Natasya

Natasya
SEASON KEDUA : Rumah Sakit


__ADS_3

Elena berjalan tergesa dari tempat parkir menuju ke ruang UGD yang ada di bagian depan gedung rumah sakit.


Elena melihat Dion yang sedang berdiri mondar-mandir di depan ruang UGD.


"Dion, ada apa dengan Tasya?" Tanya Elena khawatir.


"Tasya tiba-tiba pingsan saat kami baru sampai di rumah."Dion berusaha untuk menjelaskan. Mata pria itu sudah berkaca-kaca sekarang.


Elena paham Dion pasti sangat khawatir dengan kondisi Tasya.


"Baiklah, kamu tenang dulu dan banyak berdoa semoga Tasya baik-baik saja. Aku akan masuk ke dalam sebentar" Elena mencoba untuk menenangkan pria tersebut.


Setelah Dion duduk di kursi ruang tunggu, Elena segera masuk ke dalam ruang UGD. Dokter Adhi juga sudah ada di dalam.


"Ada cairan di paru-parunya" ujar Dokter Adhi pada Elena.


Elena langsung terkejut.


"Dia memang mengeluh sesak nafas beberapa hari kemarin, tapi aku pikir tidak sampai separah itu" Elena masih tidak percaya.


"Kita harus secepatnya mengeluarkan bayi-bayinya, El. Tasya tidak akan bertahan jika kita terus-terusan menundanya" ujar dokter Adhi.


"Usia kandungannya baru tiga puluh dua minggu. Tasya ingin menunggu minimal tiga puluh empat minggu baru dia mau dioperasi" Elena sedikit keberatan.


Elena sudah berjanji pada Tasya tentang hal ini.


"Itu masih dua minggu lagi. Bagaimana jika Tasya tidak bisa bertahan?" Dokter Adhi semakin khawatir.


Elena menghela nafas panjang.


"El..." suara lirih Tasya membuat Elena dan dokter Adhi menoleh bersamaan.


Wanita itu sudah sadar rupanya.


"Sya, kamu sudah sadar?" Elena dengan cepat menghampiri Tasya.


"Dimana Dion?" Tanya Tasya selanjutnya.


"Ada di luar. Akan ku panggilkan" Elena bergegas mmenuju ke pintu keluar dan memanggil Dion.


Tak berselang lama, Dion sudah datang.


"Nat, kamu sudah baikan?" Dion mengusap puncak kepala Tasya dengan lembut.


Masih jelas terlihat raut kekhawatiran di wajah Dion.


Tasya mengangguk samar.


"El, ada apa denganku?" Tasya ganti menatap ke arah Elena yang sedang berdiskusi kecil dengan dokter Adhi.


Elena segera menghampiri Tasya dan Dion.


"Kami akan bicara apa adanya, Sya. Silahkan kamu dan Dion memutuskannya bersama." Ucap Elena sebelum mulai menjelaskan.


Dion dan Tasya mengangguk bersamaan.


"Ada cairan di paru-parumu. Tak ada yang bisa di lakukan selain mengeluarkan kedua bayimu dan setelah itu barulah kami bisa melakukan tindakan..." Dokter Adhi mulai menjelaskan.


"Tapi seperti yang kamu tahu, usia kandunganmu masih tiga puluh dua minggu, dan aku yakin kamu sudah paham resiko apa yang akan di alami kedua bayimu jika kita memaksa untuk mengeluarkannya sekarang" lanjut dokter Adhi.


"Bagaimana jika aku memilih bertahan dan menunggu setidaknya dua minggu lagi?" Tanya Tasya sambil menatap bergantian ke arah dokter Adhi dan Elena,


"Nat..." Dion sepertinya keberatan dengan keputusan yang akan dipilih oleh Tasya.


Namun sebelum suaminya itu mengungkapkan keberatannya, Tasya sudah terlebih dahulu mengangkat tangannya dan memberi kode pada Dion untuk diam dulu.


Dion terpaksa menurut akhirnya.


Elena menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Tasya.


"Itu artinya kamu harus bedrest total agar kondisimu tidak semakin memburuk. Dan kamu harus siap tidur di rumah sakit hingga kamu melahirkan nanti. Kami harus selalu memantau kondisimu dan kondisi kedua janinmu..." Elena terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan kata-katanya.


