. Suka sekali bikin orang kesel' gumam Salsa dalam hati.


Pelatih Ronny kini memandang Salsa sambil tersenyum senyum sendiri.


Setelah mengambil belanjaannya di kasir, Salsa segera berjalan cepat demi menghindar dari pelatih rrsek tersebut.


"Salsa, tunggu" Ronny sedikit berteriak memanggil Salsa.


Setelah berhasil menyamai langkah Salsa, Ronny mulai bicara lagi.


"Temani aku ngopi sebentar yuk" ajak Ronny sedikit memaksa.


Salsa berusaha mengabaikannya dan terus berjalan ke arah parkiran.


"Ayolah Salsa, aku traktir kopinya. Sebagai ucapan terima kasih karena kamu udah membayar belanjaanku" ucap Ronny sarkas.


Dan...


Salsa langsung menghentikan langkahnya. Ia mengeluarkan dompet dari tas kecilnya.


"Gak usah gak usah. Aku ikhlas kok bayarin belanjaan kamu. Beneran" Ronny mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V sebagai tanda perdamaian.


"Maaf, Pak. Saya buru buru. Jadi bapak silahkan ngopi sendiri" ucap Salsa sambil melotot tajam ke arah Ronny.


"Oh ya. Terima kasih juga karena sudah membayar semua belanjaan saya" ucap Salsa lagi, kali ini dengan sedikit senyuman aneh yang berusaha ia paksakan.


"Aku antar pulang ya" tawar Ronny.


"Tidak, terima kasih. Saya bawa motor sendiri. Jadi bapak gak perlu repot repot mengantar saya pulang. Permisi saya duluan" ucap Salsa geregetan.


Ia segera berlalu meninggalkan pelatih resek tersebut.


Salsa mempercepat langkahnya agar segera sampai di parkiran.


Pelatih Ronny hanya memandang Salsa yang kian menjauh. Sebuah senyuman tersungging di bibir Ronny.


Mungkinkah Ronny jatuh cinta pada gadis galak itu?


Yang jelas, Ronny senang saat bisa menggoda dan membuat Salsa kesal.


"Dasar orang aneh, sukanya maksa, sukanya bikin kesel. Ih amit amit. Jangan sampai ketemu lagi sama tu orang" Salsa menggerutu sendiri.


Hatinya kesal dan dongkol hari ini.


Setelah memastikan semua belanjaannya aman, Salsa segera menstarter motor matic kesayangannya.


Sekilas Salsa sempat menoleh ke belakang. Tak ada tanda tanda dari pelatih resek tersebut.


"Syukurlah, dia gak ngikutin gue" gumam Salsa lega.

__ADS_1


Ia pun segera melajukan motornya meninggalkan tempat parkir swalayan tersebut dan memacunya ke jalan menuju rumahnya.


__ADS_2