"...tapi tentu saja ada resiko besar yang harus siap kamu tanggung, Sya. Cairan di paru-parumu mungkin akan semakin banyak dan..." Elena tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya.


Kenapa pilihan ini begitu sulit?


"Keputusan ada di tangan kalian." Pungkas dokter Adhi yang memilih untuk mengakhiri penjelasan dari Elena.


"Bisakan kalian mengoperasi Tasya sekarang saja?" Dion langsung menyahut dengan nada emosi.


"Tidak, Di!" Dan Tasya langsung membantah dengan cepat.


"Nat, bayi kita akan baik-baik saja. Dan aku juga tidak mau hal buruk terjadi kepadamu" sepertinya Dion mulai bingung sekarang.


Memilih antara istrinya dan kedua anaknya?


Pilihan macam apa ini?


Tentu saja Dion tidak mau hal buruk menimpa istri maupun anak-anaknya.


Kenapa harus seperti ini?


"Aku akan bertahan dua minggu lagi, El. aku akan istirahat total dan menuruti semua yang kamu katakan" butir bening sudah jatuh di pipi Tasya.


"Nat, jangan egois seperti ini!" Dion masih merasa keberatan.


"Aku tidak egois, Di. Ini semua demi kedua bayi kita" Tasya menatap dalam ke arah netra milik Dion.


Tasya tahu ini adalah sebuah keputusan yang sulit.


Dion juga pasti bingung.


Elena dan dokter Adhi menghela nafas bersamaan.


Sepertinya ini akan menjadi keputusan yang sulit bagi pasangan suami istri di depan mereka ini.


"Tasya harus di rawat, Di. Kami harus terus memantau kondisinya dan memastikan kedua janinnya tetap dalam kondisi baik, sampai nanti mereka diap dilahirkan" Elena mrnjelaskan pada Dion.


Pria itu hanya mengangguk lesu.


Lima tahun menunggu kehadiran buah hati, kenapa kini Dion dan Tasya harus menghadapi masalah serumit ini?

__ADS_1


Saat mereka tinggal menghitung hari untuk bertemu dengan kedua anak mereka, kenapa pilihan sesulit ini yang harus mereka pilih?


Dion mengusap lembut kepala Tasya.


Istrinya ini benar-benar keras kepala.


Tapi Dion juga paham bagaimana perasaan Tasya saat ini. Tasya pasti takut jika hal buruk terjadi pada kedua calon anaknya.


Sudah sejak lama Tasya merindukan kehadiran mereka. Tak sedikit juga airmata dan rasa sakit hati yang harus di lalui Tasya sebelum akhirnya ia dinyatakan hamil dan bisa merasakan menjadi wanita yang sempurna.


Wajar jika akhirnya, Tasya memilih untuk bertahan dan mengutamakan keselamatan kedua bayinya.


Tasya bahkan mengabaikan tentang kondisi dirinya sendiri.


Apa memang seperti ini pengorbanan seorang ibu?


"Aku akan baik-baik saja, Di. Kau jangan khawatir" pinta Tasya dengan nada memohon.


Tasya tahu Dion begitu khawatir dengn kondisinya sekarang.


"Aku tahu. Kamu wanita yang kuat. Kamu pasti bisa melalui ini semua, dan kedua anak kita akan lahir dengan sehat. Kita akan melalui ini bersama" Dion mengecup tangan Tasya berulang kali. Matanya sudah berkaca-kaca sekarang.


Jujur,


Jauh di dalam lubuk hatinya, Dion merasakan sebuah ketakutan.


Dion takut jika ia harus kehilangan Natasya atau calon buah hatinya.


Ketakutan yang berusaha Dion buang jauh, namun justru semakin terasa memenuhi relung hatinya.


Malam semakin larut,


Suasana sudah sepi. Hanya ada suara beberapa serangga malam yang bersembunyi di semak perdu yang ada di halaman rumah sakit.


Tasya masih di ruang UGD. Mungkin besok pagi baru ia akan dipindahkan ke ruang perawatan.


Dion tetap setia menemani istrinya tersebut.


Setiap jam perawat juga bolak-balik memeriksa tekanan darah dan suhu badan Tasya.


Waktu terasa berjalan lambat.


Dion sudah terlelap di samping Tasya.


Mungkin pria itu memang benar-benar lelah.


Namun meskipun sudah tertidur, tangan Dion masih setia menggenggam jari jemari sang istri.


Berbeda dengan Dion, Tasya masih saja terjaga dan belum bisa memejamkan matanya.


Tasya memandang tetes demi tetes cairan infus yang jatuh ke dalam selang yang akhirnya masuk ke aliran darah di tangannya.


Pikiran Tasya menerawang,


Keputusan ini sungguh sulit.


Namun Tasya bisa apa sekarang?


Kehamilannya yang sekarang saja, Tasya dapat dengan penuh perjuangan dan derai air mata.


Belum lagi Dion yang sangat merindukan kehadiran anak di dalam rumah tangga mereka.


Mungkin Dion memang tidak pernah mengatakannya, namun Tasya selalu tahu perasaan Dion yang sebenarnya.


Tasya akan berjuang,


Demi Dion


Dan demi kedua bayi kembarnya


*****


Matahari pagi belum sepenuhnya muncul.


Tidak seperrti biasa, udara pagi ini terasa begitu dingin.


Beberapa perawat mendorong ranjang perawatan Tasya menuju ke ruang rawat inap yang ada di lantai dua.


Tasya akhirnya di pindahkan ke ruang perawatan.


Kondisinya sudah stabil namun tetap saja, Tasya belum di perbolehkan untuk pulang, karena kondisinya harus selalu di pantau.


Dion tetap setia mendampingi di sisi Tasya.


Mungkin sebentar lagi mama Sarla dan papa Anton akan segera datang.


Dion sudah menghubungi kedua orang tua Tasya tersebut tadi malam.


Tasya sudah selesai dipindahkan ke ruangannya yang baru.


Ruangan serba putih yang mungkin akan menemani hari-hari Tasya beberapa waktu ke depan.


"Kau lapar?" Tanya Dion pada Tasya yang kini sedang sibuk mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Sedikit. Apa sarapanku belum di antar?" Tasya balik bertanya.


"Mungkin sebentar lagi." Dion duduk di kursi yang ada di samping ranjang perawatan.


Pria itu meraih tangan Tasya dan menggengamnya dengan erat.


"Aku akan bosan jika harus di sini selama dua minggu" Tasya mulai mengeluh.


Dion tersenyum simpul.


"Aku akan menemanimu setiap hari. Jadi kamu tidak akan merasa bosan" Dion mengusap puncak kepala Tasya.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" Tasya sedikit khawatir.


"Sudah ada yang menghandlenya. Aku akan merawatmu dan menemanimu sampai kedua anak kita lahir" Dion ganti mengusap perut Tasya.


Tasya memandang lekat wajah Dion yang sepertinya kurang tidur belakangan ini.

__ADS_1


Dion selalu saja khawatir dengan kondisi Tasya.


Tok tok tok,


Ketukan di pintu memecah keheningan di dalam ruangan tersebut.


Dion segera beranjak berdiri dan membuka pintu.


Rupanya sarapan untuk Tasya sudah datang.


Setelah mengucapkan terima kasih pada petugas yang mengantarkan sarapan Tasya, Dion kembali duduk di sisi ranjang Tasya.


Dion menyuapi Tasya dengan telaten.


"Kamu tidak makan, Di?" Gantian Tasya yang khawatir pada Dion.


"Aku akan makan nanti jika kamu sudah selesai" jawab Dion sambil tersenyum.


Selesai sarapan, Tasya mulai menguap. Terang saja wanita itu mengantuk. Semalaman matanya tidak bisa terpejam karena menahan sakit di tanganya akibat jarum infus.


"Apa kamu mengantuk?" Tanya Dion memastikan. Karena Tasya tidak berhenti menguap sedari tadi.


Tasya mengangguk,


"Aku tidak bisa tidur tadi malam. Dan kau malah tidur nyenyak di sampingku" jawab Tasya sedikit terkekeh.


"Tidurlah kalau begitu. Aku akan tetap disini" Dion membenarkan posisi Tasya yang tadinya setengah berbaring menjadi berbaring miring


Tasya menghadap ke arah Dion yang masih duduk di sisi ranjangnya, menatap lekat wajah suaminya tersebut, mematrinya ke dalam hati dan pikirannya.


Suaminya yang tampan dan sabar serta sangat mencintainya.


Dion akan menjadi ayah yang hebat untuk kedua buah hatinya nanti.


Tasya percaya itu.


Mata Tasya terasa semakin berat. Tak butuh waktu lama dan akhirnya mata itu sudah terpejam sekarang. Tasya sudah tidur dan mengukir semua mimpi indahnya bersama Dion serta kedua anaknya.


Dan saat hari itu tiba, Tasya akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini.


Dion segera membenarkan selimut yang menutupi tubuh sang istri.


Perutnya terasa keroncongan sekarang.


Mungkin Dion akan ke kantin rumah sakit sebentar untuk membeli sarapan.


Namun baru saja ia membuka pintu, sudah ada Vian dan Rena yang berdiri di depan pintu ruang perawatan tersebut.


Dion menatap bingung pada pasangan tersebut,


"Pagi, Dion" Vian langsung menyapa Dion.


"Kenapa pagi-pagi sudah kesini?" Tanya Dion seraya mempersilahkan kedua sahabatnya itu untuk masuk ke dalam ruang perawatan.


"Kami membawakan sarapan untukmu" Rena memberikan tas berisi kotak makanan kepada Dion.


Rena dan Vian yakin, Dion pasti belum sempat sarapan.


Dion langsung tersenyum sumringah.


Temannya ini memang perhatian.


"Bagaimana kondisi Tasya?" Vian dan Rena menengok sebentar ke arah ranjang perawatan Tasya.


Sedangkan Dion memilih duduk dan membuka kotak makanan yang tadi dibawakan Rena dan Vian. Cacing-cacing di perutnya sudah meronta-ronta minta makan sekarang.


"Kondisinya sudah stabil. Tapi Tasya tetap harus bedrest hingga usia kandungannya cukup untuk melahirkan" jawab Dion sekenanya.


Pria itu mulai menyendokkan nasi ke mulutnya dan menikmati sarapan paginya.


Vian dan Rena sudah kembali duduk di sofa yang ada di depan Dion.


"Akan ku suruh karyawanku mengirimkan makanan untukmu setiap hari. Aku yakin kau ingin selalu berada di sisi Tasya." Ujar Vian lagi.


"Aku sungguh tidak ingin merepotkan, Vi" Dion sedikit sungkan.


"Ayolah, Di. Kita sahabat. Aku dulu juga suka minta sarapan gratis pada kalian. Anggap saja aku sedang membalas budi" jawab Vian sedikit terkekeh. Rena ikut terkekeh.


"Baiklah terserah kau saja. Tapi aku berterima kasih sekali atas perhatian dari kalian berdua" ucap Dion tulus.


Vian dan Rena hanya mengangguk.


Mereka bertiga melanjutkan obrolan. Cukup lama mereka tidak berjumpa jadi mendadak ada banyak hal yang mereka bicarakan.


Menjelang siang, Vian dan Rena pamit pulang.


Kini hanya tinggal Dion yang duduk di samping ranjang Tasya.


Istrinya itu masih tertidur lelap dan belum bangun sedari tadi.


Dion menatap lekat wajah Tasya yang tenang dalam tidurnya.


Sesekali Tasya akan menggeliat dan meringis. Mungkin nyeri di tangannya masih belum hilang.


Dion mengusap lembut tangan Tasya yang ditusuk oleh jarum infus.


Suasana hening sekarang.


*****


Hai... ada yang mampir baca hari ini?


"NATASYA" akan segera tamat ya akhir bulan ini.


Dan karena ini hari Minggu jangan lupa untuk mampir membaca "Nona Kaya Jatuh Cinta" yang juga sudah up hari ini.


Loh, judulnya ganti?


Iya, "Nona Kaya Jatuh Cinta" adalah sekuel dari "CEO Cantik" ya.


Ceritanya sama masih tentang Mia. Hanya pindah judul saja.

__ADS_1


Selamat hari Minggu dan Happy Reading


__ADS_2